MEMBANGUN KEMANDIRIAN TRANSPUAN MELALUI KOPERASI
Riset tentang Diskriminasi di Tempat Kerja Berdasarkan Orientasi Seksual dan Identitas Jender yang dilakukan ILO pada 2016 menyebutkan, 90 % transpuan di Indonesia lebih banyak bekerja di sektor informal. Ragam pekerjaan itu adalah pengamen, wirausaha di bidang fashion dan kecantikan, serta pekerja seks. Tidak heran jika transpuan merupakan salah satu kelompok yang lebih banyak mengandalkan bantuan dari pemerintah, LSM, dan masyarakat untuk bertahan hidup di masa pandemi. Solidaritas juga digelar komunitas Waria Crisis Center (WCC) di Yogyakarta melalui donasi untuk transpuan yang sedang menjalani isolasi mandiri. Dukungan serupa juga diberikan oleh Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas dengan membagikan 102 paket sembako dan masker kepada Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo) di Yogyakarta.
Pandemi Covid-19 telah membuat beban penghidupan ekonomi transpuan semakin berat. Ditambah sikap masyarakat yang belum sepenuhnya mau menerima keberadaan transpuan membuat tuntutan kemandirian, terutama mandiri secara ekonomi, menjadi salah satu cara membuat komunitas transpuan lebih berdaya. Salah satu cara membangun kemandirian komunitas transpuan adalah lewat koperasi. Jalinan kemandirian lewat koperasi transpuan ini sudah diinisiasi Organisasi Buruh Internasional (ILO) di sejumlah negara. Mengutip dari laman ILO, Kepala Unit Koperasi ILO Simel Esim menguraikan kelebihan daya kolektif koperasi yang bisa digunakan komunitas transpuan, mulai dari sumber daya, biaya, beban kerja, keterampilan, hingga manajemen usaha.
Tim ILO juga berbagi pengalaman tentang model koperasi transpuan di beberapa negara. Di Argentina, model koperasi yang dijalankan menangani fashion sebagai lini bisnis utamanya. Koperasi transpuan di India fokus pada aspek kesejahteraan sosial anggotanya. Di Filipina, model koperasi lebih berbentuk simpan pinjam. Untuk lebih memaksimalkan hasilnya, pengelola koperasi juga memberikan bantuan pengelolaan keuangan melalui pelatihan atau pendampingan usaha. ILO mengadakan pelatihan kepada tiga komunitas transpuan, yaitu Yayasan Srikandi Pasundan (Bandung), Yayasan Kebaya (Yogyakarta), dan Yayasan Srikandi Sejati di Jakarta. Bertolak dari kondisi pandemi dan perkembangan teknologi digital, transpuan dilatih memasuki era pemasaran digital dan pemasaran daring dengan memanfaatkan kemudahan berbagai aplikasi bisnis. Mereka juga diajak untuk membuat strategi promosi dan target pelanggan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023