Ekspor
( 1057 )Membongkar Siasat Curang Ekspor Sawit: DJP dan Kejagung Buru Potensi Rp1,1 Triliun
JAKARTA — Sektor kelapa sawit (crude palm oil/CPO) kembali menjadi
sorotan tajam otoritas pajak dan penegak hukum di Indonesia. Direktorat Jenderal
Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) bekerja sama secara simultan dengan
Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mendalami dugaan pelanggaran berat perpajakan
berupa praktik underinvoicing (penurunan nilai faktur ekspor) dan transfer
pricing pada sektor komoditas strategis ini. Sebanyak 32 Wajib Pajak (WP)
korporasi kini masuk dalam radar pemeriksaan intensif demi mengikis kebocoran
kas negara.
Pengusutan
berskala besar ini pertama kali dipicu oleh temuan awal yang diungkap ke publik
oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebagai tindak lanjut, DJP langsung
menggelar pemeriksaan bukti permulaan hingga tahap penyidikan atas dugaan
tindak pidana perpajakan.
Direktur
Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menjelaskan bahwa skema penanganan saat ini
terbagi dalam beberapa klaster operasional. Sebanyak 23 WP sektor sawit sedang
dalam proses penghitungan nilai kerugian pendapatan negara, sementara 8 WP
lainnya sudah masuk ke tahap penanganan lanjutan dengan perluasan area
penyidikan hingga tahun pajak 2023.
Berdasarkan
taksiran sementara, potensi penerimaan negara yang berhasil dipetakan dari 11
WP dari total daftar tersebut mencapai Rp1,1 triliun. Praktik underinvoicing,
modus di mana eksportir melaporkan harga jual komoditas di bawah nilai
transaksi riil guna mengecilkan kewajiban pajak, serta skema transfer
pricing ke perusahaan afiliasi di luar negeri, dinilai menjadi pintu utama
hilangnya potensi penerimaan negara dari lonjakan komoditas global.
Asas Ultimum
Remedium dan Sinergi Data Lintas Lembaga
Kendati
penegakan hukum berjalan agresif, otoritas perpajakan tetap mengedepankan asas ultimum
remedium sesuai dengan rambu-rambu hukum yang berlaku di Indonesia. Asas
ini menempatkan sanksi pidana sebagai jalan terakhir, yang memberikan ruang
bagi wajib pajak yang kooperatif untuk membetulkan kekeliruannya secara
sukarela.
Sepanjang proses
pengusutan berjalan, DJP mencatat sudah ada 3 WP sektor sawit yang memanfaatkan
skema pembetulan Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan secara mandiri. Ketiganya
langsung menyetorkan kas ke negara dengan nilai akumulatif mencapai Rp200
miliar.
Langkah
koordinasi yang erat dengan Korps Adhyaksa menjadi pembeda utama dalam
pengusutan kali ini. DJP dan Kejagung menerapkan mekanisme pertukaran data
secara real-time untuk mempersempit ruang gerak pelaku penyelewengan
pajak. Sinergi ini tercermin dari adanya permintaan data 18 wajib pajak
terperinci oleh Kejagung yang melacak rekam jejak transaksi hingga 18 tahun ke
belakang.
Melalui
pembagian yurisdiksi yang matang, satu perkara WP besar saat ini ditangani
langsung di tingkat penyidikan Kejagung, sementara DJP memastikan tetap
melakukan pengusutan simultan tanpa ego sektoral demi memulihkan keuangan
negara.
Mengamankan
Rezim Pajak Sektor Komoditas
Secara
makroekonomi, ketegasan pemerintah dalam menindak kecurangan pelaporan ekspor
CPO merupakan langkah vital demi menjaga keadilan iklim berusaha (level
playing field). Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu penyumbang
devisa terbesar, sehingga kepatuhan pajak di sektor ini berdampak langsung pada
kestabilan APBN nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan
pihaknya memberikan dukungan penuh dan menyerahkan proses hukum secara
independen kepada Kejaksaan Agung.
Melalui
pemanfaatan regulasi perpajakan yang kuat dan didukung integrasi data yang
transparan, pengusutan ini diharapkan dapat memberikan efek jera (deterrent
effect) bagi pelaku industri komoditas. Langkah strategis ini membuktikan
bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada ekstensifikasi pajak masyarakat
kecil, melainkan secara adil dan tegas menegakkan transparansi pada korporasi
besar demi kedaulatan ekonomi nasional.
Ketika Tarif Trump Tidak Menghambat Pertumbuhan Ekspor Indonesia ke Amerika Serikat
Kekhawatiran Awal atas Kebijakan Tarif
JAKARTA — Ketika
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan kebijakan tarif resiprokal
terhadap sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia, kekhawatiran segera
muncul di kalangan pelaku usaha. Tambahan bea masuk dinilai berpotensi
menurunkan daya saing harga produk Indonesia di pasar Amerika Serikat sekaligus
membuka peluang bagi importir untuk beralih ke negara pemasok lain.
Kekhawatiran
tersebut bukan tanpa alasan. Amerika Serikat selama ini menjadi salah satu
tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia, terutama untuk komoditas manufaktur
seperti mesin dan peralatan elektronik, tekstil dan garmen, alas kaki,
furnitur, serta berbagai produk industri lainnya. Setiap perubahan kebijakan
perdagangan di negara tujuan sebesar Amerika tentu akan dibaca sebagai ancaman
bagi kesinambungan ekspor nasional.
Meski
demikian, perkembangan selama masa penerapan tarif menunjukkan bahwa dampaknya
terhadap dunia usaha Indonesia tidak sebesar yang sebelumnya diperkirakan.
Ekspor Indonesia Terbukti Tetap Bertahan
Data
impor Amerika Serikat dari Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan bahwa nilai
perdagangan secara keseluruhan masih relatif stabil dan bahkan tetap lebih baik
dibandingkan periode tahun sebelumnya. Penyesuaian memang sempat terlihat
sesaat setelah pengumuman tarif pada April 2025 maupun ketika tarif hasil
negosiasi mulai berlaku pada Agustus 2025. Namun tekanan tersebut tidak berlangsung
lama dan tidak sampai mengubah tren umum perdagangan kedua negara.
Fakta ini
memberi gambaran bahwa tarif tambahan bukan satu-satunya faktor yang menentukan
keputusan impor di pasar Amerika Serikat. Dalam praktik perdagangan
internasional, hubungan antara eksportir dan buyer dibangun bukan hanya atas
dasar harga, tetapi juga menyangkut kepastian suplai, kesesuaian spesifikasi,
kualitas produk, serta efisiensi distribusi.
Sejumlah
komoditas utama Indonesia—mulai dari komponen mesin, perlengkapan elektronik,
tekstil, alas kaki, furnitur, hingga produk berbasis karet—merupakan bagian
dari rantai pasok yang sudah lama terbentuk. Karena itu, importir Amerika tidak
serta-merta dapat mengganti pemasok hanya karena adanya kenaikan tarif dalam
jangka pendek. Dengan kata lain, kebijakan tarif memang menambah biaya
perdagangan, tetapi belum cukup kuat untuk menurunkan permintaan terhadap
produk Indonesia secara signifikan.
Pembatalan Tarif Menjadi Sentimen Positif
Situasi
tersebut kemudian berkembang setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat pada
Februari 2026 membatalkan kebijakan tarif resiprokal yang sebelumnya diterapkan
melalui International Emergency Economic Powers Act (IEEPA). Putusan tersebut
sekaligus diikuti kebijakan pengembalian pungutan bea masuk kepada sekitar 330
ribu perusahaan importir di Amerika Serikat melalui mekanisme refund.
Bagi
eksportir Indonesia, keputusan ini tentu memberikan sentimen positif.
Pengembalian bea masuk kepada importir berarti terdapat tambahan ruang
likuiditas di sisi buyer, yang pada gilirannya dapat menjaga bahkan
meningkatkan kapasitas pembelian mereka dari luar negeri.
Namun
demikian, pembatalan tarif ini lebih tepat dilihat sebagai faktor yang
memperlonggar iklim perdagangan daripada sebagai penyelamat atas kondisi ekspor
yang sebelumnya tertekan berat. Sebab, selama tarif masih berlaku pun, data
menunjukkan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tetap berada pada jalur yang
relatif terjaga.
Artinya,
struktur permintaan pasar Amerika terhadap produk Indonesia pada dasarnya masih
cukup kuat.
Dimensi Perpajakan Tidak Bisa Diabaikan
Di balik
aspek perdagangan tersebut, terdapat dimensi lain yang mulai relevan untuk
diperhatikan, yakni implikasi perpajakan pada perusahaan eksportir.
Secara
administratif, refund bea masuk memang dibayarkan kepada importir di Amerika
Serikat. Akan tetapi, dalam praktik bisnis internasional, pembebanan tarif
sering kali menjadi bagian dari klausul komersial antara penjual dan pembeli.
Tidak tertutup kemungkinan terdapat skema penyesuaian harga, kompensasi biaya,
reimbursement, atau pembagian manfaat atas pungutan yang dikembalikan.
Dalam
situasi seperti ini, perusahaan eksportir Indonesia berpotensi menghadapi
perubahan nilai transaksi yang pada akhirnya memengaruhi pencatatan pendapatan
maupun beban usaha. Perubahan tersebut tentu tidak berhenti pada laporan
keuangan semata, tetapi juga dapat berdampak pada penghitungan kewajiban Pajak
Penghasilan Badan apabila terdapat koreksi nilai kontrak atau tambahan
penerimaan yang timbul dari transaksi ekspor.
Karena
itu, isu tarif Trump sesungguhnya tidak hanya berhenti pada persoalan
perdagangan luar negeri, melainkan juga menuntut ketelitian administrasi fiskal
di tingkat perusahaan. Ketepatan dalam mencatat penyesuaian transaksi,
penggantian biaya, maupun manfaat ekonomi lain yang timbul dari refund menjadi
penting agar tidak menimbulkan perbedaan pengakuan dalam pembukuan maupun
pelaporan perpajakan.
Dunia Usaha Indonesia Relatif Adaptif
Pengalaman
selama periode tarif Trump memberikan pelajaran bahwa ketahanan ekspor
Indonesia ke pasar Amerika Serikat tidak semata ditentukan oleh perubahan
kebijakan tarif. Yang jauh lebih menentukan justru kemampuan pelaku usaha
menjaga harga yang kompetitif, mutu produk, kepastian pengiriman, dan hubungan
dagang jangka panjang dengan buyer.
Selama
faktor-faktor tersebut dapat dipertahankan, tambahan tarif memang dapat menekan
margin, tetapi belum tentu langsung menurunkan volume permintaan.
Karena
itu, anggapan bahwa tarif Trump akan secara drastis mengganggu kinerja ekspor
Indonesia tampaknya perlu ditempatkan secara lebih proporsional. Dinamika
proteksionisme Amerika Serikat tetap harus dicermati, tetapi data menunjukkan
bahwa dunia usaha nasional memiliki kapasitas adaptasi yang cukup baik dalam
menghadapi perubahan tersebut.
Pada
akhirnya, tarif Trump memang menciptakan tekanan biaya, namun tidak sampai
mengubah secara mendasar peta ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Tantangan
berikutnya justru terletak pada kemampuan eksportir memanfaatkan ruang
perdagangan yang kembali terbuka, sembari memastikan seluruh konsekuensi
keuangan dan perpajakan dari transaksi tersebut dikelola secara tepat.
Pemerintah Matangkan Rencana Pajak Ekspor Nikel untuk Menggenjot Penerimaan Negara
JAKARTA – Pemerintah
Indonesia tengah bersiap mengambil langkah strategis baru di sektor
pertambangan. Setelah sukses dengan kebijakan larangan ekspor bijih nikel
mentah, kini giliran produk turunan nikel tingkat rendah, seperti Nickel Pig
Iron (NPI) dan feronikel, yang masuk dalam radar kebijakan fiskal.
Pemerintah berencana mengenakan bea keluar atau pajak ekspor terhadap komoditas
tersebut guna memperkuat penerimaan negara dan mendorong hilirisasi yang lebih
berkualitas.
Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, baru-baru ini
mengungkapkan bahwa kajian mengenai pengenaan pajak ekspor ini sedang
dimatangkan. Menurutnya, nikel merupakan komoditas strategis yang permintaannya
terus meningkat di pasar global, terutama untuk kebutuhan baterai kendaraan
listrik (electric vehicle/EV). Oleh karena itu, pemerintah merasa perlu
mengatur arus keluar produk turunannya agar memberikan nilai tambah yang
optimal bagi ekonomi domestik.
Bukan Sekadar Mengejar Target
Fiskal
Rencana pengenaan pajak ekspor
nikel ini bukan sekadar upaya menutup defisit anggaran atau sekadar mengejar
target penerimaan negara. Fokus
utama pemerintah adalah mendorong industri hilirisasi untuk "naik
kelas". Saat ini, sebagian besar olahan nikel di Indonesia masih berupa
NPI yang memiliki nilai tambah relatif rendah dibandingkan produk olahan lebih
lanjut seperti nikel sulfat atau baja tahan karat (stainless steel).
Dengan adanya pajak ekspor, diharapkan para pelaku industri akan lebih
terdorong untuk membangun fasilitas pemurnian yang menghasilkan produk akhir
yang lebih bernilai tinggi di dalam negeri. Selain itu, kebijakan ini juga
berfungsi sebagai instrumen untuk menjaga keseimbangan stok nikel domestik agar
kebutuhan industri dalam negeri tetap terjamin.
Kepastian Waktu dan Formulasi
Meski rencana ini sudah mencuat ke publik, Bahlil menegaskan bahwa
implementasinya tidak akan dilakukan secara terburu-buru. Berbeda dengan isu bea
keluar batu bara yang sempat disebut akan berlaku per 1 April, pemerintah
memastikan bahwa kebijakan untuk nikel masih dalam tahap penghitungan formulasi
yang presisi.
Kementerian ESDM bersama kementerian terkait tengah menghitung besaran tarif yang ideal. Tujuannya agar pajak ini tidak membebani pelaku usaha secara berlebihan, tetapi tetap efektif dalam memberikan kontribusi terhadap kas negara. Formulasi ini sangat krusial agar daya saing nikel Indonesia di pasar internasional tidak tergerus oleh kebijakan fiskal dalam negeri.
Sentimen Pasar dan Harapan Industri
Rencana kebijakan ini tentu menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar
modal dan investor. Isu pajak ekspor, bersama dengan sentimen terkait Rencana
Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta Harga Patokan Mineral (HPM), menjadi
faktor penentu pergerakan saham emiten pertambangan nikel dalam beberapa waktu
terakhir.
Para pelaku industri berharap pemerintah dapat memberikan masa transisi yang cukup jika kebijakan ini resmi diberlakukan. Transparansi mengenai dasar penghitungan dan mekanisme pemungutan menjadi kunci agar iklim investasi di sektor pertambangan tetap kondusif.
Jika dikelola dengan tepat, pajak ekspor nikel ini berpotensi menjadi "senjata" baru Indonesia dalam memperkuat kedaulatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Kini, publik dan pelaku usaha menanti detail regulasi yang diharapkan mampu menyeimbangkan antara kepentingan fiskal negara dan keberlanjutan industri pertambangan nasional.
Ekspor Otomotif 2025 Tembus 518.000 Unit, Tantangan Struktural Membayangi
Pemerintah baru saja mengumumkan sejumlah kebijakan insentif pajak terkait sektor otomotif. Seperti penghentian keringanan pajak penjualan barang mewah, pajak pertambahan nilai dan bea masuk mobil listrik impor utuh. Perubahan kebijakan ini sejalan dengan mimpi untuk menjadikan Indonesia basis produksi otomotif, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor. Data menunjukkan, pada 2025 terdapat penurunan penjualan mobil di pasar domestik, sebaliknya terdapat peningkatan ekspor mobil.
Volume ekspor mobil utuh atau Completely Built Up (CBU) dari Indonesia mencatatkan rekor tertinggi baru sepanjang tahun 2025 dengan total pengapalan mencapai 518.000 unit. Capaian yang tumbuh hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya ini mempertegas posisi Indonesia sebagai basis manufaktur strategis bagi pasar internasional.
Kendati demikian, di balik angka pertumbuhan yang impresif, industri otomotif nasional masih menghadapi pekerjaan rumah besar terkait aspek struktural, mulai dari tingginya biaya logistik, minimnya pendalaman teknologi, hingga tantangan regulasi hijau di negara tujuan ekspor.
Dominasi merek-merek besar, seperti Toyota, dalam arus ekspor membuktikan kepercayaan prinsipal global terhadap kapabilitas perakitan di Indonesia. Daya saing ini tidak lepas dari dukungan fiskal pemerintah, utamanya melalui fasilitas perpajakan untuk Kawasan Berikat dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Instrumen ini dinilai efektif menjaga efisiensi biaya produksi sehingga harga jual kendaraan rakitan Indonesia tetap kompetitif di pasar global.
Namun, efisiensi dari insentif fiskal tersebut kerap tergerus oleh tantangan operasional. Tingginya biaya logistik nasional dan kebutuhan investasi besar untuk adopsi teknologi baru masih menjadi hambatan. Selain itu, dukungan industri komponen lokal juga dinilai perlu dioptimalkan agar rantai pasok tidak terlalu bergantung pada impor bahan baku.
Jebakan Basis Perakitan
Selain aspek biaya, tantangan paling krusial terletak pada struktur industri yang masih didominasi aktivitas perakitan. Peningkatan volume ekspor belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan nilai tambah dan kemandirian teknologi.
Hingga kini, desain dan pengembangan teknologi inti umumnya masih dikendalikan penuh oleh prinsipal global. Kondisi ini memicu urgensi perlunya optimalisasi insentif pajak yang lebih spesifik seperti potongan pajak untuk kegiatan riset lokal. Hal ini diperlukan guna mendorong transisi industri dari sekadar basis produksi menjadi pusat inovasi.
Ironisnya, fasilitas super deduction tax untuk riset dan pengembangan (litbang) yang telah tersedia sejak 2021 belum dimanfaatkan secara optimal. Data Kementerian Keuangan menunjukkan partisipasi pelaku industri dalam skema insentif ini masih minim, mengindikasikan adanya kesenjangan antara kebijakan dan kesiapan industri dalam melakukan riset mandiri dengan memanfaatkan super deduction tax.
Riset dan pengembangan tidak hanya semata merupakan domain para principal pemegang merek, namun juga perlu dilakukan untuk mendorong kemandirian teknologi bagi industri komponen pendukung otomotif. Pelaku usaha nasional yang bergerak dibidang usaha komponen kendaraan perlu didorong untuk memanfaatkan super deduction tax. Sehingga mendukung ekosistem rantai pasok dalam negeri. Untuk itu, diperlukan langkah nyata dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Kementerian Investasi, Asosiasi Industri komponen otomotif serta pihak terkait lainnya, untuk memfasilitasi pelaku usaha memanfaatkan super deduction tax. Hambatan Non-Tarif dan Isu Lingkungan Di sisi eksternal, penetrasi pasar mancanegara kini diadang tantangan baru berupa regulasi lingkungan yang kian ketat serta hambatan perdagangan nontarif (non-tariff barriers). Negara negara tujuan ekspor mulai menerapkan standar emisi yang tinggi, yang menuntut produk otomotif Indonesia untuk segera beradaptasi.
Sinkronisasi kebijakan insentif masa depan, seperti kredit investasi hijau, dengan kesiapan manufaktur dalam mengadopsi teknologi rendah emisi menjadi mutlak diperlukan. Tanpa percepatan transisi ke teknologi ramah lingkungan, produk Indonesia berisiko kehilangan daya saing di pasar global yang semakin selektif.
Pada akhirnya pencapaian ekspor tahun 2025 seyogianya menjadi momentum, bukan sekadar angka statistik. Ke depan, konsistensi pertumbuhan volume ekspor harus dibarengi dengan pembenahan infrastruktur logistik dan penguatan rantai pasok. Sinergi antara kemudahan fiskal dari pemerintah dan efisiensi teknologi dari pelaku industri akan menjadi penentu apakah industri otomotif nasional mampu bertahan sebagai penggerak ekonomi utama di tengah dinamika global.
Ambisi Indonesia Mengubah Bumbu Dapur Menjadi Bahan Baku Industri Dunia
JAKARTA –
Indonesia, negeri yang dikenal sebagai "Mother of Spices", tengah
bersiap melakukan lompatan besar dalam peta ekonomi global. Memiliki 275 dari
sekitar 500 spesies rempah dunia, Indonesia kini tidak lagi hanya ingin dikenal
sebagai pengekspor bahan mentah, melainkan sebagai pusat industri pengolahan
rempah yang bernilai tambah tinggi.
Pemerintah pada akhir 2025 telah menetapkan Peta Jalan
Hilirisasi Rempah 2025-2045. Langkah strategis ini bertujuan mengamankan nilai
tambah ekonomi di dalam negeri, dengan fokus pada enam komoditas utama: pala,
lada, cengkeh, kayu manis, vanili, dan temulawak. Transformasi ini dipicu oleh
tren gaya hidup sehat global yang menempatkan rempah bukan lagi sekadar bumbu
dapur, melainkan bahan baku esensial untuk industri farmasi, kosmetik, hingga
pangan fungsional.
Potensi Raksasa yang Terfragmentasi
Meski menduduki posisi puncak sebagai produsen
dunia—peringkat kedua untuk pala dan peringkat ketiga untuk lada dan
vanili—pangsa pasar ekspor rempah Indonesia di pasar global baru menyentuh
angka 2,7 persen. Rendahnya angka ini disinyalir akibat struktur industri yang
masih didominasi oleh petani skala kecil dan pelaku UMKM ( sebanyak 45 persen)
yang memiliki keterbatasan teknologi.
Selain itu, rantai pasok yang panjang dan ketergantungan
pada tengkulak membuat margin keuntungan petani seringkali tertekan. Hal ini
menjadi tantangan besar dalam upaya modernisasi industri dari hulu ke hilir.
Namun, titik terang mulai terlihat di sejumlah daerah sentra. Lampung kini
memasok 90 persen lada nasional, sementara Sumatera Barat menguasai 90 persen
pasar dunia dan menjadi pusat ekspor kayu manis.
Laju Positif Produk Olahan
Data menunjukkan fluktuasi tajam pada kinerja ekspor
rempah mentah. Menurut data UN Comtrade, nilai ekspor sempat melonjak ke angka
US$2 miliar pada 2024 setelah sempat turun pada tahun-tahun sebelumnya. Di
tengah fluktuasi harga komoditas global, ekspor bumbu dan rempah olahan justru
menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 17,29 persen pada periode
Januari-Mei 2024, mencapai nilai USD 422,7 juta.
Langkah hilirisasi terbukti memberikan margin yang jauh
lebih menguntungkan. Sebagai contoh, mengekspor pala dalam bentuk minyak atsiri
atau ekstrak murni jauh lebih bernilai dibanding menjual biji mentah. Hal ini
memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen bahan baku industri kelas dunia
yang mulai mengadopsi standar internasional.
Proyeksi Pasar 2029
MA Resmi Hentikan Ekspor Pasir Laut
Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan uji materiil terhadap Peraturan Pemerintah (PP) No. 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut yang diajukan oleh akademisi dan dosen hukum, Muhammad Taufiq. Dalam Putusan No. 5 P/HUM/2025, MA menyatakan bahwa ketentuan dalam Pasal 10 ayat (2), (3), dan (4) bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, yaitu Pasal 56 Undang-Undang No. 32. Dengan demikian, MA menegaskan bahwa pemerintah tidak lagi diperbolehkan melakukan ekspor pasir laut yang sebelumnya dibolehkan melalui PP tersebut. MA juga menyatakan pasal-pasal tersebut tidak berlaku untuk umum dan memerintahkan pemerintah sebagai pihak termohon untuk mencabut aturan terkait. Putusan ini menunjukkan peran penting MA dalam menjaga supremasi hukum dan memastikan bahwa regulasi pemerintah tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku.
Produk Unggulan ke Depan Harus Menyasar Komoditas Pertanian
Menyentuh Warga Global Lewat Kopi Indonesia Dari Tanah Gayo
Lereng pegunungandi Dataran Tinggi Gayo, Aceh, dikenal pasar globalsebagai penghasil kopi arabika berkualitas. Berkah kesadaran petani hingga eksportir menjaga kualitas. Koperasi Baitul Qiradh atau KBQ Baburrayyan di Takengon, Aceh Tengah, satu-satunya koperasi di Indonesia yang mengekspor kopi arabika Gayo langsung ke Starbucks di Seattle, AS. Disamping ketat membeli greenbean asalan sebelum diproses siap ekspor, mereka rajin melatih petani. Pada Minggu (11/5) di KBQ Baburrayyan, tiga truk kontainer berukuran 20 ft mengantre disamping gudang. Pekerja sibuk memuat ratusan karung goni seberat 60 kg greenbean ke kontainer. Di karung terbaca, Product of Indonesia, KBQ Baburrayyan dan Starbucks Coffee. ”Kami mengirim 50 kontainer setahun, masing-masing 19,2 ton,” kata Manajer Operasional Baburrayyan, Mochammad Charis. Ba-burrayyan beranggotakan 7.000 petani kopi arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues.
Petani diarahkan merawat kebun kopi sesuai standar pasar global, termasuk bertani organik tanpa bahan kimia. Pada 2011, Baburrayyan membagikan 11 mesin huller atau penggiling ceri merah (gelondongan) menjadi greenbean asalan atau biji kopi yang masihdiselimuti kulit ari tipis (gabah) kepada 11 kolektor di dekat kelompok tani binaan mereka, untuk mendekatkan penggilingan ceri kopi ke petani dan mengurangi beban produksi di gudang Baburrayyan yang berisiko menurunkan kualitas green bean. Kini sedikitnya 200 huller berkembang karena banyak yang menyediakan jasa penggilingan ceri kopi di kampungnya. Kolektor mitra Baburrayyan menyetor greenbean asalan berkadar air maksimal 15 %. Standar kualitas dijaga dalam penerimaan kopi. Semua karung dicek dan sampelnya diuji di laboratorium, lalu biji kopi asalan dijemur. Mesin terkomputerisasi akan menyortir biji kopi berdasar ukuran, berat dan warna. Ahli kopi Baburrayyan kemudian menyangrai dan menyeduhnya untuk diuji.
Begitu memenuhi standar, baru dikarungi untuk diekspor melalui Pelabuhan Belawan, Medan. Indonesia mengekspor 276.335 ton kopi pada 2023 dengan nilai 916,5 juta USD. Lima negara tujuan utama ekspor adalah AS 36.625 ton, Mesir 32.047 ton, Malaysia 22.677 ton, Italia 18.122 ton dan Jepang 15.316 ton. Untuk menjaga kualitas bijikopi, Baburrayyan aktif membina petani dengan dukungan Farmer Support Center(FSC) yang didirikan Starbucks di Berastagi, Sumut. Starbucks mendirikan 10 FSC di seluruh dunia, dua di antaranya di Asia, yakni Yunnan (China) dan Berastagi (Indonesia). FSC menyediakan berbagai program pelatihan petani terkait budidaya dan pemrosesan kopi organik sesuai standar pasar global. Starbucks dan FSC terus menjangkau petani mendapatkan pelatihan praktik pertanian yang baik, bantuan bibit kopi dan pohon penaung tanaman kopi, serta literasi keuangan. Bagi orang Gayo, biji kopi taksekadar hasil panen. Kopi adalah denyut kehidupan yang harus dijaga sepenuh jiwa. (Yoga)
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Tuntaskan PR Penggangu Terciptanya Kepastiaan Berusaha
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023







