Inflasi Muncul dari Dua Arah
Inflasi sepanjang tahun 2022 akan terdorong dari dua arah, yang terjadi karena meningkatnya permintaan masyarakat (demand pull inflation) dan karena naiknya harga-harga barang (cost push inflation). Di tengah inflasi yang melonjak, kebijakan moneter dan kebijakan fiskal diharapkan bisa mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional. ”Konsumsi rumah tangga yang meningkat merupakan buah melonggarnya pembatasan aktivitas masyarakat seiring terkendalinya jumlah kasus Covid-19,” kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Jumat (1/4). Kenaikan permintaan masyarakat tecermin dari inflasi inti Maret 2022 yang mencapai 0,3 %. Secara tahun kalender, inflasi inti Januari-Maret sebesar 1,03 % dan secara tahunan mencapai 2,37 %. Sementara itu, kenaikan harga-harga barang secara umum didorong sejumlah faktor, antara lain akibat kenaikan PPN menjadi 11 % dan harga BBM RON 92 atau Pertamax sebesar Rp 3.500 per liter. Kenaikan tarif PPN harga dan BBM itu akan memberikan andil pada inflasi di bulan-bulan berikutnya. Selain itu, ada juga ancaman pada inflasi akibat kenaikan harga-harga sejumlah barang impor (imported inflation). Harga barang ini sudah naik di negara asalnya sebelum diimpor oleh Indonesia. Barang-barang impor yang mengalami inflasi, antara lain, komoditas pangan dan energi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono, Jumat (1/4) menjelaskan, inflasi itu bersumber dari kenaikan harga cabai merah, elpiji, emas, dan minyak goreng. Kenaikan harga komoditas cabai merah memberikan andil inflasi 0,1%. Kenaikan harga komoditas ini dipicu keterbatasan pasokan akibat pergeseran musim, dari yang seharusnya sudah memasuki kemarau, tetapi masih banyak curah hujan. Selain cabai, komoditas penyumbang inflasi di kelompok makanan adalah minyak goreng dengan andil 0,04 %. Kenaikan harga minyak goreng didorong pemberlakuan Permendag No 11 Tahun 2022 tentang Penetapan HET Minyak Goreng Curah mulai 16 Maret 2022, dimana pemerintah membatalkan Permendag No 6/2022 tentang HET Minyak Goreng. Pengembalian harga minyak goreng ke mekanisme pasar menyebabkan harganya naik. Elpiji memberi andil inflasi 0,07 % akibat kenaikan harga oleh Pertamina pada akhir Februari 2022, dari Rp 13.500 menjadi Rp 15.500 per kg. Emas juga memberikan andil inflasi Maret 2022, yakni 0,04 %. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang menimbulkan ketidakpastian dan membuat investor berburu emas. (Yoga)
Tags :
#InflasiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023