;

Dua Sisi Wajah Baru Malioboro di Yogyakarta

Dua Sisi Wajah Baru Malioboro di Yogyakarta

Sugiharti (50) dan putrinya masih berdiri di depan papan penanda jalan bertulis ”Jalan Malioboro”, di sisi timur trotoar Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Selasa (3/5). Sambil mengutak-atik telepon seluler, mereka menanti giliran berfoto. Sugiharti takjub dengan wajah Malioboro terkini. Trotoarnya lebar. Pedagang kaki lima (PKL) tak lagi memadati area trotoar. Kondisi terbaru kawasan tersebut membuatnya lebih nyaman buat berwisata. Arofah (34), pengunjung asal Malang, Jatim, juga mengaku baru kali ini dia dan keluarga bisa menyantap makanan di bangku trotoar. ”Saat masih ada PKL, kondisi trotoar tidak nyaman. Biasanya terganggu kerumunan dan suara pedagang menawarkan dagangan,” ujar Arofah. Wajah baru Malioboro juga terasa menyenangkan bagi Rina (29), wisatawan asal Purwokerto, Jateng. Kelegaan ini membuatnya bisa berjalan nyaman tanpa gangguan deretan pedagang yang berjajar dan saling berhadapan, seolah mengepung setiap pengunjung yang melintas. Penataan jalur pedestrian Malioboro dimulai pada 2018. Namun, pemindahan PKL pada Februari 2022 benar-benar mengubah wajah jalan itu. Musim libur Lebaran tahun ini menjadi yang pertama kali Malioboro versi baru dijejali jutaan warga dan pelancong. Sebanyak 1.836 PKL Malioboro direlokasi ke Teras Malioboro I yang memanfaatkan bekas gedung bioskop Indra dan Teras Malioboro II di lahan bekas Kantor Dinas Pariwisata DIY. Kini, sepanjang Malioboro yang tampak ramai hanyalah wisatawan. Ada yang duduk-duduk di bangku, berjalan-jalan sambil mengemil kudapan, dan berswafoto di sekitar papan nama Jalan Malioboro. Yang lain duduk di bangku jalan menggelar acara makan bersama keluarga.

Walakin, longgarnya ruang di Malioboro masih kebablasan dimanfaatkan. Jalur pedestrian yang dikhususkan bagi pejalan kaki justru dimanfaatkan sejumlah orang memakai sepeda ataupun skuter listrik. Hal ini tentu membahayakan. Wajah baru ini juga disambut gembira oleh Yudi (30), sopir andong yang biasa mangkal di kawasan Malioboro. Kendati tidak berdampak langsung pada penghasilannya, dia mengaku lebih nyaman saat mangkal karena kondisi jalur pedestrian lebih bersih dan rapi. Sekalipun menyenangkan bagi para wisa- tawan, program penataan PKL masih menyisakan kekecewaan bagi sejumlah pedagang. Sejak direlokasi dan menempati lo- kasi baru di Teras Malioboro, mereka mengaku pemasukannya menurun. Walidi (56), pedagang kaus di Teras Malioboro I, kecewa karena penurunan omzet terjadi pada masa libur Lebaran yang biasanya jadi puncak pendapatan. ”Saat masih di emperan (trotoar), dari pagi hingga siang sekitar pukul 12.00 saja, saya sudah bisa mendapatkan Rp 10 juta. Namun, saat di sini (Teras Malioboro), pendapatan dari pagi hingga siang hanya sekitar Rp 100.000,” ujarnya. Ratna (41), pedagang aneka makanan khas, seperti bakpia, geplak, dan wajik, juga mengeluh karena relokasi itu membuatnya kehilangan kontak dengan pelanggan lama. ”Saya harus memulai dari awal, babad alas lagi,” ujar Ratna yang sudah berdagang di Malioboro sekitar 10 tahun. Penempatan PKL juga tidak dibagi berdasarkan produk dagangan. Contohnya, Ratna yang menjual makanan bercampur dengan pedagang kaus. Hasyim, pedagang topi di Teras Malioboro 1, lugas mengkritik penataan PKL yang membuat Malioboro kehilangan kekhasan. Setiap perubahan selalu menuai pro-kontra. Namun, seiring waktu, penataan Malioboro menjadi keniscayaan jika ingin beradaptasi menuju destinasi bertaraf internasional. (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :