Daya Tahan RI Kembali Diuji
Pemulihan ekonomi Asia, termasuk Indonesia, terus membaik lantaran ditopang ekspor dan peningkatan permintaan domestik. Namun, pada tahun ini, pemulihan tersebut juga diselimuti ketidakpastian yang besar. Daya tahan RI yang cukup tinggi kembali diuji. Dalam Asian Development Outlook 2022 yang dirilis Rabu (6/4), Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebutkan, ketidakpastian itu disebabkan perang Rusia-Ukraina, masih berlanjutnya pandemi Covid-19, dan pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Sentral AS. Harga-harga sejumlah komoditas juga masih bergejolak tinggi sehingga bakal membuat inflasi meningkat. ADB memperkirakan, ekonomi Indonesia tumbuh 5 % pada 2022 dan 5,2 % pada 2023. Tingkat inflasi di Indonesia yang pada 2021 sebesar 1,6 % diperkirakan naik menjadi 3,6 % pada 2022. Kemudian, pada 2023, tingkat inflasi diperkirakan turun menjadi 3 .
”Ekonomi memang terus memulih dari imbas pandemi. Namun, pada tahun ini, pemulihan itu diselimuti ketidakpastian yang besar. Kenaikan inflasi juga bakal menjadi tantangan,” kata ekonom senior ADB untuk Indonesia, Henry Ma.
Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Abdurohman berpendapat konflik Rusia-Ukraina telah menyebabkan sejumlah harga komoditas global naik. Hal itu akan memberikan dampak positif sekaligus negatif bagi Indonesia, pendapatan Indonesia bisa meningkat, di sisi lain, kenaikan harga tersebut ditransmisikan pada kenaikan harga di dalam negeri sehingga berpotensi mengerek tingkat inflasi. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023