"Raksasa Laut" Tersandera Solar
Kapal Motor Anugerah berukuran 97 gros ton yang ditambatkan di pesisir Karangsong, Indramayu, Kamis (9/6) telah tiga bulan tak melaut. Penyebabnya, harga solar industri dari Rp 9.500 per liter sempat menyentuh Rp 16.500 per liter. ”Belum berangkat. Takut enggak nutup,” ucap Caswinto (50), nakhoda KM Anugerah, Jumat (17/6). Dengan area penangkapan hingga Papua, kapal itu ”membakar” 100.000 liter solar selama operasi 5-6 bulan. Jika solar Rp 16.500 per liter, dibutuhkan Rp 1,65 miliar, sedangkan dengan harga Rp 9.500 per liter, dibutuhkan ongkos Rp 950 juta. Jumlah itu belum termasuk ongkos perbekalan Rp 400 juta hingga tarif sandar kapal. ”Sementara kami harus bagi hasil dengan pemilik kapal dan ABK (anak buah kapal). Belum lagi kalau kapal asing yang alatnya canggih masuk wilayah kita,” kata Elang, sapaan Caswito.
Sebelum harga solar melambung, KM Anugerah bisa menangkap 160-200 ton ikan. Harga jualnya Rp 3 miliar-Rp 4 miliar. Setelah dipotong modal melaut dan bagi hasil, 16 ABK masing-masing dapat Rp 30 juta. Sepintas, uang itu besar. ”Namun, coba Rp 30 juta itu dibagi enam bulan. Setiap nelayan dapat Rp 5 juta. Kadang juga zonk (kosong) karena banyak yang bon,” ujar Elang. Sebelum berangkat, nelayan kerap meminjam uang hingga Rp 25 juta untuk kebutuhan keluarganya selama melaut. ”Ada sekitar 50 kapal arah Papua dan 60-an kapal arah Jawa yang belum melaut,” ujar Robani, tokoh nelayan di Karangsong.
Banyaknya kapal sandar di Karangsong berdampak pada tangkapan ikan. Berdasarkan data Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra, tangkapan ikan pada Mei sebanyak 1.765.245 ton. Tangkapan periode serupa empat tahun sebelumnya selalu lebih dari 2 juta ton, bahkan 3 juta ton. Itu sebabnya, ratusan nelayan Indramayu dalam Front Nelayan Bersatu (FNB) berunjuk rasa di Kantor DPRD Indramayu, Kamis (9/6). Pemerintah didesak menurunkan harga solar industry menjadi sekitar Rp 9.000 per liter untuk kapal di atas 30 GT. FNB juga mendorong pemerintah merevisi kontrak penangkapan ikan yang diuji coba tahun ini di wilayah pengelolaan perikanan (WPP). Jangan biarkan ”raksasa laut” Indramayu menganggur lagi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023