;

Meluruskan Pajak Kreator Digital: Bukan Aturan Baru, Melainkan Penegasan Batas

24 Jun 2026 Tim Labirin

JAKARTA — Riuh rendah di media sosial mengenai hilangnya hak tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final 0,5% bagi para pemengaruh (influencer) akhirnya mendapat jawaban resmi dari otoritas fiskal. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan menegaskan bahwa terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026 bukan merupakan bentuk pengetatan atau pemangkasan insentif bagi industri kreatif. Langkah ini melainkan penegasan kepastian hukum atas status profesi kreator digital yang sejak awal masuk dalam rumpun pekerjaan bebas.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP, Inge Diana Rismawanti, meluruskan anggapan keliru yang beredar di masyarakat. Menurutnya, apabila selama ini ada content creator, blogger, maupun YouTuber yang merasa sah menyetor pajak menggunakan skema PPh Final Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) 0,5%, maka pemahaman tersebut tidak sejalan dengan fondasi hukum perpajakan.

"Dan sebetulnya kalau mereka selama ini menganggap boleh menggunakan tarif setengah persen, itu adalah suatu kesalahan. Jadi tidak tepat. Karena kategori pekerjaan mereka dikategorikan sebagai pekerjaan bebas," ujar Inge dalam Podcast Cermati. Otoritas menegaskan bahwa status pekerjaan bebas secara otomatis mengecualikan pelakunya dari rezim PPh Final UMKM yang berbasis omzet bruto.

Menutup Celah Hukum Melalui PP 20/2026

Secara kronologis, penegasan ini tertuang dalam PP Nomor 20 Tahun 2026 tentang Perubahan atas PP Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan, yang diteken oleh Presiden Prabowo Subianto pada 22 April 2026. Perubahan krusial terlihat pada perluasan substansi Pasal 56 ayat (4) huruf b.

Pada aturan lama (PP 55/2022), kelompok pekerja seni yang dikecualikan dari PPh Final 0,5% baru mencakup profesi konvensional seperti pemain musik, pembawa acara, penyanyi, hingga foto model. Namun, dalam beleid baru PP 20/2026, pemerintah secara eksplisit memasukkan frasa: "pembuat/pencipta konten pada media yang dibagikan secara daring (influencer atau pemengaruh, selebgram, bloger, vloger, dan sejenis lainnya)".

Masuknya frasa baru ini menutup celah tafsir ganda (gray area) yang kerap dimanfaatkan para pembuat konten untuk menyamarkan penghasilannya sebagai omzet dagang UMKM. Kini, profesi digital disetarakan dengan tenaga ahli konvensional seperti dokter, pengacara, akuntan, dan arsitek yang wajib menggunakan mekanisme Pajak Penghasilan umum.

Kategori Pajak Berdasarkan PP 20/2026

Subjek/Wajib Pajak yang Berhak/Berlaku

Mekanisme Penghitungan Pajak

Fasilitas PPh Final 0,5% (UMKM)

Wajib Pajak Orang Pribadi, Koperasi, dan Perseroan Perorangan (Omzet di bawah Rp4,8 Miliar/Tahun).

PPh 0,5% langsung dari total peredaran bruto/omzet bisnis.

Pembebasan Pajak (PTKP Mikro)

Pelaku UMKM Orang Pribadi dengan omzet maksimal Rp500 juta dalam satu tahun.

Nihil (Bebas pajak hingga batas omzet terpenuhi).

Pekerjaan Bebas (Kreator Digital & Artis)

Influencer, Selebgram, Vlogger, Dokter, Pengacara, Musisi, Olahragawan.

Tarif progresif umum. Bisa pakai Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN) jika omzet < Rp4,8 Miliar.

Solusi NPPN dan Pemisahan Entitas Bisnis

Meskipun wajib menggunakan mekanisme umum dengan tarif progresif, DJP menyatakan para kreator digital tidak perlu panik kehilangan seluruh fasilitas. Selama peredaran bruto atau omzet tahunannya dari pekerjaan bebas belum menembus angka Rp4,8 miliar, mereka masih diizinkan menghitung pajak menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN). Melalui NPPN, wajib pajak dibebaskan dari kewajiban pembukuan akuntansi yang rumit dan cukup melakukan pencatatan omzet sederhana.

Di sisi lain, Inge menjelaskan kebingungan publik juga kerap dipicu oleh adanya pemengaruh yang memiliki lini usaha terpisah berbentuk badan hukum, seperti perusahaan perencana acara (event organizer). Berdasarkan azas keadilan, jika aktivitas usahanya berjalan di bawah bendera PT atau CV yang terpisah dari keahlian pribadinya, maka unit bisnis tersebut sempat diizinkan menggunakan tarif komersial UMKM sebelum berlakunya limitasi baru.

Melalui PP 20/2026, sasaran penerima fasilitas perpajakan kini disempurnakan demi menjamin asas keadilan fiskal (tax equity). Pemerintah memastikan insentif 0,5% murni dinikmati oleh pelaku ekonomi lemah yang membutuhkan, bukan oleh kelompok profesi dengan kapasitas ability to pay yang tinggi. 

Menakar Keadilan Pajak Layar Perak: Tantangan Film Nasional di Tengah Serbuan Sinema Asing

22 Jun 2026 Tim Labirin

Jakarta - Diskusi mengenai keberpihakan negara terhadap industri kreatif kembali mencuat ke permukaan. Jagat media sosial, khususnya platform X, sempat diramaikan oleh potongan video Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Nasional di DPR RI yang berlangsung pada 8 April 2026. Dalam rekaman tersebut, sejumlah tokoh kunci perfilman tanah air, seperti Direktur Utama MD Pictures Manoj Punjabi dan CEO Visinema Pictures Angga Dwimas Sasongko, menyuarakan keluh kesah yang mendalam mengenai struktur perpajakan bioskop di Indonesia.

Isu ini sebenarnya bukan barang baru. Jauh sebelum video tersebut viral, tepatnya pada 17 Oktober 2025, jajaran Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menggelar pertemuan hangat dengan Persatuan Produsen Film Indonesia (PPFI), Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi), dan Asosiasi Pengusaha Film Indonesia (APFI). Pertemuan yang dihadiri oleh figur publik sekaligus produser film seperti Deddy Mizwar dan artis Luna Maya tersebut menjadi ruang bagi otoritas pajak untuk menampung aspirasi, dengan komitmen untuk mengkaji insentif yang dapat melindungi serta mendukung ekosistem sinema domestik.

Namun, mengapa riak ketidakpuasan tetap muncul di ruang publik? Guna memahami persoalan ini secara jernih, diperlukan lensa yang objektif untuk membedah anatomi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang membalut industri seluloid kita.

Labirin Regulasi dan Ilusi "PPN Ganda"

Keluhan utama yang disuarakan oleh para sineas nasional bermuara pada satu istilah teknis: tax inequality atau ketimpangan beban pajak. Industri film lokal merasa harus memikul beban finansial yang lebih berat untuk menayangkan karyanya di bioskop sendiri dibandingkan dengan importir film asing.

Secara legal formal, pembuatan film lokal melibatkan rantai produksi yang sangat panjang. Berdasarkan Undang-Undang PPN yang berlaku, hampir seluruh komponen hulu—mulai dari jasa sewa peralatan syuting, teknik editing, animasi, mixing suara, sewa lokasi, hingga hak pemakaian lagu—merupakan Jasa Kena Pajak (JKP). Di fase ini, produser lokal wajib membayar PPN Masukan (PM) atas setiap transaksi tersebut.

Pemerintah sebenarnya telah mencoba melakukan reformasi melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 11 Tahun 2025, yang menetapkan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Nilai Lain sebesar 11/12 dari perkiraan hasil rata-rata per judul film pada saat penyerahan ke bioskop. Langkah ini dimaksudkan untuk menyederhanakan pemungutan pajak di hilir.

Sayangnya, hingga saat ini peraturan Direktur Jenderal Pajak yang menjadi petunjuk teknis pelaksanaan nilai rata-rata tersebut belum kunjung terbit. Kekosongan regulasi turunan ini membuat pelaku industri film tetap merujuk pada aturan klasik yang belum dicabut, yakni Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-30/PJ.3/1987.

Di sinilah titik krusialnya. SE-30/1987 menerapkan skema Deemed Taxable Base yang mematok nilai Rp20 juta per judul film untuk 30 kopi pertama, dan Rp1 juta untuk setiap kopi berikutnya. Sifat dasar dari skema deemed purba ini adalah tidak mengenal mekanisme pengkreditan Pajak Masukan.

Akibatnya, terjadi benturan sistemik. Di fase produksi, produser diperlakukan dengan sistem multistage levy (harus membayar PPN Masukan), namun di fase penyerahan akhir ke bioskop, mereka dikunci oleh sistem deemed yang membuat seluruh PPN Masukan dari biaya produksi tidak bisa dikreditkan. PPN Masukan tersebut otomatis menjelma menjadi biaya permanen (sunk cost) yang menggerus margin laba usaha, sebelum kemudian mereka masih harus dihadapkan pada Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) atau Pajak Hiburan di loket bioskop daerah. Kondisi inilah yang memicu persepsi di kalangan pelaku industri seolah-olah mereka terkena hantaman "PPN Ganda".

Belajar dari Lanskap Global

Otoritas pajak di berbagai belahan dunia pada umumnya memandang industri perfilman bukan sekadar objek pemungutan penerimaan (revenue getter), melainkan sebagai sektor strategis yang membawa identitas budaya nasional (soft power). Oleh sebab itu, fungsi anggaran (budgetair) kerap diselaraskan dengan fungsi mengatur (regulerend) melalui insentif perpajakan yang agresif.

Sebagai contoh, tetangga dekat kita, Thailand, menerapkan kebijakan cash rebate berjenjang sebesar 15% hingga 30% sejak Januari 2025 untuk setiap belanja produksi lokal untuk film. Inggris Raya memperkenalkan Audio-Visual Expenditure Credit (AVEC) per April 2024, yang memberikan kredit pajak tunai sebesar 34% bagi film yang lolos uji kelayakan budaya (cultural test).

Di Asia Timur, Korea Selatan memberikan kredit pajak investasi hingga 15% bagi UKM film domestik serta insentif tambahan untuk riset teknologi konten digital. Australia memiliki skema producer offset bersifat refundable sebesar 40%, sementara Prancis mempertahankan Crédit d'impôt cinéma (CIC) sebesar 30% yang terbukti sukses menekan relokasi syuting keluar negeri dari 27% menjadi hanya 10%.

Menjaga Keseimbangan Iklim Fiskal

Melihat data-data di atas, kekhawatiran dan aspirasi para pelaku industri perfilman nasional sangatlah beralasan. Struktur perpajakan saat ini, yang belum didukung oleh peraturan turunan komprehensif, secara tidak sengaja telah menciptakan disinsentif bagi investasi produksi sinema domestik.

Bagi Direktorat Jenderal Pajak, situasi ini merupakan sebuah alarm untuk segera melakukan akselerasi regulasi. Ketiadaan PER yang mengatur detail mekanisme perkiraan hasil rata-rata dalam PMK-11/2025 menjadi titik rawan yang mudah dipolitisasi untuk membangun opini bahwa pemerintah abai terhadap karya anak bangsa.

Penataan ulang kebijakan fiskal di sektor ini sejatinya tidak harus dipandang sebagai potensi kehilangan pendapatan negara. Dengan merestrukturisasi DPP Nilai Lain untuk film impor agar berbasis nilai ekonomi riil, negara justru berpotensi mendulang penerimaan yang jauh lebih adil. Di saat yang sama, relaksasi pengkreditan Pajak Masukan atau pemberian insentif khusus bagi rumah produksi lokal akan menyuntikkan angin segar bagi likuiditas dan arus kas para sineas.

Langkah harmonisasi antara kenyamanan investasi asing dengan perlindungan industri domestik adalah kunci utama. Melalui pendekatan yang tenang, berbasis data, dan kolaboratif, reformasi pajak perfilman di Indonesia diharapkan mampu mengubah ruang bioskop menjadi rumah yang ramah bagi karya-karya terbaik negeri sendiri.

"Detoksifikasi" Ekonomi: Dampak dan Masa Depan 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya oleh Presiden Prabowo

02 Feb 2026 Tim Labirin

Seperti yang kita ketahui, Presiden Prabowo Subianto baru saja mencabut izin usaha 28 perusahaan yang terbukti melanggar ketentuan pemanfaatan kawasan hutan. Pencabutan izin terhadap 28 subjek hukum korporasi tersebut merupakan hasil investigasi yang dilakukan Kementerian Kehutanan bersama Satgas PKH[1]. Pencabutan izin terhadap 28 perusahaan di wilayah Sumatra Utara dan Aceh membawa dampak langsung bagi penghentian aktivitas ekonomi di bawah manajemen lama. Pemerintah menegaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai konsekuensi dari pelanggaran serius terkait kerusakan hutan yang memicu bencana banjir. Meskipun operasional perusahaan-perusahaan tersebut sempat dipertanyakan, pemerintah memastikan bahwa penghentian ini merupakan langkah tegas untuk menghentikan praktik yang merugikan lingkungan dan masyarakat sekitar, dengan tetap berupaya agar potensi ekonomi dari lahan tersebut tidak hilang begitu saja.

Terkait nasib para pekerja, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi[2] menekankan bahwa pemerintah memberikan perhatian khusus agar mereka tidak kehilangan mata pencaharian. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa penegakan hukum tidak mengabaikan sisi kemanusiaan. Pemerintah berencana menjaga keberlangsungan lapangan kerja bagi para buruh dan karyawan yang selama ini bergantung pada perusahaan-perusahaan tersebut dengan mengintegrasikan mereka ke dalam sistem pengelolaan yang baru di bawah naungan negara.

Mengenai pengelolaan setelah pencabutan izin, pemerintah telah menunjuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai pemegang kendali utama. Teknis operasional di lapangan akan diserahkan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang relevan, di mana 22 perusahaan di bidang kehutanan akan dikelola oleh PT Perhutani. Sementara itu, 6 perusahaan lainnya yang bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan akan diserahkan pengelolaannya kepada BUMN yang bergerak di bidang pertambangan guna memastikan pemanfaatan sumber daya alam tetap berjalan secara profesional.

Setiap kebijakan yang tegas pasti memiliki sisi mata uang yang berbeda, terutama dalam jangka pendek. Penegakan hukum yang drastis seperti pencabutan izin ini ibarat melakukan "detoksifikasi" pada ekonomi: perlu dilakukan, tapi prosesnya bisa menimbulkan rasa sakit sementara bagi kas negara dan persepsi pasar. Berikut adalah analisis mengenai dampak yang mungkin timbul dalam jangka pendek akibta pencabutan ijin tersebut:

1. Penurunan Penerimaan Pajak Langsung

Dalam jangka pendek, pencabutan izin otomatis menghentikan kewajiban setoran Pajak Penghasilan (PPh) Badan dari 28 perusahaan tersebut. Karena operasional berhenti atau sedang dalam masa transisi administrasi ke BPI Danantara/BUMN, aktivitas bisnis yang menghasilkan laba menjadi vakum. Akibatnya, target penerimaan pajak di sektor kehutanan, perkebunan, dan pertambangan pada tahun berjalan dipastikan akan mengalami kontraksi atau penurunan yang cukup signifikan dari entitas-entitas tersebut.

2. Terhentinya Setoran PNBP dan Pajak Tak Langsung

Selain pajak penghasilan, negara juga berisiko kehilangan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) seperti royalti tambang, PSDH (Provisi Sumber Daya Hutan), dan Dana Reboisasi selama masa transisi. Selain itu, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas transaksi jual-beli produk perusahaan tersebut juga akan menghilang dari peredaran. Gap waktu (time lag) antara pencabutan izin hingga perusahaan tersebut kembali produktif di bawah kelolaan PT Perhutani atau  BUMN Tambang adalah masa "kering" bagi pendapatan negara.

3. Munculnya Sentimen "Risiko Regulasi" bagi Investor

Bagi dunia investasi, kepastian hukum adalah segalanya. Pencabutan izin secara massal, meskipun didasarkan pada audit pelanggaran lingkungan, dapat menciptakan persepsi adanya regulatory risk atau risiko regulasi yang tinggi di Indonesia. Investor, terutama asing, mungkin akan menjadi lebih berhati-hati (wait and see) karena khawatir bahwa konsesi yang mereka miliki saat ini bisa saja dicabut sewaktu-waktu jika terjadi perubahan kebijakan atau standar evaluasi dari pemerintah.

4. Kekhawatiran akan Dominasi Negara

Langkah pengalihan aset ke BPI Danantara dan BUMN bisa memicu sentimen negatif terkait "nasionalisasi terselubung" atau penguatan dominasi negara yang terlalu besar dalam ekonomi. Investor swasta mungkin merasa ruang gerak mereka semakin menyempit atau merasa tidak mendapat level playing field yang adil jika negara dengan mudah mengambil alih aset swasta yang dianggap bermasalah. Hal ini bisa menurunkan minat investasi pada sektor-sektor strategis yang kini kembali ke tangan pemerintah.

5. Dampak Psikologis pada Pasar Modal

Khusus untuk perusahaan yang sudah melantai di bursa (seperti Toba Pulp Lestari Tbk atau perusahaan terkait lainnya), pencabutan izin ini memberikan guncangan langsung pada harga saham dan nilai kapitalisasi pasar. Penurunan harga saham ini tidak hanya merugikan pemegang saham, tetapi juga menciptakan sentimen negatif di pasar modal bahwa sektor komoditas Indonesia sedang berada dalam pengawasan ketat yang sangat berisiko (high risk), yang bisa memicu keluarnya modal (capital outflow) dalam jangka pendek.

6. Beban Biaya Transisi dan Audit

Alih-alih menerima pajak, pemerintah justru berpotensi mengeluarkan biaya tambahan dalam jangka pendek untuk membiayai proses transisi. Biaya ini meliputi audit menyeluruh terhadap aset yang ditinggalkan, biaya pemeliharaan lahan agar tidak dijarah pasca-izin dicabut, hingga biaya restrukturisasi tenaga kerja. Dalam jangka pendek, ini merupakan beban fiskal tambahan sebelum perusahaan-perusahaan tersebut benar-benar sehat dan mampu memberikan dividen kembali kepada negara melalui pengelolaan yang baru.

#ekonomi #kehutanan #pertambangan #penerimaanpajak #pencabutanijin #satgaspkh



[1] https://www.tempo.co/hukum/satgas-pkh-lahan-28-perusahaan-dialihkan-ke-tiga-lembaga-2110426

[2] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260126152650-92-1321169/mensesneg-ungkap-nasib-pekerja-28-perusahaan-yang-izinnya-dicabut

Paket Diskon Besar Tiket Pesawat: Strategi Pemerintah Mendorong Mobilitas Nataru

21 Oct 2025 Tim Labirin

Menjelang periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Kementerian Perhubungan mengumumkan paket stimulus yang ditujukan untuk menggenjot sektor transportasi dan pariwisata. Program ini berbentuk obral diskon harga tiket pesawat melalui serangkaian insentif fiskal dan non-fiskal. Pemerintah memperkirakan bahwa keseluruhan fasilitas ini dapat menghasilkan penurunan harga tiket pesawat hingga 13 sampai 14 persen bagi konsumen. Diskon ini berlaku untuk pembelian dan periode penerbangan antara 22 Oktober 2025 hingga 10 Januari 2026.

Langkah ini menegaskan upaya pemerintah untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap terjangkau selama masa liburan puncak, sekaligus memberikan dorongan vital bagi maskapai penerbangan yang masih berjuang pulih pasca-pandemi. Stimulus sektor transportasi ini dirancang sebagai paket komprehensif yang melibatkan intervensi pada berbagai komponen biaya tiket pesawat.

Pertama, Pemerintah memberlakukan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah sebesar 6 persen. Dengan tarif PPN normal 11 persen, kebijakan ini membuat penumpang hanya menanggung sisa PPN 5 persen dari total harga tiket. Kebijakan ini secara langsung mengurangi beban pajak yang ditransfer ke konsumen. Selain diskon PPN, maskapai juga mendapatkan keringanan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge). Untuk pesawat jenis jet mendapatkan diskon fuel surcharge sebesar 2 persen. Untuk pesawat jenis propeller (baling-baling), yang umumnya melayani rute perintis atau jarak pendek, mendapatkan diskon lebih besar, yakni 20 persen.

Selain itu, pemerintah juga memangkas biaya-biaya operasional di bandara, yang sebagian besar dibebankan kepada maskapai dan penumpang. Pemerintah memangkas biaya pelayanan jasa penumpang pesawat udara (PJP2U) atau airport tax sebesar 50 persen. Serta, memotong biaya yang dibebankan ke maskapai berupa biaya pelayanan jasa pendaratan, penempatan, dan penyimpanan pesawat udara, yang dipotong sebesar 50 persen. Untuk melengkapi kebijakan stimulus ini, pemerintah berupaya menekan biaya operasional maskapai secara langsung, harga Avtur (bahan bakar pesawat) diturunkan sebesar 10 persen di 37 bandara strategis di Indonesia. Bahan bakar merupakan komponen biaya terbesar bagi maskapai, sehingga penurunan ini diharapkan langsung terefleksi dalam struktur biaya tiket.

Kebijakan obral diskon tiket ini memiliki dua target utama. Target pertama adalah mengendalikan inflasi dan memastikan masyarakat dapat bepergian tanpa terbebani biaya transportasi yang terlalu tinggi selama periode Nataru. Kenaikan harga tiket pesawat dapat memicu kenaikan inflasi pada sektor jasa dan transportasi. Target kedua adalah akselerasi pemulihan sektor pariwisata domestik. Dengan tiket yang lebih terjangkau, masyarakat diharapkan lebih termotivasi untuk melakukan perjalanan domestik, yang secara langsung menggerakkan roda ekonomi daerah-daerah tujuan wisata.

Meskipun paket stimulus ini terlihat menarik, tantangan implementasinya terletak pada pengawasan. Pemerintah perlu memastikan bahwa seluruh komponen diskon yang diberikan (PPN DTP, fuel surcharge, PJP2U, dan harga avtur) benar-benar diturunkan kepada konsumen dalam bentuk harga tiket yang lebih murah, sesuai dengan target 13-14 persen.

Maskapai dan pengelola bandara harus transparan dalam menghitung dan mencantumkan komponen harga tiket agar publik dapat melihat manfaat diskon tersebut secara jelas. Jika pengawasan lemah, insentif fiskal yang dikeluarkan negara berisiko hanya terserap sebagai margin keuntungan maskapai atau bandara, tanpa manfaat maksimal bagi masyarakat dan pemulihan ekonomi nasional.


Menghapus 'Dosa' Kredit Kecil: Upaya Membuka Kunci Akses KPR Subsidi

16 Oct 2025 Tim Labirin

Akses terhadap kepemilikan rumah, terutama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), seringkali terganjal masalah administratif yang terkesan sepele namun berdampak besar. Menteri Keuangan Purbaya baru-baru ini melontarkan janji signifikan yang bertujuan mengatasi hambatan tersebut: penghapusan utang warga di bawah Rp1 juta bagi MBR yang terhalang mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi.

Komitmen ini muncul setelah adanya temuan bahwa ratusan ribu calon debitur KPR subsidi terganjal di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK)—yang dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)—hanya karena memiliki catatan kredit macet dengan nominal yang sangat kecil, di bawah satu juta rupiah. Utang kecil ini, meski tak signifikan, berakibat fatal karena menyebabkan skor kredit calon debitur menjadi buruk.

Langkah yang diinisiasi oleh Purbaya ini memiliki dua tujuan utama yang saling berkaitan. Pertama, membuka akses KPR Subsidi. Tujuan utama kebijakan ini adalah menghapus hambatan administratif yang tidak proporsional. Utang macet di bawah Rp1 juta, yang seringkali berasal dari pinjaman online (pinjol) atau kredit barang konsumsi kecil, tidak merefleksikan kemampuan finansial MBR secara keseluruhan untuk membayar cicilan KPR. Dengan 'memutihkan' catatan kredit ini, MBR yang layak secara finansial akan kembali memenuhi syarat pengajuan KPR bersubsidi, sehingga dapat mengurangi angka backlog perumahan.

Tujuan kedua adalah untuk keadilan fiskal dan sosial. Penghapusan utang kecil ini juga mencerminkan upaya pemerintah dalam menciptakan keadilan sosial. Kepemilikan rumah adalah hak dasar, dan terhalangnya akses hanya karena utang pinjol receh dinilai tidak adil. Ini adalah langkah afirmatif untuk memastikan program subsidi perumahan benar-benar mencapai segmen masyarakat yang dituju.

Untuk merealisasikan janji ini, Kemenkeu telah menugaskan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) untuk melakukan pendataan detail calon debitur yang terhambat. Selanjutnya, Menteri Purbaya berencana berkomunikasi langsung dengan OJK guna mencari celah hukum dan mekanisme yang memungkinkan pembersihan catatan SLIK.

Namun, implementasi kebijakan ini menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi. Seperti terkait aspek regulasi SLIK dan OJK.  SLIK adalah sistem yang sangat terstruktur dan diatur ketat oleh OJK. Data kredit macet tidak mudah dihapus atau diputihkan, sebab hal itu menyangkut integritas data perbankan dan lembaga pembiayaan. Kemenkeu dan OJK perlu mencari payung hukum yang kuat, mungkin melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) khusus, yang memungkinkan penghapusan utang bersyarat demi kepentingan program strategis nasional seperti KPR subsidi. Integritas Data dan Moral Hazard: Kebijakan ini berpotensi memicu masalah moral hazard.

Selanjutnya, juga terdapat potensi konsumen yang mengetahui adanya program pemutihan utang kecil bisa saja sengaja tidak melunasi pinjaman di bawah ambang batas yang ditentukan. Ini dilakukan dengan harapan utangnya akan diputihkan. Oleh karena itu, skema pemutihan harus dibuat sangat ketat, terbatas hanya untuk MBR yang akan mengajukan KPR subsidi, dan mungkin hanya berlaku untuk kasus yang sudah diverifikasi oleh BP Tapera.

Pemerintah juga perlu memikirkan jenis kompensasi bagi pemberi kredit. Utang yang dihapus tetap merupakan kerugian bagi lembaga pembiayaan atau perbankan yang memberikan kredit tersebut. Informasi awal menyebutkan bahwa "pengembangnya mau bayar," yang mengindikasikan adanya skema kompensasi, kemungkinan dari pihak pengembang atau dana yang dikelola BP Tapera. Kemenkeu perlu mengamankan sumber dana kompensasi ini agar tidak menimbulkan masalah likuiditas atau kerugian bagi lembaga keuangan.

Menteri Purbaya menargetkan kepastian langkah ini dapat diperoleh dalam waktu dekat, setelah berkoordinasi dengan OJK dan memverifikasi data dari BP Tapera, yang diperkirakan mencakup lebih dari 100 ribu orang. Jika berhasil diimplementasikan, kebijakan ini bukan hanya membantu puluhan ribu MBR mendapatkan rumah pertama mereka. Lebih dari itu, langkah ini akan menjadi preseden penting dalam sistem keuangan Indonesia, menunjukkan bahwa kebijakan fiskal dapat digunakan secara strategis untuk mengatasi hambatan administratif demi tercapainya tujuan pembangunan sosial yang lebih luas. OJK dan Kemenkeu kini ditantang untuk merumuskan formula hukum yang dapat memadukan integritas sistem keuangan dengan keadilan akses bagi MBR.

Bansos Mengalir ke Aktivitas Judi Online

09 Jul 2025 Tim Labirin

PPATK mengungkapkan bahwa 571.410 Nomor Induk Kependudukan (NIK) penerima bansos terlibat dalam transaksi judi online sepanjang 2024, dengan total transaksi mencapai Rp957 miliar melalui 7,5 juta kali transaksi. Banyak dari rekening yang digunakan untuk menerima bansos ternyata juga digunakan untuk transaksi judi online.

Rekening yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan dasar melalui dana bansos (seperti PKH, sembako, atau BLT) disalahgunakan untuk aktivitas judi online. Hal ini menunjukkan adanya penyalahgunaan peruntukan dana bansos, baik karena kurangnya pengawasan maupun rendahnya literasi keuangan di kalangan penerima.

Pelaku judi online sering menggunakan rekening bank milik individu, termasuk penerima bansos, sebagai "rekening transit" atau "rekening penampung" untuk memproses transaksi judi. Rekening ini biasanya dimanfaatkan karena rendahnya pengawasan terhadap rekening pribadi, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Penerima bansos mungkin tergiur untuk menyewakan rekening mereka kepada pihak ketiga (dengan imbalan kecil) atau terlibat langsung dalam judi online karena akses mudah ke platform digital. Dana bansos yang masuk ke rekening tersebut kemudian digunakan untuk deposit judi online.

Terdapat sejumlah tantangan dalam tata kelola penerima bansos. Sistem verifikasi penerima bansos masih lemah, sehingga memungkinkan penyalahgunaan dana untuk aktivitas non-esensial seperti judi online. Data penerima bansos yang tidak akurat (misalnya, NIK yang tidak valid atau data ganda) juga mempersulit pelacakan.

Penyalahgunaan dana bansos untuk judi online memperparah kerugian ekonomi, dengan perputaran dana judi online mencapai Rp1.200 triliun (proyeksi PPATK hingga akhir 2025). Dana bansos yang seharusnya meningkatkan daya beli masyarakat malah mengalir ke aktivitas non-produktif, melemahkan efektivitas kebijakan fiskal. Aktivitas judi online sebagian besar berada di sektor informal, sehingga sulit dikenai pajak. Hal ini memperlebar tax gap dan menekan tax ratio.

Pemerintah perlu memperketat verifikasi penerima bansos melalui integrasi data NIK dengan sistem perbankan dan PPATK untuk mendeteksi transaksi mencurigakan secara real-time. Penggunaan AI untuk memantau aliran dana, seperti yang dilakukan Komdigi untuk situs judi, dapat diterapkan pada rekening bansos.

Rendahnya literasi keuangan di kalangan penerima bansos menjadi faktor utama penyalahgunaan. Program edukasi tentang pengelolaan keuangan dan bahaya judi online perlu diperluas, terutama di komunitas rentan. Selain pemblokiran rekening, penegakan hukum terhadap sindikat judi online yang memanfaatkan rekening penerima bansos harus diperketat. Penggunaan rekening virtual atau kanal pembayaran khusus untuk bansos (misalnya, hanya untuk transaksi tertentu seperti belanja kebutuhan pokok) dinilai dapat mengurangi risiko penyalahgunaan.


Petugas Bakal Diperiksa terkait Pungli Sopir Bajaj yang Viral

30 Jun 2025 Kompas

Bobroknya tata kelola parkir di Jakarta terungkap lewat video viral petugas derek yang diduga melakukan pungutan liar kepada sopir bajaj. Dishub Daerah Khusus Jakarta bakal memeriksa petugas tersebut dan memberikan sanksi kepada mereka yang terlibat dalam pungli itu. Video diunggah pada 27 Juni 2025 itu memperlihatkan dugaan praktik pungli oleh petugas derek Dishub di Jalan Salemba Raya, Jakpus. Dalam video, tampak sopir bajaj tengah membeli sesuatu dari pedagang kaki lima. Si perekam video lalu menyebut sopir bajaj kerap menyetor sebungkus rokok kepada petugas Dishub di Salemba Raya. Sopir bajaj terekam berjalan ke arah mobil derek yang berhenti di tepi jalan. Ia menyerahkan sebungkus rokok, kepada petugas di mobil derek. Setelah itu, petugas pun berlalu. Si perekam lantas menyudahi videonya dengan mengatakan petugas Dishub naik mobil dan pakai seragam masih saja memalak sopir bajaj.

Kadis Perhubungan Jakarta, Syafrin Liputo membenarkan adanya video viral tersebut. Ia sudah menerima laporan, termasuk dari media massa. ”Setelah mendapat informasi tersebut, saya langsung bertindak,  mengidentifikasi kendaraan yang digunakan, lokasinya di mana sehingga bisa dapat siapa saja yang menjadi petugas unit tersebut,” kata Syafrin, selepas BTN Jakarta International Marathon 2025 di Jakarta, Minggu(29/6). Pihaknya baru akan memeriksa petugas di dalam mobil derek itu pada Senin (30/6). Alasannya, kejadiannya baru terungkap pada akhir pecan atau hari libur. Satu tim mobil derek terdiri dari empat petugas. Syafrin menyebutkan, belum tahu siapa saja yang melakukan pungli. Namun, pihaknya akan memeriksa petugas yang terlibat. Pungli harus diberantas agar kelak tidak terulang lagi. ”Sanksinya pasti tegas. Jika terbukti pungli, akan diberhentikan dari PJLP (penyedia jasa lainnya perseorangan) atau sanksi tegas bagi ASN sesuai ketentuan,” ujar Syafrin. (Yoga)


Keresahan Petani Padi Gunung di Kalimantan akibat Cuaca Tak Menentu

30 Jun 2025 Kompas

Masyarakat Dayak Deah di Desa Sekuan Makmur, Kabupaten Paser, Kaltim, sedang resah. Panen padi gunung, sebagai komoditas pangan dan tambahan penghasilan, anjlok. Cuaca tidak menentu jadi sumber masalahnya. Warta Linus (46) mengisahkan kenyataan pahit itu di huma milik keluarganya. Pengetahuan bertani dan berladang yang diwariskan turun-temurun tak selalu bisa diterapkan. Alam berubah lebih cepat dari yang diasangka. Selama ini, masyarakat Dayak bergantung pada cuaca untuk bertani dan berladang, terutama untuk padi gunung. Pada Juni-Juli setiap tahun, mereka membuka lahan baru untuk menanam padi. Pohon kecil ditebang. Semak dibersihkan, lalu dibiarkan mengering di bawah sinar matahari sepanjang Agustus. ”Masalahnya, Juni-Agustus sekarang justru sering hujan. Semak tak kunjung kering,” keluhnya, Minggu (15/6). Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan mereka, proses itu menyuburkan tanah. Abu dan arang sisa pembakaran menjadi ”pu-puk” bagi lahan pertanian dan kebun.

Sebab, Pulau Kalimantan tak punya gunung api aktif. Tanahnya tak sesubur Pulau Jawa. Akibatnya, proses tanam padi gunung mesti molor sampai Desember atau Januari. Itu membuat hasil panen warga tak optimal. Padahal, 1 hektar lahan untuk menanam padi gunung semestinya bisa digunakan untuk makan satu keluarga setahun. Idealnya, 1 hektar lahan bisa menghasilkan 1.200 kg gabah kering atau 700 kg beras. Itu cukup untuk kebutuhan beras setahun dengan 4-5 anggota keluarga. Harga beras medium di Kaltim kini Rp 15.000 per kg. Artinya, keluarga Warta bisa menghemat Rp 10,5 juta untuk kebutuhan 700 kg beras selama setahun. Syaratnya, panen mesti memuaskan. Warta menyebut sejak 1998 warga mulai sering kekurangan beras karena gagal panen. Tahun ini, itu terjadi lagi. Panen padi Warta hanya 500 kg beras atau turun 200 kg. Jumlah itu masih cukup untuk empat anggota keluarga setahun. Namun, kecemasan iklim tak menentu menghantuinya. (Yoga)


Menggerakkan Ekonomi Jakarta lewat BTN Jakim 2025

30 Jun 2025 Kompas (H)

BTN Jakarta International Marathon (BTN Jakim) 2025 yang digelar Minggu (29/6) sukses menjadi magnet pergerakan ekonomi Jakarta. Diikuti 31.000 pelari dari 51 negara, ajang ini hadir dalam tiga kategori, yaitu marathon, half marathon dan 10K. Antusiasme masyarakat dari berbagai kalangan yang memadati sepanjang rute, menjadikan BTN Jakim 2025 tak sckadar ajang olahraga, tapi juga pemicu geliat ekonomi Jakarta. Suasana makin meriah dengan garis finis yang ditempatkan di dalam Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), memberi pengalaman tak terlupakan bagi peserta yang memulai perlombaan dari Silang Barat Monas sejak pukul 04.00 WIB. Dirut PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon LP Napitupulu menegaskan bahwa BTN Jakim2025 tidak hanya milik warga Jakarta, tapi juga menjadi daya tarik bagi masyarakat luar kota dan mancanegara. “Hotel-hotel di sekitaran rute BTN Jakim 2025, semuanya penuh karena para peserta juga membawa keluarga dan teman-temannya untuk menyemangati.

Kehadiran mereka turut menggerakkan transaksi ekonomi di berbagai area di Jakarta, seperti kuliner, pusat perbelanjaan, spat-spot pariwisata dan hiburan lainnya," ungkap Nixon. Ia menyampaikan apresiasi pada Pemprov DKIJakarta, Polda Metro Jaya, Kodam Jaya dan masyarakat atas s?ksesnya penyelenggaraan BTN Jakim 2025. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan, Pemprov DKI mendukun penuh ajang maraton ini karena Jakarta memiliki potensi untuk menjadi destinasi wisata olahraga, untuk para pelari, juga masyarakat umum yang ingin melihat kemeriahan acara. Dengan adanya keramaian tersebut, ekonomi Jakarta dapat lebih bergerak. "Maraton ini berjalan baik, dengan antusiasme yang luar biasa dan yang tidak diduga, dengan penutupan itu, semua hotel di sepanjang jalan menjadi laku, dan UMKM-nya hidup. Pelaksanaan BTN Jakim 2025 yang diikuti 31.600 pelari menunjukkan bahwa pelaksanaan ini berjalan dengan baik dan saya harap tahun depan bisa naik kelas. (Yoga)


Patriot Bond dan Merah Putih Bond: Instrumen Nasionalisme Keuangan atau Celah Baru Dana Gelap?

28 Jun 2026 Tim Labirin

Jakarta — Pemerintah kembali menjadi sorotan setelah munculnya dua instrumen pembiayaan baru yang membawa nama nasionalisme: Patriot Bond dan Merah Putih Bond. Di atas kertas, keduanya dirancang sebagai surat utang khusus untuk menarik dana besar masuk ke sistem keuangan nasional dan membiayai proyek pembangunan. Namun, di balik narasi kemandirian pembiayaan, muncul pertanyaan besar: apakah instrumen ini benar-benar menjadi solusi pendanaan negara, atau justru berisiko membuka ruang baru bagi praktik pencucian uang?

Patriot Bond lebih dulu dikenal publik setelah Danantara berhasil menghimpun dana Rp50 triliun. Dana tersebut disebut akan diarahkan untuk proyek energi baru terbarukan serta waste-to-energy, yakni pengolahan sampah menjadi energi. Obligasi patriot ini menjadi surat utang perdana Danantara dan ditargetkan sebagai sumber pembiayaan proyek strategis yang tidak sepenuhnya bergantung pada APBN.

Sementara itu, Merah Putih Bond muncul dalam kerangka hukum yang lebih baru setelah terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2023 mengenai Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. Regulasi ini memberi kewenangan kepada Danantara untuk menerbitkan surat utang, termasuk surat utang khusus seperti Patriot Bond dan Merah Putih Bond.

Kontroversi bermula dari perlindungan hukum yang melekat pada pembelian surat utang khusus tersebut. Pasal 50A UU 4/2026 disebut memberikan perlindungan kepada pembeli surat utang khusus dari penuntutan pidana umum, pidana khusus termasuk pidana perpajakan, serta gugatan perdata. Data dan informasi pembelian instrumen tersebut juga tidak dapat dijadikan dasar pengenaan pajak maupun alat bukti di pengadilan.

Di satu sisi, pemerintah melihat instrumen ini sebagai jalan untuk menarik dana masyarakat Indonesia, termasuk dana yang berada di luar negeri atau di luar sistem keuangan formal, agar kembali masuk ke dalam sistem keuangan nasional. Pengamat ekonomi Feiral Rizky Batubara menilai Patriot Bond dan Merah Putih Bond perlu dilihat sebagai instrumen mobilisasi modal untuk memperkuat pembiayaan pembangunan, memperdalam pasar keuangan domestik, dan mendukung proyek strategis nasional.

Namun, di sisi lain, sejumlah ahli melihat desain perlindungan hukum tersebut terlalu luas. Batara Maju Simatupang, akademisi Indonesia Banking School, menilai Pasal 50A menjadi taruhan besar bagi kepercayaan nasional karena memberi perlindungan hukum kepada pembeli instrumen tertentu. Menurutnya, apabila tidak diatur dengan batas yang jelas, kebijakan ini dapat menimbulkan pertanyaan serius mengenai prinsip kesetaraan di hadapan hukum, integritas sistem keuangan, dan kredibilitas tata kelola negara.

Kritik lebih keras datang dari pakar tindak pidana pencucian uang Yenti Garnasih. Ia memperingatkan bahwa perlindungan yang terlalu luas terhadap investor Patriot Bond dapat menjadi “karpet merah” bagi pelaku pencucian uang. Kekhawatirannya sederhana: apabila negara menerima dana tanpa penelusuran asal-usul yang memadai, maka instrumen resmi negara dapat dipersepsikan sebagai tempat aman bagi dana hasil kejahatan.

Pemerintah membantah tudingan tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan investasi di surat utang Danantara tidak dapat serta-merta disebut sebagai money laundering karena dilakukan melalui instrumen resmi. Menurut pemerintah, instrumen tersebut akan tetap berada dalam sistem keuangan dan mekanisme yang diatur.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menjelaskan bahwa perlakuan khusus Patriot Bond hanya berlaku pada dana yang ditempatkan dalam instrumen investasi tersebut. Ia menyatakan dana yang dipakai untuk Patriot Bond tidak akan “diutak-atik” sumbernya, tetapi apabila investor memiliki bisnis lain yang bermasalah, bisnis tersebut tetap dapat dikejar oleh aparat penegak hukum.

Dari perspektif rezim anti-pencucian uang, pernyataan tersebut tetap memunculkan dilema. UU Tindak Pidana Pencucian Uang menegaskan bahwa pencucian uang mengancam stabilitas perekonomian dan integritas sistem keuangan, sehingga penelusuran dan pengembalian harta kekayaan hasil tindak pidana menjadi bagian penting dari penegakan hukum.

Dilema ini semakin penting karena Indonesia telah menjadi bagian dari standar global anti-pencucian uang. FATF menempatkan pencegahan pencucian uang, pendanaan terorisme, dan pendanaan proliferasi sebagai standar internasional untuk menjaga integritas sistem keuangan. Dalam konteks tersebut, instrumen apa pun yang membatasi penelusuran asal-usul dana berpotensi menimbulkan risiko reputasi, terutama apabila tidak disertai pengecualian tegas terhadap dana hasil kejahatan.

Dari sisi efektivitas, Patriot Bond memang menunjukkan keberhasilan awal karena mampu menghimpun dana dalam jumlah besar. Namun, efektivitas sejati tidak hanya diukur dari besarnya dana yang masuk. Ukuran yang lebih penting adalah apakah dana tersebut benar-benar digunakan untuk proyek produktif, menghasilkan manfaat publik, memperkuat transisi energi, menyelesaikan masalah sampah, dan tidak menimbulkan beban fiskal atau risiko hukum baru.

Danantara sendiri telah menempatkan proyek pengolahan sampah menjadi energi sebagai bagian dari agenda strategis. Tiga proyek PSEL gelombang pertama di Bekasi, Bogor Raya, dan Denpasar Raya telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional. Proyek-proyek ini disebut akan memperoleh dukungan koordinasi lintas kementerian/lembaga, fasilitasi penyelesaian hambatan, dan berbagai instrumen percepatan pelaksanaan.

Pada akhirnya, Patriot Bond dan Merah Putih Bond berada di persimpangan antara kebutuhan pembiayaan pembangunan dan kebutuhan menjaga integritas sistem keuangan. Jika dikelola dengan transparan, diawasi ketat, dan tetap tunduk pada prinsip anti-pencucian uang, instrumen ini dapat menjadi sumber pembiayaan alternatif bagi proyek strategis nasional. Namun, apabila perlindungan hukumnya terlalu luas tanpa pengecualian yang jelas terhadap dana hasil korupsi, narkotika, tindak pidana perpajakan, pendanaan terorisme, atau kejahatan lain, instrumen ini berisiko menjadi kontroversi berkepanjangan.

Pertanyaan publik kini bukan hanya berapa besar dana yang bisa dihimpun Danantara. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: dana siapa yang masuk, dari mana asalnya, digunakan untuk apa, dan siapa yang mengawasinya? Tanpa jawaban yang terang, obligasi bernama patriotik ini dapat berubah dari simbol kemandirian pembiayaan menjadi ujian besar bagi kepercayaan publik terhadap negara.

Referensi:

Danantara kumpulkan patriot bond Rp50 triliun buat EBT-Waste to Energy - ANTARA News

Investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond Bebas Tuntutan Pajak, Data Transaksi Tak Bisa Jadi Bukti di Pengadilan - Ortax

Patriot Bond dan Merah Putih Bond Perkuat Dana Pembangunan

Pasal 50A, Patriot Bond-Merah Putih Bond, dan Taruhan Kepercayaan Nasional

Patriot Bond jadi Karpet Merah bagi Penjahat Pencucian Uang

Airlangga: Investasi di Surat Utang Danantara Bukan Money Laundering

Purbaya sebut perlakuan khusus Patriot Bond hanya berlaku ke dana investasi - ANTARA News Megapolitan

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

FATF Recommendations 2012.pdf.coredownload.inline.pdf

Tiga PSEL Gelombang Pertama Ditetapkan sebagai PSN

Ancaman PHK Massal 2026: Sinyal Bahaya Daya Saing Industri Indonesia

28 Jun 2026 Tim Labirin

Jakarta — Ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK massal kembali membayangi Indonesia pada 2026. Isu ini menguat setelah sejumlah perusahaan manufaktur dilaporkan mengurangi aktivitas produksi, merumahkan pekerja, bahkan muncul kabar adanya pabrik besar yang mempertimbangkan pemindahan basis produksi ke negara ASEAN lain, terutama Vietnam.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2026 terdapat 23.470 pekerja terkena PHK yang tercatat sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan atau JKP. Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah PHK tertinggi, yaitu 5.044 pekerja, disusul Banten dengan 2.596 pekerja. Meski angka ini belum mencerminkan seluruh pekerja terdampak di sektor informal maupun pekerja yang belum tercatat dalam sistem, data tersebut menunjukkan tekanan nyata terhadap pasar tenaga kerja nasional.

Ancaman PHK 2026 tidak hanya dipicu oleh penurunan produksi sesaat. Persoalannya lebih dalam karena menyangkut daya saing industri manufaktur Indonesia. Sektor-sektor padat karya seperti otomotif, komponen kendaraan, alas kaki, tekstil, elektronik, dan industri berbasis ekspor menghadapi tekanan dari pelemahan permintaan global, naiknya biaya produksi, ketatnya persaingan regional, serta perubahan strategi rantai pasok perusahaan multinasional.

Isu paling menonjol muncul dari kabar dua pabrik komponen otomotif asal Jepang di Jawa Timur yang disebut mempertimbangkan pemindahan produksi ke Vietnam. Kabar tersebut menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi berdampak pada ribuan pekerja. Vietnam disebut menarik karena sedang memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik atau electric vehicle/EV, sehingga menjadi salah satu tujuan baru dalam rantai pasok otomotif Asia Tenggara.

Namun, informasi tersebut kemudian berkembang menjadi lebih kompleks. Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa dua perusahaan komponen otomotif di Jawa Timur, yaitu PT SAI dan PT JAI, masih beroperasi normal serta belum melakukan relokasi maupun PHK. Di sisi lain, Istana menyebut dua perusahaan otomotif Jepang tersebut menunda rencana hengkang dari Indonesia setelah pemerintah dan pemangku kepentingan turun ke lapangan. Artinya, belum dapat disimpulkan bahwa pabrik tersebut benar-benar sudah “cabut”, tetapi isu ini tetap menjadi peringatan serius bahwa sebagian pelaku industri mulai membandingkan Indonesia dengan negara ASEAN lain sebagai basis produksi.

Bagi perusahaan multinasional, keputusan memindahkan produksi biasanya tidak berdiri pada satu faktor. Mereka menghitung biaya tenaga kerja, produktivitas, kepastian regulasi, ketersediaan energi, rantai pasok bahan baku, akses ekspor, insentif investasi, dan kedekatan dengan industri pendukung. Jika negara seperti Vietnam, Thailand, atau Malaysia dinilai lebih kompetitif, maka Indonesia berisiko kehilangan sebagian kegiatan manufaktur, terutama yang berorientasi ekspor.

Pemerintah merespons ancaman ini dengan membentuk Satuan Tugas Mitigasi PHK melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2026. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pembentukan satgas tersebut merupakan langkah untuk melindungi pekerja yang terancam PHK. Satgas ini diharapkan tidak hanya menangani pekerja setelah terkena PHK, tetapi juga memetakan perusahaan yang berisiko melakukan pengurangan tenaga kerja.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi ditunjuk sebagai Ketua Satgas Mitigasi PHK. Pemerintah menyatakan satgas akan menelusuri penyebab tekanan industri secara spesifik, mulai dari persoalan bahan baku, energi, batu bara, gas, pasar ekspor, hingga masalah internal perusahaan. Pendekatan ini penting karena setiap industri memiliki akar masalah berbeda. Masalah pabrik tekstil tidak selalu sama dengan otomotif, begitu pula industri alas kaki tidak selalu menghadapi tekanan yang sama dengan elektronik.

Di sisi perlindungan pekerja, pemerintah juga mengandalkan program Jaminan Kehilangan Pekerjaan/JKP. Program ini memberikan manfaat berupa uang tunai, akses informasi pasar kerja, dan pelatihan kerja bagi pekerja yang mengalami PHK. BPJS Ketenagakerjaan menyebut manfaat uang tunai JKP diberikan setiap bulan paling lama enam bulan setelah pekerja yang terkena PHK diverifikasi dan memenuhi syarat.

Meski demikian, JKP hanya berfungsi sebagai bantalan sosial setelah pekerja kehilangan pekerjaan. Tantangan terbesar pemerintah tetap berada di hulu, yaitu bagaimana mencegah PHK terjadi secara luas. Pemerintah perlu menjaga agar industri padat karya tetap berproduksi, menahan gelombang relokasi, memperbaiki kepastian investasi, menekan biaya produksi, mengamankan pasokan energi, dan memastikan produk Indonesia tetap kompetitif di pasar ekspor.

Fenomena ancaman PHK massal 2026 pada akhirnya memperlihatkan bahwa Indonesia sedang berada di titik krusial. Persoalan ini bukan semata soal perusahaan mengurangi karyawan, melainkan sinyal bahwa posisi Indonesia dalam peta manufaktur ASEAN sedang diuji. Jika pemerintah gagal menjaga daya saing industri, maka ancaman PHK dapat berubah menjadi masalah yang lebih struktural: hilangnya basis produksi, melemahnya ekspor manufaktur, dan menyusutnya lapangan kerja formal.

Sebaliknya, apabila pemerintah mampu menggunakan Satgas Mitigasi PHK sebagai instrumen deteksi dini, memperkuat perlindungan pekerja, serta memperbaiki hambatan industri secara konkret, maka ancaman PHK 2026 dapat menjadi momentum untuk membenahi fondasi manufaktur nasional.

Referensi

  1. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 23.470 pekerja terkena PHK pada Januari–Mei 2026, dengan Jawa Barat sebagai provinsi tertinggi sebanyak 5.044 pekerja. Korban PHK Januari-Mei 2026 Capai 23.470 Orang, Bertambah 52% - Sektor Riil
  2. Presiden Prabowo Subianto mengesahkan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang pembentukan Satuan Tugas Mitigasi PHK. Presiden Prabowo Sahkan Keppres Bentuk Satgas Mitigasi PHK: Kita Bela dan Lindungi Buruh | Sekretariat Negara
  3. Kementerian Perindustrian menyatakan dua perusahaan komponen otomotif di Jawa Timur, PT SAI dan PT JAI, masih beroperasi normal serta belum melakukan relokasi maupun PHK. Kemenperin Pastikan 2 Pabrik Otomotif Jatim Tak Relokasi Dan PHK
  4. Istana menyebut dua perusahaan otomotif Jepang di Jawa Timur menunda rencana hengkang dari Indonesia setelah pemerintah turun ke lapangan. Istana Sebut 2 Raksasa Otomotif Jepang Tunda Rencana Cabut dari RI
  5. Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan memberikan manfaat uang tunai, akses informasi pasar kerja, dan pelatihan kerja bagi pekerja yang mengalami PHK Tentang JKP | Jaminan Kehilangan Pekerjaan

 

Membongkar Siasat Curang Ekspor Sawit: DJP dan Kejagung Buru Potensi Rp1,1 Triliun

24 Jun 2026 Tim Labirin

JAKARTA — Sektor kelapa sawit (crude palm oil/CPO) kembali menjadi sorotan tajam otoritas pajak dan penegak hukum di Indonesia. Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) bekerja sama secara simultan dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mendalami dugaan pelanggaran berat perpajakan berupa praktik underinvoicing (penurunan nilai faktur ekspor) dan transfer pricing pada sektor komoditas strategis ini. Sebanyak 32 Wajib Pajak (WP) korporasi kini masuk dalam radar pemeriksaan intensif demi mengikis kebocoran kas negara.

Pengusutan berskala besar ini pertama kali dipicu oleh temuan awal yang diungkap ke publik oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebagai tindak lanjut, DJP langsung menggelar pemeriksaan bukti permulaan hingga tahap penyidikan atas dugaan tindak pidana perpajakan.

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menjelaskan bahwa skema penanganan saat ini terbagi dalam beberapa klaster operasional. Sebanyak 23 WP sektor sawit sedang dalam proses penghitungan nilai kerugian pendapatan negara, sementara 8 WP lainnya sudah masuk ke tahap penanganan lanjutan dengan perluasan area penyidikan hingga tahun pajak 2023.

Berdasarkan taksiran sementara, potensi penerimaan negara yang berhasil dipetakan dari 11 WP dari total daftar tersebut mencapai Rp1,1 triliun. Praktik underinvoicing, modus di mana eksportir melaporkan harga jual komoditas di bawah nilai transaksi riil guna mengecilkan kewajiban pajak, serta skema transfer pricing ke perusahaan afiliasi di luar negeri, dinilai menjadi pintu utama hilangnya potensi penerimaan negara dari lonjakan komoditas global.

Asas Ultimum Remedium dan Sinergi Data Lintas Lembaga

Kendati penegakan hukum berjalan agresif, otoritas perpajakan tetap mengedepankan asas ultimum remedium sesuai dengan rambu-rambu hukum yang berlaku di Indonesia. Asas ini menempatkan sanksi pidana sebagai jalan terakhir, yang memberikan ruang bagi wajib pajak yang kooperatif untuk membetulkan kekeliruannya secara sukarela.

Sepanjang proses pengusutan berjalan, DJP mencatat sudah ada 3 WP sektor sawit yang memanfaatkan skema pembetulan Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan secara mandiri. Ketiganya langsung menyetorkan kas ke negara dengan nilai akumulatif mencapai Rp200 miliar.

Langkah koordinasi yang erat dengan Korps Adhyaksa menjadi pembeda utama dalam pengusutan kali ini. DJP dan Kejagung menerapkan mekanisme pertukaran data secara real-time untuk mempersempit ruang gerak pelaku penyelewengan pajak. Sinergi ini tercermin dari adanya permintaan data 18 wajib pajak terperinci oleh Kejagung yang melacak rekam jejak transaksi hingga 18 tahun ke belakang.

Melalui pembagian yurisdiksi yang matang, satu perkara WP besar saat ini ditangani langsung di tingkat penyidikan Kejagung, sementara DJP memastikan tetap melakukan pengusutan simultan tanpa ego sektoral demi memulihkan keuangan negara.

Mengamankan Rezim Pajak Sektor Komoditas

Secara makroekonomi, ketegasan pemerintah dalam menindak kecurangan pelaporan ekspor CPO merupakan langkah vital demi menjaga keadilan iklim berusaha (level playing field). Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar, sehingga kepatuhan pajak di sektor ini berdampak langsung pada kestabilan APBN nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pihaknya memberikan dukungan penuh dan menyerahkan proses hukum secara independen kepada Kejaksaan Agung.

Melalui pemanfaatan regulasi perpajakan yang kuat dan didukung integrasi data yang transparan, pengusutan ini diharapkan dapat memberikan efek jera (deterrent effect) bagi pelaku industri komoditas. Langkah strategis ini membuktikan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada ekstensifikasi pajak masyarakat kecil, melainkan secara adil dan tegas menegakkan transparansi pada korporasi besar demi kedaulatan ekonomi nasional.

Siasat ‘Memecah’ Entitas: Sengkarut Firm Splitting UMKM yang Menguras Kas Negara

24 Jun 2026 Tim Labirin

JAKARTA — Fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5% yang sejatinya diciptakan sebagai inkubator bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar dapat tumbuh, kini tengah menghadapi tantangan serius. Otoritas perpajakan menemukan indikasi kuat bahwa insentif ini disalahgunakan oleh gurita bisnis berskala besar melalui modus firm splitting atau pemecahan usaha. Praktik culas ini dilakukan demi menghindari tarif pajak normal dan kewajiban mengumpulkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengungkap data yang mengejutkan publik. Dari total 542.000 wajib pajak (WP) UMKM yang terdaftar di Indonesia, sebanyak 93.260 entitas atau setara 17,21% terindikasi kuat melakukan firm splitting. Di balik gurita puluhan ribu badan usaha tersebut, DJP mengidentifikasi adanya 30.000 orang pribadi yang bertindak sebagai Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir.

Fenomena yang paling mencolok berada pada puncak piramida kepemilikan: terdapat 14 orang pribadi kaya yang secara rahasia mengendalikan total 1.067 badan usaha. Artinya, rata-rata satu orang kaya menguasai lebih dari 51 entitas boneka berkedok UMKM. Siasat ini sengaja dirancang agar omzet masing-masing entitas tetap berada di bawah ambang batas (threshold) Rp4,8 miliar per tahun, sehingga mereka dapat terus berlindung di balik tarif istimewa 0,5%. Selain firm splitting, DJP juga menengarai adanya praktik bunching, yakni strategi menahan pelaporan omzet secara artifisial.

Bocornya Kas Negara: Antara PPh dan PPN

Dampak dari manipulasi subjek pajak ini tidak main-main bagi kesehatan anggaran pendapatan dan belanja negara. Direktur Eksekutif Indonesia Economic Fiscal (IEF) Research Institute, Ariawan Rahmat, menilai temuan DJP tersebut mencerminkan adanya persoalan serius dalam keadilan fiskal. Berdasarkan kalkulasi moderat IEF, jika 30.000 grup usaha yang teridentifikasi tersebut memiliki omzet gabungan riil Rp10 miliar per tahun dengan margin laba bersih 10%, negara seharusnya menerima PPh Badan normal sebesar 22%.

"Melalui skema firm splitting, kelompok ini hanya membayar tarif 0,5% dari omzet. Akibatnya, ada potensi kehilangan penerimaan negara (revenue lost) minimal Rp5,1 triliun per tahun, yang dalam skenario agresif bisa menembus Rp15 triliun," ungkap Ariawan.

Namun, kebocoran terbesar disinyalir tidak hanya datang dari sektor PPh, melainkan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Konsultan Pajak Botax Consulting Indonesia, Raden Agus Suparman, menjelaskan bahwa pemecahan usaha efektif membuat korporasi terhindar dari status Pengusaha Kena Pajak (PKP). Jika separuh saja dari 93.260 WP tersebut seharusnya sudah wajib menjadi PKP, potensi kehilangan PPN 11% dari omzet diperkirakan mencapai Rp24 triliun per tahun. Strategi menghindari PPN ini marak ditemukan pada sektor perdagangan daring (marketplace) demi memenangi perang harga dengan margin keuntungan tipis.

Respons Regulasi dan Perlunya Kehati-hatian

Pemerintah bergerak cepat merespons kebocoran ini dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026. Regulasi anyar ini memperketat batasan dengan mencoret badan usaha berbentuk CV dan PT dari daftar penikmat PPh Final UMKM 0,5%, sehingga memaksa mereka menyelenggarakan pembukuan standar.

Meskipun langkah ini diapresiasi sebagai penutup celah hukum, pengamat perpajakan dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Fajry Akbar, memberikan catatan kritis. Fajry mengingatkan otoritas agar tidak menyamaratakan seluruh 93.260 WP badan tersebut sebagai pelaku kecurangan. Menurutnya, sebagian besar bisa jadi merupakan pelaku usaha legal yang memang berhak memanfaatkan fasilitas perpajakan sesuai tren kepatuhan. Ia juga mengimbau pemerintah mengantisipasi risiko politik dan penyesuaian bentuk usaha baru, seperti beralih ke PT Perorangan agar tetap bisa mengakses tarif mikro.

Di sisi lain, DJP dituntut memperkuat sistem pengawasan transaksi digitalnya karena para perencana pajak (tax planner) diperkirakan akan mencari celah baru, termasuk memanfaatkan skema nominee arrangement atau peminjaman identitas (KTP) pihak lain untuk menyamarkan kepemilikan UBO.

Meluruskan Pajak Kreator Digital: Bukan Aturan Baru, Melainkan Penegasan Batas

24 Jun 2026 Tim Labirin

JAKARTA — Riuh rendah di media sosial mengenai hilangnya hak tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final 0,5% bagi para pemengaruh (influencer) akhirnya mendapat jawaban resmi dari otoritas fiskal. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan menegaskan bahwa terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026 bukan merupakan bentuk pengetatan atau pemangkasan insentif bagi industri kreatif. Langkah ini melainkan penegasan kepastian hukum atas status profesi kreator digital yang sejak awal masuk dalam rumpun pekerjaan bebas.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP, Inge Diana Rismawanti, meluruskan anggapan keliru yang beredar di masyarakat. Menurutnya, apabila selama ini ada content creator, blogger, maupun YouTuber yang merasa sah menyetor pajak menggunakan skema PPh Final Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) 0,5%, maka pemahaman tersebut tidak sejalan dengan fondasi hukum perpajakan.

"Dan sebetulnya kalau mereka selama ini menganggap boleh menggunakan tarif setengah persen, itu adalah suatu kesalahan. Jadi tidak tepat. Karena kategori pekerjaan mereka dikategorikan sebagai pekerjaan bebas," ujar Inge dalam Podcast Cermati. Otoritas menegaskan bahwa status pekerjaan bebas secara otomatis mengecualikan pelakunya dari rezim PPh Final UMKM yang berbasis omzet bruto.

Menutup Celah Hukum Melalui PP 20/2026

Secara kronologis, penegasan ini tertuang dalam PP Nomor 20 Tahun 2026 tentang Perubahan atas PP Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan, yang diteken oleh Presiden Prabowo Subianto pada 22 April 2026. Perubahan krusial terlihat pada perluasan substansi Pasal 56 ayat (4) huruf b.

Pada aturan lama (PP 55/2022), kelompok pekerja seni yang dikecualikan dari PPh Final 0,5% baru mencakup profesi konvensional seperti pemain musik, pembawa acara, penyanyi, hingga foto model. Namun, dalam beleid baru PP 20/2026, pemerintah secara eksplisit memasukkan frasa: "pembuat/pencipta konten pada media yang dibagikan secara daring (influencer atau pemengaruh, selebgram, bloger, vloger, dan sejenis lainnya)".

Masuknya frasa baru ini menutup celah tafsir ganda (gray area) yang kerap dimanfaatkan para pembuat konten untuk menyamarkan penghasilannya sebagai omzet dagang UMKM. Kini, profesi digital disetarakan dengan tenaga ahli konvensional seperti dokter, pengacara, akuntan, dan arsitek yang wajib menggunakan mekanisme Pajak Penghasilan umum.

Kategori Pajak Berdasarkan PP 20/2026

Subjek/Wajib Pajak yang Berhak/Berlaku

Mekanisme Penghitungan Pajak

Fasilitas PPh Final 0,5% (UMKM)

Wajib Pajak Orang Pribadi, Koperasi, dan Perseroan Perorangan (Omzet di bawah Rp4,8 Miliar/Tahun).

PPh 0,5% langsung dari total peredaran bruto/omzet bisnis.

Pembebasan Pajak (PTKP Mikro)

Pelaku UMKM Orang Pribadi dengan omzet maksimal Rp500 juta dalam satu tahun.

Nihil (Bebas pajak hingga batas omzet terpenuhi).

Pekerjaan Bebas (Kreator Digital & Artis)

Influencer, Selebgram, Vlogger, Dokter, Pengacara, Musisi, Olahragawan.

Tarif progresif umum. Bisa pakai Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN) jika omzet < Rp4,8 Miliar.

Solusi NPPN dan Pemisahan Entitas Bisnis

Meskipun wajib menggunakan mekanisme umum dengan tarif progresif, DJP menyatakan para kreator digital tidak perlu panik kehilangan seluruh fasilitas. Selama peredaran bruto atau omzet tahunannya dari pekerjaan bebas belum menembus angka Rp4,8 miliar, mereka masih diizinkan menghitung pajak menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN). Melalui NPPN, wajib pajak dibebaskan dari kewajiban pembukuan akuntansi yang rumit dan cukup melakukan pencatatan omzet sederhana.

Di sisi lain, Inge menjelaskan kebingungan publik juga kerap dipicu oleh adanya pemengaruh yang memiliki lini usaha terpisah berbentuk badan hukum, seperti perusahaan perencana acara (event organizer). Berdasarkan azas keadilan, jika aktivitas usahanya berjalan di bawah bendera PT atau CV yang terpisah dari keahlian pribadinya, maka unit bisnis tersebut sempat diizinkan menggunakan tarif komersial UMKM sebelum berlakunya limitasi baru.

Melalui PP 20/2026, sasaran penerima fasilitas perpajakan kini disempurnakan demi menjamin asas keadilan fiskal (tax equity). Pemerintah memastikan insentif 0,5% murni dinikmati oleh pelaku ekonomi lemah yang membutuhkan, bukan oleh kelompok profesi dengan kapasitas ability to pay yang tinggi. 

Menakar Keadilan Pajak Layar Perak: Tantangan Film Nasional di Tengah Serbuan Sinema Asing

22 Jun 2026 Tim Labirin

Jakarta - Diskusi mengenai keberpihakan negara terhadap industri kreatif kembali mencuat ke permukaan. Jagat media sosial, khususnya platform X, sempat diramaikan oleh potongan video Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Nasional di DPR RI yang berlangsung pada 8 April 2026. Dalam rekaman tersebut, sejumlah tokoh kunci perfilman tanah air, seperti Direktur Utama MD Pictures Manoj Punjabi dan CEO Visinema Pictures Angga Dwimas Sasongko, menyuarakan keluh kesah yang mendalam mengenai struktur perpajakan bioskop di Indonesia.

Isu ini sebenarnya bukan barang baru. Jauh sebelum video tersebut viral, tepatnya pada 17 Oktober 2025, jajaran Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menggelar pertemuan hangat dengan Persatuan Produsen Film Indonesia (PPFI), Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi), dan Asosiasi Pengusaha Film Indonesia (APFI). Pertemuan yang dihadiri oleh figur publik sekaligus produser film seperti Deddy Mizwar dan artis Luna Maya tersebut menjadi ruang bagi otoritas pajak untuk menampung aspirasi, dengan komitmen untuk mengkaji insentif yang dapat melindungi serta mendukung ekosistem sinema domestik.

Namun, mengapa riak ketidakpuasan tetap muncul di ruang publik? Guna memahami persoalan ini secara jernih, diperlukan lensa yang objektif untuk membedah anatomi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang membalut industri seluloid kita.

Labirin Regulasi dan Ilusi "PPN Ganda"

Keluhan utama yang disuarakan oleh para sineas nasional bermuara pada satu istilah teknis: tax inequality atau ketimpangan beban pajak. Industri film lokal merasa harus memikul beban finansial yang lebih berat untuk menayangkan karyanya di bioskop sendiri dibandingkan dengan importir film asing.

Secara legal formal, pembuatan film lokal melibatkan rantai produksi yang sangat panjang. Berdasarkan Undang-Undang PPN yang berlaku, hampir seluruh komponen hulu—mulai dari jasa sewa peralatan syuting, teknik editing, animasi, mixing suara, sewa lokasi, hingga hak pemakaian lagu—merupakan Jasa Kena Pajak (JKP). Di fase ini, produser lokal wajib membayar PPN Masukan (PM) atas setiap transaksi tersebut.

Pemerintah sebenarnya telah mencoba melakukan reformasi melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 11 Tahun 2025, yang menetapkan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Nilai Lain sebesar 11/12 dari perkiraan hasil rata-rata per judul film pada saat penyerahan ke bioskop. Langkah ini dimaksudkan untuk menyederhanakan pemungutan pajak di hilir.

Sayangnya, hingga saat ini peraturan Direktur Jenderal Pajak yang menjadi petunjuk teknis pelaksanaan nilai rata-rata tersebut belum kunjung terbit. Kekosongan regulasi turunan ini membuat pelaku industri film tetap merujuk pada aturan klasik yang belum dicabut, yakni Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-30/PJ.3/1987.

Di sinilah titik krusialnya. SE-30/1987 menerapkan skema Deemed Taxable Base yang mematok nilai Rp20 juta per judul film untuk 30 kopi pertama, dan Rp1 juta untuk setiap kopi berikutnya. Sifat dasar dari skema deemed purba ini adalah tidak mengenal mekanisme pengkreditan Pajak Masukan.

Akibatnya, terjadi benturan sistemik. Di fase produksi, produser diperlakukan dengan sistem multistage levy (harus membayar PPN Masukan), namun di fase penyerahan akhir ke bioskop, mereka dikunci oleh sistem deemed yang membuat seluruh PPN Masukan dari biaya produksi tidak bisa dikreditkan. PPN Masukan tersebut otomatis menjelma menjadi biaya permanen (sunk cost) yang menggerus margin laba usaha, sebelum kemudian mereka masih harus dihadapkan pada Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) atau Pajak Hiburan di loket bioskop daerah. Kondisi inilah yang memicu persepsi di kalangan pelaku industri seolah-olah mereka terkena hantaman "PPN Ganda".

Belajar dari Lanskap Global

Otoritas pajak di berbagai belahan dunia pada umumnya memandang industri perfilman bukan sekadar objek pemungutan penerimaan (revenue getter), melainkan sebagai sektor strategis yang membawa identitas budaya nasional (soft power). Oleh sebab itu, fungsi anggaran (budgetair) kerap diselaraskan dengan fungsi mengatur (regulerend) melalui insentif perpajakan yang agresif.

Sebagai contoh, tetangga dekat kita, Thailand, menerapkan kebijakan cash rebate berjenjang sebesar 15% hingga 30% sejak Januari 2025 untuk setiap belanja produksi lokal untuk film. Inggris Raya memperkenalkan Audio-Visual Expenditure Credit (AVEC) per April 2024, yang memberikan kredit pajak tunai sebesar 34% bagi film yang lolos uji kelayakan budaya (cultural test).

Di Asia Timur, Korea Selatan memberikan kredit pajak investasi hingga 15% bagi UKM film domestik serta insentif tambahan untuk riset teknologi konten digital. Australia memiliki skema producer offset bersifat refundable sebesar 40%, sementara Prancis mempertahankan Crédit d'impôt cinéma (CIC) sebesar 30% yang terbukti sukses menekan relokasi syuting keluar negeri dari 27% menjadi hanya 10%.

Menjaga Keseimbangan Iklim Fiskal

Melihat data-data di atas, kekhawatiran dan aspirasi para pelaku industri perfilman nasional sangatlah beralasan. Struktur perpajakan saat ini, yang belum didukung oleh peraturan turunan komprehensif, secara tidak sengaja telah menciptakan disinsentif bagi investasi produksi sinema domestik.

Bagi Direktorat Jenderal Pajak, situasi ini merupakan sebuah alarm untuk segera melakukan akselerasi regulasi. Ketiadaan PER yang mengatur detail mekanisme perkiraan hasil rata-rata dalam PMK-11/2025 menjadi titik rawan yang mudah dipolitisasi untuk membangun opini bahwa pemerintah abai terhadap karya anak bangsa.

Penataan ulang kebijakan fiskal di sektor ini sejatinya tidak harus dipandang sebagai potensi kehilangan pendapatan negara. Dengan merestrukturisasi DPP Nilai Lain untuk film impor agar berbasis nilai ekonomi riil, negara justru berpotensi mendulang penerimaan yang jauh lebih adil. Di saat yang sama, relaksasi pengkreditan Pajak Masukan atau pemberian insentif khusus bagi rumah produksi lokal akan menyuntikkan angin segar bagi likuiditas dan arus kas para sineas.

Langkah harmonisasi antara kenyamanan investasi asing dengan perlindungan industri domestik adalah kunci utama. Melalui pendekatan yang tenang, berbasis data, dan kolaboratif, reformasi pajak perfilman di Indonesia diharapkan mampu mengubah ruang bioskop menjadi rumah yang ramah bagi karya-karya terbaik negeri sendiri.

Pembentukan KEK Keuangan Bali: Antara Masuknya Arus Modal Global dan Munculnya Potensi Risiko Fiskal

22 Jun 2026 Tim Labirin

JAKARTA — Pemerintah Indonesia tengah bergerak cepat mematangkan regulasi komprehensif yang akan mendasari pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor keuangan. Melalui kebijakan ini, pemerintah berambisi mempercepat pengembangan KEK sebagai motor penggerak investasi di sektor strategis, di mana KEK Kura-Kura Bali dipersiapkan secara khusus untuk menjadi pusat keuangan internasional (International Financial Center/IFC). Langkah ini dirancang untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan pendirian pusat keuangan global, mulai dari skema pengelolaan hingga penyediaan fasilitas penunjang.

Di lapangan, PT Bali Turtle Island Development (BTID) selaku Badan Usaha Pengelola dan Pembangun (BUPP) KEK Kura-Kura Bali, dilaporkan terus membangun ekosistem pendukung operasional. Melalui penyediaan Business Hub, kawasan ini diproyeksikan menjadi titik temu program strategis berskala dunia seperti Global Blended Finance Alliance (GBFA), pusat pendidikan bisnis (business school), serta jalur investasi unggulan di Indonesia. Selain itu, area Knowledge District di dalam kawasan akan diperkuat dengan Pusat Kewirausahaan dan Inovasi yang menaungi institusi pendidikan berkualitas seperti sekolah interkultural ACS Bali, serta pengembangan riset lingkungan pesisir melalui International Mangrove Research Center (IMRC).

Hingga triwulan I tahun 2026, KEK Kura-Kura Bali mencatat realisasi investasi yang cukup signifikan, yakni mencapai Rp1,62 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.146 orang. Meskipun pengerjaan sejumlah proyek strategis ditargetkan selesai pada tahun 2026, proses pengembangannya saat ini masih terus berjalan intensif bersama para mitra internasional tanpa adanya pengumuman resmi mengenai target waktu peluncurannya ke publik.

Magnet Insentif Berstandar Global

Demi menarik minat institusi keuangan dan investor raksasa, pemerintah menyiapkan paket insentif fiskal yang agresif, termasuk penawaran skema pembebasan pajak atau tarif Pajak Penghasilan (PPh) hingga 0% atas aset investor global yang masuk ke wilayah KEK Keuangan tersebut. Skema hukum dan insentif yang akan berlaku di kawasan ini mengacu pada standar internasional yang telah sukses diterapkan di pusat keuangan dunia seperti Dubai (Uni Emirat Arab) dan Labuan (Malaysia). Kedua pusat keuangan tersebut dinilai berhasil menarik lembaga keuangan global lewat kombinasi insentif fiskal, kemudahan regulasi, serta infrastruktur pendukung yang kompetitif.

Sejalan dengan hal tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menekankan bahwa daya saing KEK Keuangan ini sangat bergantung pada jaminan stabilitas kebijakan. Para investor memerlukan adanya kepastian hukum jangka panjang yang tidak berubah-ubah dalam rentang waktu 30 hingga 50 tahun. Selain itu, pemenuhan prasyarat seperti kebijakan devisa bebas, kontrol modal yang longgar, pemberian visa khusus bagi para profesional dan investor, ketersediaan infrastruktur pusat data (data center) yang mumpuni, serta sistem perizinan berbasis digital yang aman dan transparan menjadi faktor penentu utama.

Dari sisi makroekonomi, keberadaan IFC di Bali diproyeksikan membawa sejumlah dampak positif:

  1. Peningkatan Likuiditas: Menarik aliran modal asing (inflow) yang kuat untuk mempertebal likuiditas perbankan nasional, baik dalam denominasi Rupiah maupun valuta asing, sekaligus memperkokoh cadangan devisa negara.
  2. Pendalaman Pasar Keuangan: Mendorong terciptanya instrumen investasi domestik yang jauh lebih beragam, termasuk mempercepat pengembangan pasar produk derivatif.
  3. Akses Pendanaan Murah: Menjadi akselerator untuk menyerap dana global jangka panjang—seperti melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN)—yang dapat dialokasikan untuk membiayai industri bernilai tambah tinggi demi membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
  4. Peluang Geopolitik: Menjadi alternatif tempat penyimpanan dana global yang aman di Asia Tenggara di tengah tingginya ketidakpastian situasi geopolitik di wilayah Timur Tengah saat ini.

Sisi Lain Kebijakan: Antisipasi Risiko Fiskal dan Pengawasan

Kendati menawarkan prospek ekonomi yang menggiurkan, analisis independen mengingatkan adanya sejumlah titik rawan yang harus diantisipasi secara ketat. Risiko paling mendasar dalam jangka pendek adalah potensi kehilangan penerimaan pajak (potential loss) akibat penerapan fasilitas tarif hingga 0% yang otomatis memangkas basis penerimaan negara dari entitas-entitas besar di dalam kawasan.

Tantangan pengawasan administratif juga mengemuka. Mengingat lokasi fisik investasi berada di kawasan khusus, pengawasan kepatuhan wajib pajak memerlukan mekanisme pemantauan yang jauh lebih ketat dan intensif agar tidak terjadi penurunan kualitas pengawasan. Celah hukum di wilayah perbatasan komersial seperti ini berisiko memicu praktik perencanaan pajak yang agresif (aggressive tax planning) serta pergeseran laba (profit shifting) antar perusahaan grup afiliasi yang tidak wajar. Tanpa benteng hukum yang kokoh, KEK Keuangan dikhawatirkan dapat disalahgunakan sebagai instrumen penghindaran pajak (tax avoidance) hingga celah pencucian uang hasil tindak pidana.

Di sisi lain, integrasi sistem informasi teknologi perpajakan dengan sistem perizinan terpadu (seperti Sistem OSS) harus dipastikan berjalan secara real-time. Jika sistem administrasi tidak mampu memberikan notifikasi otomatis dan pemantauan berkala yang optimal, maka deteksi dini terhadap potensi pelanggaran kepatuhan akan sulit dilakukan.

Terakhir, pemerintah perlu mengawal agar KEK Keuangan ini tidak terjebak menjadi sekadar "kawasan real estate mewah" yang eksklusif bagi para konglomerat atau tempat parkir dana pasif investor asing semata. KEK Kura-Kura Bali, yang kepemilikan saham pengelolanya (PT BTID) mayoritas dikuasai oleh Goodwill Property Investment Limited asal Hong Kong serta bermitra dengan konsorsium global seperti Mitsubishi Estate Co Ltd (Jepang) dan Tsao Pao Chee Group (Singapura), harus mampu mengalirkan dampak nyata ke sektor riil domestik. Salah satu indikator keberhasilannya adalah terciptanya dampak rembesan sektoral (spillover effect), seperti penyaluran kredit yang lebih terjangkau bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Menyeimbangkan antara agresivitas daya tarik investasi dengan ketatnya sistem pengawasan akan menjadi ujian krusial bagi masa depan kedaulatan ekonomi Indonesia. 

Pertaruhan Ekspor Satu Pintu: Menumpas "Shadow Economy" atau Melahirkan Monster Baru?

03 Jun 2026 Tim Labirin

Tanggal 1 Juni 2026 akan dicatat sebagai salah satu titik belok paling berani, sekaligus paling berisiko, dalam sejarah tata niaga komoditas Indonesia. Berlakunya kebijakan Ekspor Satu Pintu untuk tiga sumber daya alam (SDA) strategis melalui Danantara langsung memicu turbulensi. Pelaku usaha ramai-ramai bersuara menuntut kejelasan, para ekonom memperingatkan potensi disrupsi, dan nilai tukar Rupiah terpantau masih berayun lemah menyikapi ketidakpastian ini.

Di permukaan, wajar jika pasar merasa terancam oleh hantu birokrasi atau monopoli negara. Namun, jika kita membedah anatomi tata niaga SDA secara struktural, kebijakan sentralisasi ekspor ini sejatinya adalah senjata pamungkas untuk memberangus shadow economy (ekonomi bayangan) dan menambal kebocoran penerimaan pajak bernilai triliunan rupiah. Tentu, dengan satu syarat mutlak: ia tidak tergelincir menjadi sekadar pos pungutan liar raksasa berwajah resmi.

Selama puluhan tahun, sektor ekstraktif kita diwarnai oleh celah gelap pelarian modal. Praktik manipulasi harga transfer (transfer pricing), faktur bodong (trade misinvoicing), dan pelaporan volume di bawah batas riil (under-reporting) menjadi rahasia umum. Eksportir nakal kerap menjual SDA ke perusahaan afiliasinya di negara suaka pajak dengan harga artifisial yang rendah. Akibatnya, laba di Indonesia menyusut, dan negara dirampok dari hak Pajak Penghasilan (PPh) Badan, PPN, hingga royalti.

Melalui pintu tunggal Danantara, seluruh aliran komoditas dan uang dipaksa keluar dari bayang-bayang menuju lorong yang terang benderang. Danantara bertindak sebagai agregator yang memutus rantai afiliasi fiktif tersebut, memastikan harga jual ekspor memantulkan harga pasar global yang sebenarnya. Basis pemajakan menjadi absolut, dan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dapat dipaksa pulang tanpa kompromi.

Model sentralisasi seperti ini bukanlah anomali dalam ekonomi global. Kita patut berkaca pada Zespri, raksasa korporasi di Selandia Baru. Zespri mengoperasikan model single-desk (pintu tunggal) untuk pemasaran dan ekspor buah kiwi ke seluruh dunia. Alih-alih menjadi birokrasi yang mencekik, Zespri sukses mengonsolidasikan kekuatan ribuan petani, menjaga standar kualitas premium, mengontrol harga global, dan berinvestasi pada riset berkelanjutan.

Danantara harus mengadopsi DNA Zespri. Lembaga ini harus memposisikan dirinya sebagai orkestrator yang menciptakan nilai tambah (value creation). Jika Danantara hanya bertindak layaknya "penjaga tol" yang memungut biaya administrasi tanpa meningkatkan daya tawar komoditas Indonesia di pasar global, kebijakan ini hanya akan merugikan eksportir lokal yang patuh.

Tentu saja, skeptisisme publik sangat beralasan. Masa transisi tiga bulan ke depan adalah fase krusial yang menentukan kredibilitas pemerintah. To be sure, sentralisasi kekuasaan ekonomi tanpa transparansi dan tata kelola (good corporate governance) yang radikal hanya akan memindahkan episentrum korupsi dari pinggiran ke pusat. Pelemahan Rupiah saat ini adalah sinyal tegas bahwa pasar global sedang menakar kesiapan infrastruktur digital dan operasional Danantara. Sedikit saja terjadi hambatan (bottleneck) di pelabuhan, rantai pasok global akan kacau, dan negara justru akan kehilangan momentum ekspor.

Pada akhirnya, diskursus ekspor satu pintu ini tidak boleh dibiarkan menjadi perdebatan eksklusif antara konglomerat tambang dan birokrat di Jakarta. Masyarakat wajib menaruh perhatian tajam. Uang pajak dan devisa yang selama ini menguap di jalur-jalur tikus shadow economy adalah hak publik yang seharusnya membiayai jaminan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

Danantara kini memegang kunci brankas kekayaan alam tersebut. Keberhasilannya akan menjadi lonceng kematian bagi para penghindar pajak di sektor SDA. Namun, jika pengawasannya lengah, kita hanya sedang membangun mesin birokrasi baru yang menyandera daya saing Republik ini di kancah global. Kesuksesan kebijakan ini bukan sekadar soal kelancaran dokumen di pelabuhan, melainkan ujian bagi integritas fiskal bangsa.

Ekonomi RI Tembus 5,61 Persen, Bukti Ketangguhan Strategi Fiskal Pemerintah di Tengah Gejolak Global

12 May 2026

Jakarta - Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global dan eskalasi geopolitik yang kian memanas, perekonomian Indonesia justru menunjukkan kekuatannya. Data terbaru dari Kementerian Keuangan mencatat pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan I 2026 sukses menembus angka 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pencapaian impresif ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti nyata dari ketangguhan fundamental ekonomi domestik dan kejelian strategi fiskal yang diracik oleh pemerintah.

Keberhasilan mencetak pertumbuhan di atas 5,5 persen ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja ekonomi paling solid di kawasan. Angka 5,61 persen ini bahkan melampaui asumsi dasar ekonomi makro APBN 2026 yang dipatok pada level 5,4 persen. Lantas, apa rahasia di balik ketahanan ekonomi Ibu Pertiwi ini? Jawabannya bermuara pada satu motor penggerak utama, yaitu akselerasi belanja pemerintah yang tepat sasaran.

Kementerian Keuangan di bawah komando yang solid telah memastikan bahwa instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bekerja secara optimal sebagai peredam kejut (shock absorber) sekaligus katalisator pertumbuhan. Hingga 31 Maret 2026, realisasi belanja negara tercatat melonjak tajam, tumbuh 31,4 persen yoy mencapai Rp815,0 triliun. Angka ini setara dengan 21,2 persen dari total pagu APBN.

Lonjakan belanja ini bukanlah pengeluaran tanpa arah yang jelas. Pemerintah secara cerdas mengarahkan dana tersebut pada belanja prioritas yang memberikan efek pengganda (multiplier effect) maksimal bagi perekonomian. Percepatan belanja pemerintah pusat, yang meroket 47,7 persen menjadi Rp610,3 triliun, terbukti ampuh menstimulasi aktivitas ekonomi di akar rumput. Dana segar yang mengalir ke berbagai proyek strategis dan program perlindungan sosial ini secara langsung mendongkrak daya beli masyarakat.

Dampak dari guyuran belanja pemerintah ini terlihat jelas pada indikator konsumsi rumah tangga. Menjelang periode perayaan Idul Fitri, konsumsi masyarakat terpantau mengalami lonjakan signifikan. Sektor-sektor seperti barang konsumsi (consumer goods), elektronik, rekreasi, dan mobilitas mencatatkan tren peningkatan yang menggembirakan. Meskipun terjadi moderasi pasca-Idul FItri, momentum ini telah memberikan suntikan tenaga yang masif bagi roda perekonomian nasional pada kuartal pertama.

Lebih dari itu, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini tetap terjaga kuat. Keyakinan konsumen yang solid ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan tren konsumsi di kuartal-kuartal mendatang. Pemerintah menyadari betul bahwa menjaga daya beli adalah kunci, dan APBN telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik dalam aspek ini.

Dari sisi pasokan (supply), denyut nadi sektor riil juga berdetak kencang. Peningkatan aktivitas ekonomi tidak hanya didorong oleh konsumsi, tetapi juga oleh kinerja yang baik di berbagai sektor utama. Industri manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi, hingga akomodasi dan makanan-minuman kompak mencatatkan pertumbuhan positif. Sektor-sektor ini bergerak dinamis untuk memenuhi lonjakan permintaan, baik dari pasar domestik maupun internasional.

Berbicara mengenai pasar internasional, kinerja eksternal Indonesia juga patut mendapat acungan jempol. Di tengah lesunya permintaan global, neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak sejarah dengan membukukan surplus selama 71 bulan berturut-turut. Ekspor tetap tumbuh positif, sementara pertumbuhan impor yang terjadi lebih mencerminkan ekspansi aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri.

Impor bahan baku tercatat naik 6,89 persen menjadi USD 43,2 miliar, dan impor barang modal tumbuh 6,12 persen menjadi USD 5,2 miliar. Data ini mengirimkan sinyal yang sangat positif yaitu bahwa industri dalam negeri sedang bersiap untuk berlari lebih kencang. Peningkatan impor barang produktif ini adalah indikator awal dari ekspansi kapasitas produksi yang akan bermuara pada penciptaan lapangan kerja baru dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Keberhasilan menjaga momentum pertumbuhan ini tidak lepas dari pengelolaan APBN yang ekspansif namun tetap terukur dan berhati-hati (prudent). Defisit APBN hingga akhir Maret 2026 masih sangat terkendali di angka Rp240,1 triliun, atau hanya sekitar 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak mengorbankan kesehatan fiskal jangka panjang demi mengejar pertumbuhan jangka pendek.

Ke depan, pemerintah melalui Kementerian Keuangan berkomitmen untuk terus mengawal pelaksanaan APBN agar tetap responsif terhadap dinamika global. Dengan fondasi pertumbuhan 5,61 persen di kuartal pertama, Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk mengarungi sisa tahun 2026. Optimisme yang realistis ini didukung oleh data yang solid, membuktikan bahwa kapal besar ekonomi Indonesia sedang berlayar di jalur yang tepat, dikemudikan oleh nakhoda yang andal dalam menghadapi badai ketidakpastian global.

Pemerintah juga terus melakukan fine-tuning terhadap instrumen-instrumen kebijakan untuk memastikan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, Indonesia tidak hanya akan mempertahankan momentum positif ini, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kokoh untuk pertumbuhan jangka panjang yang lebih tinggi lagi di tahun-tahun mendatang.

 

Referensi:

[1]: "Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."

 


Inflasi Terkendali di 2,42 Persen, Bukti Nyata Kehadiran Pemerintah Lindungi Daya Beli Masyarakat

12 May 2026

Jakarta - Gejolak geopolitik di Timur Tengah telah memicu gelombang kejut pada harga komoditas energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 16,5 persen secara tahunan, sementara emas meroket hingga 63,5 persen. Di banyak negara, situasi ini langsung memukul daya beli masyarakat akibat lonjakan inflasi. Namun, cerita berbeda terjadi di Indonesia. Berkat intervensi kebijakan yang terukur dan komitmen kuat pemerintah, inflasi nasional pada Triwulan I 2026 berhasil dijinakkan di level 2,42 persen.

Angka inflasi 2,42 persen ini bukan sekadar pencapaian statistik, melainkan cerminan nyata dari keberhasilan negara hadir sebagai pelindung ekonomi rakyat. Realisasi ini bahkan lebih rendah dari asumsi dasar makro APBN 2026 yang mematok inflasi di angka 2,5 persen. Keberhasilan menjinakkan "monster" inflasi di tengah badai global ini menjadi bukti tak terbantahkan dari efektivitas bauran kebijakan fiskal yang dikomandoi oleh Kementerian Keuangan.

Kunci utama dari keberhasilan ini terletak pada strategi pemerintah dalam mengendalikan dua komponen inflasi yang paling sensitif terhadap daya beli masyarakat: harga pangan yang sensitif (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered price). Data menunjukkan bahwa inflasi pada kedua komponen tersebut mengalami tren penurunan yang signifikan.

Untuk komponen administered price, inflasi tercatat turun menjadi 1,53 persen. Penurunan ini seiring dengan hilangnya base effect dari kebijakan diskon listrik pada tahun sebelumnya, serta yang paling krusial yaitu terjaganya harga energi domestik. Di saat harga minyak dunia bergejolak, pemerintah mengambil langkah berani dan pro-rakyat dengan berkomitmen penuh mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir tahun 2026.

Keputusan mempertahankan harga BBM bersubsidi ini adalah langkah strategis yang membutuhkan dukungan fiskal yang kuat. Di sinilah peran APBN sebagai peredam kejut (shock absorber) benar-benar diuji dan terbukti berhasil. Dengan menyerap selisih harga energi global, pemerintah memastikan bahwa beban tersebut tidak langsung ditransmisikan kepada masyarakat luas. Langkah ini secara efektif menjaga daya beli kelas menengah ke bawah yang rentan terhadap guncangan harga energi.

Sementara itu, pada komponen volatile food, inflasi juga berhasil ditekan berkat stabilnya harga pangan. Pemerintah tidak tinggal diam melihat potensi krisis pangan global. Melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pasokan pangan nasional dipastikan memadai dengan jalur distribusi yang lancar. Cadangan pangan yang kuat menjadi benteng pertahanan utama dalam mengendalikan harga kebutuhan pokok di pasaran.

Keberhasilan strategi ini tidak hanya tercermin dari angka inflasi, tetapi juga dari pengakuan dunia internasional terhadap ketahanan energi Indonesia. Berdasarkan data perbandingan global, ketahanan energi Indonesia dalam menghadapi krisis saat ini mencapai skor 77 persen. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi kedua tertinggi di antara negara-negara G20 dan ASEAN, hanya terpaut tipis dari Afrika Selatan (79 persen), dan jauh mengungguli negara maju seperti Amerika Serikat (70 persen) maupun Australia (68 persen).

Skor resiliensi yang tinggi ini didasarkan pada posisi Indonesia yang memiliki eksposur rendah terhadap gangguan pasokan energi global, namun didukung oleh buffer fiskal yang sangat kuat. Kebijakan fiskal yang prudent selama ini telah memberikan ruang gerak yang cukup bagi pemerintah untuk bermanuver di saat krisis melanda.

Lebih jauh lagi, tren kenaikan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia, seperti batu bara, nikel, dan tembaga, justru menciptakan pelindung nilai alami bagi APBN. Kenaikan penerimaan negara dari sektor komoditas ini memberikan amunisi tambahan bagi pemerintah untuk membiayai program-program subsidi dan perlindungan sosial tanpa mengorbankan kesehatan fiskal secara keseluruhan.

Ke depan, tantangan global mungkin belum akan mereda dalam waktu dekat. Namun, dengan rekam jejak keberhasilan di kuartal pertama ini, masyarakat patut bernapas lega. Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, telah membuktikan kapasitasnya dalam meracik kebijakan yang menyeimbangkan antara stabilitas makroekonomi dan perlindungan daya beli rakyat.

Inflasi yang terkendali di angka 2,42 persen adalah fondasi yang kokoh untuk menyongsong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. Dengan daya beli yang terjaga, roda konsumsi domestik akan terus berputar, menggerakkan sektor riil, dan pada akhirnya membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Optimisme ini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan sebuah realitas yang dibangun di atas data dan kerja keras pemerintah.

Dalam konteks ini, komitmen pemerintah untuk terus menjaga stabilitas harga pangan dan energi bukan hanya sekadar janji politis, tetapi merupakan keputusan yang didukung penuh oleh kapasitas fiskal yang kuat dan manajemen APBN yang bijaksana. Dengan terus mengoptimalkan penerimaan negara dan mengalokasikan belanja secara efisien, pemerintah memiliki ruang yang cukup untuk mempertahankan subsidi dan program perlindungan sosial hingga akhir tahun 2026 tanpa mengorbankan kesehatan finansial negara jangka panjang.

Referensi:

[1]: "Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."

 


 

Membongkar Siasat Curang Ekspor Sawit: DJP dan Kejagung Buru Potensi Rp1,1 Triliun

24 Jun 2026 Tim Labirin

JAKARTA — Sektor kelapa sawit (crude palm oil/CPO) kembali menjadi sorotan tajam otoritas pajak dan penegak hukum di Indonesia. Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) bekerja sama secara simultan dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mendalami dugaan pelanggaran berat perpajakan berupa praktik underinvoicing (penurunan nilai faktur ekspor) dan transfer pricing pada sektor komoditas strategis ini. Sebanyak 32 Wajib Pajak (WP) korporasi kini masuk dalam radar pemeriksaan intensif demi mengikis kebocoran kas negara.

Pengusutan berskala besar ini pertama kali dipicu oleh temuan awal yang diungkap ke publik oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebagai tindak lanjut, DJP langsung menggelar pemeriksaan bukti permulaan hingga tahap penyidikan atas dugaan tindak pidana perpajakan.

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menjelaskan bahwa skema penanganan saat ini terbagi dalam beberapa klaster operasional. Sebanyak 23 WP sektor sawit sedang dalam proses penghitungan nilai kerugian pendapatan negara, sementara 8 WP lainnya sudah masuk ke tahap penanganan lanjutan dengan perluasan area penyidikan hingga tahun pajak 2023.

Berdasarkan taksiran sementara, potensi penerimaan negara yang berhasil dipetakan dari 11 WP dari total daftar tersebut mencapai Rp1,1 triliun. Praktik underinvoicing, modus di mana eksportir melaporkan harga jual komoditas di bawah nilai transaksi riil guna mengecilkan kewajiban pajak, serta skema transfer pricing ke perusahaan afiliasi di luar negeri, dinilai menjadi pintu utama hilangnya potensi penerimaan negara dari lonjakan komoditas global.

Asas Ultimum Remedium dan Sinergi Data Lintas Lembaga

Kendati penegakan hukum berjalan agresif, otoritas perpajakan tetap mengedepankan asas ultimum remedium sesuai dengan rambu-rambu hukum yang berlaku di Indonesia. Asas ini menempatkan sanksi pidana sebagai jalan terakhir, yang memberikan ruang bagi wajib pajak yang kooperatif untuk membetulkan kekeliruannya secara sukarela.

Sepanjang proses pengusutan berjalan, DJP mencatat sudah ada 3 WP sektor sawit yang memanfaatkan skema pembetulan Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan secara mandiri. Ketiganya langsung menyetorkan kas ke negara dengan nilai akumulatif mencapai Rp200 miliar.

Langkah koordinasi yang erat dengan Korps Adhyaksa menjadi pembeda utama dalam pengusutan kali ini. DJP dan Kejagung menerapkan mekanisme pertukaran data secara real-time untuk mempersempit ruang gerak pelaku penyelewengan pajak. Sinergi ini tercermin dari adanya permintaan data 18 wajib pajak terperinci oleh Kejagung yang melacak rekam jejak transaksi hingga 18 tahun ke belakang.

Melalui pembagian yurisdiksi yang matang, satu perkara WP besar saat ini ditangani langsung di tingkat penyidikan Kejagung, sementara DJP memastikan tetap melakukan pengusutan simultan tanpa ego sektoral demi memulihkan keuangan negara.

Mengamankan Rezim Pajak Sektor Komoditas

Secara makroekonomi, ketegasan pemerintah dalam menindak kecurangan pelaporan ekspor CPO merupakan langkah vital demi menjaga keadilan iklim berusaha (level playing field). Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar, sehingga kepatuhan pajak di sektor ini berdampak langsung pada kestabilan APBN nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pihaknya memberikan dukungan penuh dan menyerahkan proses hukum secara independen kepada Kejaksaan Agung.

Melalui pemanfaatan regulasi perpajakan yang kuat dan didukung integrasi data yang transparan, pengusutan ini diharapkan dapat memberikan efek jera (deterrent effect) bagi pelaku industri komoditas. Langkah strategis ini membuktikan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada ekstensifikasi pajak masyarakat kecil, melainkan secara adil dan tegas menegakkan transparansi pada korporasi besar demi kedaulatan ekonomi nasional.

Ketika Tarif Trump Tidak Menghambat Pertumbuhan Ekspor Indonesia ke Amerika Serikat

12 May 2026 Tim Labirin

Kekhawatiran Awal atas Kebijakan Tarif

JAKARTA — Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan kebijakan tarif resiprokal terhadap sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia, kekhawatiran segera muncul di kalangan pelaku usaha. Tambahan bea masuk dinilai berpotensi menurunkan daya saing harga produk Indonesia di pasar Amerika Serikat sekaligus membuka peluang bagi importir untuk beralih ke negara pemasok lain.

 

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Amerika Serikat selama ini menjadi salah satu tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia, terutama untuk komoditas manufaktur seperti mesin dan peralatan elektronik, tekstil dan garmen, alas kaki, furnitur, serta berbagai produk industri lainnya. Setiap perubahan kebijakan perdagangan di negara tujuan sebesar Amerika tentu akan dibaca sebagai ancaman bagi kesinambungan ekspor nasional.

Meski demikian, perkembangan selama masa penerapan tarif menunjukkan bahwa dampaknya terhadap dunia usaha Indonesia tidak sebesar yang sebelumnya diperkirakan.

 

Ekspor Indonesia Terbukti Tetap Bertahan

Data impor Amerika Serikat dari Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan bahwa nilai perdagangan secara keseluruhan masih relatif stabil dan bahkan tetap lebih baik dibandingkan periode tahun sebelumnya. Penyesuaian memang sempat terlihat sesaat setelah pengumuman tarif pada April 2025 maupun ketika tarif hasil negosiasi mulai berlaku pada Agustus 2025. Namun tekanan tersebut tidak berlangsung lama dan tidak sampai mengubah tren umum perdagangan kedua negara.

 

Fakta ini memberi gambaran bahwa tarif tambahan bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan impor di pasar Amerika Serikat. Dalam praktik perdagangan internasional, hubungan antara eksportir dan buyer dibangun bukan hanya atas dasar harga, tetapi juga menyangkut kepastian suplai, kesesuaian spesifikasi, kualitas produk, serta efisiensi distribusi.

 

Sejumlah komoditas utama Indonesia—mulai dari komponen mesin, perlengkapan elektronik, tekstil, alas kaki, furnitur, hingga produk berbasis karet—merupakan bagian dari rantai pasok yang sudah lama terbentuk. Karena itu, importir Amerika tidak serta-merta dapat mengganti pemasok hanya karena adanya kenaikan tarif dalam jangka pendek. Dengan kata lain, kebijakan tarif memang menambah biaya perdagangan, tetapi belum cukup kuat untuk menurunkan permintaan terhadap produk Indonesia secara signifikan.

 

Pembatalan Tarif Menjadi Sentimen Positif

Situasi tersebut kemudian berkembang setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Februari 2026 membatalkan kebijakan tarif resiprokal yang sebelumnya diterapkan melalui International Emergency Economic Powers Act (IEEPA). Putusan tersebut sekaligus diikuti kebijakan pengembalian pungutan bea masuk kepada sekitar 330 ribu perusahaan importir di Amerika Serikat melalui mekanisme refund.

 

Bagi eksportir Indonesia, keputusan ini tentu memberikan sentimen positif. Pengembalian bea masuk kepada importir berarti terdapat tambahan ruang likuiditas di sisi buyer, yang pada gilirannya dapat menjaga bahkan meningkatkan kapasitas pembelian mereka dari luar negeri.

Namun demikian, pembatalan tarif ini lebih tepat dilihat sebagai faktor yang memperlonggar iklim perdagangan daripada sebagai penyelamat atas kondisi ekspor yang sebelumnya tertekan berat. Sebab, selama tarif masih berlaku pun, data menunjukkan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tetap berada pada jalur yang relatif terjaga.

 

Artinya, struktur permintaan pasar Amerika terhadap produk Indonesia pada dasarnya masih cukup kuat.

 

Dimensi Perpajakan Tidak Bisa Diabaikan

Di balik aspek perdagangan tersebut, terdapat dimensi lain yang mulai relevan untuk diperhatikan, yakni implikasi perpajakan pada perusahaan eksportir.

 

Secara administratif, refund bea masuk memang dibayarkan kepada importir di Amerika Serikat. Akan tetapi, dalam praktik bisnis internasional, pembebanan tarif sering kali menjadi bagian dari klausul komersial antara penjual dan pembeli. Tidak tertutup kemungkinan terdapat skema penyesuaian harga, kompensasi biaya, reimbursement, atau pembagian manfaat atas pungutan yang dikembalikan.

 

Dalam situasi seperti ini, perusahaan eksportir Indonesia berpotensi menghadapi perubahan nilai transaksi yang pada akhirnya memengaruhi pencatatan pendapatan maupun beban usaha. Perubahan tersebut tentu tidak berhenti pada laporan keuangan semata, tetapi juga dapat berdampak pada penghitungan kewajiban Pajak Penghasilan Badan apabila terdapat koreksi nilai kontrak atau tambahan penerimaan yang timbul dari transaksi ekspor.

 

Karena itu, isu tarif Trump sesungguhnya tidak hanya berhenti pada persoalan perdagangan luar negeri, melainkan juga menuntut ketelitian administrasi fiskal di tingkat perusahaan. Ketepatan dalam mencatat penyesuaian transaksi, penggantian biaya, maupun manfaat ekonomi lain yang timbul dari refund menjadi penting agar tidak menimbulkan perbedaan pengakuan dalam pembukuan maupun pelaporan perpajakan.

 

Dunia Usaha Indonesia Relatif Adaptif

Pengalaman selama periode tarif Trump memberikan pelajaran bahwa ketahanan ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat tidak semata ditentukan oleh perubahan kebijakan tarif. Yang jauh lebih menentukan justru kemampuan pelaku usaha menjaga harga yang kompetitif, mutu produk, kepastian pengiriman, dan hubungan dagang jangka panjang dengan buyer.

 

Selama faktor-faktor tersebut dapat dipertahankan, tambahan tarif memang dapat menekan margin, tetapi belum tentu langsung menurunkan volume permintaan.

 

Karena itu, anggapan bahwa tarif Trump akan secara drastis mengganggu kinerja ekspor Indonesia tampaknya perlu ditempatkan secara lebih proporsional. Dinamika proteksionisme Amerika Serikat tetap harus dicermati, tetapi data menunjukkan bahwa dunia usaha nasional memiliki kapasitas adaptasi yang cukup baik dalam menghadapi perubahan tersebut.

 

Pada akhirnya, tarif Trump memang menciptakan tekanan biaya, namun tidak sampai mengubah secara mendasar peta ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Tantangan berikutnya justru terletak pada kemampuan eksportir memanfaatkan ruang perdagangan yang kembali terbuka, sembari memastikan seluruh konsekuensi keuangan dan perpajakan dari transaksi tersebut dikelola secara tepat.

Perlu Sistem Whistleblowing Pajak yang Kuat untuk Dukung Pengawasan Publik

30 Jun 2025 Tim Labirin

Dalam kurun waktu 2018 hingga 2024, tren pengaduan pelanggaran perpajakan menunjukkan penurunan, dan hanya sebagian kecil yang ditindaklanjuti hingga tahap pemeriksaan bukti permulaan. Rendahnya efektivitas ini disebabkan oleh lemahnya kualitas laporan—banyak yang tidak didukung bukti, informasi minim, atau tidak relevan dengan tindak pidana perpajakan.

Saat ini, belum terdapat regulasi khusus yang mengatur secara menyeluruh penanganan pengaduan pelanggaran perpajakan, termasuk perlindungan bagi pelapor. Padahal, pelaporan masyarakat berperan penting dalam mendukung sistem perpajakan berbasis self-assessment yang dijalankan di Indonesia. Sebagai perbandingan, pengelolaan pengaduan pelanggaran oleh pegawai di Kementerian Keuangan sudah diatur dengan cukup baik, termasuk aspek perlindungan identitas dan insentif bagi pelapor.

Studi internasional menunjukkan bahwa negara-negara seperti AS dan Korea Selatan berhasil meningkatkan pelaporan pelanggaran pajak melalui Whistleblowing System yang memberikan perlindungan hukum dan insentif finansial bagi pelapor.

Penerapan sistem whistleblowing yang lebih terstruktur dan didukung regulasi kuat di bidang perpajakan dinilai dapat mendorong partisipasi publik dalam pelaporan kecurangan pajak. Selain memperkuat perlindungan pelapor, sistem ini juga dapat membantu menyaring laporan yang benar-benar layak ditindaklanjuti. Untuk itu, pembentukan kebijakan khusus terkait whistleblowing di bidang perpajakan menjadi langkah penting dalam memperbaiki tata kelola dan meningkatkan kepatuhan perpajakan di Indonesia.


Petugas Bakal Diperiksa terkait Pungli Sopir Bajaj yang Viral

30 Jun 2025 Kompas

Bobroknya tata kelola parkir di Jakarta terungkap lewat video viral petugas derek yang diduga melakukan pungutan liar kepada sopir bajaj. Dishub Daerah Khusus Jakarta bakal memeriksa petugas tersebut dan memberikan sanksi kepada mereka yang terlibat dalam pungli itu. Video diunggah pada 27 Juni 2025 itu memperlihatkan dugaan praktik pungli oleh petugas derek Dishub di Jalan Salemba Raya, Jakpus. Dalam video, tampak sopir bajaj tengah membeli sesuatu dari pedagang kaki lima. Si perekam video lalu menyebut sopir bajaj kerap menyetor sebungkus rokok kepada petugas Dishub di Salemba Raya. Sopir bajaj terekam berjalan ke arah mobil derek yang berhenti di tepi jalan. Ia menyerahkan sebungkus rokok, kepada petugas di mobil derek. Setelah itu, petugas pun berlalu. Si perekam lantas menyudahi videonya dengan mengatakan petugas Dishub naik mobil dan pakai seragam masih saja memalak sopir bajaj.

Kadis Perhubungan Jakarta, Syafrin Liputo membenarkan adanya video viral tersebut. Ia sudah menerima laporan, termasuk dari media massa. ”Setelah mendapat informasi tersebut, saya langsung bertindak,  mengidentifikasi kendaraan yang digunakan, lokasinya di mana sehingga bisa dapat siapa saja yang menjadi petugas unit tersebut,” kata Syafrin, selepas BTN Jakarta International Marathon 2025 di Jakarta, Minggu(29/6). Pihaknya baru akan memeriksa petugas di dalam mobil derek itu pada Senin (30/6). Alasannya, kejadiannya baru terungkap pada akhir pecan atau hari libur. Satu tim mobil derek terdiri dari empat petugas. Syafrin menyebutkan, belum tahu siapa saja yang melakukan pungli. Namun, pihaknya akan memeriksa petugas yang terlibat. Pungli harus diberantas agar kelak tidak terulang lagi. ”Sanksinya pasti tegas. Jika terbukti pungli, akan diberhentikan dari PJLP (penyedia jasa lainnya perseorangan) atau sanksi tegas bagi ASN sesuai ketentuan,” ujar Syafrin. (Yoga)


Produksi Tembakau Sintetis dari Kamar Kos

29 Jun 2025 Kpmpas

Satres Narkoba Polreta Bandar Lampung membongkar praktik pembuatan tembakau sintetis yang dikerjakan di dalam kamar kos di Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, Lampung. Pelaku sudah empat bulan meracik narkotika tersebut seorang diri. Kapolresta Bandar Lampung, Kombes Alfret Jacob Tilukay mengatakan, polisi menangkap MR (33), peracik tembakau sintetis sekaligus kurir yang mengantar narkotika tersebut pada pembeli. Pelaku merupakan warga Tangerang, Banten, yang datang ke Lampung untuk meracik narkoba. Pelaku ditangkap pada Kamis (19/6) pukul 02.00 WIB, saat pelaku hendak mengantar pesanan tembakau sintetis di wilayah Kelurahan Gedong Air, Tanjung Karang Barat. Polisi lalu mengembangkan penyelidikan dan berhasil membongkar pembuatan tembakau sintetis yang dilakukan pelaku di kamar kos diwilayah Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Kemiling. Kamar kos tersebut disewa empat bulan lalu untuk dijadikan industri rumahan tembakau sintetis.

Menurut Alfret, Sabtu (28/6), G, seorang bandar narkoba menyewakan sebuah kamar kos di Bandar Lampung dan memerintahkan MR untuk memproduksi tembakau sintetis dan cairan sintetis yang diedarkan di wilayah Bandar Lampung. ”Bahan baku disediakan bandar narkoba di Jakarta,” ujarnya. Dari pekerjaan itu, MR mendapat gaji Rp 10 juta setiap bulan. Pelaku menyewa kamar yang berada dilantai satu dari rumah kos dua lantai yang berada di kompleks perumahan di Kelurahan Sumber Rejo. Setiap hari Pelaku belajar membuat tembakau sintetis dari bandar narkoba yang menyuruhnya. MR mengaku hanya satu kali belajar langsung bisa memproduksi tembakau sintetis seorang diri. Kasat Reserse Narkoba Polresta Bandar Lampung, Komisaris I Made Indra Wijaya mengatakan, pelaku diduga memproduksi 200 mililiter cairan tembakau sintetis seorang diri. Adapun kerugian akibat bisnis narkotika ini diduga mencapai Rp 800 juta. (Yoga)


Kerjasama Bilateral Indonesia-Korsel

29 Jun 2025 Kompas

Pemilu presiden yang dipercepat pada 3 Juni 2025 menempatkan Lee Jae-myung dari Partai Demokrat Liberal sebagai Presiden Korsel. Lee dipastikan akan melanjutkan kebijakan kerja sama Korsel-ASEAN dan India yang diinisiasi Presiden Moon Jae-in, presiden dari Partai Demokrat terdahulu. Kebijakan itu adalah New Southern Policy (NSP) yang diluncurkan November 2017 di Indonesia oleh Pemerintah Korsel untukmempererat hubungan ekonomi Korsel-ASEAN. NSP juga menjadi cara Korsel mencapai keseimbangan hubungan diplomatik. Rakyat, perdamaian, dan kemakmuran merupakan tiga pilar NSP sekaligus landasan mewujudkan visi NSP. NSP bertujuan membentuk kerangka ekonomi dan diplomatik multilateral karena Korsel berupaya mendiversifikasi pasar eksternalnya serta membuat ekonominya lebih tangguh dan mudah beradaptasi dengan perubahan lanskap diplomasi luar negeri dan hubungan internasional.

Naiknya Lee Jae-myung, menurut pengajar studi sejarah Fakultas Ilmu Budaya UI, Afriadi, Sabtu (21/6), sebagai titik balik yang baik untuk membawa program jet tempur KF-21 dan Proyek kolaborasi IFX (Indonesia Fighter Xperiment) yang tengah dikembangkan antara Korsel dan Indonesia kembali ke perundingan teknologi terkait, sebagaimana diberitakan Yonhap pada 13 Juni 2025, Korsel dan Indonesia sudah menyelesaikan kesepakatan baru terkait proyek KF-21 pada 11 Juni di Jakarta. Seoul sepakat memangkas kontribusi pendanaan Jakarta terhadap proyek jet tempur gabungan KF-21 menjadi 600 miliar won atau 443 juta USD. ”Angka terbaru itu sepertiga dari jumlah awal,” kata Badan Pengadaan Pertahanan Korsel, Defense Acquisition Program Administration (DAPA) yang memberi kejelasan atas ketidakpastian pembiayaan proyek senilai 8,1triliun won itu. Pada 28 April 2025 Presiden Prabowo menerima delegasi Federation of Korean Industries (FKI) dengan investasi hingga 1,7 miliar USD di Indonesia. (Yoga)


Fregat, Kapal Tempur Canggih Karya Anak Bangsa

29 Jun 2025 Kompas

Di dok kering gigantik galangan kapal PT PAL Indonesia, Surabaya, Jatim, Rabu (25/6) blok lambung kapal berwarna abu-abu, sebagian sudah tersambung, diselimuti jaring-jaring perancah. Di beberapa sudut terlihatpara pekerja sibuk mengelas tumpukan baja menjadi bangunan fregat yang bakal diberi nama Merah Putih. Fregat Merah Putih itu merupakan pesanan Kemenhan. Pembangunan unit pertama dari dua fregat Merah Putih itu telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dari total 161 blok fabrikasi yang membentuk struktur kapal, 103 telah memasuki tahap erection kapal atau penyambungan blok. Artinya, dua pertiga ”kepingan lego” raksasa itu telah menyatu. Pembangunan konstruksi kapal perang jenis fregat itu telah mencapai 66 %. Setelah peletakan lunas (keel laying) pada 2023, PT PAL Indonesia menargetkan fregat pertama diluncurkan akhir 2025, yang menjadi langkah awal sebelum serangkaian penyempurnaan dan uji coba.

Rencananya, kapal perang itu akan diserahkan ke Kemenhan pada Agustus 2026. Direktur Produksi PT PAL Indonesia, Diana Rosa mengklaim, fregat Merah Putih akan menjadi kapal perang tercanggih di Indonesia kalau sudah berlayar. Fregat Merah Putih merupakan kapal besar dengan panjang 140 meter dan bobot muatan penuh 6.000 ton, jauh melampaui kapal kelas Martadinata andalan TNI AL saat ini, yang berbobot 2.400 ton. Lompatan paling signifikan terletak pada daya gempur dan fleksibilitas persenjataannya. Jika kelas Martadinata dibekali 12 sel peluncur vertikal (VLS), fregat Merah Putih membawa 64 sel VLS Universal Midass, yang memungkinkannya membawa kombinasi maut berbagai jenis rudal, mulai dari rudal pertahanan udara jarak menengah sampai jauh hingga rudal anti kapal (SSM) dari tabung yang sama. Kemampuan pengamatan, mengadopsi sistem radar ganda canggih, 3D Surveillance Radar dan Multi Function Radar, diperkuat meriam utama76 milimeter (mm) dan sistem CIWS 35 mm. (Yoga)


Kejaksaan Ajukan Banding Resmi

26 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Kejaksaan Agung (Kejagung) resmi mengajukan banding terhadap vonis 16 tahun penjara yang dijatuhkan kepada mantan pejabat Mahkamah Agung (MA), Zarof Ricar, dalam kasus pemufakatan jahat dan gratifikasi. Langkah ini diumumkan oleh Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Harli Siregar, pada 25 Juni 2025, meskipun alasan spesifik banding tidak diungkap ke publik. Banding tersebut telah teregister dengan nomor 42/Akta.Pid.Sus/TPK/2025/PN.JKT.PST.

Sebelumnya, Ketua Majelis Hakim Rosihan Juhriah Rangkuti dalam persidangan menyampaikan bahwa perbuatan Zarof sangat memberatkan karena tidak mendukung upaya pemberantasan korupsi, serta mencederai nama baik lembaga Mahkamah Agung. Bahkan, dalam pembacaan vonis, Juhriah sempat terisak ketika menegaskan bahwa tindakan Zarof telah menghilangkan kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan. Hakim juga menyoroti sifat keserakahan Zarof yang tetap melakukan korupsi meski telah memiliki harta berlimpah dan menjabat hingga masa purnabakti.

Banding yang diajukan Kejagung mencerminkan tekad lembaga penegak hukum untuk menuntut hukuman yang lebih setimpal terhadap pelaku korupsi, khususnya dari kalangan aparat peradilan, demi menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum Indonesia.


Membuka Babak Baru Boeing dibawah Kepemimpinan Penny Brutt

25 Jun 2025 Kompas (H)

Boeing menaruh perhatian khusus mengenai jet tempur F-15EX. Pemerintah Indonesia pun dikabarkan menaruh perhatian terhadap jet tempur yang memiliki spesifikasi muatan yang unggul, jangkauan dan kecepatan tak tertandingi, serta kemampuan peperangan elektronik. Penny Burtt, Presiden Boeing untuk kawasan Asia Tenggara, mengulas kemampuan jet tempur itu dan jalinan kerja sama Boeing dengan Pemerintah RI di sela-sela pameran industri pertahanan Indo Defence 2024 Expo and Fo-rum di Jakarta yang digelar 11-14 Juni 2025. Penny berpengalaman dibidang diplomasi, perdagangan internasional, serta bertanggung jawab untuk operasi, strategi dan kehadiran Boeing di Asia Tenggara. Boeing ingin menggaris bawahi komitmen yang mendalam kepada Indonesia dan memperlihatkan teknologi dan inovasi yang terdepan dalam pertahanan dan keamanan.

Beberapa bidang khusus yang menjadi fokus Boeing diantaranya menyoroti kapasitas jet tempur F-15EX. Pesan khusus Boeing di Indo Defence 2024 Expo and Forum adalah Boeing berkomitmen untuk Indonesia dalam jangka panjang dan bermitra untuk membangun sektor kedirgantaraan dan penerbangan Indonesia, termasuk melalui dukungan pertahanan dan keamanan. Visi Presiden Prabowo berpikir tentang modernisasi pertahanan Indonesia dan keamanan masa depan, modernisasi Indonesia difokuskan pada independensi, integritas teritorialnya dan kebebasan serta kemakmuran untuk masa depan. Dan Boeing, dapat memainkan peran penting membantu mencapai visi itu di masa depan.

Salah satu cara terbaik melalui jet tempur F-15 yang menawarkan muatan yang unggul, terbaik di kelasnya, serta jangkauan dan kecepatan yang tak tertandingi, sudah terbukti dan siap tempur. Dan memiliki kemampuan peperangan elektronik yang fantastis. Boeing berkomitmen untuk jangka panjang. Penjualan F-15 yang potensial, akan disertai persyaratan offset (imbal dagang) sehingga memungkinkan serangkaian kemitraan baru untuk pendalaman industri dibidang pertahanan dan keamanan dalam membangun kapasitas, pemeliharaan, pelatihan, hingga suku cadang. Boeing telah ada di Indonesia selama 76 tahun. Penandatanganan nota kesepahaman antara Boeing dan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) (pada Rabu, 11/6) adalah yang terbaru. (Yoga)


KPK Dalami Kasus Gratifikasi di Lembaga Negara

24 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi mengusut kasus baru dugaan gratifikasi terkait pengadaan barang dan jasa di lingkungan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang terjadi dalam rentang waktu 2019–2021. Menurut Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, penyidik telah menetapkan satu orang tersangka dan terus melakukan pendalaman dengan memeriksa sejumlah saksi.

Dua saksi yang telah diperiksa yakni Cucu Riwayati, Pejabat Pengadaan Barang/Jasa Setjen MPR 2020–2021, dan Fahmi Idris, anggota Kelompok Kerja Pengadaan Setjen MPR tahun 2020. Kasus ini merupakan kelanjutan dari proses penyelidikan sebelumnya yang kini telah naik ke tahap penyidikan.

Sekretaris Jenderal MPR saat ini, Siti Fauziah, menegaskan bahwa perkara tersebut tidak melibatkan unsur pimpinan MPR, baik yang lama maupun yang menjabat saat ini. Ia menekankan bahwa tanggung jawab atas kasus ini berada pada ranah administratif dan teknis Sekretariat Jenderal MPR, khususnya pada masa kepemimpinan Dr. Ma’ruf Cahyono, SH, MH sebagai Sekjen saat itu.

Kasus ini mencerminkan upaya berkelanjutan KPK dalam menindak praktik korupsi di lembaga negara, sekaligus menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan barang dan jasa di lingkungan legislatif.


Saat Listrik Jawa Tersandera Batu Bara, Harga Ekspor, dan Lemahnya Tata Kelola DMO

28 Jun 2026 Tim Labirin

Jakarta — Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa pada Juni 2026 kembali membuka persoalan lama dalam tata kelola energi nasional: Indonesia adalah produsen dan eksportir batu bara besar, tetapi sistem kelistrikannya tetap rentan ketika batu bara yang dibutuhkan PLTU tidak tersedia tepat waktu, sesuai spesifikasi, dan dalam volume yang cukup.

Krisis ini tidak dapat dibaca secara sederhana sebagai “PLN kehabisan batu bara”. Persoalannya lebih kompleks. Di satu sisi, PLN membutuhkan batu bara dengan spesifikasi tertentu, terutama medium rank coal atau batu bara kalori menengah untuk kebutuhan sejumlah PLTU. Di sisi lain, harga batu bara internasional sedang menarik, sementara harga batu bara untuk kebutuhan domestik melalui skema Domestic Market Obligation/DMO masih dibatasi. Perbedaan harga inilah yang menciptakan tarik-menarik antara kepentingan menjaga pasokan listrik nasional dan kepentingan komersial pelaku usaha batu bara.

PLN menyatakan bahwa pihaknya mempercepat pengadaan batu bara kalori menengah untuk pembangkit listrik. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut perseroan mempercepat penandatanganan kontrak dengan pemasok batu bara, khususnya pemasok medium rank coal yang telah mendapat penugasan dari pemerintah. Pasokan tersebut diarahkan ke sejumlah PLTU strategis di Jawa, antara lain Suralaya, Pelabuhan Ratu, Lontar, Labuan, Jawa 7, Jawa 9–10, Indramayu, Paiton, Rembang, Pacitan, dan Tanjung Awar-Awar.

Kementerian ESDM mencatat kebutuhan batu bara PLN pada 2026 mencapai sekitar 154 juta metrik ton per tahun. Dari jumlah tersebut, PLN telah mengamankan kontrak sekitar 134 juta ton, sehingga masih terdapat kebutuhan yang belum sepenuhnya tertutup. Kendala utama berada pada batu bara kalori menengah, khususnya dengan spesifikasi sekitar 5.200 kcal/kg GAR, yang dibutuhkan untuk proses pembangkitan dan pencampuran atau blending di sejumlah PLTU.

Masalah menjadi lebih sensitif karena harga batu bara global pada Juni 2026 bergerak tinggi. Reuters melaporkan pasar batu bara global mengalami tekanan pasokan akibat gangguan produksi di China, ketidakpastian kebijakan ekspor Indonesia, gangguan pasokan LNG, serta peningkatan permintaan dari negara-negara Asia. Kondisi tersebut mendorong indeks batu bara Newcastle mendekati level tertinggi hampir dua tahun, di atas US$150 per metrik ton.

Di dalam negeri, Harga Batu Bara Acuan atau HBA periode kedua Juni 2026 juga meningkat. Keputusan Menteri ESDM Nomor 253.K/MB.01/MEM.B/2026 menetapkan HBA periode kedua Juni 2026, sementara pemberitaan pasar mencatat HBA batu bara 6.322 GAR berada pada level US$123,91 per ton, dan HBA I 5.300 GAR berada pada US$88,40 per ton.

Sementara itu, harga DMO batu bara untuk sektor kelistrikan masih dipatok US$70 per ton. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjaga agar biaya pembangkitan listrik tidak melonjak dan tarif listrik masyarakat tetap terkendali. Namun, ketika harga pasar internasional berada jauh di atas harga DMO, muncul insentif ekonomi bagi pelaku usaha untuk lebih tertarik menjual batu bara ke pasar ekspor. Kementerian ESDM sendiri menjelaskan bahwa DMO menetapkan kewajiban pasokan dalam negeri minimal 25% dari rencana produksi, dengan harga batu bara untuk kelistrikan umum sebesar US$70 per metrik ton sebagai harga batas atas apabila HBA melebihi US$70.

Kesenjangan harga tersebut menjadi salah satu akar persoalan. Pada satu sisi, pemerintah membutuhkan batu bara murah agar biaya listrik tetap terjaga. Pada sisi lain, pengusaha batu bara menghadapi biaya produksi yang meningkat dan peluang memperoleh harga lebih tinggi di pasar ekspor. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahkan membuka peluang mengkaji ulang harga DMO agar PLN tidak dirugikan, tetapi pengusaha batu bara juga tidak dipaksa menjual pada harga yang dianggap terlalu rendah. Ia menyebut biaya produksi batu bara kalori menengah meningkat, antara lain karena stripping ratio yang tinggi.

Pandangan serupa juga muncul dari pelaku industri. APBI menilai harga DMO yang tidak berubah sejak 2018 tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kondisi biaya industri saat ini, termasuk kenaikan biaya bahan bakar, alat berat, upah, logistik, dan kewajiban lingkungan. Perhapi juga menyoroti bahwa kebutuhan PLN banyak berada pada batu bara kalori menengah, sementara struktur harga DMO untuk batu bara jenis tersebut dapat jatuh jauh lebih rendah dibanding harga pasar global.

Dalam kondisi demikian, DMO menjadi instrumen yang sangat penting, tetapi sekaligus rawan. Tanpa DMO, pengusaha batu bara memiliki dorongan lebih besar untuk mengejar pasar ekspor karena harga luar negeri lebih menarik. Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Pati Jaya menyebut bahwa sebelum kebijakan DMO diterapkan, penambang batu bara cenderung lebih memilih ekspor karena harga jual luar negeri lebih tinggi dibanding harga domestik. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa DMO lahir untuk mencegah pasokan energi nasional kalah bersaing dengan pasar ekspor.

Namun, keberadaan DMO saja tidak cukup apabila pengawasan, kontrak, kualitas batu bara, dan logistik tidak terkendali. Pada 26 Juni 2026, Kementerian ESDM menyatakan sempat menahan sementara pengiriman ekspor batu bara tertentu untuk mengamankan batu bara dengan nilai kalori yang disyaratkan bagi pembangkit PLN. Hingga saat itu, sekitar 141 juta metrik ton batu bara telah diamankan dari total kebutuhan tahunan 154 juta metrik ton, dan ekspor disebut kembali berjalan normal setelah pasokan dalam negeri membaik.

Langkah penahanan ekspor tersebut menunjukkan bahwa pemerintah melihat adanya risiko nyata pada pasokan energi primer PLN. Artinya, masalah ini bukan semata persoalan teknis pembangkit, tetapi juga menyangkut tata kelola pasokan batu bara dari hulu ke hilir: mulai dari kewajiban DMO, penugasan pemasok, kontrak, spesifikasi kalori, blending, transportasi, hingga kesiapan stok di PLTU.

Pemadaman bergilir kemudian terjadi ketika gangguan pasokan energi primer bertemu dengan gangguan teknis pembangkit. PLN menyebut adanya dua PLTU besar milik Independent Power Producer atau IPP yang mengalami gangguan teknis dan keluar dari sistem kelistrikan Pulau Jawa. Dalam sistem listrik yang harus seimbang setiap saat antara pasokan dan beban, keluarnya pembangkit besar dari sistem dapat memaksa PLN melakukan manajemen beban agar jaringan tidak mengalami gangguan yang lebih luas.

Institute for Essential Services Reform atau IESR menilai pemadaman bergilir di Jawa perlu diinvestigasi secara transparan. IESR menduga gangguan tersebut dipicu rendahnya cadangan bahan bakar di sejumlah PLTU sistem Jawa-Bali, sehingga pembangkit harus beroperasi di bawah kapasitas optimal. IESR juga menyoroti kemungkinan Hari Operasi Pembangkit atau HOP berada di bawah batas aman, serta faktor lain seperti gangguan pembangkit, minimnya cadangan daya, jadwal perawatan pembangkit yang tidak sinkron, dan gangguan transmisi.

Dengan demikian, pemadaman listrik 2026 memperlihatkan tiga kerentanan sekaligus. Pertama, ketergantungan sistem listrik Jawa pada PLTU batu bara masih sangat besar. Kedua, pasokan batu bara untuk PLN tidak hanya bergantung pada jumlah produksi nasional, tetapi juga pada insentif harga, kepatuhan DMO, dan kesesuaian kualitas batu bara. Ketiga, ketika harga internasional tinggi, pengawasan pemerintah harus lebih kuat agar kebutuhan domestik tidak kalah oleh orientasi ekspor.

Pelajaran penting dari kejadian ini adalah bahwa ketahanan listrik nasional tidak cukup dijaga dengan angka produksi batu bara nasional yang besar. Yang lebih penting adalah memastikan batu bara yang dibutuhkan PLTU benar-benar tersedia di lokasi pembangkit, sesuai spesifikasi, tepat waktu, dan tidak tersisih oleh insentif ekspor. Jika selisih harga antara DMO dan pasar internasional terlalu lebar tanpa pengawasan yang kuat, maka sistem listrik nasional akan terus menghadapi risiko yang sama: batu bara ada, tetapi tidak cukup tersedia untuk pembangkit ketika paling dibutuhkan.

Rujukan Utama

Kementerian ESDM, Pemerintah Awasi dan Kawal Ketat Pasokan Batubara untuk Kelistrikan, 26 Juni 2026. Kementerian ESDM RI - Media Center - News Archives - Pemerintah Awasi dan Kawal Ketat Pasokan Batubara untuk Kelistrikan
ANTARA, PLN percepat pengadaan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik, 20 Juni 2026. PLN percepat pengadaan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik - ANTARA News Jawa Timur
Reuters, China mine disaster, Indonesia policy changes upend global coal market, 16 Juni 2026. China mine disaster, Indonesia policy changes upend global coal market | Reuters
Kementerian ESDM, As of 1 January 2020, DMO is Set at 25% and Sales Price to Power Plant USD 70 per Ton. Kementerian ESDM RI - Media Center - News Archives - As of 1 January 2020, DMO is Set at 25% and Sales Price to Power Plant USD 70 per Ton
Bloomberg Technoz, Bahlil Tegaskan Belum Akan Kerek Harga Batu Bara DMO, Baru Kajian, Juni 2026. Bahlil Tegaskan Belum Akan Kerek Harga Batu Bara DMO, Baru Kajian - Energi - Page 2
IESR, IESR Pertanyakan Keandalan Sistem Kelistrikan Jawa dan Mendesak Investigasi Transparan Gangguan Listrik, 11 Juni 2026. IESR Pertanyakan Keandalan Sistem Kelistrikan Jawa dan Mendesak Investigasi Transparan Gangguan Listrik - IESR

 

Membongkar Siasat Curang Ekspor Sawit: DJP dan Kejagung Buru Potensi Rp1,1 Triliun

24 Jun 2026 Tim Labirin

JAKARTA — Sektor kelapa sawit (crude palm oil/CPO) kembali menjadi sorotan tajam otoritas pajak dan penegak hukum di Indonesia. Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) bekerja sama secara simultan dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mendalami dugaan pelanggaran berat perpajakan berupa praktik underinvoicing (penurunan nilai faktur ekspor) dan transfer pricing pada sektor komoditas strategis ini. Sebanyak 32 Wajib Pajak (WP) korporasi kini masuk dalam radar pemeriksaan intensif demi mengikis kebocoran kas negara.

Pengusutan berskala besar ini pertama kali dipicu oleh temuan awal yang diungkap ke publik oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebagai tindak lanjut, DJP langsung menggelar pemeriksaan bukti permulaan hingga tahap penyidikan atas dugaan tindak pidana perpajakan.

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menjelaskan bahwa skema penanganan saat ini terbagi dalam beberapa klaster operasional. Sebanyak 23 WP sektor sawit sedang dalam proses penghitungan nilai kerugian pendapatan negara, sementara 8 WP lainnya sudah masuk ke tahap penanganan lanjutan dengan perluasan area penyidikan hingga tahun pajak 2023.

Berdasarkan taksiran sementara, potensi penerimaan negara yang berhasil dipetakan dari 11 WP dari total daftar tersebut mencapai Rp1,1 triliun. Praktik underinvoicing, modus di mana eksportir melaporkan harga jual komoditas di bawah nilai transaksi riil guna mengecilkan kewajiban pajak, serta skema transfer pricing ke perusahaan afiliasi di luar negeri, dinilai menjadi pintu utama hilangnya potensi penerimaan negara dari lonjakan komoditas global.

Asas Ultimum Remedium dan Sinergi Data Lintas Lembaga

Kendati penegakan hukum berjalan agresif, otoritas perpajakan tetap mengedepankan asas ultimum remedium sesuai dengan rambu-rambu hukum yang berlaku di Indonesia. Asas ini menempatkan sanksi pidana sebagai jalan terakhir, yang memberikan ruang bagi wajib pajak yang kooperatif untuk membetulkan kekeliruannya secara sukarela.

Sepanjang proses pengusutan berjalan, DJP mencatat sudah ada 3 WP sektor sawit yang memanfaatkan skema pembetulan Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan secara mandiri. Ketiganya langsung menyetorkan kas ke negara dengan nilai akumulatif mencapai Rp200 miliar.

Langkah koordinasi yang erat dengan Korps Adhyaksa menjadi pembeda utama dalam pengusutan kali ini. DJP dan Kejagung menerapkan mekanisme pertukaran data secara real-time untuk mempersempit ruang gerak pelaku penyelewengan pajak. Sinergi ini tercermin dari adanya permintaan data 18 wajib pajak terperinci oleh Kejagung yang melacak rekam jejak transaksi hingga 18 tahun ke belakang.

Melalui pembagian yurisdiksi yang matang, satu perkara WP besar saat ini ditangani langsung di tingkat penyidikan Kejagung, sementara DJP memastikan tetap melakukan pengusutan simultan tanpa ego sektoral demi memulihkan keuangan negara.

Mengamankan Rezim Pajak Sektor Komoditas

Secara makroekonomi, ketegasan pemerintah dalam menindak kecurangan pelaporan ekspor CPO merupakan langkah vital demi menjaga keadilan iklim berusaha (level playing field). Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar, sehingga kepatuhan pajak di sektor ini berdampak langsung pada kestabilan APBN nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pihaknya memberikan dukungan penuh dan menyerahkan proses hukum secara independen kepada Kejaksaan Agung.

Melalui pemanfaatan regulasi perpajakan yang kuat dan didukung integrasi data yang transparan, pengusutan ini diharapkan dapat memberikan efek jera (deterrent effect) bagi pelaku industri komoditas. Langkah strategis ini membuktikan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada ekstensifikasi pajak masyarakat kecil, melainkan secara adil dan tegas menegakkan transparansi pada korporasi besar demi kedaulatan ekonomi nasional.

Emas yang Menguap: Kerugian Pajak di Balik TKA Ilegal dan Tambang Tak Berizin

02 Jun 2026 Tim Labirin

Awal Mei 2026, publik kembali dikejutkan oleh penangkapan 24 Warga Negara Asing (WNA) asal China di lokasi tambang emas Gunung Botak, Maluku. Kejadian ini seolah memutar ulang kaset kusut. Mundur ke November 2025 di Sulawesi, entitas tanpa izin seperti PT Xinfeng dilaporkan menyerobot lahan dan mempekerjakan tenaga kerja asing (TKA) ilegal. Jejak serupa dari Bolaang Mongondow Timur, Kalimantan Barat, hingga berbagai pelosok negeri terus berulang sejak bertahun-tahun lalu. Sayangnya, kita masih saja terjebak melihat rentetan peristiwa ini semata-mata sebagai isu pelanggaran visa.

Padahal, membanjirnya TKA ilegal di sektor pertambangan tak berizin adalah manifestasi paling brutal dari membesarnya gurita shadow economy (ekonomi bayangan) di Indonesia. Ini bukan sekadar masalah kedaulatan imigrasi, melainkan kejahatan ekonomi terstruktur yang secara masif merampok penerimaan pajak negara.

Ketika sebuah operasi tambang berjalan tanpa izin resmi dan digerakkan oleh pekerja asing tanpa dokumen, mereka sepenuhnya bersembunyi di ruang gelap ekonomi. Mereka mengeruk sumber daya alam bernilai tinggi, memprosesnya, dan menjualnya di pasar gelap, luput dari pantauan Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Artinya, negara kehilangan potensi Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari miliaran bahkan triliunan rupiah rantai transaksi yang terjadi. Belum lagi hilangnya royalti dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang seharusnya menjadi kompensasi atas pengerukan bumi pertiwi.

Lebih menyesakkan lagi bila kita menghitung kebocoran dari sisi Pajak Penghasilan individu (PPh Pasal 21). Pekerja ekspatriat di sektor pertambangan, apalagi yang memiliki keahlian khusus, umumnya menerima kompensasi yang sangat besar. Jika mereka masuk secara legal seperti WNA di beberapa tambang di Aceh Barat atau Nabire, negara berhak memungut pajak atas penghasilan tersebut. Namun, karena mereka bekerja secara gelap, beban pajak itu nihil.

Terdapat ketidakadilan yang luar biasa di sini. Seorang karyawan swasta di Jakarta, buruh pabrik di Surabaya, hingga pelaku UMKM dipaksa patuh dipotong pajaknya setiap bulan. Di saat yang bersamaan, sindikat tambang tak berizin dan pekerja asing ilegal bebas mengangkut kekayaan dari perut bumi Nusantara tanpa menyetor sepeser pun untuk pembangunan infrastruktur kita.

Tentu saja, kita harus berpikir jernih dan objektif. Penolakan membabi-buta terhadap kehadiran pekerja asing juga keliru. Investasi Asing Langsung (FDI) dan transfer teknologi dari TKA ahli sangat krusial, terutama untuk menyukseskan agenda hilirisasi mineral nasional. Kehadiran TKA legal dan tercatat adalah katalis pertumbuhan yang menciptakan efek ganda bagi ekonomi lokal. Namun, garis batasnya sangat jelas: modal harus masuk lewat pintu depan dan taat aturan main. Investasi gelap yang mendanai operasi tak berizin bukanlah katalis, melainkan parasit yang mendistorsi pasar dan membunuh daya saing perusahaan tambang formal yang patuh pajak.

Penanganan kasus tambang tak berizin sudah saatnya bergeser dari sekadar operasi yustisi keimigrasian menjadi investigasi kejahatan finansial lintas otoritas. Mendeportasi pekerja kasar di lapangan tidak akan mematikan mesin shadow economy ini selama aktor intelektualnya (beneficial owner) tetap tidak tersentuh. Fokus penegakan hukum kini harus diarahkan pada pelacakan aliran dana, pemblokiran aset, dan pemulihan kerugian penerimaan negara melalui instrumen audit perpajakan yang agresif. Pada akhirnya, membiarkan kebocoran ini terus berulang bukan hanya mencerminkan kelemahan birokrasi, tetapi juga sebuah ketidakadilan fatal: membiarkan para perampok kekayaan alam menikmati bebas pajak, sementara masyarakat yang patuh dipaksa menanggung beban pembangunan sendirian.

Inflasi Terkendali di 2,42 Persen, Bukti Nyata Kehadiran Pemerintah Lindungi Daya Beli Masyarakat

12 May 2026

Jakarta - Gejolak geopolitik di Timur Tengah telah memicu gelombang kejut pada harga komoditas energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 16,5 persen secara tahunan, sementara emas meroket hingga 63,5 persen. Di banyak negara, situasi ini langsung memukul daya beli masyarakat akibat lonjakan inflasi. Namun, cerita berbeda terjadi di Indonesia. Berkat intervensi kebijakan yang terukur dan komitmen kuat pemerintah, inflasi nasional pada Triwulan I 2026 berhasil dijinakkan di level 2,42 persen.

Angka inflasi 2,42 persen ini bukan sekadar pencapaian statistik, melainkan cerminan nyata dari keberhasilan negara hadir sebagai pelindung ekonomi rakyat. Realisasi ini bahkan lebih rendah dari asumsi dasar makro APBN 2026 yang mematok inflasi di angka 2,5 persen. Keberhasilan menjinakkan "monster" inflasi di tengah badai global ini menjadi bukti tak terbantahkan dari efektivitas bauran kebijakan fiskal yang dikomandoi oleh Kementerian Keuangan.

Kunci utama dari keberhasilan ini terletak pada strategi pemerintah dalam mengendalikan dua komponen inflasi yang paling sensitif terhadap daya beli masyarakat: harga pangan yang sensitif (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered price). Data menunjukkan bahwa inflasi pada kedua komponen tersebut mengalami tren penurunan yang signifikan.

Untuk komponen administered price, inflasi tercatat turun menjadi 1,53 persen. Penurunan ini seiring dengan hilangnya base effect dari kebijakan diskon listrik pada tahun sebelumnya, serta yang paling krusial yaitu terjaganya harga energi domestik. Di saat harga minyak dunia bergejolak, pemerintah mengambil langkah berani dan pro-rakyat dengan berkomitmen penuh mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir tahun 2026.

Keputusan mempertahankan harga BBM bersubsidi ini adalah langkah strategis yang membutuhkan dukungan fiskal yang kuat. Di sinilah peran APBN sebagai peredam kejut (shock absorber) benar-benar diuji dan terbukti berhasil. Dengan menyerap selisih harga energi global, pemerintah memastikan bahwa beban tersebut tidak langsung ditransmisikan kepada masyarakat luas. Langkah ini secara efektif menjaga daya beli kelas menengah ke bawah yang rentan terhadap guncangan harga energi.

Sementara itu, pada komponen volatile food, inflasi juga berhasil ditekan berkat stabilnya harga pangan. Pemerintah tidak tinggal diam melihat potensi krisis pangan global. Melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pasokan pangan nasional dipastikan memadai dengan jalur distribusi yang lancar. Cadangan pangan yang kuat menjadi benteng pertahanan utama dalam mengendalikan harga kebutuhan pokok di pasaran.

Keberhasilan strategi ini tidak hanya tercermin dari angka inflasi, tetapi juga dari pengakuan dunia internasional terhadap ketahanan energi Indonesia. Berdasarkan data perbandingan global, ketahanan energi Indonesia dalam menghadapi krisis saat ini mencapai skor 77 persen. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi kedua tertinggi di antara negara-negara G20 dan ASEAN, hanya terpaut tipis dari Afrika Selatan (79 persen), dan jauh mengungguli negara maju seperti Amerika Serikat (70 persen) maupun Australia (68 persen).

Skor resiliensi yang tinggi ini didasarkan pada posisi Indonesia yang memiliki eksposur rendah terhadap gangguan pasokan energi global, namun didukung oleh buffer fiskal yang sangat kuat. Kebijakan fiskal yang prudent selama ini telah memberikan ruang gerak yang cukup bagi pemerintah untuk bermanuver di saat krisis melanda.

Lebih jauh lagi, tren kenaikan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia, seperti batu bara, nikel, dan tembaga, justru menciptakan pelindung nilai alami bagi APBN. Kenaikan penerimaan negara dari sektor komoditas ini memberikan amunisi tambahan bagi pemerintah untuk membiayai program-program subsidi dan perlindungan sosial tanpa mengorbankan kesehatan fiskal secara keseluruhan.

Ke depan, tantangan global mungkin belum akan mereda dalam waktu dekat. Namun, dengan rekam jejak keberhasilan di kuartal pertama ini, masyarakat patut bernapas lega. Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, telah membuktikan kapasitasnya dalam meracik kebijakan yang menyeimbangkan antara stabilitas makroekonomi dan perlindungan daya beli rakyat.

Inflasi yang terkendali di angka 2,42 persen adalah fondasi yang kokoh untuk menyongsong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. Dengan daya beli yang terjaga, roda konsumsi domestik akan terus berputar, menggerakkan sektor riil, dan pada akhirnya membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Optimisme ini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan sebuah realitas yang dibangun di atas data dan kerja keras pemerintah.

Dalam konteks ini, komitmen pemerintah untuk terus menjaga stabilitas harga pangan dan energi bukan hanya sekadar janji politis, tetapi merupakan keputusan yang didukung penuh oleh kapasitas fiskal yang kuat dan manajemen APBN yang bijaksana. Dengan terus mengoptimalkan penerimaan negara dan mengalokasikan belanja secara efisien, pemerintah memiliki ruang yang cukup untuk mempertahankan subsidi dan program perlindungan sosial hingga akhir tahun 2026 tanpa mengorbankan kesehatan finansial negara jangka panjang.

Referensi:

[1]: "Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."

 


 

Menakar Dampak Formula Baru HPM Nikel Terhadap Ekosistem Hulu dan Hilir

30 Apr 2026 Tim Labirin

Jakarta. Wajah industri nikel tanah air resmi mengalami perubahan per 15 April 2026. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi memberlakukan Keputusan Menteri Nomor 144.K/2026 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batubara. Aturan ini mengubah formula Harga Patokan Mineral (HPM) yang selama ini menjadi acuan transaksi bijih nikel di Indonesia. Namun, perubahan ini membawa dampak yang berbeda, perubahan ini seperti angin segar bagi penambang sekaligus awan mendung bagi para pengelola smelter.

Perubahan paling fundamental dalam beleid baru ini adalah dimasukkannya nilai mineral ikutan seperti kobalt (Co) dan besi (Fe) ke dalam rumus perhitungan HPM. Selama ini, unsur-unsur bernilai ekonomi tinggi tersebut seolah menjadi bonus bagi pembeli karena belum dihargai secara optimal dalam formula lama yang hanya berbasis kadar nikel (Ni).

Keuntungan di Sektor Hulu

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Sudirman Widhy Hartono, melihat revisi ini sebagai kemenangan bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP). Dengan formula baru, harga jual bijih nikel, baik tipe saprolit maupun limonit, dipastikan terkerek naik.

Khusus untuk bijih nikel kadar rendah atau limonit, kenaikannya diprediksi sangat fantastis, bahkan bisa melampaui 100%. Penyebab utamanya adalah kandungan kobalt dalam limonit yang kini mulai diperhitungkan secara nyata, sehingga keuntungan yang diperoleh penambang akan mengalami kenaikan yang signifikan.

Smelter Dalam Tekanan Besar

Namun, kegembiraan di hulu berbanding terbalik dengan kondisi di hilir. Bagi industri pengolahan (smelter), kenaikan HPM adalah tambahan beban biaya produksi (COGS) yang signifikan di tengah tren harga nikel global yang masih fluktuatif.

Smelter berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang menghasilkan Nickel Pig Iron (NPI) kini terjepit. Di satu sisi, mereka harus membayar bahan baku lebih mahal, sementara di sisi lain, mereka menghadapi lonjakan harga energi (batu bara dan BBM) serta kondisi pasar global yang mengalami overproduksi NPI.

Kondisi lebih kritis dialami oleh smelter berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang mengolah limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Industri ini sudah lebih dulu tertekan oleh lonjakan harga asam sulfat (bahan baku utama pelindian) yang naik tinggi dari di bawah US$ 100 per ton menjadi US$ 250 per ton dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan hitungan PERHAPI, kombinasi kenaikan harga limonit dan asam sulfat bisa mendorong biaya produksi MHP hingga menembus angka US$ 17.000 per ton. Angka ini sangat riskan karena sudah mendekati harga pasar nikel di London Metal Exchange (LME).

Dilema Penerimaan Negara dan Keberlanjutan

Pemerintah, melalui Dirjen Minerba Tri Winarno, menegaskan bahwa perubahan formula ini adalah langkah optimalisasi pendapatan negara dari sumber daya alam, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Dengan harga acuan yang lebih tinggi, otomatis royalti yang masuk ke kas negara juga akan meningkat.

Meski demikian, PERHAPI mengingatkan pemerintah agar tidak menutup mata terhadap daya tahan industri hilir. Jika keekonomian pabrik pengolahan sudah tidak lagi menarik, ancaman penghentian operasi smelter bisa menjadi kenyataan. Jika ini terjadi, efek dominonya akan sangat panjang, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga target hilirisasi nasional yang terancam mandek.

Kini, bola panas ada di tangan para pelaku industri. Bagaimana mereka melakukan efisiensi operasional akan menjadi penentu: apakah formula baru ini menjadi momentum kejayaan mineral Indonesia, atau justru menjadi titik balik lesunya investasi di sektor hilir.(Zain)

Mengejar Keadilan: Peta Jalan Baru DJP Perluas Basis Pajak di Era Digital dan Ekonomi Hijau

30 Apr 2026 Tim Labirin

Jakarta. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) resmi menetapkan langkah strategis untuk lima tahun ke depan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-252/PJ/2025 tentang Rencana Strategis (Renstra) DJP Tahun 2025-2029. Dokumen ini menjadi napas baru bagi otoritas perpajakan Indonesia untuk bertransformasi menjadi penggerak pembangunan bangsa yang berintegritas. Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah komitmen DJP dalam memperkuat kerangka regulasi, khususnya melalui Rancangan Peraturan Menteri Keuangan (RPMK) yang berfokus pada perluasan basis pajak demi menciptakan keadilan bagi seluruh wajib pajak.

Urgensi di Balik Perluasan Basis Pajak

Langkah DJP dalam menyusun RPMK tentang Memperluas Basis Pajak dalam Rangka Pengenaan Pajak yang Lebih Adil tidak muncul tanpa alasan. Terdapat urgensi mendalam yang melatarbelakangi kebijakan ini. Pertama, pemerintah memandang perlunya landasan hukum yang kuat dan mutakhir untuk menyempurnakan mekanisme pemungutan pajak atas transaksi digital luar negeri. Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, regulasi yang ada harus mampu menangkap potensi penerimaan dari perusahaan global agar tercipta level playing field dengan pelaku usaha domestik.

Kedua, sejalan dengan komitmen global Indonesia menuju Net Zero Emission, pembentukan landasan hukum bagi pajak karbon menjadi prioritas yang mendesak. Pajak ini bukan sekadar instrumen penerimaan, melainkan alat kendali untuk mendorong praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan. Terakhir, regulasi ini juga ditujukan untuk memberikan kepastian hukum terkait mekanisme pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas penyerahan jasa jalan tol, sebuah sektor yang terus berkembang seiring masifnya pembangunan infrastruktur nasional.

Tiga Bidikan Utama RPMK Baru

Dalam kerangka regulasi Renstra 2025-2029, RPMK ini secara spesifik akan mengatur tiga area besar yang akan diimplementasikan secara bertahap:

1.    Pemungutan Pajak Transaksi Digital Luar Negeri: DJP menargetkan aturan ini rampung pada tahun 2025. Fokusnya adalah menyempurnakan mekanisme pemungutan pajak digital luar negeri agar lebih efisien dan transparan.

2.    Pajak Karbon: Regulasi mengenai pajak karbon direncanakan selesai pada tahun 2026. Hal ini menjadi tonggak penting bagi DJP dalam mendukung agenda ekonomi hijau pemerintah.

3.    PPN Jasa Jalan Tol: Mekanisme pemungutan PPN untuk sektor ini dijadwalkan akan tuntas regulasinya pada tahun 2028.

Mewujudkan Regulasi yang Proaktif dan Adaptif Penyusunan RPMK ini merupakan bagian dari sasaran strategis DJP untuk menciptakan regulasi administrasi pajak yang proaktif dan adaptif. Otoritas perpajakan menyadari bahwa tantangan ke depan, seperti shadow economy dan digitalisasi yang masif, memerlukan respons hukum yang cepat namun tetap menjunjung tinggi prinsip kepastian hukum dan keadilan.

Melalui penguatan kerangka regulasi ini, DJP berharap dapat menekan policy gap dan meningkatkan rasio perpajakan terhadap PDB yang selama ini masih menjadi tantangan besar. Dengan basis pajak yang lebih luas dan adil, penerimaan negara diharapkan dapat optimal. (Zain)

ESDM Dorong Pembukaan Lahan Perkebunan, Kejar Impelemtasi E20

30 Apr 2026 Bisnis
Menyusul dorongan dari Kementerian ESDM, pembukaan lahan perkebunan kini dipercepat untuk mencapai target E20 pada tahun 2028. Kolaborasi lintas sektor dan pembangunan pabrik bioetanol baru menjadi fokus utama dalam implementasi ini. Di sisi lain, tantangan seperti ketersediaan bahan baku juga perlu diselesaikan. Dalam upaya menjaga keberlanjutan, pertumbuhan hulu di luar Jawa menjadi prioritas untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bioetanol. Implementasi E20 yang dilakukan merupakan bagian dari strategi menghadapi krisis energi global. Langkah progresif ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk perusahaan-perusahaan besar seperti PT Pertamina (Persero) dan PT Medco Energi Internasional Tbk.

Impor Emas Indonesia Melonjak di Awal 2026, Australia dan Singapura Jadi Pemasok Utama

30 Apr 2026 Tim Labirin

Jakarta — Impor emas dan logam mulia Indonesia melonjak tajam pada awal 2026. Di tengah kenaikan harga emas global dan meningkatnya tekanan inflasi dari komoditas emas perhiasan, data Badan Pusat Statistik menunjukkan arus masuk logam mulia ke Indonesia tumbuh jauh di atas rata-rata kenaikan impor nasional.

BPS mencatat nilai impor Indonesia sepanjang Januari–Februari 2026 mencapai US$42,09 miliar, naik 14,44% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh impor nonmigas yang tumbuh 17,49% menjadi US$36,93 miliar. Pada Februari 2026 saja, impor Indonesia mencapai US$20,89 miliar, naik 10,85% secara tahunan.

Salah satu komoditas yang mencuri perhatian adalah logam mulia dan perhiasan/permata, khususnya yang berasal dari Australia. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut impor nonmigas dari Australia pada Januari–Februari 2026 mencapai US$2,07 miliar, dengan porsi terbesar berasal dari logam mulia dan perhiasan/permata. Nilai impor kelompok ini mencapai US$865,74 juta, atau mengambil porsi 41,84% dari total impor nonmigas asal Australia.

Secara tahunan, impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia melonjak sekitar 646%. Kenaikan tersebut menjadikan Australia salah satu sumber utama lonjakan impor komoditas emas dan logam mulia Indonesia pada awal tahun ini.

Lonjakan serupa juga terjadi pada impor dari Singapura. Sepanjang Januari–Februari 2026, impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Singapura tercatat sebesar US$323,43 juta, meningkat 196,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan impor logam mulia ini berlangsung di tengah tren kenaikan harga emas dunia. BPS sebelumnya mencatat harga emas global naik tajam dari sekitar US$2.398 per troy ounce pada Juli 2024 menjadi sekitar US$5.002 per troy ounce pada Februari 2026. Kenaikan harga internasional tersebut turut tercermin pada harga emas perhiasan di dalam negeri.

Pada Februari 2026, emas perhiasan tercatat mengalami inflasi 8,42% secara bulanan dan memberikan andil 0,19% terhadap inflasi. BPS juga menyebut emas perhiasan telah mengalami inflasi selama 30 bulan berturut-turut hingga Februari 2026, menunjukkan tekanan harga yang konsisten pada komoditas tersebut.

Dari sisi perdagangan luar negeri, kenaikan impor dari Australia ikut memperlebar defisit perdagangan Indonesia dengan negara tersebut. BPS mencatat defisit perdagangan Indonesia dengan Australia pada Januari–Februari 2026 mencapai US$1,58 miliar, dengan komoditas penyumbang utama defisit antara lain logam mulia dan perhiasan/permata, serealia, serta bahan bakar mineral.

Meski impor meningkat, neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan masih mencatat surplus. Pada Januari–Februari 2026, surplus perdagangan Indonesia mencapai US$2,23 miliar, ditopang surplus sektor nonmigas sebesar US$5,42 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit US$3,19 miliar.

Kenaikan impor emas juga terjadi di tengah kebijakan pemerintah yang mulai memperketat tata kelola komoditas emas. Reuters melaporkan Indonesia menerapkan bea keluar untuk produk emas mulai 23 Desember 2025, dengan tarif bervariasi berdasarkan jenis produk dan harga acuan emas. Kebijakan ini ditujukan untuk mendorong pengolahan domestik, menangkap nilai tambah, serta meningkatkan penerimaan negara dari komoditas bernilai tinggi tersebut.

Dengan demikian, lonjakan impor emas pada awal 2026 mencerminkan kombinasi beberapa faktor: kenaikan harga emas global, kebutuhan domestik terhadap logam mulia dan perhiasan, serta perubahan kebijakan yang mendorong penataan ulang rantai pasok emas nasional. Namun, besarnya nilai impor dari Australia dan Singapura juga menjadi sinyal bahwa permintaan domestik terhadap emas masih kuat, baik sebagai bahan baku industri perhiasan, instrumen investasi, maupun aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.


Referensi

  1. Badan Pusat Statistik, Ekspor dan Impor Indonesia Februari 2026, rilis 1 April 2026.
  2. Badan Pusat Statistik, Ekspor dan Impor Indonesia Januari 2026, rilis 2 Maret 2026.
  3. Bloomberg Technoz, “Impor RI dari Australia & Singapura Melonjak, Belanja Logam Mulia”, 1 April 2026. Impor RI dari Australia & Singapura Melonjak, Belanja Logam Mulia - Market
  4. DetikFinance, “Fantastis! RI Dibanjiri Perhiasan Australia, Impornya Meledak 646%”, 1 April 2026.
  5. Kumparan Bisnis, “Emas Australia Banjiri Indonesia, Inflasi Perhiasan 8,42 Persen”, 2 Maret 2026. Emas Australia Banjiri Indonesia, Inflasi Perhiasan 8,42 Persen | kumparan.com
  6. Antara/Infobank terkait data inflasi emas perhiasan Februari 2026. BPS: Emas Alami Inflasi Selama 30 Bulan Berturut-turut - Infobanknews
  7. Reuters, laporan kebijakan bea keluar emas Indonesia mulai akhir 2025. Indonesia to levy gold export duties from December 23 | Reuters
  8. Kontan, 1 April 2026. AS Jadi Penopang Surplus Dagang, Tapi Defisit dengan China hingga Singapura

 

Harga Emas Antam Anjlok Lagi!

30 Apr 2026 Detik
Harga emas Antam kembali turun hari ini, dengan harga emas Antam 24 karat turun Rp 15.000 per gram menjadi Rp 2.769.000 per gram. Harga emas terkecil 0,5 gram dijual seharga Rp 1.434.500, sementara emas 10 gram dijual dengan harga Rp 27.185.000 dan emas 1 kg dibandrol Rp 2.709.600.000. Harga emas Antam juga turun dalam sepekan terakhir, dengan rentang harga Rp 2.805.000 - Rp 2.769.000 per gram. Buyback harga emas juga turun Rp 24.000 per gram menjadi Rp 2.549.000 per gram.

Biodiesel Menguat, Pasokan Jadi Kunci: Roadmap Sawit untuk Ketahanan Energi

29 Apr 2026 Detik
Pasokan TBS dan CPO menjadi kunci dalam penguatan biodiesel sebagai strategi ketahanan energi. Diperlukan intensifikasi dan peningkatan produktivitas kebun sawit, serta tata kelola data yang kuat untuk memastikan pasokan yang berkelanjutan tanpa mengorbankan kebutuhan pangan dan lingkungan. Implementasi B40 untuk solar merupakan langkah awal, dengan rencana meningkatkan porsi campuran biodiesel menuju B50. Uji B50 lintas sektor telah dilakukan untuk memastikan kompatibilitas dan keamanan teknis. Namun, masih terdapat tantangan terkait kesiapan pasokan bahan baku sawit mengikuti kenaikan kebutuhan biodiesel. Oleh karena itu, pasokan sawit perlu dijadikan prioritas dalam kebijakan energi untuk memastikan ketahanan energi nasional yang berkelanjutan.

Tax Holiday di Persimpangan Jalan: Masihkah Relevan Menarik Investasi?

20 Jul 2026 Tim Labirin

Rampungnya harmonisasi perubahan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130/PMK.010/2020 menandai upaya pemerintah menyesuaikan kebijakan tax holiday dengan rezim Pajak Minimum Global (Global Minimum Tax/GMT). Namun di balik penyesuaian tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah tax holiday masih merupakan instrumen yang paling tepat untuk mencapai tujuan investasi di tengah perubahan lanskap perpajakan global dan besarnya biaya fiskal yang ditanggung negara?

Data Kementerian Keuangan menunjukkan realisasi belanja perpajakan pada 2025 mencapai Rp530,3 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp84,3 triliun dialokasikan untuk mendukung investasi, dengan tax holiday menjadi salah satu fasilitas terbesar. Di sisi lain, policy gap Indonesia pada 2024 diperkirakan mencapai 1,81 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mencerminkan besarnya potensi penerimaan yang dilepas untuk mencapai tujuan pembangunan tertentu.

Dalam literatur kebijakan fiskal, efektivitas tax holiday umumnya diukur melalui konsep additionality, yakni sejauh mana insentif tersebut memengaruhi keputusan investasi. Semakin besar investasi yang terjadi karena adanya fasilitas pajak, semakin tinggi efektivitas kebijakan tersebut. Sebaliknya, apabila keputusan investasi lebih banyak didorong oleh faktor lain, seperti besarnya pasar domestik, ketersediaan sumber daya alam, atau kebijakan hilirisasi, maka manfaat tambahan dari tax holiday menjadi lebih terbatas. Dalam kondisi tersebut, insentif berpotensi berubah menjadi windfall benefit, yaitu keuntungan fiskal yang diterima investor tanpa menghasilkan tambahan investasi yang signifikan bagi perekonomian.

Berbagai kajian IMF, OECD, Bank Dunia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selama satu dekade terakhir secara konsisten menyoroti keterbatasan tax holiday sebagai instrumen penarik investasi. Dalam laporan bersama yang diterbitkan pada 2015, keempat lembaga tersebut menilai insentif berbasis laba (profit-based incentives) seperti tax holiday rentan menimbulkan windfall benefit, menarik investasi yang bersifat footloose, memiliki biaya fiskal yang tinggi, serta relatif mudah dimanfaatkan untuk perencanaan pajak agresif. Karena itu, banyak negara didorong untuk menggeser kebijakan menuju insentif berbasis biaya (cost-based incentives) yang lebih langsung terkait dengan aktivitas investasi riil.

Instrumen yang kerap direkomendasikan antara lain investment tax credit, percepatan penyusutan (accelerated depreciation), serta insentif untuk kegiatan penelitian dan pengembangan (research and development/R&D). Berbeda dengan tax holiday yang memberikan manfaat berdasarkan laba perusahaan, insentif tersebut dikaitkan langsung dengan pengeluaran atau investasi yang benar-benar dilakukan sehingga dinilai lebih tepat sasaran dan lebih mudah dievaluasi efektivitasnya.

Selain additionality, tingkat kematangan industri penerima fasilitas juga menjadi faktor penting dalam menilai efektivitas tax holiday. Hilirisasi nikel menjadi contoh yang relevan. Nilai ekspor produk nikel Indonesia meningkat dari sekitar USD3,3 miliar pada 2014 menjadi lebih dari USD30 miliar pada periode 2022–2023. Perkembangan tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus menimbulkan pertanyaan apakah sektor yang telah berkembang pesat masih memerlukan tingkat dukungan fiskal yang sama. Karena itu, penerapan sunset provision atau evaluasi berkala menjadi penting agar insentif tetap sesuai dengan kebutuhan sektoral.

Perubahan lanskap perpajakan global turut memperkuat urgensi tersebut. Sejak 2025, Indonesia menerapkan GMT melalui PMK Nomor 136 Tahun 2024 dengan tarif minimum efektif 15 persen bagi kelompok perusahaan multinasional tertentu. Dalam rezim baru ini, manfaat tax holiday menjadi lebih terbatas karena pembebasan pajak yang diberikan tidak lagi otomatis menurunkan beban pajak global investor. Rampungnya harmonisasi perubahan PMK 130/PMK.010/2020 menunjukkan bahwa pemerintah mulai mengantisipasi perubahan tersebut, termasuk dengan mengkaji desain insentif yang lebih selaras dengan perkembangan internasional.

Dalam konteks tersebut, diskusi mengenai desain insentif investasi tidak lagi berhenti pada bagaimana mempertahankan tax holiday, melainkan apakah instrumen berbasis pembebasan pajak masih menjadi cara yang paling efektif untuk menarik investasi sekaligus menghasilkan nilai tambah ekonomi yang sepadan dengan penerimaan negara yang direlakan melalui fasilitas tersebut. Di tengah perubahan lanskap perpajakan global, ukuran keberhasilan insentif investasi tidak lagi semata ditentukan oleh besarnya pajak yang dibebaskan, tetapi oleh kemampuannya menciptakan investasi tambahan, mendorong produktivitas, dan menghasilkan manfaat ekonomi yang dapat diukur secara nyata.

Patriot Bond dan Merah Putih Bond: Instrumen Nasionalisme Keuangan atau Celah Baru Dana Gelap?

28 Jun 2026 Tim Labirin

Jakarta — Pemerintah kembali menjadi sorotan setelah munculnya dua instrumen pembiayaan baru yang membawa nama nasionalisme: Patriot Bond dan Merah Putih Bond. Di atas kertas, keduanya dirancang sebagai surat utang khusus untuk menarik dana besar masuk ke sistem keuangan nasional dan membiayai proyek pembangunan. Namun, di balik narasi kemandirian pembiayaan, muncul pertanyaan besar: apakah instrumen ini benar-benar menjadi solusi pendanaan negara, atau justru berisiko membuka ruang baru bagi praktik pencucian uang?

Patriot Bond lebih dulu dikenal publik setelah Danantara berhasil menghimpun dana Rp50 triliun. Dana tersebut disebut akan diarahkan untuk proyek energi baru terbarukan serta waste-to-energy, yakni pengolahan sampah menjadi energi. Obligasi patriot ini menjadi surat utang perdana Danantara dan ditargetkan sebagai sumber pembiayaan proyek strategis yang tidak sepenuhnya bergantung pada APBN.

Sementara itu, Merah Putih Bond muncul dalam kerangka hukum yang lebih baru setelah terbitnya UU Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2023 mengenai Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. Regulasi ini memberi kewenangan kepada Danantara untuk menerbitkan surat utang, termasuk surat utang khusus seperti Patriot Bond dan Merah Putih Bond.

Kontroversi bermula dari perlindungan hukum yang melekat pada pembelian surat utang khusus tersebut. Pasal 50A UU 4/2026 disebut memberikan perlindungan kepada pembeli surat utang khusus dari penuntutan pidana umum, pidana khusus termasuk pidana perpajakan, serta gugatan perdata. Data dan informasi pembelian instrumen tersebut juga tidak dapat dijadikan dasar pengenaan pajak maupun alat bukti di pengadilan.

Di satu sisi, pemerintah melihat instrumen ini sebagai jalan untuk menarik dana masyarakat Indonesia, termasuk dana yang berada di luar negeri atau di luar sistem keuangan formal, agar kembali masuk ke dalam sistem keuangan nasional. Pengamat ekonomi Feiral Rizky Batubara menilai Patriot Bond dan Merah Putih Bond perlu dilihat sebagai instrumen mobilisasi modal untuk memperkuat pembiayaan pembangunan, memperdalam pasar keuangan domestik, dan mendukung proyek strategis nasional.

Namun, di sisi lain, sejumlah ahli melihat desain perlindungan hukum tersebut terlalu luas. Batara Maju Simatupang, akademisi Indonesia Banking School, menilai Pasal 50A menjadi taruhan besar bagi kepercayaan nasional karena memberi perlindungan hukum kepada pembeli instrumen tertentu. Menurutnya, apabila tidak diatur dengan batas yang jelas, kebijakan ini dapat menimbulkan pertanyaan serius mengenai prinsip kesetaraan di hadapan hukum, integritas sistem keuangan, dan kredibilitas tata kelola negara.

Kritik lebih keras datang dari pakar tindak pidana pencucian uang Yenti Garnasih. Ia memperingatkan bahwa perlindungan yang terlalu luas terhadap investor Patriot Bond dapat menjadi “karpet merah” bagi pelaku pencucian uang. Kekhawatirannya sederhana: apabila negara menerima dana tanpa penelusuran asal-usul yang memadai, maka instrumen resmi negara dapat dipersepsikan sebagai tempat aman bagi dana hasil kejahatan.

Pemerintah membantah tudingan tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan investasi di surat utang Danantara tidak dapat serta-merta disebut sebagai money laundering karena dilakukan melalui instrumen resmi. Menurut pemerintah, instrumen tersebut akan tetap berada dalam sistem keuangan dan mekanisme yang diatur.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menjelaskan bahwa perlakuan khusus Patriot Bond hanya berlaku pada dana yang ditempatkan dalam instrumen investasi tersebut. Ia menyatakan dana yang dipakai untuk Patriot Bond tidak akan “diutak-atik” sumbernya, tetapi apabila investor memiliki bisnis lain yang bermasalah, bisnis tersebut tetap dapat dikejar oleh aparat penegak hukum.

Dari perspektif rezim anti-pencucian uang, pernyataan tersebut tetap memunculkan dilema. UU Tindak Pidana Pencucian Uang menegaskan bahwa pencucian uang mengancam stabilitas perekonomian dan integritas sistem keuangan, sehingga penelusuran dan pengembalian harta kekayaan hasil tindak pidana menjadi bagian penting dari penegakan hukum.

Dilema ini semakin penting karena Indonesia telah menjadi bagian dari standar global anti-pencucian uang. FATF menempatkan pencegahan pencucian uang, pendanaan terorisme, dan pendanaan proliferasi sebagai standar internasional untuk menjaga integritas sistem keuangan. Dalam konteks tersebut, instrumen apa pun yang membatasi penelusuran asal-usul dana berpotensi menimbulkan risiko reputasi, terutama apabila tidak disertai pengecualian tegas terhadap dana hasil kejahatan.

Dari sisi efektivitas, Patriot Bond memang menunjukkan keberhasilan awal karena mampu menghimpun dana dalam jumlah besar. Namun, efektivitas sejati tidak hanya diukur dari besarnya dana yang masuk. Ukuran yang lebih penting adalah apakah dana tersebut benar-benar digunakan untuk proyek produktif, menghasilkan manfaat publik, memperkuat transisi energi, menyelesaikan masalah sampah, dan tidak menimbulkan beban fiskal atau risiko hukum baru.

Danantara sendiri telah menempatkan proyek pengolahan sampah menjadi energi sebagai bagian dari agenda strategis. Tiga proyek PSEL gelombang pertama di Bekasi, Bogor Raya, dan Denpasar Raya telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional. Proyek-proyek ini disebut akan memperoleh dukungan koordinasi lintas kementerian/lembaga, fasilitasi penyelesaian hambatan, dan berbagai instrumen percepatan pelaksanaan.

Pada akhirnya, Patriot Bond dan Merah Putih Bond berada di persimpangan antara kebutuhan pembiayaan pembangunan dan kebutuhan menjaga integritas sistem keuangan. Jika dikelola dengan transparan, diawasi ketat, dan tetap tunduk pada prinsip anti-pencucian uang, instrumen ini dapat menjadi sumber pembiayaan alternatif bagi proyek strategis nasional. Namun, apabila perlindungan hukumnya terlalu luas tanpa pengecualian yang jelas terhadap dana hasil korupsi, narkotika, tindak pidana perpajakan, pendanaan terorisme, atau kejahatan lain, instrumen ini berisiko menjadi kontroversi berkepanjangan.

Pertanyaan publik kini bukan hanya berapa besar dana yang bisa dihimpun Danantara. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: dana siapa yang masuk, dari mana asalnya, digunakan untuk apa, dan siapa yang mengawasinya? Tanpa jawaban yang terang, obligasi bernama patriotik ini dapat berubah dari simbol kemandirian pembiayaan menjadi ujian besar bagi kepercayaan publik terhadap negara.

Referensi:

Danantara kumpulkan patriot bond Rp50 triliun buat EBT-Waste to Energy - ANTARA News

Investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond Bebas Tuntutan Pajak, Data Transaksi Tak Bisa Jadi Bukti di Pengadilan - Ortax

Patriot Bond dan Merah Putih Bond Perkuat Dana Pembangunan

Pasal 50A, Patriot Bond-Merah Putih Bond, dan Taruhan Kepercayaan Nasional

Patriot Bond jadi Karpet Merah bagi Penjahat Pencucian Uang

Airlangga: Investasi di Surat Utang Danantara Bukan Money Laundering

Purbaya sebut perlakuan khusus Patriot Bond hanya berlaku ke dana investasi - ANTARA News Megapolitan

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

FATF Recommendations 2012.pdf.coredownload.inline.pdf

Tiga PSEL Gelombang Pertama Ditetapkan sebagai PSN

Siasat ‘Memecah’ Entitas: Sengkarut Firm Splitting UMKM yang Menguras Kas Negara

24 Jun 2026 Tim Labirin

JAKARTA — Fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5% yang sejatinya diciptakan sebagai inkubator bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar dapat tumbuh, kini tengah menghadapi tantangan serius. Otoritas perpajakan menemukan indikasi kuat bahwa insentif ini disalahgunakan oleh gurita bisnis berskala besar melalui modus firm splitting atau pemecahan usaha. Praktik culas ini dilakukan demi menghindari tarif pajak normal dan kewajiban mengumpulkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengungkap data yang mengejutkan publik. Dari total 542.000 wajib pajak (WP) UMKM yang terdaftar di Indonesia, sebanyak 93.260 entitas atau setara 17,21% terindikasi kuat melakukan firm splitting. Di balik gurita puluhan ribu badan usaha tersebut, DJP mengidentifikasi adanya 30.000 orang pribadi yang bertindak sebagai Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir.

Fenomena yang paling mencolok berada pada puncak piramida kepemilikan: terdapat 14 orang pribadi kaya yang secara rahasia mengendalikan total 1.067 badan usaha. Artinya, rata-rata satu orang kaya menguasai lebih dari 51 entitas boneka berkedok UMKM. Siasat ini sengaja dirancang agar omzet masing-masing entitas tetap berada di bawah ambang batas (threshold) Rp4,8 miliar per tahun, sehingga mereka dapat terus berlindung di balik tarif istimewa 0,5%. Selain firm splitting, DJP juga menengarai adanya praktik bunching, yakni strategi menahan pelaporan omzet secara artifisial.

Bocornya Kas Negara: Antara PPh dan PPN

Dampak dari manipulasi subjek pajak ini tidak main-main bagi kesehatan anggaran pendapatan dan belanja negara. Direktur Eksekutif Indonesia Economic Fiscal (IEF) Research Institute, Ariawan Rahmat, menilai temuan DJP tersebut mencerminkan adanya persoalan serius dalam keadilan fiskal. Berdasarkan kalkulasi moderat IEF, jika 30.000 grup usaha yang teridentifikasi tersebut memiliki omzet gabungan riil Rp10 miliar per tahun dengan margin laba bersih 10%, negara seharusnya menerima PPh Badan normal sebesar 22%.

"Melalui skema firm splitting, kelompok ini hanya membayar tarif 0,5% dari omzet. Akibatnya, ada potensi kehilangan penerimaan negara (revenue lost) minimal Rp5,1 triliun per tahun, yang dalam skenario agresif bisa menembus Rp15 triliun," ungkap Ariawan.

Namun, kebocoran terbesar disinyalir tidak hanya datang dari sektor PPh, melainkan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Konsultan Pajak Botax Consulting Indonesia, Raden Agus Suparman, menjelaskan bahwa pemecahan usaha efektif membuat korporasi terhindar dari status Pengusaha Kena Pajak (PKP). Jika separuh saja dari 93.260 WP tersebut seharusnya sudah wajib menjadi PKP, potensi kehilangan PPN 11% dari omzet diperkirakan mencapai Rp24 triliun per tahun. Strategi menghindari PPN ini marak ditemukan pada sektor perdagangan daring (marketplace) demi memenangi perang harga dengan margin keuntungan tipis.

Respons Regulasi dan Perlunya Kehati-hatian

Pemerintah bergerak cepat merespons kebocoran ini dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026. Regulasi anyar ini memperketat batasan dengan mencoret badan usaha berbentuk CV dan PT dari daftar penikmat PPh Final UMKM 0,5%, sehingga memaksa mereka menyelenggarakan pembukuan standar.

Meskipun langkah ini diapresiasi sebagai penutup celah hukum, pengamat perpajakan dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Fajry Akbar, memberikan catatan kritis. Fajry mengingatkan otoritas agar tidak menyamaratakan seluruh 93.260 WP badan tersebut sebagai pelaku kecurangan. Menurutnya, sebagian besar bisa jadi merupakan pelaku usaha legal yang memang berhak memanfaatkan fasilitas perpajakan sesuai tren kepatuhan. Ia juga mengimbau pemerintah mengantisipasi risiko politik dan penyesuaian bentuk usaha baru, seperti beralih ke PT Perorangan agar tetap bisa mengakses tarif mikro.

Di sisi lain, DJP dituntut memperkuat sistem pengawasan transaksi digitalnya karena para perencana pajak (tax planner) diperkirakan akan mencari celah baru, termasuk memanfaatkan skema nominee arrangement atau peminjaman identitas (KTP) pihak lain untuk menyamarkan kepemilikan UBO.

Pembentukan KEK Keuangan Bali: Antara Masuknya Arus Modal Global dan Munculnya Potensi Risiko Fiskal

22 Jun 2026 Tim Labirin

JAKARTA — Pemerintah Indonesia tengah bergerak cepat mematangkan regulasi komprehensif yang akan mendasari pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor keuangan. Melalui kebijakan ini, pemerintah berambisi mempercepat pengembangan KEK sebagai motor penggerak investasi di sektor strategis, di mana KEK Kura-Kura Bali dipersiapkan secara khusus untuk menjadi pusat keuangan internasional (International Financial Center/IFC). Langkah ini dirancang untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan pendirian pusat keuangan global, mulai dari skema pengelolaan hingga penyediaan fasilitas penunjang.

Di lapangan, PT Bali Turtle Island Development (BTID) selaku Badan Usaha Pengelola dan Pembangun (BUPP) KEK Kura-Kura Bali, dilaporkan terus membangun ekosistem pendukung operasional. Melalui penyediaan Business Hub, kawasan ini diproyeksikan menjadi titik temu program strategis berskala dunia seperti Global Blended Finance Alliance (GBFA), pusat pendidikan bisnis (business school), serta jalur investasi unggulan di Indonesia. Selain itu, area Knowledge District di dalam kawasan akan diperkuat dengan Pusat Kewirausahaan dan Inovasi yang menaungi institusi pendidikan berkualitas seperti sekolah interkultural ACS Bali, serta pengembangan riset lingkungan pesisir melalui International Mangrove Research Center (IMRC).

Hingga triwulan I tahun 2026, KEK Kura-Kura Bali mencatat realisasi investasi yang cukup signifikan, yakni mencapai Rp1,62 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.146 orang. Meskipun pengerjaan sejumlah proyek strategis ditargetkan selesai pada tahun 2026, proses pengembangannya saat ini masih terus berjalan intensif bersama para mitra internasional tanpa adanya pengumuman resmi mengenai target waktu peluncurannya ke publik.

Magnet Insentif Berstandar Global

Demi menarik minat institusi keuangan dan investor raksasa, pemerintah menyiapkan paket insentif fiskal yang agresif, termasuk penawaran skema pembebasan pajak atau tarif Pajak Penghasilan (PPh) hingga 0% atas aset investor global yang masuk ke wilayah KEK Keuangan tersebut. Skema hukum dan insentif yang akan berlaku di kawasan ini mengacu pada standar internasional yang telah sukses diterapkan di pusat keuangan dunia seperti Dubai (Uni Emirat Arab) dan Labuan (Malaysia). Kedua pusat keuangan tersebut dinilai berhasil menarik lembaga keuangan global lewat kombinasi insentif fiskal, kemudahan regulasi, serta infrastruktur pendukung yang kompetitif.

Sejalan dengan hal tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menekankan bahwa daya saing KEK Keuangan ini sangat bergantung pada jaminan stabilitas kebijakan. Para investor memerlukan adanya kepastian hukum jangka panjang yang tidak berubah-ubah dalam rentang waktu 30 hingga 50 tahun. Selain itu, pemenuhan prasyarat seperti kebijakan devisa bebas, kontrol modal yang longgar, pemberian visa khusus bagi para profesional dan investor, ketersediaan infrastruktur pusat data (data center) yang mumpuni, serta sistem perizinan berbasis digital yang aman dan transparan menjadi faktor penentu utama.

Dari sisi makroekonomi, keberadaan IFC di Bali diproyeksikan membawa sejumlah dampak positif:

  1. Peningkatan Likuiditas: Menarik aliran modal asing (inflow) yang kuat untuk mempertebal likuiditas perbankan nasional, baik dalam denominasi Rupiah maupun valuta asing, sekaligus memperkokoh cadangan devisa negara.
  2. Pendalaman Pasar Keuangan: Mendorong terciptanya instrumen investasi domestik yang jauh lebih beragam, termasuk mempercepat pengembangan pasar produk derivatif.
  3. Akses Pendanaan Murah: Menjadi akselerator untuk menyerap dana global jangka panjang—seperti melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN)—yang dapat dialokasikan untuk membiayai industri bernilai tambah tinggi demi membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
  4. Peluang Geopolitik: Menjadi alternatif tempat penyimpanan dana global yang aman di Asia Tenggara di tengah tingginya ketidakpastian situasi geopolitik di wilayah Timur Tengah saat ini.

Sisi Lain Kebijakan: Antisipasi Risiko Fiskal dan Pengawasan

Kendati menawarkan prospek ekonomi yang menggiurkan, analisis independen mengingatkan adanya sejumlah titik rawan yang harus diantisipasi secara ketat. Risiko paling mendasar dalam jangka pendek adalah potensi kehilangan penerimaan pajak (potential loss) akibat penerapan fasilitas tarif hingga 0% yang otomatis memangkas basis penerimaan negara dari entitas-entitas besar di dalam kawasan.

Tantangan pengawasan administratif juga mengemuka. Mengingat lokasi fisik investasi berada di kawasan khusus, pengawasan kepatuhan wajib pajak memerlukan mekanisme pemantauan yang jauh lebih ketat dan intensif agar tidak terjadi penurunan kualitas pengawasan. Celah hukum di wilayah perbatasan komersial seperti ini berisiko memicu praktik perencanaan pajak yang agresif (aggressive tax planning) serta pergeseran laba (profit shifting) antar perusahaan grup afiliasi yang tidak wajar. Tanpa benteng hukum yang kokoh, KEK Keuangan dikhawatirkan dapat disalahgunakan sebagai instrumen penghindaran pajak (tax avoidance) hingga celah pencucian uang hasil tindak pidana.

Di sisi lain, integrasi sistem informasi teknologi perpajakan dengan sistem perizinan terpadu (seperti Sistem OSS) harus dipastikan berjalan secara real-time. Jika sistem administrasi tidak mampu memberikan notifikasi otomatis dan pemantauan berkala yang optimal, maka deteksi dini terhadap potensi pelanggaran kepatuhan akan sulit dilakukan.

Terakhir, pemerintah perlu mengawal agar KEK Keuangan ini tidak terjebak menjadi sekadar "kawasan real estate mewah" yang eksklusif bagi para konglomerat atau tempat parkir dana pasif investor asing semata. KEK Kura-Kura Bali, yang kepemilikan saham pengelolanya (PT BTID) mayoritas dikuasai oleh Goodwill Property Investment Limited asal Hong Kong serta bermitra dengan konsorsium global seperti Mitsubishi Estate Co Ltd (Jepang) dan Tsao Pao Chee Group (Singapura), harus mampu mengalirkan dampak nyata ke sektor riil domestik. Salah satu indikator keberhasilannya adalah terciptanya dampak rembesan sektoral (spillover effect), seperti penyaluran kredit yang lebih terjangkau bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Menyeimbangkan antara agresivitas daya tarik investasi dengan ketatnya sistem pengawasan akan menjadi ujian krusial bagi masa depan kedaulatan ekonomi Indonesia. 

Menakar Keadilan Pajak Layar Perak: Tantangan Film Nasional di Tengah Serbuan Sinema Asing

22 Jun 2026 Tim Labirin

Jakarta - Diskusi mengenai keberpihakan negara terhadap industri kreatif kembali mencuat ke permukaan. Jagat media sosial, khususnya platform X, sempat diramaikan oleh potongan video Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Nasional di DPR RI yang berlangsung pada 8 April 2026. Dalam rekaman tersebut, sejumlah tokoh kunci perfilman tanah air, seperti Direktur Utama MD Pictures Manoj Punjabi dan CEO Visinema Pictures Angga Dwimas Sasongko, menyuarakan keluh kesah yang mendalam mengenai struktur perpajakan bioskop di Indonesia.

Isu ini sebenarnya bukan barang baru. Jauh sebelum video tersebut viral, tepatnya pada 17 Oktober 2025, jajaran Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menggelar pertemuan hangat dengan Persatuan Produsen Film Indonesia (PPFI), Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi), dan Asosiasi Pengusaha Film Indonesia (APFI). Pertemuan yang dihadiri oleh figur publik sekaligus produser film seperti Deddy Mizwar dan artis Luna Maya tersebut menjadi ruang bagi otoritas pajak untuk menampung aspirasi, dengan komitmen untuk mengkaji insentif yang dapat melindungi serta mendukung ekosistem sinema domestik.

Namun, mengapa riak ketidakpuasan tetap muncul di ruang publik? Guna memahami persoalan ini secara jernih, diperlukan lensa yang objektif untuk membedah anatomi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang membalut industri seluloid kita.

Labirin Regulasi dan Ilusi "PPN Ganda"

Keluhan utama yang disuarakan oleh para sineas nasional bermuara pada satu istilah teknis: tax inequality atau ketimpangan beban pajak. Industri film lokal merasa harus memikul beban finansial yang lebih berat untuk menayangkan karyanya di bioskop sendiri dibandingkan dengan importir film asing.

Secara legal formal, pembuatan film lokal melibatkan rantai produksi yang sangat panjang. Berdasarkan Undang-Undang PPN yang berlaku, hampir seluruh komponen hulu—mulai dari jasa sewa peralatan syuting, teknik editing, animasi, mixing suara, sewa lokasi, hingga hak pemakaian lagu—merupakan Jasa Kena Pajak (JKP). Di fase ini, produser lokal wajib membayar PPN Masukan (PM) atas setiap transaksi tersebut.

Pemerintah sebenarnya telah mencoba melakukan reformasi melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 11 Tahun 2025, yang menetapkan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Nilai Lain sebesar 11/12 dari perkiraan hasil rata-rata per judul film pada saat penyerahan ke bioskop. Langkah ini dimaksudkan untuk menyederhanakan pemungutan pajak di hilir.

Sayangnya, hingga saat ini peraturan Direktur Jenderal Pajak yang menjadi petunjuk teknis pelaksanaan nilai rata-rata tersebut belum kunjung terbit. Kekosongan regulasi turunan ini membuat pelaku industri film tetap merujuk pada aturan klasik yang belum dicabut, yakni Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-30/PJ.3/1987.

Di sinilah titik krusialnya. SE-30/1987 menerapkan skema Deemed Taxable Base yang mematok nilai Rp20 juta per judul film untuk 30 kopi pertama, dan Rp1 juta untuk setiap kopi berikutnya. Sifat dasar dari skema deemed purba ini adalah tidak mengenal mekanisme pengkreditan Pajak Masukan.

Akibatnya, terjadi benturan sistemik. Di fase produksi, produser diperlakukan dengan sistem multistage levy (harus membayar PPN Masukan), namun di fase penyerahan akhir ke bioskop, mereka dikunci oleh sistem deemed yang membuat seluruh PPN Masukan dari biaya produksi tidak bisa dikreditkan. PPN Masukan tersebut otomatis menjelma menjadi biaya permanen (sunk cost) yang menggerus margin laba usaha, sebelum kemudian mereka masih harus dihadapkan pada Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) atau Pajak Hiburan di loket bioskop daerah. Kondisi inilah yang memicu persepsi di kalangan pelaku industri seolah-olah mereka terkena hantaman "PPN Ganda".

Belajar dari Lanskap Global

Otoritas pajak di berbagai belahan dunia pada umumnya memandang industri perfilman bukan sekadar objek pemungutan penerimaan (revenue getter), melainkan sebagai sektor strategis yang membawa identitas budaya nasional (soft power). Oleh sebab itu, fungsi anggaran (budgetair) kerap diselaraskan dengan fungsi mengatur (regulerend) melalui insentif perpajakan yang agresif.

Sebagai contoh, tetangga dekat kita, Thailand, menerapkan kebijakan cash rebate berjenjang sebesar 15% hingga 30% sejak Januari 2025 untuk setiap belanja produksi lokal untuk film. Inggris Raya memperkenalkan Audio-Visual Expenditure Credit (AVEC) per April 2024, yang memberikan kredit pajak tunai sebesar 34% bagi film yang lolos uji kelayakan budaya (cultural test).

Di Asia Timur, Korea Selatan memberikan kredit pajak investasi hingga 15% bagi UKM film domestik serta insentif tambahan untuk riset teknologi konten digital. Australia memiliki skema producer offset bersifat refundable sebesar 40%, sementara Prancis mempertahankan Crédit d'impôt cinéma (CIC) sebesar 30% yang terbukti sukses menekan relokasi syuting keluar negeri dari 27% menjadi hanya 10%.

Menjaga Keseimbangan Iklim Fiskal

Melihat data-data di atas, kekhawatiran dan aspirasi para pelaku industri perfilman nasional sangatlah beralasan. Struktur perpajakan saat ini, yang belum didukung oleh peraturan turunan komprehensif, secara tidak sengaja telah menciptakan disinsentif bagi investasi produksi sinema domestik.

Bagi Direktorat Jenderal Pajak, situasi ini merupakan sebuah alarm untuk segera melakukan akselerasi regulasi. Ketiadaan PER yang mengatur detail mekanisme perkiraan hasil rata-rata dalam PMK-11/2025 menjadi titik rawan yang mudah dipolitisasi untuk membangun opini bahwa pemerintah abai terhadap karya anak bangsa.

Penataan ulang kebijakan fiskal di sektor ini sejatinya tidak harus dipandang sebagai potensi kehilangan pendapatan negara. Dengan merestrukturisasi DPP Nilai Lain untuk film impor agar berbasis nilai ekonomi riil, negara justru berpotensi mendulang penerimaan yang jauh lebih adil. Di saat yang sama, relaksasi pengkreditan Pajak Masukan atau pemberian insentif khusus bagi rumah produksi lokal akan menyuntikkan angin segar bagi likuiditas dan arus kas para sineas.

Langkah harmonisasi antara kenyamanan investasi asing dengan perlindungan industri domestik adalah kunci utama. Melalui pendekatan yang tenang, berbasis data, dan kolaboratif, reformasi pajak perfilman di Indonesia diharapkan mampu mengubah ruang bioskop menjadi rumah yang ramah bagi karya-karya terbaik negeri sendiri.

Coretax, AI, dan Integrasi "Single Profile": Wajah Baru Transformasi Digital Perpajakan Indonesia

18 Jun 2026 LESSON LEARNED SEMINAR NASIONAL KOMPAK MENATAP OUTLOOK EKONOMI 2026 DAN MERACIK STRATEGI PENGAMANAN

Optimalisasi penerimaan negara kini semakin bertumpu pada modernisasi administrasi melalui transformasi digital. Peluncuran sistem Coretax tidak lagi dipandang sekadar sebagai pembaruan alat kerja, melainkan sebagai tonggak reformasi mendasar dalam tata kelola perpajakan di Indonesia. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Seminar Nasional KOMPAK Episode #3 yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Pajak pada bulan April 2026.

Ketua Komisi XI DPR RI, Dr. Muhammad Misbakhun, menyoroti bahwa pengembangan sistem Coretax adalah langkah strategis negara menuju tata Kelola berbasis teknologi dan pengetahuan yang terintegrasi, sekaligus memperkuat kemandirian teknologi dan kepercayaan publik.

Lebih jauh dari itu, Misbakhun mendorong agar transformasi ini mencakup pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan blockchain untuk meningkatkan pengawasan dan mendeteksi penghindaran pajak, serta didukung oleh dokumentasi historis reformasi perpajakan sebagai fondasi memori institusional.

Selain Coretax, pemerintah juga tengah mengeksekusi konsep single profile untuk menyatukan identitas dan data pelaku usaha lintas sektor secara komprehensif. Konsep inovatif ini akan mengintegrasikan data perpajakan, kepabeanan, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di bawah satu profil tunggal yang didukung oleh sistem single sign-on. Integrasi ini tidak hanya terjadi di lingkup internal Kementerian Keuangan, tetapi juga dihubungkan dengan otoritas moneter dan lembaga di sektor keuangan lainnya.

Plt. Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Sudarto, menambahkan bahwa penguatan penerimaan negara ini mutlak membutuhkan sinergi dan SDM yang tangguh. Forum seperti KOMPAK diharapkan terus menjadi laboratorium kebijakan yang menyatukan analis, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan berbasis data (knowledge management). Pada akhirnya, penggunaan data yang terintegrasi secara nasional ini diyakini dapat menutup berbagai celah potensi kebocoran penerimaan negara, sekaligus memberikan efisiensi luar biasa bagi kelancaran administrasi perpajakan.

Pemerintah Tinggalkan Ketergantungan "Windfall" demi Strategi Pajak Berbasis Kepatuhan Sukarela

18 Jun 2026 LESSON LEARNED SEMINAR NASIONAL KOMPAK MENATAP OUTLOOK EKONOMI 2026 DAN MERACIK STRATEGI PENGAMANAN

Kinerja penerimaan pajak yang sempat mengalami tekanan pada tahun 2025 akibat pelemahan konsumsi dan meningkatnya restitusi korporasi menjadi pelajaran berharga. Pemerintah kini secara tegas menyatakan akan meninggalkan ketergantungan pada windfall revenue atau penerimaan tak terduga dari lonjakan harga komoditas global.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, dalam Keynote Speech-nya pada Seminar Nasional KOMPAK bulan April 2026 lalu, menekankan bahwa outlook penerimaan pajak ke depan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan fluktuasi energi. Oleh karena itu, penguatan penerimaan diarahkan pada perluasan basis pajak yang berkeadilan, integrasi data lintas sektor, dan optimalisasi sumber ekonomi baru. Upaya ini ditopang oleh empat pilar utama: penguatan basis penerimaan struktural, kepatuhan berbasis risiko dan data, keseimbangan penerimaan dengan pertumbuhan, serta transformasi SDM.

Target penerimaan pajak untuk tahun 2026 sendiri ditetapkan pada angka yang sangat menantang, yakni Rp2.357,7 Triliun, yang menuntut tingkat pertumbuhan sebesar 22,9% dari realisasi tahun 2025. Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, memaparkan bahwa Strategi penerimaan pajak masa depan tidak lagi bertumpu pada penegakan semata, tetapi pada kemitraan berbasis kepatuhan dan integrasi data untuk menciptakan kepastian, keadilan, dan keberlanjutan fiskal negara.

Ke depannya, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) akan mengedepankan pendekatan cooperative compliance. Pendekatan ini merupakan paradigma baru dalam membangun kemitraan antara otoritas pajak dan wajib pajak yang berbasis pada manajemen risiko. Dengan model ini, DJP berupaya meningkatkan kepastian pajak, menurunkan sengketa, dan menekan biaya kepatuhan wajib pajak itu sendiri. Dengan strategi ini, penerimaan pajak diharapkan tidak hanya meningkat secara kuantitatif, tetapi juga berkelanjutan, adaptif terhadap kompleksitas ekonomi modern, dan mampu mendukung ketahanan fiskal nasional.

Transisi Pajak UMKM: Mendorong Kepatuhan dan Menekan "Shadow Economy"

03 Jun 2026 Tim Labirin

Terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026 menandai babak baru dalam kebijakan administrasi perpajakan nasional. Regulasi ini menegaskan berakhirnya masa berlaku fasilitas tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5 persen bagi pelaku UMKM berbentuk badan usaha, seperti CV dan PT. Perubahan ini memicu kekhawatiran di kalangan dunia usaha; banyak yang memandang transisi menuju skema pajak normal sebagai beban tambahan yang dapat menekan arus kas dan kelangsungan operasional mereka.

Namun, jika dianalisis dari perspektif kebijakan makroekonomi, langkah ini bukanlah sebuah disinsentif yang bertujuan membatasi gerak usaha kecil. Sebaliknya, ini adalah kebijakan transisional yang esensial untuk mendorong entitas bisnis keluar dari area shadow economy (ekonomi bayangan), sekaligus menguji kapasitas tata kelola finansial UMKM agar lebih terstruktur dan berdaya saing.

Sejak awal diperkenalkan melalui PP 23/2018, tarif final 0,5 persen didesain sebagai instrumen pendorong kepatuhan (compliance stimulus) berskala sementara. Tujuannya murni untuk penyederhanaan administrasi agar pelaku usaha informal bersedia masuk ke dalam sistem pajak. Sayangnya, efektivitas pelonggaran ini kerap mengalami distorsi. Terdapat kecenderungan di mana entitas usaha menengah dengan sengaja menahan skala pertumbuhannya—atau memecah pencatatan omzetnya—demi bertahan di bawah ambang batas Rp4,8 miliar. Praktik under-reporting semacam ini tidak hanya menciptakan persaingan pasar yang asimetris, tetapi juga menggerus potensi penerimaan pajak yang seharusnya proporsional dengan skala ekonomi riil.

Secara teoretis dan praktis, peralihan ke sistem pembukuan normal justru membawa keadilan vertikal bagi wajib pajak. Pada skema PPh Final, pajak dikenakan atas peredaran bruto (omzet), mengabaikan posisi profitabilitas perusahaan. Sebaliknya, rezim tarif normal memajaki laba bersih. Artinya, dalam kondisi siklus bisnis yang menurun atau saat perusahaan melakukan reinvestasi yang menghasilkan kerugian fiskal, badan usaha tersebut tidak dibebani pajak penghasilan, dan kerugiannya dapat dikompensasikan ke tahun-tahun pajak berikutnya.

Tentu saja, rasionalitas kekhawatiran pelaku UMKM tetap harus divalidasi. Transisi ini menghadirkan beban kepatuhan (compliance cost) yang tidak bisa diremehkan. Banyak CV atau PT berskala mikro dan menengah yang belum memiliki literasi akuntansi yang selaras dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Jika Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menerapkan penegakan hukum secara kaku tanpa didahului periode edukasi dan pendampingan pembukuan yang terukur, kebijakan ini berpotensi memicu anomali baru: mundurnya entitas formal kembali menjadi usaha perorangan informal demi menghindari kerumitan birokrasi.

Oleh karena itu, implementasi PP 20/2026 membutuhkan pendekatan kelembagaan yang komprehensif. Transformasi UMKM menuju pembukuan yang tertib adalah prasyarat fundamental agar mereka dapat mengakses instrumen pembiayaan perbankan dan berintegrasi ke dalam rantai pasok formal. Menyandarkan sektor ini secara permanen pada fasilitas pajak yang disederhanakan hanya akan menciptakan ketergantungan yang menghambat kapasitas pertumbuhan. Keberhasilan regulasi ini pada akhirnya tidak diukur dari seberapa cepat sanksi ditegakkan, melainkan dari seberapa efektif otoritas pajak memandu dunia usaha menuju kepatuhan yang berkelanjutan.

Memahami Mekanisme Baru Aduan Pajak

02 Jun 2026 Tim Labirin

Bayangkan sebuah sistem di mana setiap keluhan Anda sebagai wajib pajak tidak lagi sekadar menjadi tumpukan berkas di meja kantor pajak, melainkan menjadi "tiket digital" yang terpantau secara real-time hingga ke pusat. Inilah babak baru transparansi fiskal Indonesia. Melalui Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-21/PJ/2025, pemerintah resmi melakukan rekayasa ulang (re-engineering) terhadap cara masyarakat mengawasi otoritas pajak. Melalui regulasi ini, masyarakat tidak lagi hanya diposisikan sebagai objek pemungutan, melainkan mitra strategis yang memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan sesuai standar serta kewajiban untuk melaporkan ketidakadilan.

Dalam ekosistem baru ini, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) membagi kategori pengaduan menjadi tiga pilar utama untuk memastikan penanganan yang lebih tepat sasaran. Pilar pertama mencakup pengaduan pelayanan perpajakan, di mana warga dapat mengeluhkan fasilitas atau prosedur yang tidak sesuai standar, seperti keterlambatan pendaftaran NPWP atau kendala teknis pada aplikasi. Batas waktu untuk melaporkan kategori ini adalah 30 hari sejak layanan diterima guna menjaga akurasi data dalam investigasi lapangan.

Pilar kedua berfokus pada pengaduan tindak pidana di bidang perpajakan, yang memberikan ruang bagi publik untuk melaporkan oknum atau badan usaha yang diduga melakukan manipulasi, seperti pemalsuan faktur atau penyembunyian aset. Sementara itu, pilar ketiga merupakan mekanisme pengawasan internal yang sangat sensitif, yakni pengaduan terkait kode etik, kode perilaku, dan disiplin pegawai. Kategori ini menyasar perilaku petugas pajak yang melanggar integritas, seperti meminta imbalan, gratifikasi, hingga tindakan intimidasi terhadap wajib pajak.

Digitalisasi melalui sistem Coretax memastikan setiap laporan terekam secara permanen dan tidak dapat dimanipulasi. Setiap pengadu akan mendapatkan nomor tiket unik yang memungkinkan mereka memantau progres penanganan secara mandiri melalui Portal Wajib Pajak. Keunggulan sistem ini terletak pada sentralisasi data di server pusat, sehingga memperkecil risiko adanya laporan yang sengaja diabaikan oleh oknum di tingkat kantor pelayanan pajak daerah.

Satu terobosan penting dalam peraturan ini adalah adanya kepastian tenggat waktu atau Service Level Agreement (SLA) yang ketat. Untuk pengaduan pelayanan, DJP wajib meneliti kelengkapan berkas dalam waktu 14 hari kerja. Jika dalam waktu tersebut kantor pajak tidak memberikan respons, maka secara administratif laporan tersebut otomatis dianggap lengkap dan wajib segera ditindaklanjuti. Inovasi "diam dianggap setuju" ini memaksa unit kerja untuk lebih responsif dan efisien dalam melayani masyarakat.

Mengenai aspek keamanan, pemerintah memberikan jaminan kerahasiaan identitas pelapor yang sangat kuat dalam Pasal 2 ayat (3) PER-21/PJ/2025. Jaminan ini merujuk pada kerangka kerja perlindungan whistleblower untuk memastikan pelapor terhindar dari ancaman atau intimidasi. Meskipun pelapor dapat memilih untuk tetap anonim, DJP menyarankan pencantuman minimal nomor telepon atau email yang valid agar komunikasi dan klarifikasi lebih lanjut dapat dilakukan secara efektif.

Selain melalui portal digital, saluran konvensional seperti telepon Kring Pajak 1500200, email resmi, hingga tatap muka di kantor pajak tetap dipertahankan untuk menjangkau masyarakat dengan literasi digital yang beragam. Keberhasilan regulasi ini pada akhirnya bergantung pada sinergi antara keseriusan aparat dalam menindaklanjuti laporan serta keberanian masyarakat untuk bersikap kritis dan jujur. Dengan mekanisme pengaduan yang sehat, diharapkan kepercayaan publik akan meningkat.

Penerimaan Pajak Meroket 20,7 Persen, Sinyal Kuat Roda Ekonomi Indonesia Berputar Kencang

12 May 2026

Jakarta -- Di tengah narasi pesimisme yang kerap membayangi prospek ekonomi global, Indonesia justru mengirimkan sinyal yang sangat positif. Kinerja penerimaan pajak nasional pada Triwulan I 2026 mencatatkan lonjakan yang luar biasa, tumbuh 20,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai Rp394,8 triliun. Angka yang fantastis ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan indikator paling sahih bahwa roda ekonomi di sektor riil sedang berputar dengan sangat kencang.

Penerimaan pajak sering kali diibaratkan sebagai termometer kesehatan ekonomi suatu negara. Ketika penerimaan pajak melonjak, itu berarti aktivitas bisnis, konsumsi masyarakat, dan investasi sedang berada dalam fase ekspansi. Realisasi pajak sebesar Rp394,8 triliun ini telah memenuhi 16,7 persen dari total target APBN 2026, sebuah awalan yang sangat menjanjikan untuk mengamankan pembiayaan pembangunan sepanjang tahun.

Kementerian Keuangan patut mendapat apresiasi atas kinerja gemilang ini. Lonjakan penerimaan pajak ini didorong oleh pertumbuhan yang solid di hampir semua jenis pajak utama. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi bintang utama dengan mencatatkan pertumbuhan meroket hingga 57,7 persen, menyumbang Rp155,6 triliun ke kas negara.

Lonjakan PPN dan PPnBM ini adalah cerminan langsung dari kuatnya daya beli dan tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Ketika masyarakat berbelanja lebih banyak, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun barang sekunder, penerimaan PPN otomatis akan terkerek naik. Hal ini sejalan dengan data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga.

Selain itu, Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi dan PPh 21 juga mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 15,8 persen menjadi Rp61,3 triliun. Kenaikan ini mengindikasikan adanya perbaikan tingkat pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja yang lebih baik di sektor formal. Sementara itu, PPh Badan yang mencerminkan keuntungan perusahaan juga tumbuh positif 5,4 persen menjadi Rp43,3 triliun, menandakan bahwa dunia usaha masih mampu mencetak laba di tengah tantangan global.

Jika dibedah berdasarkan sektor usaha, mayoritas sektor utama penyumbang pajak mencatatkan pertumbuhan yang sangat menggembirakan. Sektor Perdagangan, yang berkontribusi 26,2 persen terhadap total penerimaan, mencatatkan pertumbuhan neto yang fantastis sebesar 59,9 persen. Lonjakan ini dipengaruhi oleh tingginya aktivitas perdagangan besar BBM dan tren belanja online (e-commerce) yang semakin masif di masyarakat.

Sektor Industri Pengolahan (manufaktur) yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional juga tidak mau kalah. Sektor yang menyumbang 21,3 persen penerimaan pajak ini tumbuh double digit sebesar 11,5 persen secara neto. Pertumbuhan ini ditopang kuat oleh subsektor industri pengolahan tembakau dan industri barang kimia lainnya, yang menunjukkan adanya peningkatan penjualan dan ekspansi lini bisnis.

Sektor Keuangan dan Asuransi turut memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan neto 7,6 persen, didorong oleh aktivitas penunjang jasa keuangan yang semakin bergairah. Bahkan, sektor Pertambangan yang kerap fluktuatif akibat harga komoditas global, masih mampu mencatatkan pertumbuhan neto 6,3 persen, ditopang oleh kinerja sektor pertambangan minyak dan gas.

Di balik angka-angka yang memukau ini, terdapat faktor fundamental lain yang tidak boleh dilupakan: reformasi administrasi perpajakan. Peningkatan penerimaan pajak yang kuat ini juga dipengaruhi oleh semakin baiknya implementasi sistem inti administrasi perpajakan (Coretax). Sistem yang modern dan terintegrasi ini telah berhasil meningkatkan kepatuhan wajib pajak, memperluas basis pemajakan, dan menutup celah-celah kebocoran penerimaan negara.

Kinerja penerimaan pajak yang meroket ini memberikan ruang fiskal yang sangat lega bagi pemerintah. Dengan kas negara yang terisi penuh, pemerintah memiliki amunisi yang cukup untuk mengeksekusi berbagai program prioritas, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga penguatan jaring pengaman sosial bagi masyarakat rentan.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa strategi Kementerian Keuangan dalam mengelola sisi penerimaan negara telah berjalan di jalur yang tepat. APBN yang sehat, yang ditopang oleh penerimaan pajak yang kuat dan mandiri, adalah kunci utama untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Dengan momentum positif di kuartal pertama ini, optimisme bahwa target penerimaan negara tahun 2026 akan tercapai—bahkan terlampaui—menjadi sangat realistis.

Ke depan, Kementerian Keuangan akan terus fokus pada upaya-upaya peningkatan kepatuhan wajib pajak dan perluasan basis pemajakan. Dengan semakin banyaknya pelaku usaha yang terdaftar dalam sistem perpajakan dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajiban pajak, potensi penerimaan pajak masih sangat besar. Investasi dalam teknologi dan infrastruktur perpajakan modern akan terus ditingkatkan untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang seharusnya masuk ke kas negara tidak terlewatkan. Dengan demikian, pertumbuhan penerimaan pajak yang solid akan terus menjadi tulang punggung pembiayaan pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Referensi:

[1]: "Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."

 

Pesta Dividen Bank BUMN, Investor Panen di Tengah Risiko Makroekonomi

30 Apr 2026 Bisnis
Pesta dividen bank BUMN menjadi berita baik bagi investor di tengah risiko makroekonomi. Bank seperti Bank Mandiri, BRI, dan BNI membagikan dividen besar dari laba 2025, menunjukkan fundamental perbankan yang kuat. Investor dapat memanen hasil investasi di tengah risiko yang ada. Bagi yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut, bisa mengakses Bisnis Indonesia Premium melalui website atau aplikasi Bisnis Indonesia setelah berlangganan. Dengan berlangganan, investor akan mendapatkan konten eksklusif meliputi market, investasi, hingga jurnalisme data dalam bahasa Inggris.

Putin dan Trump Teleponan Sampai 90 Menit, Bahas Perang di Ukraina dan Iran

30 Apr 2026 Detik
Jadi, Putin dan Trump baru-baru ini melakukan panggilan telepon yang berlangsung selama lebih dari 90 menit. Mereka membahas perang di Ukraina dan Iran, dengan Putin mengapresiasi keputusan Trump untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Namun, Putin juga menyoroti dampak negatif perang AS dengan Iran terhadap komunitas internasional. Mereka berkomitmen untuk memberikan bantuan diplomatik terkait perang di Timur Tengah. Trump mengatakan percakapan itu lebih berfokus pada Ukraina daripada Iran. Ini menunjukkan pentingnya kerja sama antara kedua negara dalam menangani masalah internasional.

Ramalan Permintaan Emas Dunia untuk Sisa 2026, Peluang ATH Baru

30 Apr 2026 Bisnis
Ringkasan Ramalan Permintaan Emas Dunia untuk Sisa 2026 menunjukkan peluang ATH baru. Tren investasi emas fisik masih kuat meskipun sedikit volatil. World Gold Council melaporkan pertumbuhan moderat pada kuartal pertama 2026. Investor terus membeli logam mulia. Bank sentral juga tetap aktif dalam pembelian emas. Bisnis Indonesia Premium menawarkan akses informasi eksklusif tentang pasar, investasi, dan jurnalisme data. Berlangganan dapat dilakukan melalui berbagai metode pembayaran dan dapat diakses melalui situs web dan aplikasi Bisnis Indonesia Premium.

Gibran Divonis Penjara 9 Tahun, Manipulasi Laporan Keuangan eFishery

29 Apr 2026 Cnbcindonesia
Gibran Divonis Penjara selama 9 tahun karena Manipulasi Laporan Keuangan eFishery. Mantan CEO startup tersebut bersalah atas praktik pencucian uang dan bersama dua terdakwa lainnya. Vonis yang dibacakan di PN Bandung lebih ringan dari tuntutan jaksa. Kasus ini terkuak setelah whistleblower melaporkan adanya pemalsuan pendapatan hampir USD 600 juta. Bareskrim Polri melakukan penyidikan sejak 2024. Penipuan ini dilakukan oleh mantan CEO dan CFO sejak awal tahun tersebut. Kasus ini menimbulkan dampak besar terhadap reputasi eFishery sebagai unicorn startup.

MSCI Pertahankan Pembatasan Saham RI, Ini Strategi Yang Bisa Dilakukan Investor

22 Apr 2026 Kontan
Investor Indonesia perlu mempersiapkan strategi yang tepat menghadapi pembatasan saham oleh MSCI. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan teknologi AI real-time trading untuk meningkatkan kualitas data dan sistem analisis. Hal ini dapat memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan dalam trading saham. Selain itu, peningkatan akses terhadap teknologi seperti aplikasi saham yang gratis juga dapat membantu investor dalam beradaptasi dengan perubahan pasar saham yang semakin dinamis. Dengan demikian, investor dapat menghadapi pembatasan saham dengan lebih siap dan efektif.

MBG Mau Dipangkas Jadi 5 Hari, Purbaya: Bisa Hemat Rp 40 Triliun

25 Mar 2026 Kompas
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan rencana untuk memotong jumlah hari operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi 5 hari untuk menghemat Rp 40 triliun setahun. Langkah ini diambil sebagai upaya efisiensi dalam program tersebut. Sebelumnya, program ini beroperasi selama 6 hari dalam seminggu. Presiden juga telah meminta peningkatan dalam pelayanan gizi MBG, dengan Badan Gizi Nasional (BGN) mempersiapkan sertifikasi. Ilustrasi MBG menunjukkan salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang saat menyiapkan makan bergizi gratis.

Pemerintah Bebaskan 100% PPN Tiket Pesawat Mudik 2026, Dorong Efek Pengganda Ekonomi Daerah

02 Mar 2026 Tim Labirin

?


JAKARTA – Pemerintah secara resmi menetapkan kebijakan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 100% untuk tiket pesawat kelas ekonomi rute domestik selama periode mudik Hari Raya Idulfitri 2026. Kebijakan strategis ini diambil sebagai langkah fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah sekaligus menstimulasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa penghapusan beban PPN ini diproyeksikan dapat menurunkan harga tiket pesawat secara riil pada kisaran 17% hingga 18%. Proyeksi tersebut juga didukung oleh rencana pemangkasan komponen biaya penerbangan lainnya, seperti pajak bandara (airport tax) dan pajak avtur.

Peningkatan Stimulus dari Periode Sebelumnya

Kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100% ini merupakan langkah yang lebih agresif dibandingkan periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Pada periode tersebut, pemerintah baru menerapkan skema PPN DTP sebesar 6%, sehingga konsumen masih harus menanggung sisa beban pajak sebesar 5%. Pada periode Lebaran 2026 ini, pemerintah memberikan insentif penuh guna memaksimalkan penurunan harga tiket di pasaran.

Dampak Ekonomi Pengganda (Multiplier Effect) Penurunan harga tiket pesawat diharapkan tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga memicu efek pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah. Dana sisa hasil penghematan pembelian tiket pesawat berpotensi dialihkan masyarakat untuk konsumsi ritel, kuliner, dan pariwisata di daerah tujuan mudik.

Selain sektor udara, pemerintah juga memberikan subsidi untuk moda transportasi lain pada periode mudik kali ini, antara lain:

·       Diskon tarif 30% untuk tiket kereta api dan kapal laut.

·       Pembebasan tarif 100% (gratis) untuk jasa kepelabuhanan atau tarif dasar penyeberangan.

Kondisi Finansial Maskapai dan Sinergi Korporasi

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menegaskan bahwa insentif PPN DTP 100% ini bersumber sepenuhnya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, kebijakan ini dipastikan tidak akan memotong margin keuntungan maskapai penerbangan. Iklim industri yang kondusif ini turut direspons positif oleh para pelaku usaha. Sebagai contoh, maskapai nasional Garuda Indonesia meluncurkan program promosi "Takjil Ramadan", yang memberikan tambahan potongan harga tiket hingga 20% melalui kode promosi MUDIK26. Sinergi antara insentif pemerintah dan program korporasi ini dinilai akan memberikan nilai tambah yang optimal bagi konsumen.

Pengawasan Ketat Terhadap Dinamika Pasar

Meskipun stimulus telah diberikan, tantangan utama pada musim mudik tetap berada pada ketidakseimbangan antara tingginya permintaan (demand) dan ketersediaan kursi (supply). Dinamika ini kerap mengakibatkan habisnya tiket penerbangan langsung (direct flight), sehingga masyarakat beralih pada opsi penerbangan transit dengan struktur harga yang lebih tinggi. Untuk mencegah praktik yang merugikan konsumen, Kementerian Perhubungan bersama Satuan Tugas (Satgas) terkait akan meningkatkan pengawasan di lapangan. Pengawasan difokuskan pada maskapai dan Agen Perjalanan Daring (Online Travel Agent/OTA) guna memastikan tidak ada kenaikan tarif dasar (base fare) yang tidak wajar sebelum berlakunya potongan PPN DTP.