;
Tags

Ekspor

( 1057 )

Emiten Minerba Gencar Mengencangkan Ikat Pinggang

KT1 28 Apr 2025 Investor Daily (H)
Emiten mineral dan batu bara (minerba) gencar mengencangkan ikat pinggang meski amandemen tarif royalti sedikit memberikan ruang bagi mereka yang memegang izin usaha  penambangan khusus (IUPK). Namun, dengan atau tanpa amandemen tarif,  emiten minerba sebetulnya tengah megap-megap. Tantangan global seperti fluktuasi harga komoditas yang masih kencang, menandai ketidakpastian di sektor pertambangan masih cukup tinggi. Menilik pergerakan harga komoditas di Tranding Economics pada Minggu (27/4/2025), harga komoditas mineral seperti emas, nikel, perak, dan tembaga, kompak drop. Koreksi terbesar menimpa emas yang minus US$ 28,8 (0,86%) ke posisi US$ 3.319 per troy ounce setelah sempat menyentuh US$ 3.500 per troy ounce. Nikel juga masih belum bangkit dengan kontraksi sebesar US$ 390 (2,46%) sampai menuju level US$ 15.490 per ton. Begitupun perak dan tembaga yang masing-masing melemah US$ 055 (-1,63%) dan US$ 0,04 (0,73%). Bahkan, harga batu bara yang kini teraspirasi 0,63% sejatinya belum kembali pada performa terbaiknya. Pasalnya, sejak awal tahun atau year-to-date, harga batu bara telah terkoreksi 23% ke posisi US$ 95 per ton. (Yetede)

Emiten Minerba Gencar Mengencangkan Ikat Pinggang

KT1 28 Apr 2025 Investor Daily (H)
Emiten mineral dan batu bara (minerba) gencar mengencangkan ikat pinggang meski amandemen tarif royalti sedikit memberikan ruang bagi mereka yang memegang izin usaha  penambangan khusus (IUPK). Namun, dengan atau tanpa amandemen tarif,  emiten minerba sebetulnya tengah megap-megap. Tantangan global seperti fluktuasi harga komoditas yang masih kencang, menandai ketidakpastian di sektor pertambangan masih cukup tinggi. Menilik pergerakan harga komoditas di Tranding Economics pada Minggu (27/4/2025), harga komoditas mineral seperti emas, nikel, perak, dan tembaga, kompak drop. Koreksi terbesar menimpa emas yang minus US$ 28,8 (0,86%) ke posisi US$ 3.319 per troy ounce setelah sempat menyentuh US$ 3.500 per troy ounce. Nikel juga masih belum bangkit dengan kontraksi sebesar US$ 390 (2,46%) sampai menuju level US$ 15.490 per ton. Begitupun perak dan tembaga yang masing-masing melemah US$ 055 (-1,63%) dan US$ 0,04 (0,73%). Bahkan, harga batu bara yang kini teraspirasi 0,63% sejatinya belum kembali pada performa terbaiknya. Pasalnya, sejak awal tahun atau year-to-date, harga batu bara telah terkoreksi 23% ke posisi US$ 95 per ton. (Yetede)

Trump Tandatangani Perintah Eksekutif Penambangan di laut Dalam

KT1 26 Apr 2025 Investor Daily
Presiden Amerika Serikat Donad Trump telah menandatangani perintah eksekutif untuk memulai praktik penambangan di laut dalam. Langkah ini bertujuan mematahkan posisi dominasi China dalam rantai  pasokan mineral yang penting. Tindakan sepihak itu juga dimaksudkan melawan pengaruh China yang semakin besar atas sumber daya mineral dasar laut, memperkuat kemitraan dengan para sekutu, dan memastikan bahwa perusahan-perusahaan AS berada dalam posisi tepat guna mendukung pihak-pihak yang berminat untuk mengembangkan mineral dasar laut secara bertangung jawab. Menurut laporan yang dilansir CNBC pada Jumat (25/4/2025), Pemerintah AS berusaha mempercepat penambangan mineral-mineral penting yang strategis, seperti nikel, tembaga, serta elemen-elemen logam jarang dari dasar laut diperairan AS dan internasional. "Amerika Serikat memiliki kepentingan keamanan nasional, juga ekonomi utama dalam ilmu pengeahuan dan teknologi laut dalam sumber daya mineral dasar laut," ujar Trump. Namun menurut para krtitikus, perintah eksekutif tersebut bertentangan dengan upaya global untuk mengadopsi peraturan, yang mengarahkan perintah Trump melakukan percepatan izin penambangan  berdasarkan Deep Seabed Hard Minerals Act of 1980 atau UU Mineral Keras Dasar Laut. (Yetede)

Trump Tandatangani Perintah Eksekutif Penambangan di laut Dalam

KT1 26 Apr 2025 Investor Daily
Presiden Amerika Serikat Donad Trump telah menandatangani perintah eksekutif untuk memulai praktik penambangan di laut dalam. Langkah ini bertujuan mematahkan posisi dominasi China dalam rantai  pasokan mineral yang penting. Tindakan sepihak itu juga dimaksudkan melawan pengaruh China yang semakin besar atas sumber daya mineral dasar laut, memperkuat kemitraan dengan para sekutu, dan memastikan bahwa perusahan-perusahaan AS berada dalam posisi tepat guna mendukung pihak-pihak yang berminat untuk mengembangkan mineral dasar laut secara bertangung jawab. Menurut laporan yang dilansir CNBC pada Jumat (25/4/2025), Pemerintah AS berusaha mempercepat penambangan mineral-mineral penting yang strategis, seperti nikel, tembaga, serta elemen-elemen logam jarang dari dasar laut diperairan AS dan internasional. "Amerika Serikat memiliki kepentingan keamanan nasional, juga ekonomi utama dalam ilmu pengeahuan dan teknologi laut dalam sumber daya mineral dasar laut," ujar Trump. Namun menurut para krtitikus, perintah eksekutif tersebut bertentangan dengan upaya global untuk mengadopsi peraturan, yang mengarahkan perintah Trump melakukan percepatan izin penambangan  berdasarkan Deep Seabed Hard Minerals Act of 1980 atau UU Mineral Keras Dasar Laut. (Yetede)

Konsolidasi Perdagangan Jadi Andalan Ekspor

HR1 26 Apr 2025 Bisnis Indonesia (H)
Tim negosiasi Indonesia yang dipimpin oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sinyal positif usai pertemuan perdana dengan pemerintah Amerika Serikat terkait kebijakan tarif resiprokal Trump. Meski demikian, Airlangga menekankan pentingnya konsolidasi antar pemangku kepentingan di dalam negeri guna mengantisipasi dampak negatif dari pelemahan ekonomi global dan tekanan perdagangan internasional.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan bahwa kebijakan tarif AS telah mengubah tatanan perdagangan dunia dan Indonesia harus bersiap menghadapi ketidakpastian tersebut dengan strategi fiskal yang adaptif. Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menambahkan bahwa Indonesia tidak bisa bergantung sepenuhnya pada hasil negosiasi, melainkan perlu segera menciptakan rencana cadangan dan mempercepat reformasi iklim usaha untuk meningkatkan daya saing ekspor.

Sementara itu, Direktur Indef Eisha M. Rachbini menilai bahwa perdagangan intra-Asean merupakan peluang yang menjanjikan dan perlu dioptimalkan pemanfaatannya. Ketua Umum Aprisindo Eddy Widjanarko juga menekankan pentingnya penyelesaian perjanjian dagang IEU-CEPA agar industri alas kaki nasional dapat menembus pasar Eropa, mengingat terbatasnya negara tujuan ekspor saat ini.

Hasil awal negosiasi tarif dengan AS cukup menjanjikan, pemerintah dan dunia usaha Indonesia tetap harus memperkuat koordinasi domestik, memperluas pasar ekspor, dan meningkatkan daya saing untuk menghadapi risiko jangka panjang dari perang dagang global.

Masih ada China dan India yang Memiliki Potensi Ekspor yang Besar

KT1 24 Apr 2025 Investor Daily
Pemerintah Indonesia diminta tidak hanya memikirkan AS sebagai tujuan ekspor. Masih ada China dan India yang memiliki potensi ekspor yang besar.  Berdasarkan data BPS per Maret 2025, China, Amerika, dam India menjadi tiga besar negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia, dengan total nilai ekspor ketiganya sebesar 42,37% terhadap ekspor nonmigas nasional. Untuk itu, Kepala Sekolah Ekspor Handito Juwini meminta agar pemerintah Indonesia tidak hanya memikirkan AS saja. "Kita harus mencari, mengefektifkan semua energi agar eskpor ke China, ekspor ke India bisa lebih besar lagi. Perdagangan ke China dan India juga tidak boleh dilupakan. Itu hal yang sangat penting diperhatikan juga," kata dia. Handito menilai dalam lima tahun ke depan ekspor Indonesia akan masih sama. hal ini karena banyak produk Indonesia yang cocok dengan kebutuhan tiga negara itu. Namun dengan adanya kebijakan tarif Trump ini akan terjadi perubahan. "Ini akan terjadi perubahan nih peta kompetisi internasional berubah gitu," kata dia. Maka dari itu, Handito menilai Indonesia harus lebih giat lagi mencari pasar-pasar yang baru, meskipun tidak akan bisa melupakan AS, China dan India. "Sebenarnya dari sisi kepentingan AS kan baik-baik saja. Dia (AS) ingin menyeimbangkan neraca perdagangannya dengan banyak negara, termasuk di Indonesia kan gitu," ucap dia. (Yetede)

Masih ada China dan India yang Memiliki Potensi Ekspor yang Besar

KT1 24 Apr 2025 Investor Daily
Pemerintah Indonesia diminta tidak hanya memikirkan AS sebagai tujuan ekspor. Masih ada China dan India yang memiliki potensi ekspor yang besar.  Berdasarkan data BPS per Maret 2025, China, Amerika, dam India menjadi tiga besar negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia, dengan total nilai ekspor ketiganya sebesar 42,37% terhadap ekspor nonmigas nasional. Untuk itu, Kepala Sekolah Ekspor Handito Juwini meminta agar pemerintah Indonesia tidak hanya memikirkan AS saja. "Kita harus mencari, mengefektifkan semua energi agar eskpor ke China, ekspor ke India bisa lebih besar lagi. Perdagangan ke China dan India juga tidak boleh dilupakan. Itu hal yang sangat penting diperhatikan juga," kata dia. Handito menilai dalam lima tahun ke depan ekspor Indonesia akan masih sama. hal ini karena banyak produk Indonesia yang cocok dengan kebutuhan tiga negara itu. Namun dengan adanya kebijakan tarif Trump ini akan terjadi perubahan. "Ini akan terjadi perubahan nih peta kompetisi internasional berubah gitu," kata dia. Maka dari itu, Handito menilai Indonesia harus lebih giat lagi mencari pasar-pasar yang baru, meskipun tidak akan bisa melupakan AS, China dan India. "Sebenarnya dari sisi kepentingan AS kan baik-baik saja. Dia (AS) ingin menyeimbangkan neraca perdagangannya dengan banyak negara, termasuk di Indonesia kan gitu," ucap dia. (Yetede)

Tarik Ulur Tarif & Keadilan Perdagangan Global

HR1 24 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap produk ekspor dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, telah menciptakan distorsi dalam perdagangan global. Negara-negara seperti Indonesia dan Vietnam mengalihkan jalur ekspornya melalui Singapura, yang tarifnya lebih rendah, menjadikan negara tersebut sebagai perantara dagang tanpa proses produksi nyata—ibarat "calo resmi" dalam perdagangan global.

Namun, strategi ini menambah biaya logistik dan menurunkan efisiensi rantai pasok, bukan meningkatkan nilai ekonomi. Fenomena ini menyoroti kelemahan dalam sistem tarif global dan pentingnya reformasi struktur perdagangan internasional yang adil dan efisien.

Kelemahan strategi dagang individual dari negara-negara ASEAN juga disorot. Pendekatan bilateral yang diambil demi fleksibilitas justru melemahkan posisi tawar ASEAN secara kolektif dan menghambat tercapainya tujuan ASEAN Economic Community (AEC). Sebagai perbandingan, Uni Eropa dijadikan contoh sukses integrasi ekonomi yang solid dan terkoordinasi.

Pentingnya rekonstruksi kebijakan perdagangan global yang berlandaskan pada prinsip transparansi, keadilan, dan keberlanjutan, agar sistem perdagangan internasional menjadi lebih inklusif dan tidak hanya menguntungkan negara besar atau pelaku usaha tertentu saja.

Perang Tarif antara AS dan China Kembali Memanas

KT1 23 Apr 2025 Investor Daily (H)
Perang tarif antara AS dan China kembali memanas dengan ancaman yang lebih sistemik dan berdampak luas ke negara-negara ketiga. Namun demikian, Indonesia tidak boleh menyikapi situasi ini dengan mentalis inferior, melainkan tampil sebagai negara berdaulat dan percaya diri, dengan tidak memilih antara AS atau China. Baik AS maupun China sama-sama mitra dagang utama, yang membuat posisi Indonesia memang cukup sulit. Data dari Kementerian Perdagangan untuk ekspor nonmigas Indonesia ke China relatif cukup tinggi dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022, 2023, dan 2024, ekspor nonmigas Indonesia ke China masing-masing lebih dari US$ 60 miliar. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2024 menunjukkan bahwa Penanaman Modal Asing (PMA) dari China ke Indonesia sebesar US$8,1 miliar atau sekitar Rp136 triliun. Sementara AS  konsisten menjadi salah satu tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia. Pada Oktober 2024 saja, ekspor nonmigas Indonesia ke AS mencapai US$ 2,34 miliar, menempatkannya sebagai tujuan  ekspor terbesar kedua setelah China. Sepanjang tahun 2024, AS menjadi penyumbang surplus terbesar neraca perdagangan Indonesia dengan nilai US$ 16,84 miliar. Secara umum, seraca perdagangan Indonesia terhadap AS selalu surplus selama sepuluh tahun terakhir, atau periode 2015 sampai 2024. (Yetede)

Target Ekspor Tak Tergoyahkan oleh Tarif AS

KT3 22 Apr 2025 Kompas

Pemerintah menyatakan kebijakan tarif baru yang diterapkan AS terhadap produk asal Indonesia tidak akan memengaruhi target pertumbuhan ekspor Indonesia sebesar 7,1 % pada 2025. Berdasar data BPS, kinerja perdagangan Indonesia sepanjang 2024 meraih surplus 31,04 miliar USD dari akumulasi nilai ekspor sebesar 264,7 miliar USD, dikurangi volume impor tahunan sebesar 233,6 miliar USD. Awal tahun ini, Kemendag menargetkan kinerja ekspor pada 2025 akan tumbuh 7,1 % dari capaian akumulasi nilai ekspor sepanjang 2024. Artinya, akumulasi nilai ekspor sepanjang 2025 ditargetkan mencapai 283,5 miliar USD.

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono tidak memungkiri hasil simulasi internal menunjukkan implementasi tarif bea masuk Pemerintah AS berdampak pada penurunan kinerja ekspor ke negara adidaya tersebut. Namun, penurunan ini dapat terkompensasi dengan berbagai kesepakatan baru yang Indonesia jalin dengan negara mitra perdagangan di luar AS. Selain itu, sejumlah perjanjian dagang yang sudah lama diimplementasikan dengan negara mitra juga ada yang diperbarui untuk menopang pertumbuhan kinerja ekspor. ”Dengan adanya perjanjian perdagangan yang baru, kita harapkan target (pertumbuhan ekspor 7,1 % pada 2025) yang sudah ditetapkan bisa tercapai,” ujarnya dalam media briefing ”Kebijakan Tarif AS” di Jakarta, Senin (21/4). (Yoga)