;

INDUSTRI PERBANKAN, Modus ”Social Engineering” Kian Marak

Ekonomi Yoga 22 Jun 2022 Kompas
INDUSTRI PERBANKAN,
Modus ”Social Engineering” Kian Marak

Di tengah era disrupsi dan digitalisasi, metode penipuan social engineering (soceng) berubah wujud. Jika dulu penipu menghubungi korban via telepon, kini para penipu beraksi di media sosial, seperti yang terjadi belakangan ini. Viral di media sosial, seorang mengunggah kronologi tentang ia menjadi korban lewat sebuah akun palsu yang  dipakai penipu menyamar sebagai pihak sebuah bank resmi. Melalui akun palsu, pelaku menawarkan promo dalam waktu terbatas, hanya dengan saldo Rp 10 juta, maka status nasabah akan meningkat menjadi nasabah prioritas. Penipu tersebut membangkitkan keinginan calon korban dengan menyebut program itu sebagai promo. Ini karena persyaratan menjadi nasabah prioritas diperlukan saldo mengendap paling tidak Rp 500 juta dalam tabungan.

Penipuan dengan akun palsu ini sedang marak bertebaran di berbagai media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Tak heran, belakangan perbankan rutin mengundang wartawan untuk mengedukasi masyarakat agar berhati-hati dengan metoda penipuan ini. Aplikasi perbankan digital pun hampir tiap hari memberi notifikasi berupa edukasi agar nasabah mewaspadai modus tersebut.

Menurut OJK, ada empat modus soceng yang diterapkan penjahat. Modus pertama soceng adalah info perubahan tarif transfer bank. Penipu meminta korban mengisi link formulir yang meminta data pribadi, seperti PIN, OTP, dan password. Modus kedua soceng adalah memberikan tawaran menjadi nasabah prioritas. Modus ketiga soceng adalah menipu seakan akun layanan konsumen, padahal palsu. Pelaku kemudian meminta nasabah menyampaikan data pribadinya. Modus keempat soceng adalah tawaran menjadi agen Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif). Penipu akan meminta korban mentransfer sejumlah uang untuk mendapatkan mesin EDC. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :