Penerimaan Pajak
( 68 )Siasat ‘Memecah’ Entitas: Sengkarut Firm Splitting UMKM yang Menguras Kas Negara
JAKARTA — Fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0,5% yang
sejatinya diciptakan sebagai inkubator bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM) agar dapat tumbuh, kini tengah menghadapi tantangan serius.
Otoritas perpajakan menemukan indikasi kuat bahwa insentif ini disalahgunakan oleh
gurita bisnis berskala besar melalui modus firm splitting atau pemecahan
usaha. Praktik culas ini dilakukan demi menghindari tarif pajak normal dan
kewajiban mengumpulkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Direktorat
Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengungkap data yang mengejutkan
publik. Dari total 542.000 wajib pajak (WP) UMKM yang terdaftar di Indonesia,
sebanyak 93.260 entitas atau setara 17,21% terindikasi kuat melakukan firm
splitting. Di balik gurita puluhan ribu badan usaha tersebut, DJP
mengidentifikasi adanya 30.000 orang pribadi yang bertindak sebagai Ultimate
Beneficial Owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir.
Fenomena yang
paling mencolok berada pada puncak piramida kepemilikan: terdapat 14 orang
pribadi kaya yang secara rahasia mengendalikan total 1.067 badan usaha. Artinya, rata-rata satu orang kaya
menguasai lebih dari 51 entitas boneka berkedok UMKM. Siasat ini sengaja
dirancang agar omzet masing-masing entitas tetap berada di bawah ambang batas
(threshold) Rp4,8 miliar per tahun, sehingga mereka dapat terus berlindung di
balik tarif istimewa 0,5%. Selain firm splitting, DJP juga menengarai
adanya praktik bunching, yakni strategi menahan pelaporan omzet secara
artifisial.
Bocornya Kas Negara: Antara PPh dan PPN
Dampak dari manipulasi subjek pajak ini tidak main-main bagi kesehatan
anggaran pendapatan dan belanja negara. Direktur
Eksekutif Indonesia Economic Fiscal (IEF) Research Institute, Ariawan Rahmat,
menilai temuan DJP tersebut mencerminkan adanya persoalan serius dalam keadilan
fiskal. Berdasarkan kalkulasi moderat IEF, jika 30.000 grup usaha yang
teridentifikasi tersebut memiliki omzet gabungan riil Rp10 miliar per tahun
dengan margin laba bersih 10%, negara seharusnya menerima PPh Badan normal
sebesar 22%.
"Melalui
skema firm splitting, kelompok ini hanya membayar tarif 0,5% dari omzet.
Akibatnya, ada potensi kehilangan penerimaan negara (revenue lost) minimal
Rp5,1 triliun per tahun, yang dalam skenario agresif bisa menembus Rp15
triliun," ungkap Ariawan.
Namun, kebocoran
terbesar disinyalir tidak hanya datang dari sektor PPh, melainkan dari Pajak
Pertambahan Nilai (PPN). Konsultan Pajak Botax Consulting Indonesia, Raden Agus
Suparman, menjelaskan bahwa pemecahan usaha efektif membuat korporasi terhindar
dari status Pengusaha Kena Pajak (PKP). Jika separuh saja dari 93.260 WP
tersebut seharusnya sudah wajib menjadi PKP, potensi kehilangan PPN 11% dari
omzet diperkirakan mencapai Rp24 triliun per tahun. Strategi menghindari PPN
ini marak ditemukan pada sektor perdagangan daring (marketplace) demi
memenangi perang harga dengan margin keuntungan tipis.
Respons
Regulasi dan Perlunya Kehati-hatian
Pemerintah
bergerak cepat merespons kebocoran ini dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah
(PP) Nomor 20 Tahun 2026. Regulasi anyar ini memperketat batasan dengan
mencoret badan usaha berbentuk CV dan PT dari daftar penikmat PPh Final UMKM
0,5%, sehingga memaksa mereka menyelenggarakan pembukuan standar.
Meskipun langkah
ini diapresiasi sebagai penutup celah hukum, pengamat perpajakan dari Center
for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Fajry Akbar, memberikan catatan
kritis. Fajry mengingatkan otoritas agar tidak menyamaratakan seluruh 93.260 WP
badan tersebut sebagai pelaku kecurangan. Menurutnya, sebagian besar bisa jadi
merupakan pelaku usaha legal yang memang berhak memanfaatkan fasilitas
perpajakan sesuai tren kepatuhan. Ia juga mengimbau pemerintah mengantisipasi
risiko politik dan penyesuaian bentuk usaha baru, seperti beralih ke PT
Perorangan agar tetap bisa mengakses tarif mikro.
Kebijakan Terbaru PPN 2025: Harapan Pemerintah dan Respon Masyarakat
Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan pajak baru melalui PMK Nomor 131 Tahun 2024, PMK Nomor 11 Tahun 2025, dan PER-11/PJ/2025 untuk meningkatkan penerimaan pajak dan kepatuhan di sektor perdagangan, khususnya melalui pemungutan PPN oleh platform marketplace. Dari sudut pandang pemerintah, kebijakan ini memperkuat fiskal nasional, sementara masyarakat umum menunjukkan respons beragam.
Berdasarkan PMK 131/2024, tarif PPN naik menjadi 12% untuk barang/jasa
mewah (misalnya, hunian di atas Rp30 miliar, kendaraan mewah) sejak Januari
2025, sementara barang non-mewah tetap efektif 11% melalui perhitungan DPP
11/12. Selanjutnya, PER-11/PJ/2025 mewajibkan marketplace seperti Shopee memungut PPN
dari pedagang dengan transaksi di atas Rp600 juta atau traffic lebih
dari 12.000, menyederhanakan pemungutan dan memperluas basis pajak e-commerce. PMK
11/2025 menstandarisasi DPP untuk transaksi seperti pulsa dan voucher, sekaligus memudahkan pelaporan. Pemerintah memproyeksikan peningkatan penerimaan PPN untuk mendanai pembangunan dan
program sosial. Disamping itu, pemerintah juga memebrikan stimulus Rp38,6 triliun, termasuk insentif PPN 6% untuk tiket
pesawat sebagai bentuk upaya menjaga daya beli masyarakat.
Masyarakat umum, khususnya konsumen, menyambut pembebasan PPN untuk kebutuhan pokok dan insentif ekonomi, yang menjaga harga barang dasar tetap terjangkau. Namun, pedagang online mengeluhkan PER-11/PJ/2025 karena PPN meningkatkan harga jual atau mengurangi margin, terutama bagi UMKM mendekati batas Rp600 juta. Kurangnya sosialisasi memicu kebingungan tentang administrasi pajak, meskipun efisiensi pemungutan oleh marketplace diapresiasi sebagian pelaku usaha.
Pemerintah diimbau memperkuat sosialisasi dan mengevaluasi batas transaksi untuk mendukung UMKM, memastikan penerimaan pajak meningkat tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.Penerimaan Pajak Sulit Tumbuh di Tengah Lesunya Ekonomi
Penerimaan Pajak LTO Masih Kedodoran
Pemerintah Sudah Mengumpulkan Penerimaan Pajak Sebesar Rp557,1 Triliun
Rendahnya Pajak Mengganggu Stabilitas Fiskal
Intensifikasi Jadi Harapan Baru di Sektor Pajak
Pendapatan Pajak Tertekan, Shortfall Membayang
Kinerja penerimaan pajak Indonesia pada awal 2025 mengalami kontraksi signifikan, menimbulkan risiko terjadinya shortfall atau kegagalan mencapai target penerimaan dalam APBN 2025 sebesar Rp2.189,3 triliun. Hingga April 2025, penerimaan pajak hanya mencapai Rp451,1 triliun, turun 27,72% secara tahunan (year-on-year).
Fajry Akbar, pengamat pajak dari CITA, menjelaskan bahwa target penerimaan pajak tahun ini sudah berat sejak awal, terutama untuk jenis pajak seperti PPh 21 dan PPN. Gagalnya kenaikan tarif PPN menjadi 12% dan masalah dalam implementasi sistem coretax administration system turut memperburuk kondisi, di samping peningkatan restitusi dan penyesuaian tarif efektif.
Fajry juga menyoroti pelemahan ekonomi global, termasuk dampak tarif impor dari AS dan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% oleh World Bank dan IMF, yang makin memperbesar potensi shortfall dan menurunkan tax ratio.
Sementara itu, Muhammad Rizal Taufikurahman dari Indef menambahkan bahwa penurunan harga komoditas utama seperti batu bara dan CPO, serta lesunya ekspor, turut menekan penerimaan. Menurutnya, shortfall tahun ini bisa mencapai Rp80 triliun hingga Rp130 triliun, lebih besar dari tahun sebelumnya.
Prianto Budi Saptono, Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute, masih melihat peluang bagi pemerintah menambal kekurangan tersebut dengan memaksimalkan delapan bulan tersisa melalui peningkatan pemeriksaan pajak dan pengiriman SP2DK. Namun, ia mengingatkan bahwa pembuktian transaksi akan tetap menjadi tantangan karena wajib pajak cenderung mengutamakan efisiensi.
Penerimaan pajak 2025 menghadapi tekanan berat akibat perlambatan ekonomi global, kebijakan fiskal yang tidak optimal, dan kelemahan teknis di dalam negeri. Kendati ada peluang pemulihan, dibutuhkan strategi pengawasan dan perluasan basis pajak yang lebih agresif untuk menghindari kegagalan target yang lebih besar.
Indikasi Shortfall Penerimaan Pajak Cukup Berat
Penerimaan Pajak Sebesar Rp322,6 triliun
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









