Blokade pada Taiwan Intens, Rantai Pasok Terganggu
Latihan militer China di sekeliling Taiwan semakin intens memasuki hari kedua, Jumat (5/8). Langkah retaliasi Beijing atas kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taipei pada 2-3 Agustus itu berisiko mengganggu perdagangan dan perjalanan komersial, tidak hanya untuk kawasan Asia Timur, tetapi juga global. Bagi Indonesia, menurut Ketum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani, kondisi itu tidak banyak berpengaruh sejauh ini. Alasannya, volume perdagangan antara Indonesia dan Taiwan relatif kecil. Di era politik internasional yang didominasi persaingan AS dan China, Hariyadi berharap Pemerintah Indonesia mampu memimpin semua pemangku kepentingan dalam negeri untuk memitigasi dan mengantisipasi risiko. Dengan demikian, jika terjadi letupan-letupan yang memengaruhi stabilitas kawasan, termasuk perekonomian nasional, Indonesia sudah siap.
Sehari setelah Pelosi bertolak dari lawatannya di Taipei, China mengumumkan latihan perang selama empat hari, 4-7 Agustus, di sekeliling Taiwan. Latihan itu mencakup simulasi tempur melibatkan tembakan di perairan dan wilayah udara di sekitar Taiwan. 100 pesawat Militer China menyebut bahwa lebih dari 100 pesawat tempur dan 10 kapal perang ambil bagian dalam latihan militer itu. Kantor berita China, Xinhua, Jumat, menyebut, pesawat tempur, pengebom, kapal perusak, dan fregat digunakan dalam apa yang disebutnya operasi blokade bersama. Komando Palagan Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) juga menembakkan rudal versi baru yang dikatakan mengenai sasaran tak dikenal di Selat Taiwan dengan tingkat akurasi tinggi.
Data Bloomberg memperlihatkan, separuh kapal kontainer dan logistik global melewati Selat Taiwan selama tujuh bulan pertama tahun ini. Tiga dari enam area yang diblokade ole militer China berada di atau dekat Selat Taiwan. Jalur ini penting bagi rantai pasok semikonduktor yang sangat vital bagi berbagai industri global dan peralatan elektronik yang diproduksi di Asia Timur ke pasar global. Selat Taiwan adalah rute pelayaran utama bagi China dan Jepang, ekonomi terbesar kedua dan ketiga di dunia, dengan Eropa. Selat Taiwan juga berfungsi sebagai rute perdagangan pembangkit tenaga listrik teknologi Korsel dan membawa barang-barang manufaktur dari pabrik-pabrik Asia ke banyak konsumen dunia. Rute tersebut juga menjadi arteri utama pengiriman gas alam dunia yang tengah terdisrupsi akibat serangan Rusia di Ukraina. ”Mengingat sebagian besar armada peti kemas dunia melewati jalur air itu, pasti akan ada gangguan pada rantai pasok global karena perubahan rute tersebut,” kata James Char, rekan peneliti di Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam, Singapura. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023