Kinerja Membiru, Saham Bank Digital Malah Merah
Bank-bank digital bermunculan sejak beberapa tahun terakhir. Kendati dipercaya memiliki prospek cerah, banyak bank-bank digital yang masih harus melakukan investasi untuk menggaet nasabah baru dan membangun infrastruktur layanan digital. Namun tren bakar duit itu bisa jadi segera berakhir. Ambil contoh Bank Jago Tbk (ARTO) yang mulai transformasi menjadi bank digital sejak 2020. Setelah mengalami rugi bertahun-tahun, Bank Jago mencetak laba setelah pajak senilai Rp 86,02 miliar di 2021. Di tahun 2020, ARTO rugi Rp 189,56 miliar. Perbaikan kinerja itu sejalan dengan pertumbuhan penyaluran kredit 491% year on year (yoy) menjadi Rp 5,37 triliun pada 2021. Pinjaman kemitraan dan pinjaman dari ekosistem menyumbang bagian terbesar kredit, dengan porsi sekitar 52%. Sementara bank-bank kecil digital lain, seperti Bank Neo Commerce (BBYB), Bank Raya (AGRO), Bank Aladin (BANK) dan Bank BCA Digital masih merugi. Bank digital memang membutuhkan ekosistim yang kuat untuk mencapai kinerja positif. Bahkan, Kakao Bank asal Korea Selatan yang punya ekosistem sangat besar membutuhkan waktu dua tahun untuk cuan.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023