Ekspor
( 1057 )Kepiting Sultra Berpotensi Diekspor
JALAN TENGAH EKSPOR KONSENTRAT
Progress positif pembangunan smelter tembaga yang dicapai PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara tidak serta-merta membuat kedua perusahaan itu tenang menjalankan bisnisnya di dalam negeri. Perkara produksi smelter yang harus melalui peningkatan secara bertahap atau ramp-up hingga mencapai kapasitas penuh menjadi ganjalan bagi Freeport Indonesia dan Amman Mineral. Pasalnya, keduanya mesti memikirkan monetisasi konsentrat tembaga yang telah diproduksi, tetapi belum bisa diolah di smelter tersebut. Pemerintah dan kedua perusahaan tersebut perlu segera mencari jalan tengah agar penumpukan konsentrat yang belum bisa diolah tidak menimbulkan dampak luas bagi pendapatan negara dan perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga yang disertai dengan penyesuaian bea keluar bisa menjadi solusi yang diambil pemerintah untuk menjaga keberlangsungan industri hulu pertambangan mineral nasional. Menurut Kementerian ESDM, izin ekspor konsentrat tembaga Freeport Indonesia dan Amman Mineral hanya berlaku mulai Juli 2023 hingga Mei 2024. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Rizal Kasli berpendapat, pemerintah perlu memberikan tambahan waktu bagi Freeport Indonesia dan Amman Mineral Nusa Tenggara untuk mengekspor konsentrat tembaga hingga smelter yang dibangun oleh kedua perusahaan tersebut mencapai kapasitas produksi maksimal. Saat ini, sebenarnya sudah ada Peraturan Menteri Keuangan No. 71/2023 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.
Berdasarkan aturan yang ditandatangani pada 12 Juli 2023 itu, tarif bea keluar untuk konsentrat tembaga bagi perusahaan dengan progres smelter 70%–90% dikenakan sebesar 7,5% pada periode 17 Juli–31 Desember 2023, dan naik menjadi 10% pada periode 1 Januari–31 Mei 2024. Sementara itu, untuk perusahaan dengan progres smelter di atas 90%, bea keluar yang dikenakan sebesar 5% pada periode 17 Juli–31 Desember 2023, dan naik menjadi 7,5% pada periode 1 Januari–31 Mei 2024. Di sisi lain, VP Corporate Communication Amman Mineral Nusa Tenggara Kartika Octaviana menjelaskan bahwa hingga kini perusahaan berupaya mengakselerasi pengerjaan smelternya agar bisa mencapai target pemerintah. Sementara itu, Freeport McMoran sejak jauh-jauh hari telah menyoroti perkara izin ekspor konsentrat tembaga yang bakal berakhir pada Mei 2024 dan bertepatan dengan tenggat perampungan smelternya. Dalam conference call yang dilakukan perusahaan, Presiden Freeport-McMoRan Inc. Kathleen Quirk mengatakan pihaknya masih perlu mengekspor konsentrat tembaga dalam jumlah tertentu saat periode ramp-up smelter Manyar di Gresik hingga akhir tahun depan. Di tempat terpisah, Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas sempat berharap Pemerintah Indonesia mengerti dengan kondisi pembangunan smelter di lapangan, sehingga mau mengabulkan permintaan perusahaan untuk memperpanjang izin ekspor konsentrat tembaga hingga akhir 2024. Anggawira, Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batu Bara, berharap ada win win solution terkait dengan persoalan ekspor konsentrat tembaga selepas 2024. Adapun, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengaku belum pernah melihat langsung permintaan perpanjangan izin ekspor tembaga dari Freeport Indonesia maupun Amman Mineral Nusa Tenggara. Hal itu membuat pemerintah enggan memberikan komentar lebih jauh terkait dengan hal tersebut.
Risiko Terulang Masalah Ekspor Benur
SMSM Menggenjot Pasar Ekspor
Emiten saham produsen onderdil otomotif, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM), berupaya menjaga pertumbuhan kinerja di sepanjang tahun ini. Sejauh ini, proyeksi penjualan SMSM hingga akhir tahun 2023 dinilai masih sejalan dengan target yang telah ditetapkan.
"Proyeksi penjualan SMSM hingga akhir 2023 masih cukup baik, sejalan dengan target dan tren pertumbuhan yang masih berlanjut, walaupun tidak sebesar dua tahun terakhir," ujar Ang Andri Pribadi,
Chief Financial Officer
(CFO) SMSM, kepada KONTAN, Senin (18/12).
Apabila merujuk catatan KONTAN, Selamat Sempurna mengincar pertumbuhan yang konservatif di tahun ini. SMSM menargetkan, pertumbuhan pendapatan naik 5% dan laba bersih naik 10% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan penjualan tersebut, SMSM berhasil mengantongi laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 694,83 miliar. Sedangkan pada kuartal III tahun lalu, laba bersih SMSM tercatat senilai Rp 639,07 miliar.
Penjualan SMSM masih didominasi ekspor yang mencapai Rp 2,24 triliun. Sedangkan penjualan di pasar dalam negeri sebesar Rp 1,51 triliun.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi dan proyek-proyek pembangunan maupun konstruksi turut mendorong penjualan perseroan hingga periode September lalu.
Selamat Sempurna menyiapkan alokasi belanja modal atau
capital expenditure
(Capex) sebesar Rp 150 miliar pada tahun ini. Ang Andri memproyeksikan penyerapan capex akan mendekati nilai yang telah dianggarkan sampai akhir tahun nanti.
Tahun depan, manajemen SMSM memproyeksikan laju bisnisnya tetap berjalan positif. Hal tersebut didukung oleh prospek penjualan ekspor yang merupakan kontributor utama bisnis Selamat Sempurna selama ini.
Ang menyatakan, secara skala pasar, kontribusi penjualan dari pasar luar negeri akan lebih menjanjikan dibandingkan dengan pasar domestik. Hal ini lantaran mayoritas penjualan SMSM ditujukan untuk pasar ekspor.
Meski demikian, pasar ekspor ke depannya masih dihadapkan oleh beragam tantangan. Di antaranya situasi makroekonomi global, termasuk kondisi geopolitik yang masih berlanjut.
Indonesia Perlu Perkuat Fondasi Ekspor
Ekspor Nonmigas Jabar di Bawah 5 Persen
Batubara dan Sawit ”Gendong” Ekspor 2024
Batubara dan minyak sawit diperkirakan menopang ekspor
Indonesia pada 2024. Meski demikian, total ekspor pada tahun depan diproyeksikan
melambat sebagai dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama
Indonesia. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede di Jakarta, Minggu (17/12)
menyatakan, perlambatan pertumbuhan ekonomi global akan memengaruhi ekspor
Indonesia. Perlambatan di China dan AS sebagai mitra dagang utama Indonesia
merupakan variabel utamanya. Mengutip data BPS, China menjadi tujuan 25,49 %
dari total ekspor Indonesia pada Januari-November 2023.
Adapun ekspor ke AS, Jepang, dan Uni Eropa sebesar 9,54 %,
7,79 %, dan 6,84 %. Dengan demikian, melemahnya perekonomian negara-negara itu
akan menurunkan permintaan mereka terhadap barang-barang dari Indonesia. Artinya,
ekspor akan tertekan. Dalam situasi itu, Josua melanjutkan, ekspor Indonesia akan
tertopang oleh komoditas batubara dan minyak sawit. Alasannya, harga kedua komoditas
ini diperkirakan masih akan terjaga pada 2024. Adapun kinerja ekspor produk
manufaktur akan melambat lantaran barang ini sifatnya bukan kebutuhan primer.
”Ini pentingnya juga mendorong investasi ke sektor manufaktur agar tercipta
peningkatan kualitas dan daya saing sehingga ekspor sektor ini tetap
bertumbuh,” ujar Josua. (Yoga)
Peluang dari Ekspor Sarung Tangan
China dan Amerika Lesu, Ekspor RI Terganggu
MENGGEDOR LAJU EKSPOR
Performa kinerja dagang mengalami surplus meskipun melambat terdampak gejolak harga komoditas internasional dan bayang-bayang peningkatan laju pertumbuhan impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren surplus neraca perdagangan pada November 2023 mencapai US$2,41 miliar. Capaian itu lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya, mengingat kinerja ekspor yang terkoreksi, sementara impor mengalami kenaikan.Ekspor sepanjang November 2023 mencapai US$22 miliar, turun 8,56% dibandingkan dengan November 2022. Jika dilihat secara bulanan nilai ekspor turun tipis sebesar 0,67%. Angka impor mencapai US$19,59 miliar, tumbuh 3,29% secara Year-on-Year (YoY).Impor yang tumbuh ini sejalan dengan meningkatnya angka Purchasing Manager’s Index(PMI) manufaktur dan strategi ketahanan ekonomi dalam menghadapi perlambatan ekonomi global. Angka PMI Manufaktur Indonesia naik dari 51,5 menjadi 51,7 pada November 2023, menandai peningkatan aktivitas pabrik selama 27 bulan berturut-turut, dengan produksi mengalami kenaikan paling signifi kan sejak Agustus 2023.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan nilai surplus neraca dagang Indonesia November 2023 turun US$1,07 miliar dibandingkan capaian bulan sebelumnya, yaitu sebesar US$3,48 miliar. Surplus neraca dagang ditopang oleh surplus komoditas non-migas sebesar US$4,62 miliar. Komoditas penyumbang surplus di antaranya bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, hingga besi dan baja.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta W Kamdani menilai kinerja ekspor nasional saat masih terhitung relatif stabil dan berpotensi menciptakan surplus. Meski begitu masih diperlukan peningkatan kinerja ekspor produk bernilai tambah.
Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Indonesia Chandra Wahjudi menilai, aturan dan perizinan yang sederhana menjadi sangat penting selain insentif. “Pemerintah juga dapat membantu membuka akses pasar di beberapa negara lain untuk produk unggulan,” katanya kepada Bisnis, Jumat (15/12).Dia juga berharap pemangkasan suku bunga the Fed dapat menjadi momentum untuk pertumbuhan perekonomian global, termasuk Indonesia.
“Ini lebih rendah dibandingkan 2023 atau 2022 karena pelemahan ekonomi dunia di tahun depan. Ekonomi kan relatif stagnan, otomatis growth ekspor impor kita melemah,” kata Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad.
Pilihan Editor
-
Instruksi Pusat Untuk Rencana Penambangan
21 Feb 2022 -
Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai
22 Feb 2022 -
Menakar Prospek Usaha Sang Sultan Andara
22 Feb 2022









