Kelas Menengah Jadi Tumpuan Geliat Konsumsi
Geliat konsumsi nasional dinilai masih bertumpu pada masyarakat berpenghasilan menengah. Namun, agar konsumsi dapat tumbuh optimal, daya beli masyarakat berpenghasilan rendah perlu dijaga dan belanja masyarakat berpenghasilan atas perlu didorong. BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2022 mencapai 5,01 % secara tahunan. Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,43 % dan kontribusinya terhadap PDB 53,56 %. Geliat konsumsi atau belanja pada masa Ramadhan-Lebaran 2022 akan mengungkit pertumbuhan ekonomi triwulan II-2022, terindikasi dari indeks belanja Ramadhan 2022 yang tumbuh 31 % menjadi 179,4 atau jauh di atas ambang batas indeks sebesar 100. Vice President for Industry and Regional Research Office of Economist Group PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani (12/5) mengatakan, kenaikan indeks belanja Ramadhan 2022 terjadi di semua kelompok penghasilan. Masyarakat berpenghasilan menengah berbelanja paling tinggi, sedangkan belanja masyarakat berpenghasilan rendah dan tinggi kembali di atas level pra pandemi.
Dalam laporan Bank Dunia bertajuk ”Aspiring Indonesia-Expanding the Middle Class”, Januari 2020, menyebutkan, dalam 15 tahun terakhir, jumlah populasi kelas menengah Indonesia naik dari 7 % menjadi 20 % total populasi atau 52 juta orang pada 2019. Laporan Bank Dunia ”Pathways to Middle-class Jobs in Indonesia” yang dirilis 30 Juni 2021 menunjukkan, pangsa pekerja kelas menengah Indonesia sebesar 15,4 % pada Agustus 2019 turun menjadi 10,2 % pada Agustus 2020 akibat pandemi Covid-19. Peneliti Center Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abdul Manap Pulungan, berpendapat, salah satu faktor yang memengaruhi masih rendahnya konsumsi rumah tangga adalah konsumsi kelas atas yang masih terbatas, terindikasi dari jumlah simpanan di atas Rp 5 miliar yang meningkat. LPS mencatat, simpanan di atas Rp 5 miliar di perbankan per Maret 2022 mencapai Rp 3.905 triliun, tumbuh 13,3 % secara tahunan. Porsi simpanan itu 51,8 % total simpanan Rp 7.544 triliun. Namun, indeks ekspektasi kondisi ekonomi (IEK) turun. ”Penurunan ini ditengarai oleh kekhawatiran responden terhadap melemahnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga beberapa komoditas,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono. (Yoga)
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023