Dari Menabung Sampah sampai Menukar Beras
Pada Mei 2020, Made Janur Yasa mencoba sistem pengelolaan sampah di Banjar Jangkahan, Desa Batuaji, Tabanan, Bali. Janur meminta warga mengumpulkan sampah plastik untuk ditukar dengan beras. Syaratnya, pengumpulan harus dimulai dari rumah sendiri, setelah itu merambah ke lingkungan terdekat. Dalam 3 hari, ia berhasil mengumpulkan 500 kg sampah plastic yang ditukar 600 kg beras. Gerakan menginspirasi Janur membangun lembaga bernama Plastic Exchange, yang merambah sampai 200 banjar, dengan memobilisasi 15.000 keluarga, tersebar dari Tabanan sampai Ubud. Sejak dimulai 2020, gerakan Plastic Exchange berhasil mengumpulkan 700 ton sampah plastik yang disalurkan pada para pengepul untuk didaur ulang.
Artomo (75) mendirikan Akademi Kompos (Akkom) di Perumahan Bumi Pesanggrahan Mas, Petukangan Selatan, Jaksel. Semua warga bisa menjual sampah di rumah, mulai dari koran bekas, kardus, plastik, besi, aluminium, sampai minyak jelantah untuk menghasilkan uang. Selain membuat kompos dari sampah daun kering, Akkom juga punya bank sampah yang menampung sampah anorganik untuk dijual kepada pengepul, namun tak ada tumpukan sampah di sana karena pengurus mengatur semua barang setoran nasabah agar hari itu juga diambil pengepul. Menurut Ketua Akkom Utami Prayogo (7/1), nasabah Akkom adalah warga yang menyetorkan sampah anorganik dan jelantah, setelah dihitung rupiahnya, tak langsung diterima nasabah, tetapi disimpan sebagai tabungan. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023