BERBURU PENOPANG BARU EKSPOR
Kinerja moncer ekspor nasional selama April 2022 menjadi angin segar bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Namun, dominasi komoditas batu bara perlu diantisipasi dengan mencari produk unggulan ekspor lain, jika tak ingin kinerja dagang melorot saat pamor si emas hitam meredup. Apalagi, belakangan pemerintah juga mengambil kebijakan tegas dengan melarang ekspor sejumlah komoditas penting salah satunya crude palm oil (CPO), kendati dampak pada kinerja dagang periode April 2022 belum signifikan. Mengacu pada data termutakhir Badan Pusat Statistik (BPS), batu bara masih menjadi kontributor utama ekspor Indonesia yang tercatat mengalami surplus US$7,55 miliar pada April 2022. Meski secara volume ekspor batu bara pada April 2022 turun 9,46% ketimbang bulan sebelumnya, tetapi harga si emas hitam yang terus menanjak membuat ekspor pada bulan lalu naik 3,11% month-to-month (MtM).
Wanti-wanti dikemukakan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal. Menurutnya Indonesia mesti segera mencari substitusi batu bara untuk menjaga kinerja ekspor nasional. Alasannya, komoditas fosil, seperti batu bara, gas, produk pertambangan lain memiliki cadangan yang bisa habis. Senada, Koordinator Wakil Ketua Umum III Kadin Shinta Widjaja Kamdani menilai momentum neraca perdagangan yang masih surplus merupakan saat yang tepat untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor dengan memanfaatkan kekurangan pasokan di pasar global. Menurutnya, pemerintah perlu menggenjot diversifikasi ekspor produk manufaktur ke pasar-pasar baru untuk mengurangi dominasi batu bara di neraca dagang nasional. Indonesia, katanya, dapat mengekspor produk pangan serta makanan dan minuman ke negara-negara yang mengalami krisis pasokan.
Tags :
#EksporPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023