;

Tak Maksimal di KTT G-20, Isu Iklim Beban di COP-26

Tak Maksimal di KTT G-20, Isu Iklim Beban di COP-26

Pertemuan puncak negara-negara G-20 gagal menghasilkan komitmen yang konkret untuk menangani krisis iklim dunia. Tugas berat menanti peserta COP 26. Para pemimpin negara-negara G-20 tak banyak menawarkan komitmen konkret dalam upaya membatasi pemanasan global dan mengatasi perubahan iklim dalam Konferensi Tingkat Tinggi G-20 yang berakhir pada Minggu (31/10/2021) di Roma, Italia. Hasil tidak maksimal dari negosiasi berhari-hari oleh para diplomat itu meninggalkan pekerjaan besar dalam Konferensi Para Pihak (COP) 26 tentang Iklim di Glasgow, Skotlandia. ”Kami mengakui, dampak perubahan iklim pada 1,5 derajat celsius jauh lebih rendah dibandingkan pada 2 derajat celsius. Untuk mencapai target 1,5 derajat celsius, butuh langkah penting dan efektif serta komitmen seluruh negara,”. Selepas pertemuan di Roma, sebagian besar pemimpin G-20, termasuk Presiden RI Joko Widodo, terbang ke Glasgow untuk menghadiri COP 26. Pada sesi penutupan KTT di Roma, Perdana Menteri Italia Mario Draghi menyerahkan keketuaan atau presidensi G-20 kepada Presiden Joko Widodo. 

Draghi secara simbolis menyerahkan palu kepada Presiden Jokowi yang kemudian mengetukkan palu tersebut. Dalam pernyataannya, Presiden Jokowi mengapresiasi Italia yang telah berhasil memegang presidensi G-20 tahun 2021. ”Saya sampaikan selamat kepada Italia yang telah sukses menjalankan presidensi G-20 di tahun 2021. Indonesia merasa terhormat untuk meneruskan presidensi G-20 di tahun 2022,” ujar Presiden Jokowi, seperti dirilis Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Minggu. Seusai KTT G-20, perhatian dunia kini tertuju pada COP 26 di Glasgow, Skotlandia. Selain dihadiri para pemimpin negara, tokoh bisnis dan pemimpin korporasi juga hadir. Korporasi memberi perhatian besar terhadap ancaman perubahan iklim. Korporasi memandang perlu dilakukan upaya mitigasi dan adaptasi guna mengatasi ancaman tersebut.


Tags :
#Umum
Download Aplikasi Labirin :