;

Siasat ‘Memecah’ Entitas: Sengkarut Firm Splitting UMKM yang Menguras Kas Negara

Ekonomi nirmala bintang 24 Jun 2026 Tim Labirin
Siasat ‘Memecah’ Entitas: Sengkarut Firm Splitting UMKM yang Menguras Kas Negara

JAKARTA — Fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5% yang sejatinya diciptakan sebagai inkubator bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar dapat tumbuh, kini tengah menghadapi tantangan serius. Otoritas perpajakan menemukan indikasi kuat bahwa insentif ini disalahgunakan oleh gurita bisnis berskala besar melalui modus firm splitting atau pemecahan usaha. Praktik culas ini dilakukan demi menghindari tarif pajak normal dan kewajiban mengumpulkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengungkap data yang mengejutkan publik. Dari total 542.000 wajib pajak (WP) UMKM yang terdaftar di Indonesia, sebanyak 93.260 entitas atau setara 17,21% terindikasi kuat melakukan firm splitting. Di balik gurita puluhan ribu badan usaha tersebut, DJP mengidentifikasi adanya 30.000 orang pribadi yang bertindak sebagai Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir.

Fenomena yang paling mencolok berada pada puncak piramida kepemilikan: terdapat 14 orang pribadi kaya yang secara rahasia mengendalikan total 1.067 badan usaha. Artinya, rata-rata satu orang kaya menguasai lebih dari 51 entitas boneka berkedok UMKM. Siasat ini sengaja dirancang agar omzet masing-masing entitas tetap berada di bawah ambang batas (threshold) Rp4,8 miliar per tahun, sehingga mereka dapat terus berlindung di balik tarif istimewa 0,5%. Selain firm splitting, DJP juga menengarai adanya praktik bunching, yakni strategi menahan pelaporan omzet secara artifisial.

Bocornya Kas Negara: Antara PPh dan PPN

Dampak dari manipulasi subjek pajak ini tidak main-main bagi kesehatan anggaran pendapatan dan belanja negara. Direktur Eksekutif Indonesia Economic Fiscal (IEF) Research Institute, Ariawan Rahmat, menilai temuan DJP tersebut mencerminkan adanya persoalan serius dalam keadilan fiskal. Berdasarkan kalkulasi moderat IEF, jika 30.000 grup usaha yang teridentifikasi tersebut memiliki omzet gabungan riil Rp10 miliar per tahun dengan margin laba bersih 10%, negara seharusnya menerima PPh Badan normal sebesar 22%.

"Melalui skema firm splitting, kelompok ini hanya membayar tarif 0,5% dari omzet. Akibatnya, ada potensi kehilangan penerimaan negara (revenue lost) minimal Rp5,1 triliun per tahun, yang dalam skenario agresif bisa menembus Rp15 triliun," ungkap Ariawan.

Namun, kebocoran terbesar disinyalir tidak hanya datang dari sektor PPh, melainkan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Konsultan Pajak Botax Consulting Indonesia, Raden Agus Suparman, menjelaskan bahwa pemecahan usaha efektif membuat korporasi terhindar dari status Pengusaha Kena Pajak (PKP). Jika separuh saja dari 93.260 WP tersebut seharusnya sudah wajib menjadi PKP, potensi kehilangan PPN 11% dari omzet diperkirakan mencapai Rp24 triliun per tahun. Strategi menghindari PPN ini marak ditemukan pada sektor perdagangan daring (marketplace) demi memenangi perang harga dengan margin keuntungan tipis.

Respons Regulasi dan Perlunya Kehati-hatian

Pemerintah bergerak cepat merespons kebocoran ini dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026. Regulasi anyar ini memperketat batasan dengan mencoret badan usaha berbentuk CV dan PT dari daftar penikmat PPh Final UMKM 0,5%, sehingga memaksa mereka menyelenggarakan pembukuan standar.

Meskipun langkah ini diapresiasi sebagai penutup celah hukum, pengamat perpajakan dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Fajry Akbar, memberikan catatan kritis. Fajry mengingatkan otoritas agar tidak menyamaratakan seluruh 93.260 WP badan tersebut sebagai pelaku kecurangan. Menurutnya, sebagian besar bisa jadi merupakan pelaku usaha legal yang memang berhak memanfaatkan fasilitas perpajakan sesuai tren kepatuhan. Ia juga mengimbau pemerintah mengantisipasi risiko politik dan penyesuaian bentuk usaha baru, seperti beralih ke PT Perorangan agar tetap bisa mengakses tarif mikro.

Di sisi lain, DJP dituntut memperkuat sistem pengawasan transaksi digitalnya karena para perencana pajak (tax planner) diperkirakan akan mencari celah baru, termasuk memanfaatkan skema nominee arrangement atau peminjaman identitas (KTP) pihak lain untuk menyamarkan kepemilikan UBO.
Download Aplikasi Labirin :