Ekspor
( 1057 )PTFI Mampu Hasilkan 32 Ton Emas Tahun Ini
Fasilitas pemurnian logam mulia (Precious Metal Refinery/PMR) PT Freeport Indonesia (PTFI) mampu menghasilkan 32 ton emas pada tahun ini. Produksi logam mulia itu akan mencapai kapasitas penuh sebesar 50 ton pada 2026 seiring dengan beroperasinya smelter Manyar, fasilitas pemurnian konsentrat tembaga kedua milik PTFI. Adapun total investasi membangun PMR dengan kapasitas 6 ribu lumpur anoda per tahun ini mencapai US$ 630 juta. Lumpur anoda merupakan produk samping dari smelter tembaga. Pada tahun ini pasokan lumpur anoda berasal dari PT Smelting, smelter tembaga pertama PTFI. Pasalnya, smelter Manyar masih dalam proses reparasi akibat insiden kebakaran pada fasilitas asam sulfat pada Oktober 2024 lalu.
Smelter manyar ditargetkan beroperasi maksimum pada akhir tahun ini. PMR PTFI yang berada dalam satu kawasan dengan smelter Manyar itu diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 17 Maret 2025. fasilitas yang berada di Gresik, Jawa Timur ini merupakan pemurnian emas modern terbesar di dunia yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Emas yang dihasilkan PMR diserap oleh PT Antam Tbk. Kerja sama ini diikat dalam perjanjian jual beli emas yang menyatakan bahwa Antam akan menyerap produk PMR selama lima tahun dengan target 30 ton per tahun. Durasi dan volume penyerapan itu pun bersifat fleksibel. Kontrak keduanya bisa diperpanjang dan ditingkatkan sesuai kebutuhan dalam negeri. PTFI menegaskan komitmennya untuk selalu memprioritaskan Antam dalam penyaluran produk emasnya. (Yetede)
Strategi Agar Tarif Tak Timbulkan Tekanan Kinerja
Pemerintah Sebaiknya Lebih Fokus Pada Diversifikasi Ekspor
Pemerintah Indonesia akan menempuh negosiasi untuk menanggapi tarif impor resiprokal AS. Namun, konsesi yang ditawarkan berpotensi menurunkan posisi tawar RI di depan AS. Alih-alih berkompromi, pemerintah disarankan untuk fokus saja pada diversifikasi pasar ekspor di luar AS. Kebijakan tarif impor resiprokal AS akan mulai diterapkan secara efektif kepada sejumlah negara mitra dagang pada Rabu (9/4) waktu setempat. Indonesia dikenai tarif bea masuk sebesar 32 %, keenam tertinggi di kawasan ASEAN. Tekad pemerintah untuk menempuh langkah negosiasi demi menurunkan tarif telah bulat. Keseriusan pemerintah untuk bernegosiasi ditunjukkan dengan melayangkan surat kepada otoritas perdagangan AS.
Pemerintah menawarkan serangkaian kebijakan yang mengarah pada konsesi, mulai dari deregulasi aturan perpajakan dan pengurangan tarif bea masuk atas produk AS, pembukaan akses pasar yang lebih lebar bagi sejumlah produk AS, pelonggaran kuota impor, hingga relaksasi syarat tingkat komponen dalam negeri. Menurut Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, berbagai upaya itu diharapkan dapat menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia dengan AS, yang saat ini mencatat surplus bagi Indonesia sebesar 16,8 miliar USD pada tahun 2024. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan, beberapa komoditas yang akan ditambah impornya dari AS meliputi bahan baku liquefied petroleum gas (LPG/elpiji) dan minyak mentah.
Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira mendorong pemerintah mempercepat perjanjian dagang dengan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika untuk diversifikasi ekspor. Jangka pendeknya, penting menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. ”Beberapa caranya bisa dengan intervensi di pasar keuangan dan stimulus bagi dunia usaha terdampak,” ujar Anggawira. Perluasan sasaran dagang, juga dapat dilakukan dengan mengoptimalkan perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP). RCEP adalah blok perdagangan di Asia Pasifik yang melibatkan 15 negara dengan porsi sepertiga dari total ekonomi global. (Yoga)
Zona Nyaman Jatim Diusik Tarif Trump
Penerapan tarif resiprokal pada produk-produk Indonesia mengusik kinerja ekonomi Jatim sebagai salah satu pusat industri manufaktur nasional. Jatim harus menggali terobosan baru agar stabilitas ekonominya tidak terganggu. Pemerintah AS menerapkan tarif resiprokal 32 % pada produk-produk Indonesia mulai 9 April 2025, yang juga berdampak pada produk-produk yang dihasilkan oleh industri manufaktur di Jatim. Wagub Jatim, Emil Dardak mencontohkan, dari sisi ekspor, Jatim menguasai produk alas kaki dan furnitur. Jatim punya pabrik alas kaki dengan kapasitas besar di Kabupaten Madiun dan Nganjuk. Banyak juga industri furnitur, tersebar di Sidoarjo dan Mojokerto. Kedua industri merupakan sektor usaha padat karya yang menciptakan banyak lapangan pekerjaan.
”Pangsa pasarnya (produk alas kaki dan furnitur) ke AS lumayan besar,” ujar Emil pada acara Halalbihalal Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah di Jatim Expo Surabaya, Selasa (8/4). Pengenaan tarif khusus impor ke AS itu bakal menggerus daya saing produk Indonesia di pasar AS. Melemahnya daya saing berdampak pada penurunan permintaan yang pada akhirnya berujung penurunan produksi di pabrik. Di sisi lain, Jatim memiliki ketergantungan tinggi pada komoditas gandum dan kedelai dari AS. Impor dari AS itu dilakukan dalam jumlah besar karena gandum menjadi bahan baku industri roti. Adapun kedelai menjadi bahan baku industri kecil menengah yang memproduksi produk makanan berupa tempe dan tahu. ”Kita tidak bisa lagi duduk tenang saat ini karena dunia terus bergejolak. Itu adalah contoh-contoh masalah yang harus segera dicarikan terobosan,” kata Emil. (Yoga)
Jangan Ceroboh untuk Relaksasi Import
Relaksasi kebijakan impor sebagai bahan negosiasi tarif dengan AS jangan sampai merugikan industri dalam negeri yang masih membutuhkan proteksi. Apalagi, ada rencana untuk menghapus kuota impor dalam rangka negosiasi tarif. Pada prinsipnya, kebijakan itu tidak bisa diterapkan untuk semua komoditas karena harga disesuaikan kondisi dalam negeri. Impor yang serampangan akan memukul industri nasional, yang akan berujung pada penurunan PHK. Atas dasar itu, pemerintah perlu hati-hati dan jangan gegabah dalam menerapkan relaksasi impor.
Sementara itu, perang dagang diprediksi menjadi pukulan keras bagi ekonomi internasional. Sebab, hal itu membahayakan kinerja ekspor Indonesia, mengingat kontribusi pengapalan barang ke Paman Sam mencapai 10%. Perang dagang juga merontokkan harga komoditas andalan, mulai dari sawit, batu bara yang dibarengi penurunan tajam harga ritel akibat perlambatan ekonomi China. Berdasarkan data Trading Ekonomics, harga minyak WTI melorot 19% dari US$ 71,8 per barel menjadi US$ 57,9 per barel sejak Presiden AS Donald Trump menyulut perang dagang pada 2 April 2025. Harga batu bara juga tergelincir menjadi dibawah US$ 100 per ton, tepatnya US$ 98 per ton. Harga sawit mentah merosot 6% dari 4.520 ringgit per ton menjadi 4.244 ringgit per ton. Adapun harga nikel terjun bebas 1,8% dari US$ 16.115 per ton menjadi US$ 14.200 per ton. (Yetede)
Jurus Pemerintah Menghadapi Penerapan Tarif Resiprokal dari Ekspor Hingga Insentif
Perkuat Ekonomi Dalam Negeri
Strategi Ampuh Hadapi Gelombang Tarif Balasan AS
Hadapi Tarif Trump denan Diplomasi
Pemberlakuan tarif resiprokal
oleh Pemerintah AS akan berdampak langsung pada penurunan ekspor Indonesia dan bisa
memukul industri padat karya dan sektor keuangan. Negosiasi diplomatik,
termasuk forum multilateral, menjadi sangat krusial dalam memitigasi dampak
dari ”perang dagang” AS. Pada Kamis (3/4) dini hari WIB, Presiden AS Donald
Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal yang disebutnya ”Hari Pembebasan”. Indonesia dikenai tarif
impor 32 % atau tiga kali lipat dari basis tarif 10 % untuk semua negara, yang mendekati
tambahan tarif resiprokal China di 34 5. Sebelumnya, China telah dikenai tarif
20 %. Tarif resiprokal dasar, yakni 10 %, mulai berlaku pada 5 April 2025.
Adapun tarif resiprokal spesifik, termasuk yang dikenakan ke Indonesia, berlaku
mulai 9 April 2025.
Direktur Program Institute for
Development of Economics and Finance (Indef) Eisha Maghfiruha Rachbini
mengatakan, penerapan tarif resiprokal akan berdampak langsung terhadap
penurunan ekspor Indonesia ke AS. Rata-rata tahunan, pangsa pasar ekspor Indonesia
ke AS sebesar 10,3 %, terbesar kedua setelah ke China. Surplus perdagangan Indonesia-AS
sebesar 16,08 miliar USD dari total surplus perdagangan nonmigas 2024, yaitu
31,04 miliar USD. ”Produk Indonesia, seperti tekstil, alas kaki, elektronik,
furnitur, serta produk pertanian dan perkebunan, seperti minyak kelapa sawit,
karet, dan perikanan, bakal terdampak,” ujar Eisha.
Terkait hal itu, Pemerintah RI
perlu segera bernegosiasi dengan AS untuk meminimalkan dampak tarif resiprokal
bagi produk-produk ekspor Indonesia yang masuk pasar AS. Kekuatan negosiasi diplomatik
menjadi sangat krusial. Menurut Eisha, pemerintah perlu mengoptimalkan perjanjian
dagang bilateral dan multilateral, kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA),
serta menginisiasi perjanjian kerja sama dagang dengan negara-negara
nontradisional. Dengan demikian, eksportir dapat mengalihkan pasar. ”Pemerintah
RI juga perlu memberikan insentif fiskal, subsidi, dan keringanan pajak guna
membantu pelaku industri mengatasi peningkatan biaya dan pengurangan permintaan
akibat dampak tarif dan perang dagang AS,” katanya. (Yoga)
Bahkan Pulau Penguin Pun Terkena Tarif Trump
Trump mengenakan tarif impor atas
Pulau Heard dan Pulau Mc Donald yang tidak berpenghuni dan nyaris tak dikenal. Pulau
tak jauh dari Antartika di lingkar Kutub Selatan itu hanya dihuni penguin,
singa laut, dan burung liar. Pulau-pulau itu dikenai tarif impor 10 % oleh
Trump. Merujuk laporan The Guardian, wilayah tersebut memiliki potensi perikanan.
Namun, di pulau itu tidak ada aktivitas apa pun terkait industri perikanan. Tidak
ada bangunan atau tempat tinggal manusia di pulau yang ditetapkan menjadi suaka
bagi penguin itu. Meskipun demikian, merujuk data ekspor Bank Dunia, The
Guardian melaporkan, pada 2022, AS mengimpor produk senilai 1,4 juta USD dari
Pulau Heard dan Pulau McDonald. The Guardian juga menyebutkan, ada angka impor
dari pulau itu selama beberapa tahun sebelumnya, antara 15.000 USD dan 325.000 USD.
Produk yang diimpor dari pulau penguin itu mencakup mesin dan produk
elektrifikasi.
Wilayah terpencil lain yang
dihantam tarif oleh Trump adalah Pulau Norfolk, di bawah kontrol Australia,
yang dikenai tarif impor 29 %. Pulau Norfolk terletak di antara Kaledonia Baru
dan Pulau Utara, Selandia Baru, 1.600 kilometer timur laut kota Sydney,
Australia. Warga Norfolk adalah keturunan para pelaut yang memberontak di kapal
HMS Bounty tahun 1789. Mereka hidup dari industri pariwisata. Berbagai kapal
pesiar singgah ke pulau tanpa landasan pesawat udara itu. Kamar Dagang Norfolk
mengatakan, mereka berada di peringkat ke-223 dunia dalam ekspor pada 2019.
Nilai ekspor mereka sebesar 2,7 juta USD berupa penganan berbasis kedelai dan
aneka bibit tanaman. Richard Cottle, pemilik pabrik pembuatan beton di Pulau Norfolk,
heran dengan tarif Trump. ”Kemungkinan besar ada kesalahan. Norfolk hanyalah
titik merah kecil di dunia ini. Kami bukan negara eksportir,” katanya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Evaluasi Bantuan Langsung Tunai BBM
11 Oct 2022 -
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









