Mengelola Bara Nafsu Kuasa
Renungan Idul Fitri KH Robikin Emhas, Ketua Pengurus Besar NU, Stafsus Wapres RI, mengingatkan seluruh umat beriman kembali ke asal muasal sebagai makhluk Tuhan yang suci bagaikan bayi tidak mempunyai dosa. Makna terdalamnya, tiada iman tanpa keterlibatan ikut berlomba berbuat baik bagi sesama. Pesan spiritual KH Robikin Emhas memberikan isyarat semakin menguatnya fenomena keterbelahan sosial disertai kebencian sesama warga masyarakat. Pesan ini harus diperhatikan pemerintah dan masyarakat sipil, terutama para elite politik, agar dalam perburuan kekuasaan tidak menghalalkan segala cara. Wanti-wanti bernada keprihatinan merawat fitrah mengungkapkan pula agar merayakan kemenangan melawan nafsu kenikmatan badaniah tetap harus waspada berbagai godaan, terutama nafsu kuasa. Latar belakang nasihat, demonstrasi mahasiswa dicemari kerusuhan dan penganiayaan jauh di luar batas kemanusiaan. Tanpa peradaban, manusia adalah serigala bagi sesamanya.
Kegamangan sangat valid karena pengalaman Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 merupakan kisah tragis. Mimbar mulia merayakan kedaulatan rakyat dikoyak-koyak politik identitas yang mengobarkan kebencian. Tragedi sejenis berulang pada Pilpres 2019. Banyak kalangan waswas di Pemilu 2024 petaka sejenis terulang kembali. Terlebih ancaman populisme dan pascakebenaran masih merajalela dan dijadikan senjata utama mereka yang lapar kuasa. Biasanya dua mazhab terkutuk itu bersekutu dengan sentimen primordial memproduksi kebohongan yang menggiring logika ke arah kebencian sehingga masyarakat tercabik-cabik dan perkutuban semakin mengeras. Para pemburu kekuasaan memanfaatkan rezim pasca kebenaran bukan sekadar membuat kebohongan diterima sebagai kebenaran, melainkan juga memperkeruh makna sehingga sulit membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Akibatnya, para pengikut menerima segala ucapan tokohnya sebagai kebenaran absolut.
Menyeleksi pemimpin perlu cermat menyelisik rekam jejak karakter dan kompetensi, bukan jejak rekam pencitraan serta akrobat kalimat yang disulam dan dijejalkan ke publik lewat media sosial. Dalam demokrasi yang sehat, kelemahan negara bukan hanya dibebankan kepada pemerintah; masyarakat sipil harus memberdayakan diri dan meningkatkan konsolidasi agar menjadi ”teman berlatih” (sparring partner) negara sehingga relasi mereka saling menguatkan. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023