Siasat ‘Memecah’ Entitas: Sengkarut Firm Splitting UMKM yang Menguras Kas Negara
JAKARTA — Fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5% yang
sejatinya diciptakan sebagai inkubator bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM) agar dapat tumbuh, kini tengah menghadapi tantangan serius.
Otoritas perpajakan menemukan indikasi kuat bahwa insentif ini disalahgunakan oleh
gurita bisnis berskala besar melalui modus firm splitting atau pemecahan
usaha. Praktik culas ini dilakukan demi menghindari tarif pajak normal dan
kewajiban mengumpulkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Direktorat
Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengungkap data yang mengejutkan
publik. Dari total 542.000 wajib pajak (WP) UMKM yang terdaftar di Indonesia,
sebanyak 93.260 entitas atau setara 17,21% terindikasi kuat melakukan firm
splitting. Di balik gurita puluhan ribu badan usaha tersebut, DJP
mengidentifikasi adanya 30.000 orang pribadi yang bertindak sebagai Ultimate
Beneficial Owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir.
Fenomena yang
paling mencolok berada pada puncak piramida kepemilikan: terdapat 14 orang
pribadi kaya yang secara rahasia mengendalikan total 1.067 badan usaha. Artinya, rata-rata satu orang kaya
menguasai lebih dari 51 entitas boneka berkedok UMKM. Siasat ini sengaja
dirancang agar omzet masing-masing entitas tetap berada di bawah ambang batas
(threshold) Rp4,8 miliar per tahun, sehingga mereka dapat terus berlindung di
balik tarif istimewa 0,5%. Selain firm splitting, DJP juga menengarai
adanya praktik bunching, yakni strategi menahan pelaporan omzet secara
artifisial.
Bocornya Kas Negara: Antara PPh dan PPN
Dampak dari manipulasi subjek pajak ini tidak main-main bagi kesehatan
anggaran pendapatan dan belanja negara. Direktur
Eksekutif Indonesia Economic Fiscal (IEF) Research Institute, Ariawan Rahmat,
menilai temuan DJP tersebut mencerminkan adanya persoalan serius dalam keadilan
fiskal. Berdasarkan kalkulasi moderat IEF, jika 30.000 grup usaha yang
teridentifikasi tersebut memiliki omzet gabungan riil Rp10 miliar per tahun
dengan margin laba bersih 10%, negara seharusnya menerima PPh Badan normal
sebesar 22%.
"Melalui
skema firm splitting, kelompok ini hanya membayar tarif 0,5% dari omzet.
Akibatnya, ada potensi kehilangan penerimaan negara (revenue lost) minimal
Rp5,1 triliun per tahun, yang dalam skenario agresif bisa menembus Rp15
triliun," ungkap Ariawan.
Namun, kebocoran
terbesar disinyalir tidak hanya datang dari sektor PPh, melainkan dari Pajak
Pertambahan Nilai (PPN). Konsultan Pajak Botax Consulting Indonesia, Raden Agus
Suparman, menjelaskan bahwa pemecahan usaha efektif membuat korporasi terhindar
dari status Pengusaha Kena Pajak (PKP). Jika separuh saja dari 93.260 WP
tersebut seharusnya sudah wajib menjadi PKP, potensi kehilangan PPN 11% dari
omzet diperkirakan mencapai Rp24 triliun per tahun. Strategi menghindari PPN
ini marak ditemukan pada sektor perdagangan daring (marketplace) demi
memenangi perang harga dengan margin keuntungan tipis.
Respons
Regulasi dan Perlunya Kehati-hatian
Pemerintah
bergerak cepat merespons kebocoran ini dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah
(PP) Nomor 20 Tahun 2026. Regulasi anyar ini memperketat batasan dengan
mencoret badan usaha berbentuk CV dan PT dari daftar penikmat PPh Final UMKM
0,5%, sehingga memaksa mereka menyelenggarakan pembukuan standar.
Meskipun langkah
ini diapresiasi sebagai penutup celah hukum, pengamat perpajakan dari Center
for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Fajry Akbar, memberikan catatan
kritis. Fajry mengingatkan otoritas agar tidak menyamaratakan seluruh 93.260 WP
badan tersebut sebagai pelaku kecurangan. Menurutnya, sebagian besar bisa jadi
merupakan pelaku usaha legal yang memang berhak memanfaatkan fasilitas
perpajakan sesuai tren kepatuhan. Ia juga mengimbau pemerintah mengantisipasi
risiko politik dan penyesuaian bentuk usaha baru, seperti beralih ke PT
Perorangan agar tetap bisa mengakses tarif mikro.
Postingan Terkait
Memahami Mekanisme Baru Aduan Pajak
Meningkatkan Pendapatan dari Pajak Digital
UMKM Masih Bisa Nikmati PPh Final Nol
Pemerintah Siap Sasar Pajak Pedagang Online
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023