Menakar Keandalan Obligasi Korporasi
Kalangan investor pemegang obligasi korporasi yang sebelumnya semringah, kini bersiap-siap setidaknya untuk tersenyum kecut. Betapa tidak. Risiko di pasar obligasi tengah meningkat lantaran faktor kenaikan suku bunga acuan The Fed dan perlambatan ekonomi global. Keadaan ini tentu akan menyurutkan penerbitan obligasi korporasi pada sisa tahun 2022. Kata ekonom, risiko pasar sedang tinggi-tingginya. Ketika pandemi tengah mengganas, korporasi telah menahan diri untuk menerbitkan surat utang. Tak heran ketika melihat nilai surat utang jatuh tempo cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan yang diterbitkan. Namun, dengan melihat kondisi suku bunga acuan global yang meningkat, agaknya akan sulit angka emisi obligasi korporasi sebesar itu bisa terpenuhi. Demikian besarnya faktor suku bunga acuan The Fed membuat pasar instrumen ini di dalam negeri pun cemas. Hal ini juga dipicu kekhawatiran apabila Bank Indonesia (BI) bakal mengambil langkah serupa mengatrol bunga acuan. Jika suku bunga acuan BI naik, hal itu tentu akan mendorong kenaikan suku bunga secara umum. Apabila ini terjadi, risiko instrumen tersebut juga turut membesar, terutama dari sisi borrowing cost dan biaya dana yang kian mahal dari penerbitan obligasi.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023