;

Berharap BI Tidak Gegabah

Ekonomi Hairul Rizal 14 Jul 2022 Bisnis Indonesia
Berharap BI Tidak Gegabah

Kebijakan Bank Sentral Amerika (The Fed) menaikkan suku bunga membawa aliran dana masuk ke Amerika. Beberapa hari lalu dolar Amerika sempat menyentuh Rp15.000 walaupun pada akhirnya kembali di bawah angka itu. Perkembangan depresiasi ini merupakan imbas psikologis sehingga tidak perlu direspons secara panik dengan menaikkan suku bunga maupun intervensi di pasar secara berlebihan. Keadaan serupa terjadi di negara lain. Perubahan arah kebijakan yang drastis akan berdampak lebih buruk karena kredibilitas kebijakan diragukan. Perkembangan nilai tukar yang terjadi akhir-akhir ini sebaiknya disikapi dengan tenang dan jangan menyeret bank sentral (BI) untuk menerapkan rule of thumb terkait dengan hubungan antara nilai tukar dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Dunia mungkin akan mengalami keadaan seperti pada tahun 1970-an di mana inflasi yang tinggi diikuti dengan merosotnya pertumbuhan ekonomi yang dikenal sebagai episode stagflasi. Sejujurnya, inflasi tinggi bukan akan terjadi tetapi sudah terjadi. Pada Juni, secara tahunan, inflasi kita sudah 4,35% yang berarti level tertinggi setelah 2014.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Juni mencapai 0,61%. Lebih tinggi dari inflasi pada Mei yakni sebesar 0,4%. Bahkan di Amerika Serikat, inflasi tahunan sudah mencapai 8,6% yang merupakan angka tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Bagi Orang Indonesia yang akrab dengan inflasi 2 digit, yang terjadi saat ini secara psikologis ringan. Sebaliknya, bagi orang Amerika pasti “shocked” karena biasanya inflasi hanya berkisar 2%. Kami berharap BI tidak gegabah dalam melihat perkembangan kurs dan inflasi yang terjadi. Semoga ketenangan dan akal sehat dalam membaca ekonomi saat tetap lebih kuat daripada dogma “uzur” hubungan antara suku bunga, inflasi dan nilai tukar.

Tags :
#Inflasi
Download Aplikasi Labirin :