;

Keramba Jaring Apung untuk Budidaya Lobster

Ekonomi Yoga 09 May 2022 Kompas
Keramba Jaring Apung
untuk Budidaya Lobster

Sudah saatnya budidaya lobster Indonesia mendunia. Pengembangan teknologi budidaya lobster dibutuhkan untuk memaksimalkan potensi ratusan juta benih lobster yang selama ini dikirimkan ke luar negeri. Jika benih-benih ini dikembangkan di Tanah Air, Indonesia bisa bersaing dalam pasar lobster kelas dunia. Negara-negara tetangga pun mulai melirik komoditas perikanan dengan nilai jual tinggi ini. Bahkan, Australia menunjukkan keseriusannya menjajal teknologi keramba jaring apung (KJA) submersible merek Aquatec dari PT Gani Arta Dwitunggal. Nilai ekspor untuk satu paket KJA sistem kerangkeng terbenam ini mencapai 100.000 USD atau Rp 1,4 miliar. Paket tersebut dikirimkan dari pabriknya di Padalarang, Bandung Barat, Jabar, Senin (18/4). Paket ini dimasukkan ke dalam satu kontainer yang akan dikirimkan melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Di situ, sejumlah petugas sibuk menyusun peralatan di dalam peti kemas. Sementara itu, satu unit forklift mondar-mandir mengantarkan paket peralatan dengan ukuran yang beraneka ragam.

Dirut PT Gani Arta Dwitunggal Budiprawira Sunadim, yang turut melepas paket ekspor tersebut, menyatakan, pembeli dari Australia ini adalah Ornatas, perusahaan budidaya lobster kenamaan dari ”Negeri Kanguru” itu. Selain Australia, Papua Niugini juga tengah menjalin komunikasi dengan Aquatec untuk membeli KJA submersible.”Ini tidak menutup kemungkinan untuk pemesanan berikutnya. Apalagi, kabarnya Australia menyediakan dana 1,8 miliar dollar Australia untuk pengembangan budidaya lobster. Menurut kami,  pembelian ini adalah bentuk pengakuan dari perusahaan internasional terhadap teknologi yang kami kembangkan,” tuturnya. Teknologi KJA ini memastikan kerangkeng lobster tidak berada di permukaan air, tetapi tetap bertahan di kedalaman tertentu. Hal itu dilakukan untuk memastikan benih lobster mendapatkan suhu dan kondisi air yang stabil selama budidaya berlangsung. Budiprawira mengklaim, kelangsungan hidup (survival rate) dari budidaya dengan sistem ini bisa mencapai 80 %. Tingkat keberhasilan yang cukup tinggi itu tentu sangat menguntungkan bagi pelaku budidaya lobster. Apalagi, daging lobster bernilai tinggi di pasar makanan laut (seafood). Dari laman Aquatec.co.id, lobster mutiara berukuran 300 gram mencapai Rp 600.000 per kg. Adapun ukuran 1 kg ke atas bisa dijual hinggaRp 1,2 juta per kg. Harga ini tidak jauh berbeda dengan lobster yang dijual di pasar daring.

GM Aquatec Andi Jayaprawira Sunadim menjelaskan, pihaknya terus mengembangkan teknologi budidaya lobster agar mendapatkan hasil terbaik. Andi menyebutkan,teknologi budidaya dengan KJA submersible yang dikembangkan Aquatec ini bisa ditempatkan di pesisir mana saja. Sebagian konstruksi dan peralatannya menggunakan kerangka stainless steel dan plastik HDPE (high density polyethylene) yang ramah lingkungan. Andi mencontohkan paket yang dikirim ke Australia. Sistem KJA ini terdiri atas 22 keramba kerangkeng lobster ukuran S (kecil), M (menengah), dan L (besar). Ukuran terkecil digunakan untuk mengembangkan benih dan akan dipindahkan seiring dengan bertambahnya ukuran lobster. ”Setiap kerangkeng ini dibenamkan dengan ketinggian tertentu sesuai kebutuhan. Posisi kerangkeng di tengah, tidak di permukaan atau di dasar, ini baik untuk lobster agar terhindar dari polusi dan kontak lain karena benih lobster ini sensitif,” ujarnya. Metode ini, menurut Andi, telah diuji coba bersama sejumlah pihak. Tidak hanya dari pemerintah melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung, perguruan tinggi seperti Unpad dan IPB juga ikut mencoba teknologi tersebut. (Yoga)


Tags :
#perikanan
Download Aplikasi Labirin :