Difabel Netra di Manado Terimpit Kebutuhan, Bermuara di Jalanan
Johanes Disa (45), penyandang disabilitas netra, berdiri di tepian Jalan Sam Ratulangi 12, Manado, sambil menawar kan dagangan tisu yang dibawa dalam keranjang. Tanpa ia ketahui, sesekali seorang pengendara membuka kaca mobil untuk meletakkan selembar uang Rp 1.000, Rp 2.000, atau Rp 5.000 di keranjang tisunya sambil berlalu, Namun, para pelintas lebih sering memberi uang begitu saja tanpa mengambil tisu yang ditawarkan. Pernah biar satu saja enggak laku, pulang tetap bawa uang, katanya pada 22 April 2022. Setiap hari, dari siang hingga larut malam, berjualan tisu, Uang yang didapat sekitar Rp 100.000 per hari, yang langsung dihabiskan keesokan harinya untuk kebutuhan pokok keluarganya. ”Sebagai lulusan Universitas Negeri Manado, saya bisa menjadi guru. Cuma, saat ini jalan paling cepat dapat uang, ya, berjualan,” katanya. Johanes sebenarnya guru honorer sekolah luar biasa di Desa Kamangta, Minahasa. Namun, gajinya yang hanya Rp 300.000 per bulan bahkan tak cukup membayar sewa rumah semipermanen yang ditempati keluarganya di Kelurahan Paal IV, yaitu Rp 350.000 per bulan.
Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Manado mencatat, ada 126 difabel netra dari total 1.437 warga Manado yang menyandang disabilitas, 69 di antaranya teridentifikasi berjualan tisu, kacang, dan keripik di jalanan pusat kota, seperti yang dilakukan Johanes. Kebanyakan dari mereka pernah mengikuti rehabilitasi sosial dan pelatihan keterampilan, seperti pijat, musik, dan kerajinan tangan di Sentra Tumou Tou Manado. Kepala Sentra Tumou Tou Kamsiaty Rotty khawatir difabel netra semakin banyak yang tergiur turun ke jalanan. ”Karakter masyarakat Manado memang penuh kasih, suka memberi. Akhirnya, para difabel netra saling panggil karena pendapatan di jalan terbukti besar,” ujarnya, pada 9 Mei lalu. Menurut Johanes, difabel netra berada di jalan karena potensi mereka tidak terserap ke dalam ekonomi kota. Mereka tak dilirik pasar tenaga kerja sekalipun memiliki tingkat pendidikan atau keahlian yang memadai. Sementara untuk membuka usaha sendiri, mereka juga kesulitan mengakses permodalan.
Wali Kota Manado Andrei Angouw menyatakan telah berupaya membantu para difabel netra. Dalam tahun pertama kepemimpinannya, pemkot bekerja sama dengan Sentra Tumou Tou untuk menyediakan kios usaha di halaman parkir toko-toko swalayan bagi 10 difabel netra. Namun, program itu tidak sukses karena para penerima manfaat enggan membayar sewa tempat. Andrei menyatakan akan menjamin hak difabel netra untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Sebab, Manado memiliki Peraturan Wali Kota Nomor 48A/2017 tentang Pemberdayaan Penyandang Disabilitas. Ia berjanji merekrut difabel netra untuk bekerja di lingkungan pemkot serta mendorong sektor privat memenuhi kewajibannya. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023