Teknologi Informasi
( 863 )Putin dan Trump Teleponan Sampai 90 Menit, Bahas Perang di Ukraina dan Iran
Ramalan Permintaan Emas Dunia untuk Sisa 2026, Peluang ATH Baru
Pesta Dividen Bank BUMN, Investor Panen di Tengah Risiko Makroekonomi
Gibran Divonis Penjara 9 Tahun, Manipulasi Laporan Keuangan eFishery
MSCI Pertahankan Pembatasan Saham RI, Ini Strategi Yang Bisa Dilakukan Investor
MBG Mau Dipangkas Jadi 5 Hari, Purbaya: Bisa Hemat Rp 40 Triliun
Pemerintah Bebaskan 100% PPN Tiket Pesawat Mudik 2026, Dorong Efek Pengganda Ekonomi Daerah
?
JAKARTA – Pemerintah secara resmi menetapkan kebijakan
pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 100% untuk tiket pesawat kelas
ekonomi rute domestik selama periode mudik Hari Raya Idulfitri 2026. Kebijakan
strategis ini diambil sebagai langkah fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat
kelas menengah sekaligus menstimulasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian,
Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa penghapusan beban PPN ini diproyeksikan
dapat menurunkan harga tiket pesawat secara riil pada kisaran 17% hingga 18%.
Proyeksi tersebut juga didukung oleh rencana pemangkasan komponen biaya
penerbangan lainnya, seperti pajak bandara (airport tax) dan pajak avtur.
Peningkatan Stimulus dari Periode Sebelumnya
Kebijakan
PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100% ini merupakan langkah yang lebih
agresif dibandingkan periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Pada
periode tersebut, pemerintah baru menerapkan skema PPN DTP sebesar 6%, sehingga
konsumen masih harus menanggung sisa beban pajak sebesar 5%. Pada periode
Lebaran 2026 ini, pemerintah memberikan insentif penuh guna memaksimalkan
penurunan harga tiket di pasaran.
Dampak Ekonomi Pengganda (Multiplier Effect) Penurunan harga tiket
pesawat diharapkan tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga
memicu efek pengganda (multiplier
effect) bagi perekonomian daerah. Dana sisa hasil penghematan pembelian
tiket pesawat berpotensi dialihkan masyarakat untuk konsumsi ritel, kuliner,
dan pariwisata di daerah tujuan mudik.
Selain sektor udara,
pemerintah juga memberikan subsidi untuk moda transportasi lain pada periode
mudik kali ini, antara lain:
· Diskon tarif 30% untuk
tiket kereta api dan kapal laut.
·
Pembebasan
tarif 100% (gratis) untuk jasa kepelabuhanan atau tarif dasar penyeberangan.
Kondisi Finansial Maskapai dan Sinergi
Korporasi
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menegaskan bahwa insentif PPN DTP 100% ini bersumber sepenuhnya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, kebijakan ini dipastikan tidak akan memotong margin keuntungan maskapai penerbangan. Iklim industri yang kondusif ini turut direspons positif oleh para pelaku usaha. Sebagai contoh, maskapai nasional Garuda Indonesia meluncurkan program promosi "Takjil Ramadan", yang memberikan tambahan potongan harga tiket hingga 20% melalui kode promosi MUDIK26. Sinergi antara insentif pemerintah dan program korporasi ini dinilai akan memberikan nilai tambah yang optimal bagi konsumen.
Pengawasan Ketat Terhadap Dinamika Pasar
Meskipun stimulus telah diberikan, tantangan utama pada musim mudik tetap berada pada ketidakseimbangan antara tingginya permintaan (demand) dan ketersediaan kursi (supply). Dinamika ini kerap mengakibatkan habisnya tiket penerbangan langsung (direct flight), sehingga masyarakat beralih pada opsi penerbangan transit dengan struktur harga yang lebih tinggi. Untuk mencegah praktik yang merugikan konsumen, Kementerian Perhubungan bersama Satuan Tugas (Satgas) terkait akan meningkatkan pengawasan di lapangan. Pengawasan difokuskan pada maskapai dan Agen Perjalanan Daring (Online Travel Agent/OTA) guna memastikan tidak ada kenaikan tarif dasar (base fare) yang tidak wajar sebelum berlakunya potongan PPN DTP.
Ekonomi Dunia 2026: IMF Prediksi Pertumbuhan Stabil 3,3% di Tengah "Angin Sakal" Perdagangan
JAKARTA – Dana Moneter
Internasional (IMF) baru saja merilis laporan World Economic Outlook (WEO)
Update edisi Januari 2026 yang memberikan gambaran optimis namun penuh
kewaspadaan bagi lanskap ekonomi global. Di tengah bayang-bayang ketegangan
perdagangan dan ketidakpastian geopolitik, ekonomi dunia diprediksi akan tetap
tangguh dengan angka pertumbuhan yang stabil.
Ketahanan di Tengah
Ketidakpastian
IMF memproyeksikan pertumbuhan
ekonomi global akan bertahan di angka 3,3% pada tahun 2026 dan sedikit melandai
ke 3,2% pada tahun 2027. Angka ini mencerminkan keberlanjutan dari performa
tahun 2025 yang juga diperkirakan mencapai 3,3%. Menariknya, proyeksi untuk
tahun 2026 ini merupakan hasil revisi naik sebesar 0,2 poin persentase
dibandingkan dengan laporan WEO Oktober 2025.
Meskipun terlihat stabil di
permukaan, IMF menekankan bahwa performa ini sebenarnya merupakan hasil dari
penyeimbangan kekuatan yang saling bertolak belakang. Hambatan utama atau "angin
sakal" datang dari pergeseran kebijakan perdagangan dunia yang semakin
restriktif. Namun, tekanan ini berhasil diimbangi oleh "angin
buritan" berupa lonjakan investasi yang masif di sektor teknologi,
terutama terkait Kecerdasan Buatan (AI). Tren positif ini terlihat jauh lebih
kuat di wilayah Amerika Utara dan Asia dibandingkan dengan kawasan lainnya.
Dinamika Perdagangan dan
Kebijakan Amerika Serikat
Salah satu poin krusial dalam
laporan ini adalah perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan
China. Perselisihan mengenai kontrol ekspor semikonduktor dan mineral tanah
jarang sempat memanas, namun diikuti oleh gencatan perang dagang yang berhasil
menurunkan tarif bilateral hingga November 2026. Gencatan perang dagang ini
juga mencakup penundaan sementara pada kontrol ekspor.
IMF mencatat bahwa tarif efektif
Amerika Serikat saat ini berada di level 18,5%, sedikit turun dari perkiraan
sebelumnya di angka 18,7%. Di sisi lain, otoritas AS juga melakukan langkah tak
terduga dengan menghapus tarif pada beberapa produk pertanian untuk semua
negara guna mengompensasi kenaikan tarif di sektor lain. Meskipun ketegangan
sedikit mereda, ketidakpastian kebijakan ekonomi diprediksi akan tetap tinggi
sepanjang tahun 2026. Dunia juga sedang menantikan keputusan Mahkamah Agung AS
pada awal 2026 mengenai penggunaan kekuasaan darurat presiden dalam urusan
ekonomi internasional (IEEPA).
Jinaknya Inflasi dan Dilema
Biaya Hidup
Kabar baik datang dari sisi
stabilitas harga. Inflasi utama global diperkirakan akan menurun dari estimasi
4,1% pada tahun 2025 menjadi 3,8% pada tahun 2026, dan turun lebih jauh ke
angka 3,4% pada tahun 2027. Tren penurunan ini didukung oleh melemahnya
permintaan global dan penurunan harga komoditas energi yang diperkirakan anjlok
sekitar 7% pada tahun 2026.
Namun, penurunan inflasi ini
tidak serta-merta menghapus beban masyarakat. Di Amerika Serikat, biaya hidup
tetap menjadi kekhawatiran nomor satu bagi rumah tangga, di mana ekspektasi
inflasi satu tahun ke depan masih berada di level yang tinggi. IMF memprediksi
bahwa inflasi di AS akan kembali ke target secara lebih bertahap dibandingkan
dengan negara-negara ekonomi besar lainnya.
Risiko Sektor Teknologi dan
Keuangan
Meskipun AI menjadi pendorong
pertumbuhan, IMF memberikan peringatan keras mengenai potensi risiko di sektor
ini. Saat ini, harga saham perusahaan teknologi raksasa (sering disebut Magnificent
7) semakin menjauh dari harga saham sektor lainnya. Jika ekspektasi
produktivitas dari AI ternyata terlalu optimis dan tidak memberikan hasil
nyata, bisa terjadi koreksi pasar keuangan yang mendadak.
Koreksi ini dikhawatirkan dapat
menyebar dari perusahaan terkait AI ke segmen pasar lainnya, sehingga menggerus
kekayaan rumah tangga dan memperketat kondisi keuangan global secara tiba-tiba.
Dalam skenario moderat, koreksi valuasi saham AI ini bisa memangkas pertumbuhan
global sebesar 0,4% pada tahun 2026.
Rekomendasi Kebijakan:
Membangun Kembali Cadangan Fiskal
Menghadapi lanskap ekonomi yang
kompleks ini, IMF mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk fokus pada
pembangunan kembali kapasitas fiskal. Utang publik global diproyeksikan akan
melampaui 100% dari PDB dunia pada akhir dekade ini. Oleh karena itu, komitmen
terhadap konsolidasi fiskal jangka menengah yang kredibel menjadi sangat
krusial.
Selain itu, bank sentral
diingatkan untuk tetap independen dan menyesuaikan kebijakan moneter secara
hati-hati berdasarkan data terbaru. Negara-negara yang sudah mencapai target
inflasi disarankan untuk mulai menurunkan suku bunga secara bertahap guna menjaga
aktivitas ekonomi. Sebaliknya, bagi negara yang inflasinya masih tinggi,
pendekatan yang lebih hati-hati tetap diperlukan.
Secara keseluruhan, ekonomi dunia
di tahun 2026 berada dalam posisi yang tangguh namun rentan. Keberhasilan
navigasi di tahun ini akan sangat bergantung pada seberapa cepat adopsi
teknologi dapat diterjemahkan menjadi produktivitas nyata, serta seberapa efektif
para pembuat kebijakan dalam meredam ketegangan perdagangan yang terus
mengintai.
RI Tetap "On Track": IMF Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh Konsisten 5,1% hingga 2027
JAKARTA – Di tengah
kondisi ekonomi global yang saat ini tengah dibayangi oleh tarikan kekuatan
yang saling bertolak belakang, Indonesia tampak berhasil menemukan pijakan yang
kokoh untuk beberapa tahun ke depan. Laporan terbaru dari Dana Moneter
Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook (WEO) Update edisi
Januari 2026 membawa kabar yang sangat optimis bagi Tanah Air. Sementara banyak
negara maju saat ini sedang berjuang keras menghadapi berbagai hambatan
struktural yang kompleks, ekonomi Indonesia justru diproyeksikan tetap melaju
stabil di jalur pertumbuhan yang sangat positif.
Titik Terang di Kawasan Asia
Proyeksi terbaru ini menunjukkan
bahwa ekonomi Indonesia bukan sekadar mampu bertahan di tengah ketidakpastian,
melainkan juga menunjukkan tren penguatan yang terukur. IMF memperkirakan bahwa
Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia akan tumbuh secara konsisten sebesar
5,1% pada tahun 2026 dan diprediksi akan mempertahankan angka yang sama kuatnya
pada tahun 2027. Menariknya, angka-angka pertumbuhan ini mencerminkan adanya
revisi naik masing-masing sebesar 0,2 poin persentase untuk tahun 2026 dan 0,1
poin persentase untuk tahun 2027 jika dibandingkan dengan ramalan yang
dikeluarkan oleh IMF pada bulan Oktober tahun lalu.
Stabilitas pertumbuhan yang
ditunjukkan oleh Indonesia ini menjadi sebuah kontras yang sangat menarik jika
diletakkan dalam konteks regional, khususnya di dalam kelompok negara ASEAN-5
yang meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Secara
kolektif, kelompok negara ini diprediksi hanya akan tumbuh rata-rata sebesar 4,4%
pada tahun 2026 dan melandai ke angka 4,2% pada tahun berikutnya. Dengan
proyeksi 5,1% tersebut, Indonesia secara efektif memposisikan dirinya sebagai
salah satu motor penggerak utama pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara, jauh
melampaui rata-rata pertumbuhan kawan-kawan regionalnya.
Berkah Komoditas Non-Bahan
Bakar
Salah satu faktor pendorong utama
yang sangat relevan bagi Indonesia adalah dinamika harga komoditas global yang
diprediksi akan mengalami pergeseran tajam. Meskipun harga komoditas energi,
seperti minyak bumi, diproyeksikan bakal lesu dengan perkiraan penurunan harga
mencapai 8,5% pada tahun 2026, sektor komoditas non-bahan bakar justru
menunjukkan arah cerita yang berbeda. IMF memprediksi bahwa harga komoditas
non-bahan bakar secara global justru akan melonjak hingga 7,5% pada tahun 2026.
Bagi Indonesia, yang memiliki
portofolio ekspor yang sangat kuat di sektor pertanian dan mineral, kenaikan
harga ini merupakan peluang emas yang sangat berharga untuk memperkuat neraca
perdagangan nasional. Di saat harga minyak mentah dunia diperkirakan akan terus
menurun akibat permintaan global yang cenderung lemah dan pasokan yang tetap
kuat, lonjakan harga di sektor non-bahan bakar ini diharapkan dapat menjadi
bantalan yang sangat krusial bagi penerimaan negara. Hal ini tentu memberikan
ruang napas fiskal yang lebih lega bagi pemerintah dalam mengelola berbagai
program pembangunan nasional.
Arus Teknologi Asia sebagai
"Angin Buritan"
Laporan IMF juga menyoroti
fenomena "angin buritan" atau kekuatan pendorong yang berasal dari
sektor teknologi global. Kawasan Asia saat ini tercatat sedang menikmati
pertumbuhan yang sangat pesat dalam arus perdagangan terkait produk-produk teknologi,
yang secara efektif berhasil menutupi perlambatan momentum ekspor di kategori
produk-produk lainnya. Indonesia, yang termasuk dalam klasifikasi data
teknologi Asia oleh IMF, berada di posisi yang sangat diuntungkan oleh lonjakan
investasi global di bidang kecerdasan buatan (AI) serta pengembangan
infrastruktur digital yang masif.
IMF mencatat bahwa investasi
terkait teknologi ini telah menjadi pendorong pertumbuhan yang signifikan,
terutama di kawasan Amerika Utara dan Asia. Bagi Indonesia, ini berarti ada
peluang besar untuk terintegrasi jauh lebih dalam ke dalam rantai pasok teknologi
global, terutama pada saat ekonomi dunia sedang giat mencari titik-titik
pertumbuhan baru di luar pasar tradisional yang mulai menunjukkan tanda-tanda
jenuh. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mendorong transformasi ekonomi
yang lebih berbasis pada inovasi dan nilai tambah tinggi.
Waspada Risiko Geopolitik dan
Kebijakan Global
Meskipun awan cerah melingkupi
proyeksi pertumbuhan, IMF memberikan catatan peringatan yang sangat serius
mengenai berbagai risiko yang masih mengintai di balik layar. Ketegangan
perdagangan tetap menjadi ancaman utama; walaupun gencatan perang dagang antara
Amerika Serikat dan China berhasil menenangkan suasana dengan penundaan tarif
bilateral hingga November 2026, ketidakpastian kebijakan ini tetap berada pada
level yang tinggi dan sewaktu-waktu dapat memicu gangguan mendadak pada rantai
pasok global. Di sisi lain, bayang-bayang tensi geopolitik yang kian memanas,
baik di Timur Tengah, Ukraina, maupun wilayah Asia sendiri, berpotensi memicu
kejutan pasokan negatif yang besar, menghambat rute pengiriman utama, dan
meningkatkan biaya logistik secara signifikan. Selain ancaman fisik dan
politik, terdapat risiko yang lebih modern berupa potensi koreksi pasar
keuangan global jika ekspektasi terhadap produktivitas AI ternyata meleset dari
kenyataan. IMF memperingatkan bahwa ledakan spekulasi ini bisa meletus kapan
saja, memperketat kondisi pendanaan internasional, dan secara otomatis
memberikan tekanan berat pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,
dalam mengelola stabilitas ekonominya.
Menjaga "Napas"
Fiskal dan Reformasi Struktural
Sebagai rekomendasi bagi para pembuat kebijakan, termasuk di lingkungan Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak, IMF sangat menekankan pentingnya membangun kembali cadangan fiskal (fiscal buffers). Dengan proyeksi bahwa utang publik global akan menembus angka 100% dari PDB dunia pada akhir dekade ini, menjaga disiplin fiskal menjadi sangat penting untuk memastikan ketahanan makroekonomi jangka panjang bagi setiap negara. Komitmen terhadap konsolidasi fiskal yang kredibel akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Selain itu, IMF juga mendorong percepatan reformasi struktural untuk terus meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi secara permanen. Langkah-langkah ini mencakup peningkatan keterampilan tenaga kerja, pengurangan berbagai hambatan mobilitas tenaga kerja, serta penyederhanaan regulasi bisnis guna mendorong iklim inovasi yang lebih sehat. Bagi Indonesia, mempertahankan angka pertumbuhan 5,1% bukan hanya soal menjaga angka di atas kertas, melainkan soal bagaimana memanfaatkan momentum stabilitas ini untuk melakukan transformasi ekonomi yang lebih dalam sebelum dinamika global kembali berubah di masa depan. Kewaspadaan terhadap guncangan eksternal tetap menjadi kunci utama agar target pertumbuhan ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat secara merata.
Realisasi Pajak Awal 2026 Tumbuh, Keberlanjutan Momentum Ekonomi Tetap Diuji
Jakarta – Dinamika perekonomian Indonesia pada awal tahun 2026 menunjukkan pergerakan pada beberapa indikator makroekonomi dan fiskal. Kinerja penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan, mencatatkan pertumbuhan pada periode ini. Data awal tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi sektor riil di tengah fluktuasi ekonomi global yang masih berlangsung.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan pada awal Februari 2026, realisasi penerimaan pajak mencatatkan pertumbuhan sebesar 30,8% secara tahunan (year-on-year). Kenaikan ini utamanya ditopang oleh peningkatan penerimaan bruto sebesar 7%, serta penurunan angka pengajuan restitusi pajak sebesar 23%.
Secara historis, penurunan pengajuan restitusi dapat diinterpretasikan sebagai salah satu indikator awal stabilnya arus kas dan profitabilitas di sektor usaha. Meski demikian, tren ini masih perlu diobservasi lebih lanjut pada kuartal-kuartal berikutnya untuk memastikan pemulihan kapasitas dunia usaha secara menyeluruh.
Pencapaian penerimaan di awal tahun ini memberikan basis data bagi pemerintah dalam mengelola postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Apabila realisasi penerimaan ini dapat dijaga konsistensinya, terdapat potensi tercapainya target penerimaan tahunan. Hal ini berpotensi memberikan ruang fiskal bagi pembiayaan program pembangunan dan perlindungan sosial, tanpa harus memperlebar defisit secara signifikan.
Kinerja penerimaan tersebut sejalan dengan target makroekonomi yang dicanangkan pemerintah. Saat ini, pemerintah memproyeksikan perekonomian Indonesia berpeluang mempertahankan fase ekspansi hingga tahun 2033, dengan asumsi pertumbuhan dapat didorong mendekati level 6% yang ditopang oleh konsumsi domestik. Tentu saja, pencapaian proyeksi ini sangat bergantung pada kemampuan mitigasi risiko terhadap ketidakpastian pasar global.
Pada sektor riil, likuiditas pasar dan penyaluran kredit perbankan diproyeksikan tumbuh di kisaran 8-10 persen tahun ini. Terkendalinya tingkat inflasi domestik juga tetap menjadi fokus utama otoritas fiskal dan moneter guna menjaga daya beli masyarakat, yang merupakan komponen krusial dalam mendorong aktivitas ekspansi dunia usaha.
Secara keseluruhan, rilis data ekonomi pada awal tahun ini memberikan sinyal awal mengenai daya tahan (resilience) perekonomian nasional. Realisasi kinerja fiskal dan makroekonomi pada bulan-bulan ke depan akan menjadi penentu utama dalam mengonfirmasi keberlanjutan momentum pertumbuhan tersebut.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023




/data/photo/2026/03/25/69c392aadc7ef.jpg.)
