Tinggalkan Gas Rusia, Uni Eropa Lirik Nuklir
Uni Eropa berencana mengurangi secara bertahap impor minyak mentah Rusia dalam enam bulan mulai akhir tahun ini. Selain itu, UE akan memangkas dua pertiga pasokan gas Rusia mulai tahun depan. Dengan tegas, pada pertemuan para menteri energi dan lingkungan UE, Rabu (4/5) di Brussel, Belgia, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengusulkan embargo minyak Rusia pada paket sanksi keenam atas Moskwa. Namun, disadari, embargo minyak Rusia bisa menggoyahkan ketahanan energi negara-negara UE karena 40 % kebutuhan energi fosil mereka dipasok oleh Rusia. Proposal untuk melarang impor minyak dari Rusia tentu saja akan semakin memperumit keamanan energi UE karena memicu lonjakan harga. Terjadi perdebatan tentang apakah energi alternatif yang pas ketika energi nuklir sudah hendak ditutup dan energy hijau terbarukan belum menjadi penopang utama aktivitas ekonomi kawasan. Apalagi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di seluruh Eropa telah menurun sejak tahun 2004. Lituania, misalnya, telah menutup fasilitas nuklirnya pada 2009. Penurunan terbesar terjadi di Jerman, Swedia, dan Belgia. Jerman, negara ekonomi terbesar dan pemain politik yang kuat di UE, akan menutup PLTN terakhirnya pada tahun ini. Jerman sebenarnya adalah salah satu yang masih bergantung pada energi Rusia. Sementara itu, 40 % kebutuhan listrik Belgia berasal dari energi nuklir atau PLTN. Menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dengan persentase sebesar itu, Belgia menjadi negara tertinggi keenam di UE yang bergantung pada energi nuklir. Belgia sedang bersiap menutup reaktor nuklirnya pada tahun 2025.
Lonjakan harga energi dan embargo akibat perang Rusia-Ukraina pada ujungnya memaksa Belgia dan negara-negara UE bersiap memutar balik kebijakan energi mereka. Embargo energi Rusia akan memaksa UE menghidupkan dan memperpanjang lagi usia operasional reaktor nuklirnya. Christophe Collignon, Wali Kota Huy, Belgia timur, wilayah yang bergantung pada PLTN Tihange, mengatakan, warganya mendukung perpanjangan operasi PLTN itu hingga 2035 untuk menjamin keamanan energi. IAEA mengungkapkan, Perancis yang 70 % pasokan listriknya bergantung pada energi nuklir, sedang meningkatkan produksi. Hal serupa dilakukan Romania, Hongaria, dan Belanda. Untuk UE, Perancis menyumbang 52 % energi dari PLTN-nya. Presiden Emmanuel Macron pada November tahun lalu mengatakan, ia akan membangun reaktor nuklir baru untuk memenuhi target pemanasan global serta memastikan kemandirian energi. Sementara itu, reaktor modular kecil baru, yang lebih cepat dan lebih murah dibandingkan PLTN tradisional, menarik minat Romania, Polandia, dan Inggris. Dengan banyak negara UE tertinggal dalam target emisi karbon, nuklir dipandang sebagai jalan keluar sementara. ”Ini bisa menjadi jenis energi cadangan, sampai kita benar-benar bergerak menuju energi terbarukan,” kata Catalina Spataru, pakar kebijakan energi yang menjabat Direktur Institut Energi di Universitas College, London, Inggris. (Yoga)
Tags :
#Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023