;

Agar Tidak Menjadi Pembeo Investasi

Ekonomi Yoga 14 Apr 2022 Kompas
Agar Tidak Menjadi Pembeo Investasi

Bukalapak menjadi perusahaan berpredikat unicorn pertama yang melakukan penawaran saham kepada publik luas, diikuti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Pada 11 April 2022, emiten berkode GOTO ini menjadi perusahaan teknologi rintisan kedua yang membuka penawaran saham perdana kepada public. Seturut klasifikasi BEI, perusahaan ini sama-sama bergerak di sektor perangkat lunak dan jasa teknologi informasi. Keduanya pun dikenal luas oleh publik sebagai penyedia berbagai platform dan produk dalam ekosistem digital. Popularitas dua jenama ini menarik animo publik. Bukalapak mendapatkan respons yang besar, bahkan sebelum melakukan perdagangan perdana. Jumlah orang yang mendaftar untuk membeli saham sebelum perdagangan perdana mendekati 1 juta orang. Angka yang fantastis dibandingkan animo publik pada IPO perusahaan sektor lainnya yang hanya diminati puluhan ribu investor ritel. Pada pembukaan pasar pada hari pertama, emiten dengan kode BUKA ini mencatatkan 96.000 investor yang telah membeli saham. Faktor promosi dan menghangatnya iklim berinvestasi saat pandemi menyumbang peran larisnya emiten ini. Meski demikian, sejumlah kalangan menyebut derasnya arus membeli saham BUKA juga didorong oleh rasa fear of missing out (FOMO).

Iklim investasi bagi investor ritel atau individu menghangat di tahun pandemi. Pada 2021, jumlah investor domestic di pasar modal mencapai 7,5 juta, melonjak 2 kali lipat 2020. Padahal, pertambahan jumlah investor tahun sebelumnya hanya 40 - 60 %. Hingga Maret 2022, investor domestik di pasar modal mencapai 8,4 juta. Investor ritel atau individu secara umum didominasi generasi muda, 60,18 % berusia di bawah 30 tahun dan 21,61 % berusia antara 31 hingga 40 tahun. Sayangnya, nuansa kontraproduktif justru tampak dari animo masyarakat dalam berinvestasi. Gelombang perhatian masyarakat pada IPO Bukalapak dibarengi kekecewaan karena merasa dirugikan secara finansial. Sejumlah masyarakat yang menjadi investor BUKA menunjukkan sikap kecewa saat harga saham mengalami penurunan beberapa hari sejak IPO. Kekecewaan ini disampaikan di media sosial, laman e-dagang, hingga kolom komentar Bukalapak di aplikasi Playstore. Padahal, lumrah jika pasar saham mengalami penurunan. Respons inilah yang mengindikasi publik yang berinvestasi didorong oleh rasa takut ketinggalan alias FOMO. Analis saham Lucky B Purnomo menyebutnya sebagai euforia investor pemula yang tak diimbangi pengetahuan memadai tentang mekanisme dasar pasar modal yang berfluktuasi  Wartawan sekaligus praktisi investasi Joice Tauris Santi turut berbagi tips untuk menghindari perilaku FOMO, dengan disiplin mengikuti rencana perdagangan (trading plan). Dalam tahapan membuat rencana perdagangan, investor dapat terlebih dahulu membuat stock universe, yaitu saham pilihan yang akan dipantau. Akhirnya, langkah untuk meneliti dan memahami perlu ditempatkan di rak pikiran paling prioritas agar tidak sebatas membeo. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :