;

Bisnis Properti Dihantui Kenaikan Harga Baja & Besi

Ekonomi Hairul Rizal 15 Mar 2022 Kontan
Bisnis Properti Dihantui Kenaikan Harga Baja & Besi

Perang Rusia dan Ukraina juga menekan rantai pasok konstruksi global. Konflik di Eropa Timur itu mengerek harga bahan baku besi dan baja. Alhasil, tekanan ke sektor konstruksi dan properti semakin bertambah, setelah harga komoditas energi meningkat sekaligus memukul daya beli. Rusia merupakan eksportir baja keempat terbesar di dunia. Selama ini Rusia memasok baja ke lebih dari 150 negara. Industri konstruksi saat ini menyumbang lebih dari 50% permintaan baja dunia. Tahun 2021, Indonesia mengimpor 486.149 ton ingot besi baja (bahan baku baja) dari Rusia senilai US$ 326,63 juta. Mengacu data BPS, angka itu di posisi ketiga setelah impor dari India dan Oman. Para pebisnis properti juga mengakui, perang Rusia dan Ukraina memantik ketidakpastian. Real Estate Indonesia (REI) mengemukakan, potensi kenaikan harga besi dan baja di pasar global akan memukul bisnis konstruksi dan properti di dalam negeri. 

Wakil Ketua Umum DPP REI Raymond Arfandy mengatakan, tak hanya besi dan baja, keadaan ini berpotensi menaikkan harga komponen konstruksi lainnya. Ketua Apindo Bidang Properti dan Kawasan Ekonomi, Sanny Iskandar mengungkapkan, jika kenaikan harga tidak diantisipasi lebih jauh maka memberatkan sektor properti dan kawasan industri. Menurut dia, pemerintah perlu memberikan kemudahan, salah satunya mendorong peningkatan volume produksi dalam negeri. Head of Industry and Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani menilai, kenaikan harga baja dan semen bisa mengerek harga properti. Hal ini menyebabkan sebagian konsumen menimbang ulang membeli properti.


Download Aplikasi Labirin :