Berharap Tak Lagi Alami Diskriminasi
Transpuan berada di sekitar kita sejak lama. Namun, dari dulu hingga sekarang, mereka jatuh bangun berjuang agar bisa diterima keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Kuatnya stigmatisasi membuat transpuan terdiskriminasi. Hak-hak mereka sebagai warga negara dilanggar. Transpuan tersisih di negerinya sendiri. Lenny Sugiharto (63), transpuan yang juga Ketua Yayasan Srikandi Sejati (YSS), dalam diskusi tentang transpuan di Redaksi Kompas, Jakarta, Kamis (14/7), mengatakan, umumnya transpuan terlihat sejak kecil. Gaya tampilan dan perilaku mereka terlalu feminin sehingga tak sejalan dengan kondisi fisiknya yang cenderung seperti laki-laki.
Kurangnya penerimaan keluarga dan masyarakat sekitar membuat banyak transpuan muda putus sekolah dan merantau ke kota besar dengan menumpang hidup pada transpuan senior. Setelah bekerja, transpuan muda umumnya pindah atau menyewa tempat tinggal sendiri. Dengan modal nekat dan tanpa bekal pendidikan formal dan keterampilan yang memadai, mereka hanya bisa mengakses sektor kerja informal, seperti pengamen jalanan, pegawai salon, dan pekerja seks.
Salon tempat mereka bekerja pun kebanyakan dikelola transpuan. Salon umum cenderung enggan mempekerjakan transpuan berpakaian perempuan. Mereka lebih bisa menerima pekerja salon laki-laki yang feminin tetapi tetap memakai pakaian laki-laki. Ketua Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos) Sonya Vanessa (62) mengatakan, mayoritas dari 460 anggotanya berusia produktif. Namun, akibat rendahnya pendidikan dan kuatnya stigmatisasi, lapangan pekerjaan yang diperoleh sangat terbatas. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Ancaman Deindustrialisasi & Nasib Buruh
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023