Siasat Tekan Peran Dolar
Perluasan kerja sama transaksi menggunakan mata uang lokal alias local currency settlement (LCS) dengan sejumlah negara kian urgen. Salah satu manfaatnya adalah mendongkrak efisiensi bisnis, terutama di sektor perdagangan dan investasi. LCS adalah mekanisme penyelesaian transaksi bilateral yang dilakukan dengan mata uang lokal masing-masing negara. Misalnya transaksi perdagangan antara Indonesia dan China tak perlu lagi melibatkan dolar Amerika Serikat, melainkan cukup dengan rupiah dan renminbi. Perluasan penggunaan mata uang lokal diharapkan dapat mengikis ketergantungan terhadap dolar AS. Hal itu akan membantu mengendalikan volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sayang, kerja sama LCS sejauh ini masih terbatas, yakni hanya berlaku dengan China, Jepang, Malaysia, dan Thailand. Padahal, kerja sama LCS terbukti cukup efektif. Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai transaksi LCS pada tahun lalu mencapai US$2,53 miliar, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya US$797 juta.
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Kasan Muhri mengatakan kinerja ekspor dan impor dalam negeri relatif stabil di tengah potensi penguatan nilai tukar dolar AS sepanjang 2022. Kasan menerangkan implementasi LCS Indonesia bersama dengan China, Jepang, Malaysia, dan Thailand turut menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tahun ini. Selain itu posisi cadangan devisa di atas US$137 miliar bakal menambah keyakinan bagi eksportir dan importir untuk menghadapi dampak penguatan nilai tukar dolar AS menyusul kebijakan tapering off dari Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed akhir tahun lalu.
Tags :
#Mata UangPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023