;

KERUSAKAN HUTAN, Kemegahan Rimba dan Kemiskinan

KERUSAKAN HUTAN,
Kemegahan Rimba dan Kemiskinan

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang luasnya 1,389 juta hektar merupakan benteng terakhir berbagai jenis flora dan fauna endemis. Di sana tumbuh padma raksasa (Rafflesia arnoldii) dan bunga bangkai (Amorphophallus titanum) yang sangat langka. TNKS juga menjadi habitat harimau sumatera dan Gajah. Karena kekayaannya itu, sejak 2004 TNKS dan dua taman nasional lain di Sumatera, yakni TN Gunung Leuser dan TN Bukit Barisan Selatan, diakui sebagai situs warisan dunia hutan hujan tropis oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO).

Ison (43) bercerita, sebenarnya enggak ada yang mau jadi pembalak karena nyawa taruhannya. Namun, mau gimana lagi, itu demi makan anak dan istri. Ison mulai menebang kayu di hutan TNKS sejak usia 17 tahun. Awalnya, hanya untuk kebutuhan material saat keluarganya  membangun rumah. Namun, lama-lama, dia juga mulai sering diupah para cukong (pemilik pabrik pengolahan kayu ilegal) untuk ke hutan menebang kayu jenis meranti. Di daerah Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi, Syahban berladang di wilayah TNKS, walau ia tahu itu dilarang, karena hanya bertani yang mereka bisa.

Persoalan yang sama dihadapi HN, petani bawang di sekitar Puncak Rakutak, Desa Sukarame, Bandung, Jabar. Setahun terakhir, HN menggarap lahan di kawasan Cagar Alam Kawah Kamojang. Meski menyadari melanggar aturan, aktivitasnya tetap dilakukan karena dia tak kebagian lahan di desanya. Ketimbang membeli lahan seharga  puluhan juta per hektar, merambah kawasan cagar alam menjadi pilihan yang lebih realistis. Setahun lalu, HN membuka lahan dengan bantuan petani lain. ”Untuk 150 tumbak (2.100 meter persegi) ini, modalnya Rp 15 juta, mulai buka lahan sampai ke panen,” katanya.

Pelaksana Harian Kepala Balai Besar TNKS Teguh Ismail, Jumat (13/5), mengatakan, pembalakan dan perambahan hutan erat kaitannya dengan kebutuhan ekonomi warga. Karena itu, Balai Besar TNKS mengutamakan upaya pencegahan untuk menyelesaikan persoalan itu. Pelaksana Harian Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jabar Himawan Sasongko mengatakan, perlu pendekatan khusus untuk menurunkan perambahan dari kawasan Cagar Alam Kawah Kamojang. Menurut dia, memenjarakan perambah yang merupakan masyarakat kecil bukanlah solusi terbaik. (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :