Gaya Hidup, ”Kami Cuma Butuh Ruang...”
Nama Citayam-Bojonggede mendadak menjadi buah bibir di dunia maya, juga di dunia nyata. Serbuan anak muda dari Citayam dan daerah lainnya melantai ke jantung Ibu Kota untuk mencari tempat nongkrong justru ”mendiktekan” tren gaya hidup urban ala mereka. Mulai dari pakaian, perilaku, hingga deretan istilah khas. Kata SCBD merupakan akronim dari Sudirman-Citayam-Bojonggede-Depok. ”Ke sana, ya, cuma duduk-duduk gabut, ngopi aja. Ada yang bikin konten juga. Pemandangannya enak di sana. Di sekitaran sini enggak ada yang begitu. Ga pengin banget juga viral, dikata kita seleb apa. Cuma butuh ruang. Ha-ha-ha,” ujar Perdiansyah (16), remaja Kampung Lio, Citayam, yang disepakati keempat temannya yang saat itu juga sedang ngopi dan bermain gitar.
Viral nyatanya membuat mereka tak nyaman. Seperti Ali yang masuk salah satu akun creator konten Tiktok dan videonya ditonton 3,4 juta viewers sejak diunggah 16 Juni 2022. ”Nyesel juga. Jadi, dikatain gitu, di sekolah, ya di sini juga. Datang ke sana cuma ikut teman aja, main. Ada yang wawancara, mau nembak enggak. Padahal, ketemunya sama cewek itu, ya, di situ. Enggak lagi, deh,” ujar Ali Uroihdi (15) ketika dijumpai di dekat rumahnya seusai memancing belut untuk mencari uang tambahan sepulang sekolah untuk beli kuota, dan ongkos main ke Dukuh Atas. Sementara Perdiansyah, Riana Gita (16), Muhammad Rizky (17), dan Ahmad Faisal (17) tak lagi bersekolah selepas SMP. Pergi ke Dukuh Atas pun seolah menjadi pelepas rasa penat sekaligus mencuci mata dengan suasana baru. Terlebih lagi lokasinya mudah dijangkau dengan kereta rel listrik yang kini terhubung.
Riuhnya seusai viral sebutan Citayam Fashion Week di media sosial dari sebuah akun Tiktok yang menyoroti gaya berpakaian anak-anak mejeng di sekitar Dukuh Atas itu memiliki dua sisi. Sebagian menikmati dan berharap bisa juga kecipratan tenar, sebagian lagi ada yang merasa malas karena niatnya sederhana saja untuk bermain. Membuat konten pun tidak ditujukan untuk khalayak luas. Dukuh Atas tidak hanya berisi anak-anak Citayam. Ada dari Tangerang, Bekasi, Rangkasbitung, hingga sekitaran Jakarta seperti Kemayoran, Klender, dan Tanjung Priok. Pada awal 2022 para kreator konten membuat konten di sana dengan konsep mewawancarai mereka yang nongkrong berbingkai hubungan asmara si remaja. Pertama kali justru nama Nadia dan Tegar yang muncul. Kemudian, muncul nama pemengaruh baru.
Pengamat komunikasi dan gaya hidup Idi Subandy menilai, ramainya Dukuh Atas yang mengantarkan pada fenomena Citayam Fashion Week ini terjadi karena kerinduan besar anak muda akan ruang berekspresi pascapandemi dan kebutuhan ruang publik yang layak untuk hiburan dan rekreasi. ”Kehadiran mereka di sana, termasuk yang di bawah secara ekonomi, menunjukkan siapa pun bisa merebut ruang itu dan kesenjangan seolah hilang,” kata Idi. Di sisi lain, bentuk ekspresi anak muda lewat busana ini dapat dipandang sebagai bentuk perlawanan atas selera arus utama yang dikuasai kalangan mapan. Mereka hanya sesederhana mencari ruang yang sesuai untuk menghibur diri dan bersosialisasi. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023