;

Pramuniaga Hidupkan Pekan Raya Jakarta

Ekonomi Yoga 24 Jun 2022 Kompas (H)
Pramuniaga Hidupkan
Pekan Raya Jakarta

Cuaca cerah dan keriuhan mewarnai Jakarta Fair Kemayoran atau Pekan Raya Jakarta (PRJ), Sabtu (18/6). Pameran multiproduk terbesar di Tanah Air, bahkan Asia Tenggara, yang ke-53 itu berlangsung bersamaan dengan perayaan ulang tahun ke-495 Jakarta. Suasana pameran yang digelar di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, itu kian meriah dengan kehadiran SPG dan sales promotion boy atau pramuniaga dalam balutan seragam warna-warni. Para pramuniaga itu berstatus pekerja paruh waktu. Mayoritas masih belia, berusia 17 sampai 20-an tahun. Ada yang hanya berjaga di stan. Ada juga yang harus berseliweran seantero arena pameran sambil membawa produk di kedua tangan atau mendorong gerobak agar menjangkau lebih banyak pengunjung.

Talia (20), SPG sepeda motor di stan milik perusahaan otomotif asal Jepang itu sadar postur tubuhnya yang ideal membantu meloloskannya menjadi SPG. ”Selain itu, syaratnya paling terkait product knowledge. Kalau customer sudah bertanya hal-hal lebih mendalam, kami arahkan tanya ke sales langsung,” tutur mahasiswi semester empat jurusan hubungan internasional dari perguruan tinggi swasta di Jakarta itu. Talia sudah 10 kali menjadi pramuniaga sejak November 2021. Di stan sepeda motor di PRJ, ia dikontrak 22 hari dengan upah Rp 500.000 per hari.

Generasi Z lainnya, Shalom (19), juga menikmati menjadi SPG perusahaan teknologi finansial di PRJ. Mahasiswi jurusan psikologi dari salah satu perguruan tinggi di Depok, Jabar, ini harus mengencangkan suara agar terdengar di tengah keriuhan dan masker yang harus terus dipakai selama bekerja. Ia dibayar Rp 200.000 per hari. Jika bekerja penuh dalam 25 hari, ia akan mendapat Rp 5 juta atau sedikit lebih tinggi daripada UMP DKI Jakarta yang Rp 4,6 juta.

Ketum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia Hosea Andreas Runkat mengatakan, keberadaan pramuniaga menjadi kebutuhan dasar sebagai atraksi dan daya Tarik pameran luar jaringan. ”Misalnya, di pameran mobil atau motor, masih diperlukan SDM yang good looking (rupawan). Ini mendasar karena daya tariknya di situ,” katanya. Digitalisasi dapat mengurangi kebutuhan pramuniaga. Namun, promosi produk secara massal dan tatap muka tetap membutuhkan SPG dan SPB. Bisa dibilang, senyum dan sapa pramuniaga turut menjamin hidup dan semaraknya Jakarta Fair Kemayoran ke-53. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :