;

Instrumen Non Fungible Token, Popularitas & Risiko Di Balik NFT

Ekonomi Yoga 27 Dec 2021 Bisnis Indonesia
Instrumen Non Fungible Token, Popularitas & Risiko Di Balik NFT

Tren non-fungible token (NFT) makin diminati secara global, termasuk Indonesia. NFT jadi instrument menarik setelah dapat mendigitalisasi aset karya seni maupun aset lain NFT adalah aset digital sebagai bukti kepemilikan yang dapat dibeli dengan uang kripto. NFT meliputi beragam media, mulai karya seni, klip video, musik dan sebagainya. NFT umumnya muncul dalam format digital seperti Joint Photographic Expert Group (JPEG), Grahics Interchange Format (GIF) dan lainnya. Di tanah air sudah ada pihak yang memanfaatkan NFT, seperti Meta Forest Society (MFS) yang memanfaatkan NFT untuk menyokong kelanjutan usaha petani. Program manager MFS mengatakan NFS memiliki kemiripan dengan aset kripto berupa koin yang diperdagangkan dengan jumlah tertentu tapi dalam jumlah terbatas. Artis Syahrini merilis token pertamannya di Metaverse, menjadikannya artis Indonesia pertama di dunia Metaverse, dengan rilis NFT dirinya pada salah satu bursa kripto dengan harga per satuan 20 Binance USD  atau USD 20 setara Rp 286.000. 

Gubernur Jabar Ridwaln Kamil juga berencana fasilitasi pelaku ekonomi kreatif (ekraf) menjual karya lewat platform NFT. Belakangan muncul marketplace lokal seperti TokoNFT, yakni marketplace NFT yang tersinkronisasi dengan berbagai blockchain. Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuabi menuturkan resiko NFT, ‘Kalau marketplace di luar negeri, takutnya kalau terjadi apa-apa, investor Indonesia tidak bisa mengklaim. Mau mengadu kemana ?”. COO L’Atelier BNP Paribas Nadya Ivanova melihat pada akhirnya pasar NFT mengalami kejenuhan dan bergabung dengan tren mainstream lainnya. Beberapa resiko tambahan dan ketidakpastian yang harus dipertimbangkan, pasar NFT mengalami volatilitas besar. (Yoga)


Tags :
#Perdagangan
Download Aplikasi Labirin :