;

Ekonomi dan Konservasi Durian Organik

Ekonomi Yoga 06 May 2022 Kompas
Ekonomi dan Konservasi Durian Organik

Di balik sebutir durian Medan yang disantap warga di lapak-lapak durian, hingga kafe bintang lima di Kota Medan, terdapat ikhtiar ribuan petani yang turut menjaga kelestarian hutan. Selain menggerakkan ekonomi, tanaman keras itu juga berperan menjaga lingkungan di lereng Bukit Barisan, Sumut. Sebanyak 100 pohon durian tumbuh di lahan keluarga Lekson Hasibuan (44), petani durian di Dusun II, Desa Sembari, Kabupaten Dairi, Sumut. 50 batang durian, tanaman warisan dari sang bapak, kini sudah berbuah lebat. Sebanyak 30 batang di antaranya berumur lebih dari 10 tahun, sedangkan 20 batang lainnya kurang dari 10 tahun. Puluhan tanaman lainnya baru ditanam Lekson empat tahun lalu. Tanaman itu tumbuh di ladang yang berlereng-lereng. Pohon yang tumbuh baik menghasilkan 100 angkat durian. Satu angkat setara satu buah durian besar dengan diameter sekitar 20 sentimeter. Jika ukuran durian terhitung kecil, satu angkat bisa berisi dua hingga tiga butir durian. ”Namun, kalau duriannya lebih besar dengan diameter lebih dari 20 sentimeter, tetap saja dihitung satu angkat,” kata Lekson. Satu angkat durian dihargai Rp 10.000 saat musim durian. Namun, saat bukan musim durian atau sedang sepi, satu angkat dihargai Rp 15.000-Rp 20.000. Dalam setahun, Lekson bisa mendapatkan Rp 30 juta dari hasil tanaman durian. Sebanyak 250 keluarga warga Desa Sembari memiliki pohon durian. Setiap keluarga setidaknya mempunyai 30 pohon dan belakangan semakin bertambah setelah melihat pasar durian semakin menjanjikan.

Durian Dairi yang kemudian disebut durian Sidikalang diyakini pedagang di Medan sebagai durian terbaik di Sumut. Dagingnya tebal, baunya harum, dan rasanya lembut serta legit. Warnanya kuning, sebagian semu oranye. Duriannya juga tidak gampang pecah. Lekson berkisah, program perhutanan sosial di desanya juga telah memperbolehkan warga mengelola lahan adat mereka yang masuk kawasan hutan. Lahan berkontur miring seluas 50-100 hektar itu kini sudah mulai ditanamiwarga dengan pohon durian. ”Saya  sudah menanam 23 batang di sana. Selain mencegah longsor, juga menghasilkan,” ucap Lekson. Total, warga setempat sudah menanam ratusan pohon durian di lahan tersebut. Rohani Manalu, coordinator advokasi Yayasan Diakonia Pelangi Kasih, dalam penelitiannya di Dusun Lumban Hutasoit, Kabupaten Dairi, menyebutkan, sebanyak 507 batang pohon durian di desa itu menghasilkan Rp 448,9 juta per tahun. ”Padahal, ada ratusan dusun di Dairi yang masyarakatnya berkebun durian,” kata Rohani. Perputaran uang dari perkebunan durian di seluruh Dairi diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah per tahun. Seiring perkembangan, belakangan banyak pedagang atau pengumpul yang membeli durian secara langsung dari petani di desa-desa, untuk dijadikan durian beku (frozen) yang kini banyak dijual, termasuk secara daring. Pabrik pengolahan daging durian beku juga terus bertumbuh di Sumut. PT Agro Semesta Utama, salah satu pengolah durian beku, bahkan telah membangun dua pabrik. Pabrik terakhir berkapasitas produksi 10 ton per hari atau sekitar 200 ton per bulan yang dibangun di Tanjung Morawa, Deli Serdang, yang menampung hasil durian dari sejumlah kabupaten dan kota di Sumut, Aceh, serta sejumlah wilayah lain. Saat ini, pabrik tersebut telah menyerap lebih kurang 200 tenaga kerja. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :