KREDIT TAMBANG TERIMPIT
Upaya pemerintah memacu pembiayaan hijau (sustainability-linked financing) telah membuat kontribusi kredit sektor pertambangan dan penggalian stagnan di bawah 3% terhadap total kredit perbankan. Nilai kredit bank ke pertambangan pada Januari-April 2022 terus berada di urutan terkecil. Hal ini kontras dengan kondisi usaha pertambangan yang pada tahun ini masih tokcer karena terimbas kenaikan harga-harga komoditas. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) yang diperoleh Bisnis, kemarin, posisi kredit investasi yang disalurkan ke sektor pertambangan dan penggalian per April 2022 tercatat hanya Rp83 triliun, kendati tumbuh 67,2% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Kendati pertumbuhannya terbesar, nilai kredit investasi di sektor pertambangan dan penggalian justru tak beranjak dari urutan dua terbuncit setelah sektor jasa-jasa yang hanya Rp79,9 triliun. Adapun, nilai kredit modal kerja yang dikucurkan perbankan ke sektor pertambangan juga berada di urutan kedua dari bawah setelah sektor listrik, gas dan air bersih Rp23,5 triliun. Sementara itu, dua sektor yang mendapat kredit investasi dan modal kerja terbesar masih dipegang sektor perdagangan, hotel & restoran yaitu Rp239,1 triliun dan Rp916 triliun; dan industri pengolahan Rp244,2 triliun dan Rp701,3 triliun. Kecilnya angka penyaluran kredit ke sektor pertambangan dan penggalian tak terlepas dari komitmen sejumlah bank di Indonesia yang mulai menghindari pengucuran kredit di sektor tersebut.
Tags :
#PertambanganPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023