;
Tags

Ekspor

( 1057 )

Peluang untuk Perluas Ekspor Baja

KT1 05 Jun 2025 Investor Daily
Penaikan tarif impor baja dan aluminium oleh AS, dari 25% menjadi 50%, justru menjadi peluang bagi industri baja nasional. Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Dadang Asikin menerangkan, tarif importasi baja AS dapat menjadi momen untuk baja berkekuatan tinggi (high alloy steel). "Kita harapkan sebetulnya yang produsen-produsen baja berkekuatan tinggi itu mungkin akan mencari pasar yang lebih kompetitif dibandingkan dia menjual ke Amerika Serikat," kata dia. Untuk industri hilir logam, Dadang meyakini tarif baja yang diterapkan oleh Trump tidak terlalu memengaruhi kinerja manufaktur dalam negeri, namun untuk sisi hulu, tarif importasi baja dikhawatirkan memberikan dampak negatif. "Saya yakin berpengaruh. Karena pasti dia kan mencari pasar lagi," ujar dia. Guna memitigasi dampak negatif dari dinamika ekonomi global, termasuk perang dagang yang saat ini terjadi. Pihaknya mendorong pemerintah untuk memperkuat hilirisasi logam dasar. 

Ekspor Terpukul Kebijakan Tarif Trump yang Menekan Pasar Nasional

KT1 03 Jun 2025 Investor Daily (H)
Kebijakan tarif resiprokal AS yang diinisiasi Presiden Donald Trump  menekan ekspor nasional. Pada April 2025, ekspor Indonesia turun 10% secara bulanan (moth to month/mtm) menjadi US$ 20,7 milira dari US$ 23,2 miliar. Pada bulan itu, berdasarkan data BPS, ekspor nonmigas Indonesia ke AS turun 20,8% menjadi US$ 2 miliar dari US$ 2,6 miliar. AS adalah salah satu mitra dagang utama Indonesia selain Asean, Uni Eropa China, Jepang, dan India. Ekspor ke Uni Eropa terpangkas 20,13% menjadi US$ 1,38 miliar  secara bulanan, sedangkan ke China turun 7% menjadi US$ 4,8 miliar. Penurunan ekspor terdalam mengarah ke Australia sebesar 39,5%, lalu Korea Selatan sebesar 28,19%, sedangkan India terpangkas 7,24%. BPS mencatat, dibandingkan April 2025 (yoy), ekspor bulan lalu masih tumbuh 6,6% dari US$ 19,6 miliar. Perinciannya, ekspor minyak dan gas turun 19% menjadi US$ 1,1 miliar, sedangkan nonmigas tumbuh 7,1% menjadi US$ 19,5 miliar.  Per April 2025, total ekspor mencapai US$ 87,3 miiar, dari US$ 81,9 miliar, tumbuh 6,6% dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 81,9 miliar. Pada periode itu, ekspor migas turun 8,4%, sedangkan nonmigas tumbuh 7,68%. (Yetede)

Tetap Bertumbuhnya Ekspor ke AS

KT3 03 Jun 2025 Kompas

Kinerja ekspor nonmigas Indonesia ke AS pada April 2025 masih tumbuh tinggi secara tahunan. Ini mengindikasikan importir AS memanfaatkan celah penundaan atau waktu negosiasi tarif impor resiprokal. BPS merilis, pada April 2025, ekspor nonmigas Indonesia ke AS senilai 2,08 miliar USD atau tumbuh 18,43 % secara tahunan. Impor nonmigas Indonesia dari AS juga tumbuh 13,65 % secara tahunan menjadi 770,7 juta USD. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia terhadap AS surplus 1,3 miliar USD. Padahal, Pemerintah AS memberlakukan tarif impor dasar sebesar 10 % terhadap semua komoditas selain otomotif, baja, dan aluminium mulai 5 April 2025. Dalam praktiknya, tarif impor dasar itu akan ditambahkan dengan tarif impor umum (MFN) yang berlaku selama ini.

Kepala Departemen Riset Industri dan Daerah Kantor Ekonom Bank Mandiri, Dendi Ramdani, Senin (2/6) mengatakan, para importir AS sebenarnya masih membutuhkan berbagai komoditas impor dengan tarif lebih murah untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri dan konsumsi. ”Mumpung tarifnya belum setinggi tarif resiprokal, mereka tetap mengimpor demi keberlanjutan bisnis. Mereka memanfaatkan celah penundaan atau waktu negosiasi tarif resiprokal selama 90 hari sejak 4 April 2025,” ujarnya. Banyak pelaku industri dan importir AS menentang kebijakan tarif baru yang digulirkan Presiden AS, Donald Trump. Pasalnya, pengenaan tarif impor yang sangat tinggi itu membebani biaya produksi dan pengeluaran konsumen di AS. Ada potensi mereka memanfaatkan celah tersebut hingga masa negosiasi tarif resiprokal usai. Dengan demikian, kinerja ekspor RI ke AS bisa tetap terjaga. (Yoga)


Melindungi Mother of Industry

KT1 02 Jun 2025 Investor Daily
Industri baja nasional memerlukan ketegasan regulasi dan perlindungan pasar baja dalan negeri guna memperkuat daya saing industri. Presiden Direktur PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP) Fedaus menyatakan, saat ini industri baja nasional telah bertransformasi mulai dari meningkatkan digitalisasi sistem, dan mengadopsi praktik ramah lingkungan. "Namun, bila baja impor terus masuk tanpa kontrol yang memadai, dan produk-produk non-standar yang tidak dilengkapi dengan SNI maupun TKDN yang sesuai regulasi masih bisa bebas beredar di pasar, ini adalah persaingan yang tidak adil" ujar dia. Fedaus menegaskan, pelaku industri tidak menolak perdagangan terbuka, namun yang dibutuhkan adalah keadilan dan keberpihakan serta pentingnya ketegasan regulasi dan perlindungan pasar baja dalam negeri. Industri baja merupakan tulang punggung dari pembangunan nasional, dan tanpa dukungan nyata, cita-cita Indonesia menjadi negara industri maju akan sulit tercapai. "Kita tidak bisa hilirisasi atau industrialisasi 2045 jika fondasi industrinya, yakni baja, tidak bediri kuat di negeri sendiri. Inilah saatnya keberpihakan itu diwujudkan bukan sekedar diwacanakan," ucap dia. (Yetede)

Pemerintah Berniat Memindahkan Pelabuhan Impor ke Indonesia Timur

KT1 26 May 2025 Investor Daily
Rencana pemerintah memindahkan pelabuhan impor (entry point) untuk beberapa komoditas tertentu ke Indonesia  Timur disambut positif asosiasi pengusaha layaran. Meski demikian yang menjadi tantangan adalah masih terbatasnya infrastruktur khususnya pelabuhan internasional di luar Pulau Jawa. Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowner Association (INSA) Carmelita Hartarto mengatakan pemindahan gateway (Pelabuhan) ekspor-impor utama ke wilayah Indonesia Timur merupakan wacana strategis yang berpotensi besar mengubah lanskap maritim nasional. Ia menyambut baik diskusi wacana ini, dan memandangnya sebagai peluang emas sekaligus tantangan yang perlu dikaji bersama oleh seluruh pemangku kepentingan. "Wacana pemindahan gateway baru yang sangat menarik. Ada potensi luar biasa untuk memperkuat industri domestik kita, sekaligus mendorong dengan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru yang dinamis di kawasan timur," kata Carmelita. Ia memaparkan berbagai dampak positif yang dapat diraih, seperti peningkatan signifikan aktivitas bongkar muat, terbuatnya ribuan lapangan kerja baru, potensi pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang inovatif, serta geliat positif bagi jasa logistik lokal dan industri pelayaran nasional, termasuk sektor perbaikan dok dan galangan kapal di wilayah timur. (Yetede)

Nestapa Buruh Perikanan dibalik Kilau Ekspor

KT3 26 May 2025 Kompas

Windu (31) warga Muncar, Banyuwangi, Jatim, telah menganggur selama tiga bulan. Ia diberhentikan secara sepihak oleh pabrik pengolahan ikan berorientasi ekspor tempatnya bekerja. PHK terjadi setelah Agung bersama 24 buruh lainnya berupaya membentuk serikat pekerja untuk memperjuangkan status hubungan kerja yang lebih jelas dan upah yang layak. ”Saya mulai bekerja di pabrik ini dari Oktober 2021 sebagai operator pengulitan ikan tuna, dari pukul 06.30 hingga pukul 18.30 WIB, enam hari kerja. Saat ini saya memperjuangkan nasib saya supaya bisa bekerja kembali,” ujar Agung, seusai audiensi dengan Wamenaker, Immanuel Ebenezer, Kamis (22/5) di Jakarta. Menurut dia, pabrik lama tempatnya bekerja menerapkan sistem kerja sif, tapi perbedaan jam masuk hanya setengah jam. Durasi jam kerjanya pun sama-sama panjang. Di bagian pengulitan, semua buruh pernah ditarget bisa menyelesaikan lebih dari 1,5 ton tuna per hari. Bahkan, dia pernah mendapat target 120 kg per jam.

Tuna yang dia kerjakan adalah tuna sirip kuning dan tuna albacore. Pada 2025, kisaran harga grosir tuna Indonesia 1,85-5,71 per kg USD. Namun, upah yang dia terima per bulan di bawah upah minimum kabupaten (UMK) Banyuwangi, yaitu Rp2,8 juta. Ia juga berstatus pekerja kontrak. Dayat (33) rekan kerja Agung, juga ikut dipecat karena ketahuan ikut membangun serikat pekerja. Status hubungan kerjanya sama dengan Agung, yakni pekerja kontrak atau perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT). Namun, Dayat hanya mendapat salinan PKWT pada awal bekerja. Sisanya, dia tak pernah memperoleh legalitas status., Riset ISB (Inti Solidaritas Buruh) pada Agustus 2022-Maret 2023 di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, salah satu sentra pengolahan ikan terbesar dan pelabuhan ikan tertua di Indonesia menemukan 2.443 buruh yang bekerja di bagian produksi dan gudang di tujuh perusahaan pengolahan ikan di Muncar berada dalam kondisi kerja tak layak.

Hak-hak dasar tidak dipenuhi perusahaan, seperti upah di bawah upah minimum, upah lembur tak sesuai aturan, jam kerja panjang dan tidak diikutsertakan dalam program jaminan sosial. Ada dua pelanggaran yang memengaruhi kepastian kerja dan pemenuhan hak dasar. Pertama, seluruh buruh bekerja dalam hubungan kerja kontrak, bahkan harian. Padahal, pekerjaan yang mereka lakukan adalah bisnis inti dari produksi, seperti memotong kepala ikan, memisahkan kulit tuna, memasukkan ikan dalam kaleng, pengemasan dan memasak. Kedua, 75 % dari 2.443 buruh memperoleh upah di bawah UMK Banyuwangi, yaitu Rp 50.000-Rp90.000 per hari. Sementara UMK Banyuwangi sebesar Rp105.000 per hari. (Yoga)


Kelangkaan Kelapa di RI dan Kemakmuran China

KT3 26 May 2025 Kompas

Kemajuan ekonomi China berdampak pada pola konsumsi masyarakatnya. Berbagai barang konsumsi diimpor China dari ASEAN dan Indonesia. Beberapa tahun terakhir, impor durian dari Malaysia dan Thailand membanjiri pasar China. Sejak Presiden Prabowo mengizinkan ekspor kelapa ke China, harga kelapa di pasar Indonesia melonjak. Masyarakat China terbiasa mengonsumsi air kelapa. Bahkan, air santan dalam kemasan yang biasa untuk memasak dikonsumsi seperti minuman biasa. Dampaknya di Indonesia, harga santan kemasan di tingkat eceran naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 19.000 untuk ukuran 200 mililiter. Harga sebutir kelapa kini dikisaran Rp 25.000-Rp 30.000 dari semula maksimal Rp 10.000 hingga belasan ribu rupiah per butir.

Bandung Geo Politic Studies (GPS) di Bandung, Jabar, menjelaskan, para pengusaha muda antusias mencari pasar di China untuk berbagai komoditas buah. Mereka berhasil mengekspor beberapa jenis buah khas Indonesia. Namun, semuanya adalah ekspor barang komoditas, bukan ekspor produk hilirisasi yang menambah nilai ekonomi bagi Indonesia. Presiden Prabowo sudah menegaskan, yang terpenting dari pembangunan ekonomi saat ini adalah hilirisasi dan tidak semata-mata mengandalkan ekspor komoditas. Sebab, itu tidak akan mampu menutup defisit dari importasi produk jadi untuk kebutuhan dalam negeri Indonesia. Langkah hilirisasi adalah keharusan jika ingin memanfaatkan peluang menangguk devisa. (Yoga)


Tak Berempati pada Rakyat, Mendapat Teguran

KT3 21 May 2025 Kompas (H)

PM Jepang, Shigeru Ishiba menegur Mentan, Kehutanan, dan Perikanan, Taku Eto, Selasa (20/5), karena Eto mengutarakan hal yang dianggap sombong dan tidak layak oleh masyarakat terkait krisis besar di Jepang. ”Ucapan Mentan amat tak layak. Tugas menteri adalah mencari solusi atas krisis beras,” kata Ishiba. Akhir pekan lalu, dalam acara penggalangan dana Partai Liberal Demokratik (LDP) Jepang, Eto bercanda bahwa ia tidak pernah membeli beras. ”Saya punya banyak pendukung.Mereka sering mengirimi berkarung-karung beras,” katanya. Ketika ditanggapi dengan kritis oleh para wartawan, Eto meralat dengan kembali bercanda. ”Eh, tapi beras hadiah juga tidak cukup. Istri saya masih harus belanja beras dan dia marah-marah karena harganya naik,” ujarnya.

Pernyataan disampaikan saat Jepang sedang mengalami krisis beras akibat gagal panen sejak 2023. Harga beras di pasar naik sampai 70 %. Harga beras kini mencapai 4.214 yen per 5 kg. Pemerintah terpaksa menambah impor dan membuka cadangan beras nasional. Perkataan Eto viral di dunia maya. Warganet beramai-ramai mengomelinya. Eto dicap sombong, tidak nyambung dengan realitas, dan tidak pantas menjadi pejabat negara. Eto dalam proses melepas 250.000 ton beras cadangan nasional. Beras akan dilelang dan dikemas ulang sebelum dijual di pasar. Diharapkan langkah ini mengatasi kelangkaan beras dan menurunkan harga. Baru 2 % dari beras tersebut yang mencapai pasar. Di tahap kedua, pemerintah berencana melepas 100.000 ton cadangan beras lagi. Per Juli, diperkirakan akan dilepaskan lagi 300.000 ton. Jepang secara total memiliki 910.000 ton beras cadangan yang dikeluarkan jika gagal panen. (Yoga)


UMKM Wajib Mampu untuk Berdaya Saing Tinggi

KT1 21 May 2025 Investor Daily
Untuk mendorong UMKM dalam negeri para pelaku UMKM perlu memperhatikan beberapa hal. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Susanto menekankan, pelaku  UMKM harus bisa berdaya saing  dan harus mampu berkompetensi. "Kalau kita punya daya saing, di Hippindo kan tidak mungkin kalau produk kita menjadi laku Contohnya di Hippindo kan tidak mungkin kalau produknya tidak bagus akan dijual di retail ya, termasuk dari Aprindo ya," kata dia. Budi mengatakan, produk UKM yang memiliki daya saing dapat menghambat masuknya produk-produk impor. "Karenakan goalnya sebenarnya ya jualan. Kalau jualan kan dapat duit, duitnya di simpan sih memang tapikan dibagi untuk usaha. Sebenarnya kan tujuan utamanya itu," terang dia. Selain itu untuk meningkatkan UKM dalam negeri para pelaku usaha UKN tidak hanya memasarkan produknya di dalam negeri. "Dalam negeri memang pasarnya besar sekali. Kalau pasar di dalam negeri ini sudah tercukupi oleh industri/UMKM kita sudah luar biasa sebenarnya," kata Mendag. Selain dalam negeri pasar ekspor dinilai berpotensi untuk mengembangkan produk UKM lokal. "Jadi nanti selain dipasarkan di dalam negeri juga eskpor. Kita (Kemendag) ada namanya program UMKM Bisa Ekspor. Jadi setiap bulan kita ada namanya business matching," terang dia. (Yetede)

Kalangan Petani Dukung RI Jadi Eksportir Beras

KT1 21 May 2025 Investor Daily
Kalangan  petani mendukung Indonesia menjadi eksportir beras dengan memulai  pengiriman secara komersial ke negara tetangga, seperti Malaysia. Dengan ekspor beras, peluang pasar bagi hasil panen para petani di Tanah Air  menjadi makin besar dan potensi mendapatkan harga  lebih baik lagi kian terbuka. Stok cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Perum Bulog kini menuju 4 juta ton, padahal level aman di tahun-tahun sebelumnya ditetapkan harga 1,5-2 juta ton. Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayanan Andalan (KTNA) Nasional HM Yadi Sofyan Noor, dengan ekspor beras maka Indonesia bisa menunjukkan pada dunia bahwa target produkdi nasional tercapai, bahkan berlebihan atau surplus. Di tahun-tahun sebelumnya, stok CBP di BUMN tersebut sudah sampai 3,6 juta ton. Bahkan, data Perum Bulog menyebutkan, stok CBP sudah 3,6 juta ton. Artinya, kalau dijual 500 ribu ton, enggak apa-apa, aman saja, masih ada kurang lebih 3 juta ton, aman untuk tiga bulan kedepan. Apalagi, dengan stok CBP sebesar 3,6 juta ton itu, di lapangan saat ini masih ada sisa panen," ungkap Sofyan. (Yetede)