;
Tags

Teknologi Informasi

( 863 )

Putin dan Trump Teleponan Sampai 90 Menit, Bahas Perang di Ukraina dan Iran

alex 30 Apr 2026 detik
Jadi, Putin dan Trump baru-baru ini melakukan panggilan telepon yang berlangsung selama lebih dari 90 menit. Mereka membahas perang di Ukraina dan Iran, dengan Putin mengapresiasi keputusan Trump untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Namun, Putin juga menyoroti dampak negatif perang AS dengan Iran terhadap komunitas internasional. Mereka berkomitmen untuk memberikan bantuan diplomatik terkait perang di Timur Tengah. Trump mengatakan percakapan itu lebih berfokus pada Ukraina daripada Iran. Ini menunjukkan pentingnya kerja sama antara kedua negara dalam menangani masalah internasional.

Ramalan Permintaan Emas Dunia untuk Sisa 2026, Peluang ATH Baru

alex 30 Apr 2026 bisnis
Ringkasan Ramalan Permintaan Emas Dunia untuk Sisa 2026 menunjukkan peluang ATH baru. Tren investasi emas fisik masih kuat meskipun sedikit volatil. World Gold Council melaporkan pertumbuhan moderat pada kuartal pertama 2026. Investor terus membeli logam mulia. Bank sentral juga tetap aktif dalam pembelian emas. Bisnis Indonesia Premium menawarkan akses informasi eksklusif tentang pasar, investasi, dan jurnalisme data. Berlangganan dapat dilakukan melalui berbagai metode pembayaran dan dapat diakses melalui situs web dan aplikasi Bisnis Indonesia Premium.

Pesta Dividen Bank BUMN, Investor Panen di Tengah Risiko Makroekonomi

alex 30 Apr 2026 bisnis
Pesta dividen bank BUMN menjadi berita baik bagi investor di tengah risiko makroekonomi. Bank seperti Bank Mandiri, BRI, dan BNI membagikan dividen besar dari laba 2025, menunjukkan fundamental perbankan yang kuat. Investor dapat memanen hasil investasi di tengah risiko yang ada. Bagi yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut, bisa mengakses Bisnis Indonesia Premium melalui website atau aplikasi Bisnis Indonesia setelah berlangganan. Dengan berlangganan, investor akan mendapatkan konten eksklusif meliputi market, investasi, hingga jurnalisme data dalam bahasa Inggris.

Gibran Divonis Penjara 9 Tahun, Manipulasi Laporan Keuangan eFishery

958631109 29 Apr 2026 cnbcindonesia
Gibran Divonis Penjara selama 9 tahun karena Manipulasi Laporan Keuangan eFishery. Mantan CEO startup tersebut bersalah atas praktik pencucian uang dan bersama dua terdakwa lainnya. Vonis yang dibacakan di PN Bandung lebih ringan dari tuntutan jaksa. Kasus ini terkuak setelah whistleblower melaporkan adanya pemalsuan pendapatan hampir USD 600 juta. Bareskrim Polri melakukan penyidikan sejak 2024. Penipuan ini dilakukan oleh mantan CEO dan CFO sejak awal tahun tersebut. Kasus ini menimbulkan dampak besar terhadap reputasi eFishery sebagai unicorn startup.

MSCI Pertahankan Pembatasan Saham RI, Ini Strategi Yang Bisa Dilakukan Investor

alex 22 Apr 2026 kontan
Investor Indonesia perlu mempersiapkan strategi yang tepat menghadapi pembatasan saham oleh MSCI. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan teknologi AI real-time trading untuk meningkatkan kualitas data dan sistem analisis. Hal ini dapat memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan dalam trading saham. Selain itu, peningkatan akses terhadap teknologi seperti aplikasi saham yang gratis juga dapat membantu investor dalam beradaptasi dengan perubahan pasar saham yang semakin dinamis. Dengan demikian, investor dapat menghadapi pembatasan saham dengan lebih siap dan efektif.

MBG Mau Dipangkas Jadi 5 Hari, Purbaya: Bisa Hemat Rp 40 Triliun

galihsena 25 Mar 2026 kompas
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan rencana untuk memotong jumlah hari operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi 5 hari untuk menghemat Rp 40 triliun setahun. Langkah ini diambil sebagai upaya efisiensi dalam program tersebut. Sebelumnya, program ini beroperasi selama 6 hari dalam seminggu. Presiden juga telah meminta peningkatan dalam pelayanan gizi MBG, dengan Badan Gizi Nasional (BGN) mempersiapkan sertifikasi. Ilustrasi MBG menunjukkan salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang saat menyiapkan makan bergizi gratis.

Pemerintah Bebaskan 100% PPN Tiket Pesawat Mudik 2026, Dorong Efek Pengganda Ekonomi Daerah

S_Pit 02 Mar 2026 Tim Labirin

?


JAKARTA – Pemerintah secara resmi menetapkan kebijakan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 100% untuk tiket pesawat kelas ekonomi rute domestik selama periode mudik Hari Raya Idulfitri 2026. Kebijakan strategis ini diambil sebagai langkah fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah sekaligus menstimulasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa penghapusan beban PPN ini diproyeksikan dapat menurunkan harga tiket pesawat secara riil pada kisaran 17% hingga 18%. Proyeksi tersebut juga didukung oleh rencana pemangkasan komponen biaya penerbangan lainnya, seperti pajak bandara (airport tax) dan pajak avtur.

Peningkatan Stimulus dari Periode Sebelumnya

Kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100% ini merupakan langkah yang lebih agresif dibandingkan periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Pada periode tersebut, pemerintah baru menerapkan skema PPN DTP sebesar 6%, sehingga konsumen masih harus menanggung sisa beban pajak sebesar 5%. Pada periode Lebaran 2026 ini, pemerintah memberikan insentif penuh guna memaksimalkan penurunan harga tiket di pasaran.

Dampak Ekonomi Pengganda (Multiplier Effect) Penurunan harga tiket pesawat diharapkan tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga memicu efek pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah. Dana sisa hasil penghematan pembelian tiket pesawat berpotensi dialihkan masyarakat untuk konsumsi ritel, kuliner, dan pariwisata di daerah tujuan mudik.

Selain sektor udara, pemerintah juga memberikan subsidi untuk moda transportasi lain pada periode mudik kali ini, antara lain:

·       Diskon tarif 30% untuk tiket kereta api dan kapal laut.

·       Pembebasan tarif 100% (gratis) untuk jasa kepelabuhanan atau tarif dasar penyeberangan.

Kondisi Finansial Maskapai dan Sinergi Korporasi

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menegaskan bahwa insentif PPN DTP 100% ini bersumber sepenuhnya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, kebijakan ini dipastikan tidak akan memotong margin keuntungan maskapai penerbangan. Iklim industri yang kondusif ini turut direspons positif oleh para pelaku usaha. Sebagai contoh, maskapai nasional Garuda Indonesia meluncurkan program promosi "Takjil Ramadan", yang memberikan tambahan potongan harga tiket hingga 20% melalui kode promosi MUDIK26. Sinergi antara insentif pemerintah dan program korporasi ini dinilai akan memberikan nilai tambah yang optimal bagi konsumen.

Pengawasan Ketat Terhadap Dinamika Pasar

Meskipun stimulus telah diberikan, tantangan utama pada musim mudik tetap berada pada ketidakseimbangan antara tingginya permintaan (demand) dan ketersediaan kursi (supply). Dinamika ini kerap mengakibatkan habisnya tiket penerbangan langsung (direct flight), sehingga masyarakat beralih pada opsi penerbangan transit dengan struktur harga yang lebih tinggi. Untuk mencegah praktik yang merugikan konsumen, Kementerian Perhubungan bersama Satuan Tugas (Satgas) terkait akan meningkatkan pengawasan di lapangan. Pengawasan difokuskan pada maskapai dan Agen Perjalanan Daring (Online Travel Agent/OTA) guna memastikan tidak ada kenaikan tarif dasar (base fare) yang tidak wajar sebelum berlakunya potongan PPN DTP.

Ekonomi Dunia 2026: IMF Prediksi Pertumbuhan Stabil 3,3% di Tengah "Angin Sakal" Perdagangan

zainudin 26 Feb 2026 World Economic Outlook IMF

JAKARTA – Dana Moneter Internasional (IMF) baru saja merilis laporan World Economic Outlook (WEO) Update edisi Januari 2026 yang memberikan gambaran optimis namun penuh kewaspadaan bagi lanskap ekonomi global. Di tengah bayang-bayang ketegangan perdagangan dan ketidakpastian geopolitik, ekonomi dunia diprediksi akan tetap tangguh dengan angka pertumbuhan yang stabil.

Ketahanan di Tengah Ketidakpastian

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan bertahan di angka 3,3% pada tahun 2026 dan sedikit melandai ke 3,2% pada tahun 2027. Angka ini mencerminkan keberlanjutan dari performa tahun 2025 yang juga diperkirakan mencapai 3,3%. Menariknya, proyeksi untuk tahun 2026 ini merupakan hasil revisi naik sebesar 0,2 poin persentase dibandingkan dengan laporan WEO Oktober 2025.

Meskipun terlihat stabil di permukaan, IMF menekankan bahwa performa ini sebenarnya merupakan hasil dari penyeimbangan kekuatan yang saling bertolak belakang. Hambatan utama atau "angin sakal" datang dari pergeseran kebijakan perdagangan dunia yang semakin restriktif. Namun, tekanan ini berhasil diimbangi oleh "angin buritan" berupa lonjakan investasi yang masif di sektor teknologi, terutama terkait Kecerdasan Buatan (AI). Tren positif ini terlihat jauh lebih kuat di wilayah Amerika Utara dan Asia dibandingkan dengan kawasan lainnya.

Dinamika Perdagangan dan Kebijakan Amerika Serikat

Salah satu poin krusial dalam laporan ini adalah perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China. Perselisihan mengenai kontrol ekspor semikonduktor dan mineral tanah jarang sempat memanas, namun diikuti oleh gencatan perang dagang yang berhasil menurunkan tarif bilateral hingga November 2026. Gencatan perang dagang ini juga mencakup penundaan sementara pada kontrol ekspor.

IMF mencatat bahwa tarif efektif Amerika Serikat saat ini berada di level 18,5%, sedikit turun dari perkiraan sebelumnya di angka 18,7%. Di sisi lain, otoritas AS juga melakukan langkah tak terduga dengan menghapus tarif pada beberapa produk pertanian untuk semua negara guna mengompensasi kenaikan tarif di sektor lain. Meskipun ketegangan sedikit mereda, ketidakpastian kebijakan ekonomi diprediksi akan tetap tinggi sepanjang tahun 2026. Dunia juga sedang menantikan keputusan Mahkamah Agung AS pada awal 2026 mengenai penggunaan kekuasaan darurat presiden dalam urusan ekonomi internasional (IEEPA).

Jinaknya Inflasi dan Dilema Biaya Hidup

Kabar baik datang dari sisi stabilitas harga. Inflasi utama global diperkirakan akan menurun dari estimasi 4,1% pada tahun 2025 menjadi 3,8% pada tahun 2026, dan turun lebih jauh ke angka 3,4% pada tahun 2027. Tren penurunan ini didukung oleh melemahnya permintaan global dan penurunan harga komoditas energi yang diperkirakan anjlok sekitar 7% pada tahun 2026.

Namun, penurunan inflasi ini tidak serta-merta menghapus beban masyarakat. Di Amerika Serikat, biaya hidup tetap menjadi kekhawatiran nomor satu bagi rumah tangga, di mana ekspektasi inflasi satu tahun ke depan masih berada di level yang tinggi. IMF memprediksi bahwa inflasi di AS akan kembali ke target secara lebih bertahap dibandingkan dengan negara-negara ekonomi besar lainnya.

Risiko Sektor Teknologi dan Keuangan

Meskipun AI menjadi pendorong pertumbuhan, IMF memberikan peringatan keras mengenai potensi risiko di sektor ini. Saat ini, harga saham perusahaan teknologi raksasa (sering disebut Magnificent 7) semakin menjauh dari harga saham sektor lainnya. Jika ekspektasi produktivitas dari AI ternyata terlalu optimis dan tidak memberikan hasil nyata, bisa terjadi koreksi pasar keuangan yang mendadak.

Koreksi ini dikhawatirkan dapat menyebar dari perusahaan terkait AI ke segmen pasar lainnya, sehingga menggerus kekayaan rumah tangga dan memperketat kondisi keuangan global secara tiba-tiba. Dalam skenario moderat, koreksi valuasi saham AI ini bisa memangkas pertumbuhan global sebesar 0,4% pada tahun 2026.

Rekomendasi Kebijakan: Membangun Kembali Cadangan Fiskal

Menghadapi lanskap ekonomi yang kompleks ini, IMF mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk fokus pada pembangunan kembali kapasitas fiskal. Utang publik global diproyeksikan akan melampaui 100% dari PDB dunia pada akhir dekade ini. Oleh karena itu, komitmen terhadap konsolidasi fiskal jangka menengah yang kredibel menjadi sangat krusial.

Selain itu, bank sentral diingatkan untuk tetap independen dan menyesuaikan kebijakan moneter secara hati-hati berdasarkan data terbaru. Negara-negara yang sudah mencapai target inflasi disarankan untuk mulai menurunkan suku bunga secara bertahap guna menjaga aktivitas ekonomi. Sebaliknya, bagi negara yang inflasinya masih tinggi, pendekatan yang lebih hati-hati tetap diperlukan.

Secara keseluruhan, ekonomi dunia di tahun 2026 berada dalam posisi yang tangguh namun rentan. Keberhasilan navigasi di tahun ini akan sangat bergantung pada seberapa cepat adopsi teknologi dapat diterjemahkan menjadi produktivitas nyata, serta seberapa efektif para pembuat kebijakan dalam meredam ketegangan perdagangan yang terus mengintai.

RI Tetap "On Track": IMF Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh Konsisten 5,1% hingga 2027

zainudin 26 Feb 2026 Tim Labirin

JAKARTA – Di tengah kondisi ekonomi global yang saat ini tengah dibayangi oleh tarikan kekuatan yang saling bertolak belakang, Indonesia tampak berhasil menemukan pijakan yang kokoh untuk beberapa tahun ke depan. Laporan terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook (WEO) Update edisi Januari 2026 membawa kabar yang sangat optimis bagi Tanah Air. Sementara banyak negara maju saat ini sedang berjuang keras menghadapi berbagai hambatan struktural yang kompleks, ekonomi Indonesia justru diproyeksikan tetap melaju stabil di jalur pertumbuhan yang sangat positif.

Titik Terang di Kawasan Asia

Proyeksi terbaru ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia bukan sekadar mampu bertahan di tengah ketidakpastian, melainkan juga menunjukkan tren penguatan yang terukur. IMF memperkirakan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia akan tumbuh secara konsisten sebesar 5,1% pada tahun 2026 dan diprediksi akan mempertahankan angka yang sama kuatnya pada tahun 2027. Menariknya, angka-angka pertumbuhan ini mencerminkan adanya revisi naik masing-masing sebesar 0,2 poin persentase untuk tahun 2026 dan 0,1 poin persentase untuk tahun 2027 jika dibandingkan dengan ramalan yang dikeluarkan oleh IMF pada bulan Oktober tahun lalu.

Stabilitas pertumbuhan yang ditunjukkan oleh Indonesia ini menjadi sebuah kontras yang sangat menarik jika diletakkan dalam konteks regional, khususnya di dalam kelompok negara ASEAN-5 yang meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Secara kolektif, kelompok negara ini diprediksi hanya akan tumbuh rata-rata sebesar 4,4% pada tahun 2026 dan melandai ke angka 4,2% pada tahun berikutnya. Dengan proyeksi 5,1% tersebut, Indonesia secara efektif memposisikan dirinya sebagai salah satu motor penggerak utama pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kawan-kawan regionalnya.

Berkah Komoditas Non-Bahan Bakar

Salah satu faktor pendorong utama yang sangat relevan bagi Indonesia adalah dinamika harga komoditas global yang diprediksi akan mengalami pergeseran tajam. Meskipun harga komoditas energi, seperti minyak bumi, diproyeksikan bakal lesu dengan perkiraan penurunan harga mencapai 8,5% pada tahun 2026, sektor komoditas non-bahan bakar justru menunjukkan arah cerita yang berbeda. IMF memprediksi bahwa harga komoditas non-bahan bakar secara global justru akan melonjak hingga 7,5% pada tahun 2026.

Bagi Indonesia, yang memiliki portofolio ekspor yang sangat kuat di sektor pertanian dan mineral, kenaikan harga ini merupakan peluang emas yang sangat berharga untuk memperkuat neraca perdagangan nasional. Di saat harga minyak mentah dunia diperkirakan akan terus menurun akibat permintaan global yang cenderung lemah dan pasokan yang tetap kuat, lonjakan harga di sektor non-bahan bakar ini diharapkan dapat menjadi bantalan yang sangat krusial bagi penerimaan negara. Hal ini tentu memberikan ruang napas fiskal yang lebih lega bagi pemerintah dalam mengelola berbagai program pembangunan nasional.

Arus Teknologi Asia sebagai "Angin Buritan"

Laporan IMF juga menyoroti fenomena "angin buritan" atau kekuatan pendorong yang berasal dari sektor teknologi global. Kawasan Asia saat ini tercatat sedang menikmati pertumbuhan yang sangat pesat dalam arus perdagangan terkait produk-produk teknologi, yang secara efektif berhasil menutupi perlambatan momentum ekspor di kategori produk-produk lainnya. Indonesia, yang termasuk dalam klasifikasi data teknologi Asia oleh IMF, berada di posisi yang sangat diuntungkan oleh lonjakan investasi global di bidang kecerdasan buatan (AI) serta pengembangan infrastruktur digital yang masif.

IMF mencatat bahwa investasi terkait teknologi ini telah menjadi pendorong pertumbuhan yang signifikan, terutama di kawasan Amerika Utara dan Asia. Bagi Indonesia, ini berarti ada peluang besar untuk terintegrasi jauh lebih dalam ke dalam rantai pasok teknologi global, terutama pada saat ekonomi dunia sedang giat mencari titik-titik pertumbuhan baru di luar pasar tradisional yang mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mendorong transformasi ekonomi yang lebih berbasis pada inovasi dan nilai tambah tinggi.

Waspada Risiko Geopolitik dan Kebijakan Global

Meskipun awan cerah melingkupi proyeksi pertumbuhan, IMF memberikan catatan peringatan yang sangat serius mengenai berbagai risiko yang masih mengintai di balik layar. Ketegangan perdagangan tetap menjadi ancaman utama; walaupun gencatan perang dagang antara Amerika Serikat dan China berhasil menenangkan suasana dengan penundaan tarif bilateral hingga November 2026, ketidakpastian kebijakan ini tetap berada pada level yang tinggi dan sewaktu-waktu dapat memicu gangguan mendadak pada rantai pasok global. Di sisi lain, bayang-bayang tensi geopolitik yang kian memanas, baik di Timur Tengah, Ukraina, maupun wilayah Asia sendiri, berpotensi memicu kejutan pasokan negatif yang besar, menghambat rute pengiriman utama, dan meningkatkan biaya logistik secara signifikan. Selain ancaman fisik dan politik, terdapat risiko yang lebih modern berupa potensi koreksi pasar keuangan global jika ekspektasi terhadap produktivitas AI ternyata meleset dari kenyataan. IMF memperingatkan bahwa ledakan spekulasi ini bisa meletus kapan saja, memperketat kondisi pendanaan internasional, dan secara otomatis memberikan tekanan berat pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam mengelola stabilitas ekonominya.

Menjaga "Napas" Fiskal dan Reformasi Struktural

Sebagai rekomendasi bagi para pembuat kebijakan, termasuk di lingkungan Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak, IMF sangat menekankan pentingnya membangun kembali cadangan fiskal (fiscal buffers). Dengan proyeksi bahwa utang publik global akan menembus angka 100% dari PDB dunia pada akhir dekade ini, menjaga disiplin fiskal menjadi sangat penting untuk memastikan ketahanan makroekonomi jangka panjang bagi setiap negara. Komitmen terhadap konsolidasi fiskal yang kredibel akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Selain itu, IMF juga mendorong percepatan reformasi struktural untuk terus meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi secara permanen. Langkah-langkah ini mencakup peningkatan keterampilan tenaga kerja, pengurangan berbagai hambatan mobilitas tenaga kerja, serta penyederhanaan regulasi bisnis guna mendorong iklim inovasi yang lebih sehat. Bagi Indonesia, mempertahankan angka pertumbuhan 5,1% bukan hanya soal menjaga angka di atas kertas, melainkan soal bagaimana memanfaatkan momentum stabilitas ini untuk melakukan transformasi ekonomi yang lebih dalam sebelum dinamika global kembali berubah di masa depan. Kewaspadaan terhadap guncangan eksternal tetap menjadi kunci utama agar target pertumbuhan ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat secara merata.

Realisasi Pajak Awal 2026 Tumbuh, Keberlanjutan Momentum Ekonomi Tetap Diuji

ninanina 18 Feb 2026 Tim Labirin

Jakarta – Dinamika perekonomian Indonesia pada awal tahun 2026 menunjukkan pergerakan pada beberapa indikator makroekonomi dan fiskal. Kinerja penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan, mencatatkan pertumbuhan pada periode ini. Data awal tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi sektor riil di tengah fluktuasi ekonomi global yang masih berlangsung.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan pada awal Februari 2026, realisasi penerimaan pajak mencatatkan pertumbuhan sebesar 30,8% secara tahunan (year-on-year). Kenaikan ini utamanya ditopang oleh peningkatan penerimaan bruto sebesar 7%, serta penurunan angka pengajuan restitusi pajak sebesar 23%.

Secara historis, penurunan pengajuan restitusi dapat diinterpretasikan sebagai salah satu indikator awal stabilnya arus kas dan profitabilitas di sektor usaha. Meski demikian, tren ini masih perlu diobservasi lebih lanjut pada kuartal-kuartal berikutnya untuk memastikan pemulihan kapasitas dunia usaha secara menyeluruh.

Pencapaian penerimaan di awal tahun ini memberikan basis data bagi pemerintah dalam mengelola postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Apabila realisasi penerimaan ini dapat dijaga konsistensinya, terdapat potensi tercapainya target penerimaan tahunan. Hal ini berpotensi memberikan ruang fiskal bagi pembiayaan program pembangunan dan perlindungan sosial, tanpa harus memperlebar defisit secara signifikan.

Kinerja penerimaan tersebut sejalan dengan target makroekonomi yang dicanangkan pemerintah. Saat ini, pemerintah memproyeksikan perekonomian Indonesia berpeluang mempertahankan fase ekspansi hingga tahun 2033, dengan asumsi pertumbuhan dapat didorong mendekati level 6% yang ditopang oleh konsumsi domestik. Tentu saja, pencapaian proyeksi ini sangat bergantung pada kemampuan mitigasi risiko terhadap ketidakpastian pasar global.

Pada sektor riil, likuiditas pasar dan penyaluran kredit perbankan diproyeksikan tumbuh di kisaran 8-10 persen tahun ini. Terkendalinya tingkat inflasi domestik juga tetap menjadi fokus utama otoritas fiskal dan moneter guna menjaga daya beli masyarakat, yang merupakan komponen krusial dalam mendorong aktivitas ekspansi dunia usaha.

Secara keseluruhan, rilis data ekonomi pada awal tahun ini memberikan sinyal awal mengenai daya tahan (resilience) perekonomian nasional. Realisasi kinerja fiskal dan makroekonomi pada bulan-bulan ke depan akan menjadi penentu utama dalam mengonfirmasi keberlanjutan momentum pertumbuhan tersebut.