Kejahatan dari Algoritma Finansial
Kehadiran teknologi di bidang finansial membuat ekosistem keuangan bekerja efisien. Salah satunya adalah teknologi keputusan investasi. Akan tetapi, pelanggaran mulai ditemukan, masyarakat terjebak di dalam investasi ilegal dan bodong karena literasi tidak memadai. Publik diminta mewaspadai tawaran investasi bermodus robot perdagangan (trading robot) abal-abal alias bodong. Para pelaku menjanjikan pendapatan tetap rutin, tanpa risiko, dan menggunakan perekrutan skema ponzi dalam memberikan bonus. Sepanjang 2021, Bappebti yang berada di bawah Kemendag memblokir 336 robot perdagangan, seperti Net89/SmartX, Auto Trade Gold, Viral Blast, Raibot Look, DNA Pro, EA 50, Sparta, Fin888, Fsp Akademi Pro, serta beberapa perusahaan sejenis.
Semua ini berawal dari otomasi perdagangan di bursa ketika teknologi digital berkembang dan digunakan di industry keuangan, secara khusus di industri investasi. Orang tak perlu lagi memelototi papan perdagangan. Keputusan dilakukan mesin. Otomasi ini bisa tersusun karena algoritma perdagangan. Mesin melakukan eksekusi beli atau jual berdasarkan data dan peristiwa sebelumnya. Akan tetapi, banyak pihak sejak awal sudah mengemukakan, teknologi ini bisa berjalan dalam kondisi normal. Saat kondisi berubah dan ada peristiwa ekstrem, mesin ini tidak bisa mengambil keputusan secara akurat. Literasi publik yang rendah, pemahaman teknologi yang rendah, sifat tamak, dan juga niat jahat dari segelintir orang, memanfaatkan teknologi digital ini sebagai celah penipuan. (Yoga)
Tags :
#Digital Ekonomi umumPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023