Industri Digital : Konsekuensi dan Konsumsi
Pinjam-meminjam uang antarpihak berbasis teknologi informasi kian merebak. Kemudahan dan kecepatan proses meminjam dana menjadi salah satu daya tariknya. Meski demikian, disisi lain ada suku bunga lumayan yang mesti ditanggung peminjam. Besaran suku bunga yang ditanggung peminjam ini mengompensasi suku bunga yang diberikan kepada pemilik dana. Selain itu, mengompensasi kemungkinan pinjaman macet atau tak dikembalikan oleh peminjam.
Sampai dengan Februari 201, total pinjaman yang disalurkan melalui pinjam-meminjam uang antarpihak berbasis teknologi Rp 28,36 triliun. Jumlah ini memang belum bisa dibandingkan dengan kredit yang disalurkan perbankan yang per Februari 2019 sebesar Rp 5.254 triliun.
Seorang bankir mengakui, ada hal-hal yang bisa dipelajari bank dari sistem yang digunakan industri digital, yakni kemampuan menjangkau masyarakat secara luas. Jangkauan yang luas ini membuat industri digital memiliki peran meningkatkan inklusi keuangan di tengah masyarakat. Hasil survei nasional literasi dan inklusi keuangan yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan menunjukan, indeks literasi keuangan pada tahun 2016 hanya sebesar 29,7%. Secara sederhana hanya 29 orang dari 100 orang yang memahami tentang keuangan. Jika sebagian besar tidak memahami sektor keuangan, bisa diperkirakan sebagian besar masyarakat juga tidak mengerti tentang risiko yang ditanggung dalam proses pinjam meminjam.
Tags :
#Financial TechnologyPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023