;

Buruh Urban Menanti Berkah Ramadhan

Buruh Urban Menanti
Berkah Ramadhan

Disebut daya belinya turun oleh BPS, kalangan buruh informal yang selama pandemi tak jelas nasibnya kini mencoba berpikir positif menyambut pemulihan ekonomi. Momentum lebaran diharapkan mendongkrak rezeki mereka kembali. Caswanto (63) buruh bangunan informal asal Brebes, Jateng,berkata  ”Sehari, saya dibayar Rp 120.000, kerja dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Kalau seminggu gajinya bisa Rp 890.000,” tuturnya. Sebagian kecil penghasilannya untuk hidup seadanya di Ibu Kota, ia tinggal bersama satu buruh bangunan lain di kontrakan Rp 400.000 per bulan. Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta yang Rp 4,6 juta per bulan itu juga tersedot untuk kebutuhan makan. Sebagian besar uangnya ia kirim ke Brebes untuk istrinya yang bekerja sebagai petani. Caswanto berharap ia dapat menabung lebih agar bisa pulang ke kampung halaman di Lebaran kali ini.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai, kembali bergeraknya aktivitas ekonomi masyarakat di perkotaan seperti Jakarta bisa dengan cepat menghidupi angkatan kerja, yaitu pengangguran atau pekerja yang masuk usia kerja. Selama pandemi, sektor industri perdagangan dan jasa, khususnya formal, banyak ditinggalkan karena pengurangan karyawan, pekerja beralih profesi, atau pekerja urban kembali ke desa. Dengan pelonggaran aturan mobilitas dan terkendalinya kasus pandemi di Jakarta, tingkat pengangguran terbuka kembali turun hingga 8,5 % di Agustus 2021. Tren ini, memengaruhi permintaan tenaga kerja di sektor yang diisi buruh informal. ”Akan tetapi, meski ada kenaikan harga, Lebaran bisa menolong meningkatkan konsumsi masyarakat,” ujarnya. Daya beli masyarakat yang beruang yang tak tertahankan di momen ini pun bisa menjadi berkah bagi buruh informal seperti Caswanto. (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :