;

Kenaikan Inflasi & Kualitas Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi Hairul Rizal 10 Aug 2022 Bisnis Indonesia
Kenaikan Inflasi  & Kualitas Pertumbuhan Ekonomi

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat (5/8), mengumumkan kinerja ekonomi triwulan II/2022. Dari rilis BPS, laju pertumbuhan ekonomi triwulan II adalah 5,44% YoY dan 3,72% QtQ. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I/2022 dibandingkan dengan semester 1/2021 tumbuh 5,23% CtC. Kendati kinerja PDB di bawah batas atas sasaran pemerintah 5,5%, capaian pertumbuhan PDB aktual, menggambarkan ekonomi Indonesia konsisten berada di trajectory ekspansi, bila dibandingkan dengan kinerja ekonomi negara-negara peer di emerging countries yang cenderung melambat. Melesatnya kinerja PDB tersebut, ditopang beberapa hal sebagai faktor pendulum. Pertama, pelonggaran syarat perjalanan serta momen hari Raya Idulfitri menjadi pendorong meningkatnya mobilitas penduduk sepanjang triwulan II/2022. Kedua, jumlah penumpang di seluruh moda transportasi pada triwulan II/2022 mengalami peningkatan QtQ dan YoY. Ketiga, jumlah wisman melalui pintu utama tumbuh 1.250,65% YoY. Keempat, meningkatnya belanja subsidi energi dan bantuan sosial pada triwulan II/2022 masing-masing sebesar 11,34% dan 56,17% YoY. Kelima, windfall revenue dari hasil ekspor komoditas. Keenam, dari sisi moneter, Bank Indonesia tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan rendah. Ketujuh, pemberian insentif pajak dalam rangka mendorong aktivitas dunia usaha yang tertuang dalam PMK Nomor 3/PMK.03/2022. Dengan pertumbuhan ekonomi 5,44%, maka kinerja ekonomi tetap terjaga dan telah melampaui level prapandemi.

Namun pertumbuhan sektor ini mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan periode yang sama 2021 dengan pertumbuhan 6,58%. Faktor inflasi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah, berdampak pada mahalnya komponen input. Kondisi ini juga menjadi faktor penekan perlambatan pertumbuhan sektor industri Setali tiga uang dengan meningkatnya deflator PDB harga implisit, inflasi IHK yang terkerek 4,94% pada Juli 2022, memberikan alarm pada pemerintah dan bank sentral. Pasalnya, inflasi umum telah melampaui batas atas sasaran pemerintah sebesar 4,6%. Kemungkinan inflasi mengarah ke 5% bisa saja terjadi, bila tekanan global masih berlanjut. Kinerja PDB yang melesat  dibarengi inflasi yang tinggi, tentu saja menjadi faktor penggerus kualitas pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, inflasi inti yang terkerek menjadi 2,86% YoY. Kedua, inflasi administered price terkerek menjadi 6,51% YoY. Ketiga, inflasi harga bergejolak (volatile food) melesat menjadi 11,47% YoY.



Download Aplikasi Labirin :