;

SAMPAH MAKANAN, Dibuang Warga, Dimakan Pemulung

Ekonomi Yoga 19 May 2022 Kompas (H)
SAMPAH MAKANAN,
Dibuang Warga,
Dimakan Pemulung

Jam menunjukkan pukul 13.30 WIB. Terik, becek air lindi, dan bau busuk dari gunung sampah bercampur aduk menghiasi aktivitas ratusan pemulung di zona 3 Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Besarnya tenaga yang terkuras selama pencarian sampah tidak jarang membuat pemulung juga melirik sampah makanan yang masih layak dikonsumsi. Seperti salah seorang pemulung, Rohadi (47), yang menemukan sebungkus roti sobek dan langsung melahapnya di lokasi. ”Makanan yang masih layak seperti ini, ya, dimakan,” kata Rohadi. Tidak jauh dari lokasi Rohadi mencari kertas dan kardus, Sarmi (45) dan Adim (40) mencicipi kue kering yang mereka temukan dalam kantong plastik bening di antara tumpukan sampah. ”Iseng makan gitu. Kalau lapar dikit, malas turun ke bawah untuk beli nasi, ya, apa saja dimakan, yang penting sehat gitu saja,” kata Sarmi. Adim bahkan menambahkan, tidak hanya makanan jadi, tetapi bahan mentah, apabila dirasa masih layak, bisa dibawa pulang ke rumah. ”Jangankan makanan, ikan, ayam saja kalau masih bagus, ya, dibawa pulang, dimasak lagi. Engkar (43) gemar mencari makanan kemasan dan makanan siap masak di sela-sela menyortir sampah kertas dan plastik. Makanan kemasan sering ia dapatkan langsung ketika ada truk yang datang ke TPST Sumur Batu, Bekasi. Engkar menunjukkan berbagai benda hasil temuannya, sebotol madu, adonan puding instan, makaroni kering, sekantong kacang almon, hingga sebungkus lembaran kulit taco, makanan khas Meksiko. Bagi Engkar, tidak ada yang spesial dari makanan-makanan impor tersebut. Asalkan tidak ada bungkusan yang berlubang, baginya semua masih layak untuk dimakan.

Menurut Ketua Koalisi Persampahan Nasional Bagong Suyoto, pemulung juga merupakan simbol konkret kelompok ringkih ketahanan pangan. ”Jadi, bagaimana caranya mereka mencukupi pangan? Salah satunya mencari sisa pangan yang masih bisa digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Itu sebagai upaya untuk mempertahankan hidup,” lanjutnya. Apa yang dilakukan para pemulung itu bukanlah tanpa risiko. Menurut hasil laporan puskesmas setempat yang ia pegang, Bagong menjelaskan, sampah di TPA menjadi sumber beberapa penyakit. ”Secara kasatmata bahaya tak tampak, tetapi udara kotor bikin ISPA, air kotornya bisa disentri, muntaber, atau gatal kulit,” katanya. ”Itu kalau usianya 40, 30 tahun, mereka masih sehat. Masih hebatlah mereka. Makan tanpa cuci tangan. Mereka tidak berpikir jika itu gas metana, karbon dioksida, dan zat macam-macam sangat berpengaruh terhadap ketahanan tubuhnya. Kelak, kalau sudah 50, 60 tahun, bengeknya mulai kelihatan,” ujar Bagong. Secara nasional, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian LH dan Kehutanan pada 2021, sisa makanan menyumbang lebih dari seperempat sampah yang dihasilkan setiap hari. Ini pun telah mengalami penurunan dari 40 % pada 2019. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :