;

Larangan Ekspor Gandum India Bisa Sumbang Inflasi

Ekonomi Yoga 17 May 2022 Kompas
Larangan Ekspor Gandum
India Bisa Sumbang Inflasi

Keputusan India melarang ekspor gandum karena gangguan produksi yang diakibatkan gelombang panas dapat memperkeruh krisis rantai pasok dunia. Kebijakan itu dikhawatirkan berdampak pada pasokan bahan baku gandum di sektor makanan dan minuman. Hal ini juga berpotensi menambah buruk inflasi kebutuhan pokok di dalam negeri. India sebagai produsen gandum terbesar kedua dunia mengeluarkan kebijakan larangan ekspor tersebut sejak Jumat (13/5). Gelombang panas yang sedang melanda India membuat produksi terhambat dan mendorong harga gandum domestik negara tersebut melonjak ke level tertinggi. Larangan ekspor itu keluar di tengah tingginya permintaan global atas gandum India untuk menggantikan pasokan dari Rusia dan Ukraina yang sampai sekarang masih berperang. Setelah Pemerintah India mengeluarkan kebijakan tersebut, harga gandum dunia pun ikut melonjak. Mengutip data Trading Economics, harga komoditas tersebut pada Senin (16/5) menyentuh level 12,47 USD per bushel (gantang) atau mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Sebelum larang- an ekspor keluar, harga gandum dunia ada di kisaran 11,65 USD per bushel.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi S Lukman mengatakan, larangan ekspor itu akan memberatkan industri makanan dan minuman dalam negeri yang saat ini menjadikan India sebagai alternatif sumber bahan baku impor gandum yang murah akibat terganggunya pasokan dari Ukraina. Indonesia adalah salah satu importir gandum terbesar di dunia. Pada 2021, Indonesia mengimpor 40,9 % kebutuhan gandumnya dari Australia sebanyak 4,69 juta ton. Importir gandum kedua terbesar adalah dari Ukraina (26,8 %) sebanyak 3 juta ton. Adapun impor dari India hanya 318.467 ton atau 2,8 % kebutuhan gandum nasional. Namun, sejak awal tahun 2022, volume impor gandum Indonesia dari India meningkat setelah pasokan dari Ukraina terganggu akibat perang. Pasokan bahan baku yang terganggu dan harga yang semakin mahal itu pun akan berdampak pada harga produk akhir bagi konsumen. Minggu lalu, pelaku industri makanan dan minuman baru saja menaikkan harga jual sejumlah produk berbahan baku gandum hingga 3 % untuk Mei 2022, seperti roti, biskuit, dan mi instan. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Mohammad Faisal mengatakan, dampak dari kebijakan larangan ekspor gandum India akan memengaruhi harga produk turunan gandum di dalam negeri setelah terjadinya kenaikan harga gandum di level global. Namun, ia meyakini hal itu bisa segera diatasi dengan mencari negara importir lain. Meski demikian, inflasi pangan di dalam negeri tetap perlu diantisipasi. Pasalnya, beberapa produk turunan gandum telah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat, khususnya masyarakat dari kelas ekonomi menengah ke bawah, seperti mi instan, tepung terigu untuk memasak, dan roti. Untuk meredam dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat, Faisal mengatakan, pemerintah harus mengontrol kenaikan harga sejumlah komoditas yang ada di bawah kendali negara, seperti subsidi elpiji, bahan bakar minyak pertalite, dan tarif listrik. (Yoga)


Tags :
#Inflasi
Download Aplikasi Labirin :