Lahan Pertanian, Petani Kakao Sumatera Barat Mulai Jenuh
Petani kakao di Sumatera Barat mulai jenuh dan beralih ke tanaman pangan. Hal itu tercermin dari luas lahan kakao yang kian menyusut. Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Holtikultural, dan Perkebunan Sumbar, luas lahan kakao untuk perkebunan rakyat pada 2020 sekitar 84.942 hektar (ha) dengan produksi 44.033 ton per tahun. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultural, dan Perkebunan Sumbar Safrizal mengakui bahwa tanaman kakao di Sumbar memang mulai ditinggalkan oleh Petani.
"Selain adanya hama seperti tupai dan kutu, petani pun mulai jenuh dengan perawatan manja dari kakao tersebut," kata pria yang akrab disapa Jejeng ketika dihubungi Bisnis, Minggu (29/8). Dia sangat menyayangkan makin berkurang luas tanaman kakao Sumbar, mengingat dulu Jusuf Kalla sewaktu menjadi Wapres, telah menjadikan Kabupaten Padang Pariaman sebagai sentra kakao sekaligus produksi coklat di Sumbar. "Tapi kini di Padang Pariaman itu sendiri juga kakaonya dibabat dan dialihfungsikan ke tanaman pangan," ujarnya
Jejeng mengatakan cukup prihatin melihat kondisi tanaman kakao di Sumbar, yang dari tahun ke tahun luas lahannya terus berkurang. "Harga kakao cukup bagus, bisa mencapai Rp25.000 per kilo gramnya. Cuma ya itu, petani merasa direpotkan harus intens merawat tanaman kakonya, karena kakao jenis komoditi yang cukup manja, sehingga butuh perawatan," tuturnya. Untuk tanaman kakao, petani harus rajin dan intens memantau dahan-dahan yang rasanya harus dipangkas. Bila tidak dilakukan pemangkasan dahan-dahan, kakao sulit untuk berbuah lebat. (YTD)
Tags :
#PerkebunanPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023