KTT Khusus ASEAN-AS dan Peluang Investasi di Indonesia
Dengan populasi gabungan 667 juta dan PDB agregat 3 triliun USD, ASEAN adalah ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2030, membuat AS memiliki kepentingan yang besar untuk memperdalam hubungan dagang dan investasi di wilayah Asia Tenggara. Posisi sebagai negara terbesar di ASEAN, dengan proyeksi 200 juta populasi di kelas konsumsi pada 2030, menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis bagi AS untuk memperkuat posisinya di ASEAN. Sayangnya, selama ini AS memiliki kebijakan perdagangan yang lemah dengan Asia Tenggara dan lebih fokus dalam membahas isu pertahanan dan keamanan dibandingkan kerja sama ekonomi sehingga tidak heran China dapat menyalip pengaruh AS dalam ekonomi ASEAN. Sumbangsih China dalam perekonomian Indonesia pun lebih besar daripada AS. Tahun 2020, AS menyumbang 11 % dari total ekspor dan 5,4 % total impor Indonesia, sedangkan China menyumbang 18,3 % ekspor dan 29 % impor Indonesia. Dalam aspek investasi, China sekali lagi membalap AS, dengan nilai investasi langsung asing (FDI) / PMA di Indonesia pada 2020 lebih tinggi sebesar 904,34 juta USD atau 47,55 %, dibandingkan FDI dari AS. Kerja sama militer dan keamanan AS dengan Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya sangat dihargai, tetapi masih banyak peluang lain yang bisa dibuka, terutama di bidang ekonomi.
Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, telah membuktikan dirinya sebagai salah satu negara yang paling ramah terhadap investasi melalui pengesahan UU No 11 Tahun 2020. Begitu banyak peluang investasi yang dapat ditawarkan Indonesia ke AS. Pertama, melalui potensi besar Indonesia dalam hal nikel, yang merupakan komoditas idola saat ini. Seiring perkembangan ekosistem electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik, permintaan produk baterai juga meningkat, membuat harganya naik sehingga industri penambangan nikel akan sangat menguntungkan. Indonesia berambisi menjadi pusat produksi baterai dan EV melalui kebijakan hilirisasi untuk memproses nikel di dalam negeri. Hal ini telah menarik investasi dari sejumlah investor China, Jepang, dan Korea, termasuk Hyundai dan Foxconn, untuk membangun baterai dan mobil listrik di Indonesia. Sangat disayangkan bagi AS apabila melewatkan peluang ini. Kedua, AS memiliki potensi besar berinvestasi di infrastruktur digital, servis digital, ataupun platform digital. Pasalnya, sektor digital Indonesia saat ini telah berkembang pesat, menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Pada tahun 2021 pasar digital Indonesia tumbuh 50 % mencapai 70 miliar USD. Saat ini, Indonesia sudah memiliki sembilan unicorn perusahaan rintisan (start-up). Ke depan, Pemerintah Indonesia akan menjadikan sektor digital sebagai sektor prioritas untuk dikembangkan, terutama di bidang seperti teknologi kesehatan dan teknologi pendidikan. Ketiga, Indonesia berpotensi menjadi alternatif kapasitas bagi manufaktur China yang terganggu oleh pandemi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023