Buku dan Budaya Baca
Pandemi Covid-19 kian memukul budaya baca dan penjualan buku di Indonesia. Tak mudah mendorong orang tua dan anak untuk menumbuhkan minat baca dan mencintai buku. Pandemi menggerus daya beli sehingga membeli buku atau bacaan lain jauh dari prioritas. Lagi pula, mengajak anak menikmati buku di perpustakaan atau took buku bukanlah kebiasaan umum orang tua di Indonesia. Sorotan atas keterpurukan budaya buku dan budaya baca di negeri ini bukan hal baru. Dalam Nusa Jawa: Silang Budaya (Gramedia Pustaka Utama, 1996), Profesor Denys Lombard, sarjana Perancis dengan kepakaran dalam sejarah Indonesia, mencatat, secara umum orang Indonesia sedikit sekali membaca. Penyebabnya, pertama, rendahnya tingkat melek huruf dan, kedua, sikap menentang setiap bentuk kegiatan perseorangan. Bagi kebanyakan orang Indonesia, membaca merupakan budaya individualisme. Secara tradisional, kegiatan kesusastraan Nusantara memang bersifat kolektif. Berupa kisah yang diceritakan pada sekelompok pendengar. Meskipun para penutur tradisi lisan lokal mulai pudar dan digantikan oleh pembaca berita dan pelawak di televisi atau pegiat Tiktok di media sosial, budaya lisan atau tutur telah menjadi bagian tradisi hidup kolektif.
Tak heran kalau orang Indonesia sangat sedikit membaca karya sastra modern, yang martabatnya tidak sama dengan di Eropa. Setiap orang Eropa terdidik sedikit banyak dituntun untuk mengetahui roman-roman besar kontemporer, sedangkan orang terdidik di negeri ini sama sekali tidak merasa malu mengatakan bahwa ia belum pernah membaca karya-karya sastra besar. Di Indonesia, sekalipun angka melek huruf relatif meningkat dua dekade terakhir, dominasi budaya visual (televisi) dan budaya digital (internet) relatif kurang menggerakkan budaya baca. Malahan dalam beberapa segi menjadi bagian dari kendala budaya baca. Karena itu, buku-buku sastra diterbitkan masih dengan oplah relatif kecil dan pembaca koran tidak banyak tumbuh dibandingkan peningkatan jumlah penduduk Indonesia. Bulan Mei ini ada dua hari penting. Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei dan Hari Buku Nasional pada 17 Mei, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional. Kedua hari ini amat terkait dengan buku, tentu saja jika buku dianggap sebagai media budaya untuk pencerdasan bangsa. Jika buku dianggap sebagai produk budaya, keterpurukan budaya buku dan budaya baca pun sebagian berakar pada budaya elite dan budaya massa yang berkembang. Diperlukan agenda budaya guna membentuk masa depan budaya baca dan perbukuan di negeri ini. Tentu saja, tidak seperti membalik telapak tangan. Apalagi snobisme virtual, menjadi buah bibir di media sosial, jauh lebih menarik bagi generasi kini. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Perllindungan terhadap Semua Pekerja
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Danantara Gencar Himpun Pendanaan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023