MENOPANG KINERJA DAGANG
Indonesia memiliki riwayat cemerlang untuk urusan kinerja dagang. Paling tidak hal itu tecermin dari surplus neraca perdagangan yang berlangsung selama 26 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Bahkan, neraca perdagangan Indonesia selama semester I/2022 yang mencapai US$24,89 miliar merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Kendati demikian, pada semester kedua tahun ini tantangan untuk menjaga kinerja dagang bakal makin berat lantaran adanya tren penurunan harga sejumlah komoditas ekspor serta risiko penurunan permintaan dari sejumlah negara. Jika dicermati, harga crude palm oil (CPO) dalam beberapa bulan belakangan turun jauh dari puncaknya yang sempat melampaui 7.000 ringgit per ton. Kontrak berjangka CPO pengiriman Oktober 2022, kontrak teraktif di Bursa Derivatif Malaysia, pada Jumat (12/8) ditutup menguat 3,7% secara harian ke 4.420 ringgit per ton. Harga bijih besi juga melandai setelah memuncak pada April 2022 di posisi US$162 per ton. Kontrak berjangka bijih besi pengiriman September bertengger di US$109,8 per ton di Bursa Singapura pada Jumat (12/8). Hanya harga batu bara yang menunjukkan tren stabil kendati sempat mengalami penurunan tipis. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan neraca perdagangan Indonesia Juli 2022 surplus US$3,85 miliar. Menurutnya, harga komoditas yang tinggi tetap mendukung kinerja ekspor pada Juli 2022, kendati bakal melemah sejalan dengan aktivitas perdagangan global yang melambat.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023