;

Selisik di Balik Sensasi NFT

Ekonomi Yoga 08 Jun 2022 Kompas
Selisik di Balik Sensasi NFT

Blockchain adalah teknologi yang menjadi dasar bitcoin, ether, dan NFT. Blockchain bisa dibilang adalah buku catatan transaksi yang terdistribusi. Pengajar ilmu komputer ITB, Budi Rahardjo, menganalogikan, blockchain bekerja dengan cara seperti sebuah tempat pemungutan suara (TPS) di mana setiap pemilih juga mencatat hasil suara. Dalam konteks blockchain, setiap transaksi mata uang kripto akan dicatat pada jaringan ribuan komputer di seluruh dunia yang juga akan memvalidasi setiap transaksi. Alhasil, orang yang tidak memiliki akses sah tidak bisa memanipulasi informasi yang ada karena datanya tersimpan dan terdistribusi di ribuan ”buku catatan”. Selain itu, buku catatan ini bersifat publik, di mana setiap orang bisa melihatnya. Nah, selain transaksi aset kripto seperti bitcoin dan ether, status kepemilikan setiap aset NFT memiliki catatannya di blockchain. Dengan demikian, setiap aset NFT memiliki catatan unik di blockchain. Dengan pencatatan ini, setiap aset NFT bisa dilihat kepemilikannya dan juga terdeteksi apabila berpindah tangan.

NFT tidak selalu berbentuk file gambar. Memang, dua contoh besar kesuksesan penjualan NFT, seperti kolase karya Beeple (terjual dengan harga 69 juta USD atau Rp 1 triliun) dan kumpulan foto swafoto milik Ghozali (mencapai Rp 13 miliar), keduanya adalah file gambar. Aset NFT bukan berarti file gambar JPG-nya tidak bisa digandakan. Hal yang tidak bisa digandakan adalah rekaman catatan yang ada di blockchain. ”NFT mungkin bisa dianalogikan sebagai sertifikat keaslian yang Anda dapat ketika membeli sebuah patung mahal, misalnya. Patung itu memang bisa ditiru atau  digandakan, tetapi karena punya sertifikatnya, Anda bisa membuktikan kalau Anda adalah pemilik aslinya,” tutur kolumnis teknologi New York Times, Kevin Roose. Klaim kepemilikan NFT pada dasarnya sebuah cara mengklaim kepemilikan suatu benda digital. Kemampuan untuk meng-copy dan mem-paste membuat konsep scarcity atau kelangkaan menjadi semacam hal yang agak mustahil di dunia digital. Konsep kelangkaan terhadap aset digital inilah yang membuat harganya bisa melambung.

Dengan NFT, seorang seniman bisa menciptakan karya seni, baik itu visual maupun audio, yang langka secara digital. Dengan harga yang tinggi ini, Tidak ada yang bisa memberi garansi harga NFT dan nilai aset kripto. Semua tergantung  mekanisme pasar; makin tinggi minat dan permintaan, makin tinggi pula harganya. Namun, kini pasar NFT dan aset kripto pun sedang melandai. Dalam sebulan terakhir, volume penjualan NFT Ethereum di platform NFT terbesar, OpenSea, telah turun sebesar 68,4 %, menurut firma pelacak pasar NFT, DappRadar. Rerata harga jual NFT di sejumlah platform pun menurun. Di platform BloctoBay, misalnya, harga jual NFT turun 66 % menjadi setara 51,64 USD. Dengan mendinginnya pasar, pemanfaatan NFT sudah mulai bergerak ke fungsi utility atau kegunaan. Misalnya, NFT dijadikan sebagai tiket konser atau kegiatan tertentu. Bahkan, sejumlah platform NFT musik seperti Royal dan Opulous memungkinkan fans yang membeli NFT dari musisi kegemaran mereka turut mendapatkan bagian royalti. Hal ini dimungkinkan melalui sebuah smart contract yang terprogram pada kode setiap aset. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :