Internasional
( 1384 )Ekonomi RI Tembus 5,61 Persen, Bukti Ketangguhan Strategi Fiskal Pemerintah di Tengah Gejolak Global
Jakarta
- Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global dan eskalasi geopolitik
yang kian memanas, perekonomian Indonesia justru menunjukkan kekuatannya. Data
terbaru dari Kementerian Keuangan mencatat pertumbuhan ekonomi nasional pada
Triwulan I 2026 sukses menembus angka 5,61 persen secara tahunan
(year-on-year/yoy). Pencapaian impresif ini bukan sekadar angka di atas kertas,
melainkan bukti nyata dari ketangguhan fundamental ekonomi domestik dan
kejelian strategi fiskal yang diracik oleh pemerintah.
Keberhasilan mencetak pertumbuhan di atas 5,5
persen ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja
ekonomi paling solid di kawasan. Angka 5,61 persen ini bahkan melampaui asumsi
dasar ekonomi makro APBN 2026 yang dipatok pada level 5,4 persen. Lantas, apa
rahasia di balik ketahanan ekonomi Ibu Pertiwi ini? Jawabannya bermuara pada
satu motor penggerak utama, yaitu akselerasi belanja pemerintah yang tepat
sasaran.
Kementerian Keuangan di bawah komando yang
solid telah memastikan bahwa instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) bekerja secara optimal sebagai peredam kejut (shock absorber)
sekaligus katalisator pertumbuhan. Hingga 31 Maret 2026, realisasi belanja
negara tercatat melonjak tajam, tumbuh 31,4 persen yoy mencapai Rp815,0
triliun. Angka ini setara dengan 21,2 persen dari total pagu APBN.
Lonjakan belanja ini bukanlah pengeluaran tanpa
arah yang jelas. Pemerintah secara cerdas mengarahkan dana tersebut pada
belanja prioritas yang memberikan efek pengganda (multiplier effect)
maksimal bagi perekonomian. Percepatan belanja pemerintah pusat, yang meroket
47,7 persen menjadi Rp610,3 triliun, terbukti ampuh menstimulasi aktivitas
ekonomi di akar rumput. Dana segar yang mengalir ke berbagai proyek strategis
dan program perlindungan sosial ini secara langsung mendongkrak daya beli
masyarakat.
Dampak dari guyuran belanja pemerintah ini
terlihat jelas pada indikator konsumsi rumah tangga. Menjelang periode perayaan
Idul Fitri, konsumsi masyarakat terpantau mengalami lonjakan signifikan.
Sektor-sektor seperti barang konsumsi (consumer goods), elektronik,
rekreasi, dan mobilitas mencatatkan tren peningkatan yang menggembirakan.
Meskipun terjadi moderasi pasca-Idul FItri, momentum ini telah memberikan
suntikan tenaga yang masif bagi roda perekonomian nasional pada kuartal
pertama.
Lebih dari itu, optimisme masyarakat terhadap
kondisi ekonomi saat ini tetap terjaga kuat. Keyakinan konsumen yang solid ini
menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan tren konsumsi di kuartal-kuartal
mendatang. Pemerintah menyadari betul bahwa menjaga daya beli adalah kunci, dan
APBN telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik dalam aspek ini.
Dari sisi pasokan (supply), denyut nadi
sektor riil juga berdetak kencang. Peningkatan aktivitas ekonomi tidak hanya
didorong oleh konsumsi, tetapi juga oleh kinerja yang baik di berbagai sektor
utama. Industri manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi, hingga
akomodasi dan makanan-minuman kompak mencatatkan pertumbuhan positif.
Sektor-sektor ini bergerak dinamis untuk memenuhi lonjakan permintaan, baik
dari pasar domestik maupun internasional.
Berbicara mengenai pasar internasional, kinerja
eksternal Indonesia juga patut mendapat acungan jempol. Di tengah lesunya
permintaan global, neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak sejarah dengan
membukukan surplus selama 71 bulan berturut-turut. Ekspor tetap tumbuh positif,
sementara pertumbuhan impor yang terjadi lebih mencerminkan ekspansi aktivitas
produksi dan investasi di dalam negeri.
Impor bahan baku tercatat naik 6,89 persen
menjadi USD 43,2 miliar, dan impor barang modal tumbuh 6,12 persen menjadi USD
5,2 miliar. Data ini mengirimkan sinyal yang sangat positif yaitu bahwa
industri dalam negeri sedang bersiap untuk berlari lebih kencang. Peningkatan
impor barang produktif ini adalah indikator awal dari ekspansi kapasitas
produksi yang akan bermuara pada penciptaan lapangan kerja baru dan pertumbuhan
ekonomi yang lebih inklusif.
Keberhasilan menjaga momentum pertumbuhan ini
tidak lepas dari pengelolaan APBN yang ekspansif namun tetap terukur dan
berhati-hati (prudent). Defisit APBN hingga akhir Maret 2026 masih
sangat terkendali di angka Rp240,1 triliun, atau hanya sekitar 0,93 persen dari
Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak
mengorbankan kesehatan fiskal jangka panjang demi mengejar pertumbuhan jangka
pendek.
Ke depan, pemerintah melalui Kementerian
Keuangan berkomitmen untuk terus mengawal pelaksanaan APBN agar tetap responsif
terhadap dinamika global. Dengan fondasi pertumbuhan 5,61 persen di kuartal
pertama, Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk mengarungi sisa tahun
2026. Optimisme yang realistis ini didukung oleh data yang solid, membuktikan
bahwa kapal besar ekonomi Indonesia sedang berlayar di jalur yang tepat,
dikemudikan oleh nakhoda yang andal dalam menghadapi badai ketidakpastian
global.
Pemerintah juga terus melakukan fine-tuning
terhadap instrumen-instrumen kebijakan untuk memastikan bahwa manfaat
pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan
masyarakat. Dengan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, Indonesia tidak
hanya akan mempertahankan momentum positif ini, tetapi juga membangun fondasi
yang lebih kokoh untuk pertumbuhan jangka panjang yang lebih tinggi lagi di
tahun-tahun mendatang.
Referensi:
[1]:
"Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers
APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."
Inflasi Terkendali di 2,42 Persen, Bukti Nyata Kehadiran Pemerintah Lindungi Daya Beli Masyarakat
Jakarta
- Gejolak geopolitik di Timur Tengah telah memicu gelombang kejut pada harga
komoditas energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 16,5 persen
secara tahunan, sementara emas meroket hingga 63,5 persen. Di banyak negara,
situasi ini langsung memukul daya beli masyarakat akibat lonjakan inflasi.
Namun, cerita berbeda terjadi di Indonesia. Berkat intervensi kebijakan yang
terukur dan komitmen kuat pemerintah, inflasi nasional pada Triwulan I 2026
berhasil dijinakkan di level 2,42 persen.
Angka inflasi 2,42 persen ini bukan sekadar
pencapaian statistik, melainkan cerminan nyata dari keberhasilan negara hadir
sebagai pelindung ekonomi rakyat. Realisasi ini bahkan lebih rendah dari asumsi
dasar makro APBN 2026 yang mematok inflasi di angka 2,5 persen. Keberhasilan
menjinakkan "monster" inflasi di tengah badai global ini menjadi
bukti tak terbantahkan dari efektivitas bauran kebijakan fiskal yang dikomandoi
oleh Kementerian Keuangan.
Kunci utama dari keberhasilan ini terletak pada
strategi pemerintah dalam mengendalikan dua komponen inflasi yang paling
sensitif terhadap daya beli masyarakat: harga pangan yang sensitif (volatile
food) dan harga yang diatur pemerintah (administered price). Data
menunjukkan bahwa inflasi pada kedua komponen tersebut mengalami tren penurunan
yang signifikan.
Untuk komponen administered price,
inflasi tercatat turun menjadi 1,53 persen. Penurunan ini seiring dengan
hilangnya base effect dari kebijakan diskon listrik pada tahun
sebelumnya, serta yang paling krusial yaitu terjaganya harga energi domestik.
Di saat harga minyak dunia bergejolak, pemerintah mengambil langkah berani dan
pro-rakyat dengan berkomitmen penuh mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak
(BBM) bersubsidi hingga akhir tahun 2026.
Keputusan mempertahankan harga BBM bersubsidi
ini adalah langkah strategis yang membutuhkan dukungan fiskal yang kuat. Di
sinilah peran APBN sebagai peredam kejut (shock absorber) benar-benar
diuji dan terbukti berhasil. Dengan menyerap selisih harga energi global,
pemerintah memastikan bahwa beban tersebut tidak langsung ditransmisikan kepada
masyarakat luas. Langkah ini secara efektif menjaga daya beli kelas menengah ke
bawah yang rentan terhadap guncangan harga energi.
Sementara itu, pada komponen volatile food,
inflasi juga berhasil ditekan berkat stabilnya harga pangan. Pemerintah tidak
tinggal diam melihat potensi krisis pangan global. Melalui koordinasi lintas
kementerian dan lembaga, pasokan pangan nasional dipastikan memadai dengan
jalur distribusi yang lancar. Cadangan pangan yang kuat menjadi benteng
pertahanan utama dalam mengendalikan harga kebutuhan pokok di pasaran.
Keberhasilan strategi ini tidak hanya tercermin
dari angka inflasi, tetapi juga dari pengakuan dunia internasional terhadap
ketahanan energi Indonesia. Berdasarkan data perbandingan global, ketahanan
energi Indonesia dalam menghadapi krisis saat ini mencapai skor 77 persen.
Angka ini menempatkan Indonesia di posisi kedua tertinggi di antara
negara-negara G20 dan ASEAN, hanya terpaut tipis dari Afrika Selatan (79
persen), dan jauh mengungguli negara maju seperti Amerika Serikat (70 persen)
maupun Australia (68 persen).
Skor resiliensi yang tinggi ini didasarkan pada
posisi Indonesia yang memiliki eksposur rendah terhadap gangguan pasokan energi
global, namun didukung oleh buffer fiskal yang sangat kuat. Kebijakan
fiskal yang prudent selama ini telah memberikan ruang gerak yang cukup
bagi pemerintah untuk bermanuver di saat krisis melanda.
Lebih jauh lagi, tren kenaikan harga komoditas
ekspor unggulan Indonesia, seperti batu bara, nikel, dan tembaga, justru
menciptakan pelindung nilai alami bagi APBN. Kenaikan penerimaan negara dari
sektor komoditas ini memberikan amunisi tambahan bagi pemerintah untuk
membiayai program-program subsidi dan perlindungan sosial tanpa mengorbankan
kesehatan fiskal secara keseluruhan.
Ke depan, tantangan global mungkin belum akan
mereda dalam waktu dekat. Namun, dengan rekam jejak keberhasilan di kuartal
pertama ini, masyarakat patut bernapas lega. Pemerintah, melalui Kementerian
Keuangan, telah membuktikan kapasitasnya dalam meracik kebijakan yang
menyeimbangkan antara stabilitas makroekonomi dan perlindungan daya beli
rakyat.
Inflasi yang terkendali di angka 2,42 persen
adalah fondasi yang kokoh untuk menyongsong pertumbuhan ekonomi yang lebih
berkualitas. Dengan daya beli yang terjaga, roda konsumsi domestik akan terus
berputar, menggerakkan sektor riil, dan pada akhirnya membawa kesejahteraan
bagi seluruh rakyat Indonesia. Optimisme ini bukanlah isapan jempol belaka,
melainkan sebuah realitas yang dibangun di atas data dan kerja keras
pemerintah.
Dalam konteks ini, komitmen pemerintah untuk
terus menjaga stabilitas harga pangan dan energi bukan hanya sekadar janji
politis, tetapi merupakan keputusan yang didukung penuh oleh kapasitas fiskal
yang kuat dan manajemen APBN yang bijaksana. Dengan terus mengoptimalkan
penerimaan negara dan mengalokasikan belanja secara efisien, pemerintah
memiliki ruang yang cukup untuk mempertahankan subsidi dan program perlindungan
sosial hingga akhir tahun 2026 tanpa mengorbankan kesehatan finansial negara
jangka panjang.
Referensi:
[1]:
"Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers
APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."
Modal Asing Kembali Banjiri Pasar RI, Bukti Tingginya Kepercayaan Investor Global
Jakarta
-- Di tengah dinamika pasar keuangan global yang kerap bergejolak akibat
ketidakpastian arah kebijakan moneter negara maju, Indonesia justru tampil
sebagai oase yang menjanjikan. Kepercayaan investor global terhadap fundamental
ekonomi Ibu Pertiwi terbukti semakin menguat. Hal ini tercermin dari derasnya
arus modal asing (capital inflow) yang kembali membanjiri pasar keuangan
domestik pada awal tahun 2026.
Data terbaru menunjukkan bahwa hingga 30 April
2026, akumulasi aliran masuk modal asing telah mencapai angka yang fantastis,
yakni Rp10,4 triliun. Menariknya, momentum pembalikan arus modal ini terjadi
sangat masif di bulan April, di mana tercatat inflow sebesar Rp38,5 triliun
hanya dalam kurun waktu satu bulan. Derasnya aliran dana segar ini menjadi
sinyal kuat bahwa investor asing melihat prospek cerah pada instrumen investasi
di Indonesia.
Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia
(SRBI) menjadi primadona utama yang memikat hati para pemodal asing. Sepanjang
tahun berjalan hingga April, SRBI berhasil mencatatkan inflow jumbo sebesar
Rp72,0 triliun, dengan Rp42,2 triliun di antaranya masuk pada bulan April saja.
Selain itu, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) juga mulai menunjukkan
tajinya dengan mencatatkan inflow sebesar Rp13,4 triliun di bulan April,
membalikkan tren outflow yang sempat terjadi di bulan-bulan sebelumnya.
Kembalinya arus modal asing ini bukanlah sebuah
kebetulan semata. Ini adalah buah manis dari kerja keras pemerintah, khususnya
Kementerian Keuangan, yang bersinergi erat dengan Bank Indonesia dalam menjaga
stabilitas makroekonomi dan sektor keuangan. Koordinasi kebijakan fiskal dan
moneter yang solid telah berhasil menciptakan iklim investasi yang kondusif dan
meningkatkan market confidence secara signifikan.
Dari sisi fiskal, pengelolaan APBN yang prudent
dan terukur telah memberikan kepastian bagi investor. Defisit yang terkendali
dan rasio utang yang aman membuat risiko investasi di Indonesia (country risk)
tetap terkelola dengan sangat baik. Hal ini tercermin dari pergerakan yield SBN
10 tahun yang tetap stabil di kisaran 6,76 persen, lebih rendah dari asumsi
APBN yang dipatok 6,9 persen. Spread yield antara SBN dan US Treasury juga
terjaga, menunjukkan daya tarik imbal hasil investasi di Indonesia yang masih
sangat kompetitif.
Sementara itu, dari sisi moneter, Bank
Indonesia terus memperkuat transmisi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan
kredit di sektor riil. Sinergi ini semakin nyata dengan langkah strategis
pemerintah menempatkan dana di Bank Himbara dan Bank Pembangunan Daerah (BPD).
Penempatan dana ini terbukti efektif mendorong penurunan suku bunga perbankan,
baik suku bunga deposito maupun suku bunga kredit.
Data menunjukkan bahwa suku bunga kredit
tertimbang perbankan telah menurun secara konsisten hingga menyentuh level 9,20
persen. Penurunan suku bunga ini menjadi angin segar bagi dunia usaha, karena
biaya pinjaman (cost of fund) menjadi lebih murah. Dampak positifnya langsung
terlihat pada pertumbuhan kredit perbankan yang melesat hingga 9,5 persen pada
Maret 2026.
Pertumbuhan kredit yang kuat ini menjadi bahan
bakar utama bagi sektor riil untuk melakukan ekspansi bisnis, meningkatkan
kapasitas produksi, dan pada akhirnya menciptakan lapangan kerja baru.
Likuiditas perekonomian (M0) juga terpantau tumbuh tinggi sebesar 18,8 persen
pada pertengahan April 2026, memastikan ketersediaan dana yang memadai untuk
memutar roda ekonomi.
Meskipun pasar saham sempat mencatatkan outflow
sebesar Rp49,9 triliun hingga April, hal tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh
transaksi negosiasi korporasi berskala besar pada bulan Maret, bukan karena
memburuknya fundamental ekonomi. Secara keseluruhan, neraca aliran modal asing
tetap positif dan memberikan dukungan kuat bagi stabilitas nilai tukar Rupiah.
Pelemahan Rupiah yang sempat terjadi lebih
banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti eskalasi geopolitik dan arah
kebijakan moneter global. Namun, dibandingkan dengan mata uang negara-negara
peers, depresiasi Rupiah masih tergolong moderat dan sangat terkendali.
Ke depan, dengan fundamental makroekonomi yang
kokoh, inflasi yang terkendali, dan pertumbuhan ekonomi yang impresif di angka
5,61 persen, Indonesia memiliki daya tarik yang tak terbantahkan di mata
investor global. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang terus diperkuat akan
menjadi jangkar stabilitas, memastikan bahwa arus modal asing yang masuk tidak
hanya bersifat jangka pendek (hot money), tetapi juga investasi jangka panjang
yang produktif. Optimisme ini sangat beralasan, membawa harapan baru bagi terwujudnya
pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi dan berkelanjutan.
Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus
menjaga sinergi kebijakan yang telah terbukti efektif ini. Dengan terus
memperkuat transmisi kredit ke sektor riil dan memastikan bahwa likuiditas
perekonomian tetap terjaga, momentum pertumbuhan ekonomi akan terus berlanjut.
Investor asing yang telah merasakan manfaat dari investasi mereka di Indonesia
akan terus mempercayai pasar keuangan domestik, menciptakan lingkaran positif
yang menguntungkan bagi semua pihak. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya
akan menjadi tujuan investasi yang menarik, tetapi juga mitra ekonomi yang
dapat diandalkan dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang terus berubah.
Referensi:
[1]:
"Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers
APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."
Diprotes Pengusaha, Bahlil Rem Rencana Kenaikan Royalti Tambang Emas dan Nikel
Diprotes Pengusaha, Bahlil Rem
Rencana Kenaikan Royalti Tambang Emas dan Nikel
JAKARTA – Rencana pemerintah untuk mengerek tarif royalti sejumlah
komoditas tambang andalan seperti emas, nikel, tembaga, dan timah resmi
ditunda. Langkah pengereman ini diambil oleh Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia setelah menampung berbagai protes dan masukan
dari kalangan pelaku usaha pertambangan.
Sebelumnya, draf kenaikan tarif tersebut telah masuk ke tahap uji
publik pada pekan lalu. Namun, besarnya gelombang keberatan dari para pengusaha
membuat pemerintah menyadari perlunya evaluasi ulang. Bahlil memutuskan untuk
menunda pembahasan revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025 yang
mengatur tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tersebut guna mencari
rumusan baru yang lebih ideal.
Kementerian ESDM menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah
menciptakan kebijakan yang tidak berat sebelah. Targetnya adalah menemukan
titik tengah di mana pendapatan negara tetap bisa dioptimalkan, namun tanpa
merugikan atau mematikan iklim usaha di sektor pertambangan.
Perspektif Ekonomi dan Perpajakan: Mencari Titik Keseimbangan
Fiskal
Dalam kacamata ekonomi makro dan perpajakan, wacana kenaikan
royalti tambang ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, pemerintah memiliki
urgensi untuk menggenjot penerimaan negara, baik melalui pajak maupun PNBP.
Sektor ekstraktif, khususnya komoditas bernilai tinggi seperti nikel dan emas,
merupakan tulang punggung yang krusial untuk memperlebar ruang fiskal,
membiayai pembangunan infrastruktur, dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Namun di sisi lain, kenaikan beban royalti yang terlalu drastis
berisiko menjadi bumerang bagi perekonomian. Pungutan yang membengkak akan
menekan marjin keuntungan perusahaan dan memukul daya saing industri tambang
Indonesia di pasar global.
Dampak lanjutannya, iklim investasi bisa mendingin. Jika pengusaha
terpaksa menahan ekspansi bisnis atau mengurangi volume produksi demi menekan
kerugian, penyerapan tenaga kerja akan ikut terganggu. Ironisnya, alih-alih
meningkatkan kas negara, lesunya aktivitas pertambangan justru berpotensi
membuat realisasi setoran pajak dan PNBP meleset dari target. Oleh karena itu,
penundaan yang dilakukan pemerintah dinilai sebagai langkah rasional untuk
meracik formula kebijakan yang bersahabat bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus
aman bagi target penerimaan negara.
Sempat Ditargetkan Berlaku Juni 2026
Penundaan ini sekaligus mengkalibrasi ulang sinyal yang sebelumnya
beredar di internal pemerintah. Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Purbaya
Yudhi Sadewa sempat memproyeksikan bahwa penyesuaian tarif royalti untuk
seluruh barang tambang (across the board) akan mulai diberlakukan pada
awal Juni 2026.
Meski target waktu telah dicanangkan, keputusan final Kementerian ESDM untuk memperpanjang masa kajian menunjukkan kehati-hatian pemerintah. Lewat penundaan ini, diharapkan regulasi yang kelak diterbitkan benar-benar mencerminkan solusi win-win; roda industri tambang tetap berputar kencang, dan pundi-pundi perbendaharaan negara tetap terisi maksimal.
Akhir Polemik: Peserta Tax Amnesty Batal Diperiksa Ulang
Akhir Polemik: Peserta Tax Amnesty
Batal Diperiksa Ulang
JAKARTA – Kepastian hukum dan kenyamanan berusaha kembali menjadi fokus
utama pemerintah dalam menjaga stabilitas iklim investasi. Menteri Keuangan
(Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengambil langkah tegas dengan melarang jajaran
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk memeriksa ulang harta wajib pajak yang
telah mengikuti program pengampunan pajak (Tax Amnesty) di masa lalu.
Keputusan ini diambil menyusul adanya polemik di masyarakat
terkait wacana pemeriksaan kembali para peserta pengampunan pajak. Menkeu
bahkan dikabarkan langsung menegur otoritas pajak agar tidak lagi
"mengutak-atik" data peserta program tersebut, sekaligus menegaskan
komitmennya bahwa selama ia menjabat, program Tax Amnesty jilid baru
tidak akan pernah digelar kembali.
Mencegah Bahaya Moral di Tubuh Otoritas Pajak
Penghentian rencana pemeriksaan ini bukan tanpa alasan. Dari
kacamata internal pemerintahan, kebijakan mengaudit ulang harta yang sudah
diampuni justru membawa risiko besar bagi integritas institusi perpajakan.
Pemerintah menyadari bahwa memberikan kewenangan kepada petugas
pajak untuk kembali memeriksa peserta Tax Amnesty sangatlah berbahaya.
Hal tersebut berpotensi memicu timbulnya moral hazard atau
penyalahgunaan wewenang. Ruang pemeriksaan yang berlarut-larut dikhawatirkan
dapat disalahgunakan menjadi ajang tawar-menawar atau praktik transaksional
yang justru merugikan negara dan merusak kepercayaan publik terhadap DJP.
Pengecualian bagi Pelanggar Janji Repatriasi
Meski buku pemeriksaan secara umum telah ditutup, pemerintah tetap
bersikap tegas terhadap wajib pajak yang terbukti tidak jujur. Pengecualian
pemeriksaan ini hanya berlaku bagi mereka yang sudah sepenuhnya memenuhi
kewajiban.
Berdasarkan data kementerian, terdapat sekitar 2.424 wajib pajak
yang sebelumnya berjanji akan memulangkan hartanya dari luar negeri
(repatriasi) ke dalam negeri saat mengikuti program Tax Amnesty, namun
hingga kini gagal merealisasikannya. Bagi ribuan wajib pajak yang melanggar
komitmen inilah, pemerintah akan tetap melakukan pengejaran dan penegakan hukum
secara terukur.
Perspektif Ekonomi: Menukar Denda Masa Lalu dengan Pertumbuhan
Masa Depan
Dari perspektif ekonomi makro dan strategi perpajakan, ketegasan
Menteri Keuangan ini merupakan sinyal positif yang sangat ditunggu oleh pasar.
Kebijakan pajak yang selalu berubah dan penuh ancaman retrospektif kerap
dianggap oleh pelaku usaha sebagai "jebakan" yang menakutkan.
Jika peserta Tax Amnesty terus dibayangi rasa tidak aman,
dampaknya akan sangat merugikan perekonomian nasional. Ketakutan tersebut dapat
memicu pelarian modal (capital flight), di mana dana-dana besar justru
akan kembali disembunyikan atau dilarikan ke luar negeri.
Sebaliknya, dengan memberikan kepastian hukum yang mutlak bahwa
masa lalu telah diputihkan, para pengusaha dan pemilik modal akan merasa jauh
lebih aman untuk memutar uangnya di sektor riil dalam negeri. Uang yang
ditanamkan ke dalam pabrik, infrastruktur, maupun UMKM akan memacu roda ekonomi
dan menciptakan jutaan lapangan kerja baru.
Pada akhirnya, strategi ini akan memperluas basis penerimaan pajak negara secara otomatis. Pemerintah tidak lagi bergantung pada perburuan denda dari kesalahan masa lalu, melainkan memanen penerimaan pajak dari aktivitas ekonomi yang sehat, transparan, dan terus bertumbuh di masa depan.
Impor Emas Indonesia Melonjak di Awal 2026, Australia dan Singapura Jadi Pemasok Utama
Jakarta
— Impor emas dan logam
mulia Indonesia melonjak tajam pada awal 2026. Di tengah kenaikan harga emas
global dan meningkatnya tekanan inflasi dari komoditas emas perhiasan, data
Badan Pusat Statistik menunjukkan arus masuk logam mulia ke Indonesia tumbuh jauh
di atas rata-rata kenaikan impor nasional.
BPS
mencatat nilai impor Indonesia sepanjang Januari–Februari 2026 mencapai US$42,09
miliar, naik 14,44% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh impor nonmigas yang tumbuh 17,49%
menjadi US$36,93 miliar. Pada Februari 2026 saja, impor Indonesia
mencapai US$20,89 miliar, naik 10,85% secara tahunan.
Salah
satu komoditas yang mencuri perhatian adalah logam mulia dan
perhiasan/permata, khususnya yang berasal dari Australia. Deputi Bidang
Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut impor nonmigas dari
Australia pada Januari–Februari 2026 mencapai US$2,07 miliar, dengan
porsi terbesar berasal dari logam mulia dan perhiasan/permata. Nilai impor
kelompok ini mencapai US$865,74 juta, atau mengambil porsi 41,84%
dari total impor nonmigas asal Australia.
Secara
tahunan, impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia melonjak
sekitar 646%. Kenaikan tersebut menjadikan Australia salah satu sumber
utama lonjakan impor komoditas emas dan logam mulia Indonesia pada awal tahun
ini.
Lonjakan
serupa juga terjadi pada impor dari Singapura. Sepanjang Januari–Februari 2026,
impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Singapura tercatat sebesar US$323,43
juta, meningkat 196,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan
impor logam mulia ini berlangsung di tengah tren kenaikan harga emas dunia. BPS
sebelumnya mencatat harga emas global naik tajam dari sekitar US$2.398 per
troy ounce pada Juli 2024 menjadi sekitar US$5.002 per troy ounce pada
Februari 2026. Kenaikan harga internasional tersebut turut tercermin pada
harga emas perhiasan di dalam negeri.
Pada
Februari 2026, emas perhiasan tercatat mengalami inflasi 8,42% secara
bulanan dan memberikan andil 0,19% terhadap inflasi. BPS juga
menyebut emas perhiasan telah mengalami inflasi selama 30 bulan
berturut-turut hingga Februari 2026, menunjukkan tekanan harga yang
konsisten pada komoditas tersebut.
Dari
sisi perdagangan luar negeri, kenaikan impor dari Australia ikut memperlebar
defisit perdagangan Indonesia dengan negara tersebut. BPS mencatat defisit
perdagangan Indonesia dengan Australia pada Januari–Februari 2026 mencapai US$1,58
miliar, dengan komoditas penyumbang utama defisit antara lain logam mulia
dan perhiasan/permata, serealia, serta bahan bakar mineral.
Meski
impor meningkat, neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan masih mencatat
surplus. Pada Januari–Februari 2026, surplus perdagangan Indonesia mencapai US$2,23
miliar, ditopang surplus sektor nonmigas sebesar US$5,42 miliar,
sementara sektor migas mengalami defisit US$3,19 miliar.
Kenaikan
impor emas juga terjadi di tengah kebijakan pemerintah yang mulai memperketat
tata kelola komoditas emas. Reuters melaporkan Indonesia menerapkan bea keluar
untuk produk emas mulai 23 Desember 2025, dengan tarif bervariasi berdasarkan
jenis produk dan harga acuan emas. Kebijakan ini ditujukan untuk mendorong
pengolahan domestik, menangkap nilai tambah, serta meningkatkan penerimaan
negara dari komoditas bernilai tinggi tersebut.
Dengan
demikian, lonjakan impor emas pada awal 2026 mencerminkan kombinasi beberapa
faktor: kenaikan harga emas global, kebutuhan domestik terhadap logam mulia dan
perhiasan, serta perubahan kebijakan yang mendorong penataan ulang rantai pasok
emas nasional. Namun, besarnya nilai impor dari Australia dan Singapura juga
menjadi sinyal bahwa permintaan domestik terhadap emas masih kuat, baik sebagai
bahan baku industri perhiasan, instrumen investasi, maupun aset lindung nilai
di tengah ketidakpastian ekonomi.
Referensi
- Badan
Pusat Statistik, Ekspor dan Impor Indonesia Februari 2026, rilis 1
April 2026.
- Badan
Pusat Statistik, Ekspor dan Impor Indonesia Januari 2026, rilis 2
Maret 2026.
- Bloomberg
Technoz, “Impor RI dari Australia & Singapura Melonjak, Belanja
Logam Mulia”, 1 April 2026. Impor RI dari Australia &
Singapura Melonjak, Belanja Logam Mulia - Market
- DetikFinance,
“Fantastis! RI Dibanjiri Perhiasan Australia, Impornya Meledak 646%”,
1 April 2026.
- Kumparan
Bisnis, “Emas Australia Banjiri Indonesia, Inflasi Perhiasan 8,42
Persen”, 2 Maret 2026. Emas Australia Banjiri Indonesia,
Inflasi Perhiasan 8,42 Persen | kumparan.com
- Antara/Infobank
terkait data inflasi emas perhiasan Februari 2026. BPS: Emas Alami Inflasi Selama 30
Bulan Berturut-turut - Infobanknews
- Reuters,
laporan kebijakan bea keluar emas Indonesia mulai akhir 2025. Indonesia to levy gold export
duties from December 23 | Reuters
- Kontan,
1 April 2026. AS Jadi Penopang Surplus Dagang,
Tapi Defisit dengan China hingga Singapura
Dolar AS Ngamuk Lagi Dekati Rp 17.400!
Putin dan Trump Teleponan Sampai 90 Menit, Bahas Perang di Ukraina dan Iran
Mengejar Keadilan: Peta Jalan Baru DJP Perluas Basis Pajak di Era Digital dan Ekonomi Hijau
Jakarta. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) resmi menetapkan
langkah strategis untuk lima tahun ke depan melalui Keputusan Direktur Jenderal
Pajak Nomor KEP-252/PJ/2025 tentang Rencana Strategis (Renstra) DJP Tahun
2025-2029. Dokumen ini menjadi napas baru bagi otoritas perpajakan Indonesia
untuk bertransformasi menjadi penggerak pembangunan bangsa yang berintegritas.
Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah komitmen DJP dalam
memperkuat kerangka regulasi, khususnya melalui Rancangan Peraturan Menteri
Keuangan (RPMK) yang berfokus pada perluasan basis pajak demi menciptakan
keadilan bagi seluruh wajib pajak.
Urgensi di Balik Perluasan Basis Pajak
Langkah DJP dalam menyusun RPMK tentang Memperluas Basis
Pajak dalam Rangka Pengenaan Pajak yang Lebih Adil tidak muncul tanpa alasan.
Terdapat urgensi mendalam yang melatarbelakangi kebijakan ini. Pertama,
pemerintah memandang perlunya landasan hukum yang kuat dan mutakhir untuk
menyempurnakan mekanisme pemungutan pajak atas transaksi digital luar negeri.
Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, regulasi yang ada harus mampu
menangkap potensi penerimaan dari perusahaan global agar tercipta level playing
field dengan pelaku usaha domestik.
Kedua, sejalan dengan komitmen global Indonesia menuju Net
Zero Emission, pembentukan landasan hukum bagi pajak karbon menjadi
prioritas yang mendesak. Pajak ini bukan sekadar instrumen penerimaan,
melainkan alat kendali untuk mendorong praktik bisnis yang lebih ramah
lingkungan. Terakhir, regulasi ini juga ditujukan untuk memberikan kepastian
hukum terkait mekanisme pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas
penyerahan jasa jalan tol, sebuah sektor yang terus berkembang seiring masifnya
pembangunan infrastruktur nasional.
Tiga Bidikan Utama RPMK Baru
Dalam kerangka regulasi Renstra 2025-2029, RPMK ini secara
spesifik akan mengatur tiga area besar yang akan diimplementasikan secara
bertahap:
1.
Pemungutan
Pajak Transaksi Digital Luar Negeri: DJP menargetkan aturan ini rampung pada
tahun 2025. Fokusnya adalah menyempurnakan mekanisme pemungutan pajak digital
luar negeri agar lebih efisien dan transparan.
2.
Pajak
Karbon: Regulasi mengenai pajak karbon direncanakan selesai pada tahun 2026.
Hal ini menjadi tonggak penting bagi DJP dalam mendukung agenda ekonomi hijau
pemerintah.
3.
PPN
Jasa Jalan Tol: Mekanisme pemungutan PPN untuk sektor ini dijadwalkan akan
tuntas regulasinya pada tahun 2028.
Mewujudkan Regulasi yang Proaktif dan Adaptif Penyusunan
RPMK ini merupakan bagian dari sasaran strategis DJP untuk menciptakan regulasi
administrasi pajak yang proaktif dan adaptif. Otoritas perpajakan menyadari
bahwa tantangan ke depan, seperti shadow economy dan digitalisasi yang
masif, memerlukan respons hukum yang cepat namun tetap menjunjung tinggi
prinsip kepastian hukum dan keadilan.
Melalui penguatan kerangka regulasi ini, DJP berharap dapat
menekan policy gap dan meningkatkan rasio perpajakan terhadap PDB yang
selama ini masih menjadi tantangan besar. Dengan basis pajak yang lebih luas
dan adil, penerimaan negara diharapkan dapat optimal. (Zain)
Indonesia Amankan Komitmen Minyak Rusia di Tengah Krisis Timur Tengah
Pemerintah
Indonesia disebut telah memperoleh komitmen pasokan minyak mentah dari Rusia
hingga 150 juta barel di tengah tekanan harga minyak global dan
meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah.
Kabar
tersebut dikonfirmasi oleh sejumlah laporan media internasional. Channel
NewsAsia, mengutip AFP dan kantor berita Antara, melaporkan bahwa Rusia telah
menyetujui pasokan minyak untuk Indonesia setelah kunjungan Presiden Prabowo
Subianto ke Moskow dan pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo,
menyebut Indonesia memperoleh komitmen 100 juta barel minyak dari Rusia
dengan harga khusus, serta tambahan 50 juta barel bila dibutuhkan. [1]
Kebijakan
ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mengamankan pasokan energi nasional.
Indonesia, sebagai negara pengimpor bersih minyak, menghadapi tekanan besar
karena sebagian impor minyak mentahnya masih berasal dari kawasan Timur Tengah.
CNA mencatat sekitar 20–25% impor crude Indonesia berasal dari Timur Tengah
dan melewati Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di
dunia.
Risiko
terhadap jalur tersebut meningkat setelah konflik di Timur Tengah kembali
memanas. Reuters melaporkan harga minyak dunia naik pada 24 April 2026 setelah
muncul kekhawatiran baru mengenai eskalasi militer di kawasan itu. Dalam
laporan yang sama, Brent tercatat naik ke US$106,30 per barel, sementara
WTI mencapai US$96,92 per barel. Selat Hormuz menjadi sorotan karena
sekitar 20% aliran minyak dan gas global biasanya melewati jalur
tersebut. [2]
Sebelum
muncul kabar komitmen 150 juta barel dari Rusia, Reuters sudah melaporkan pada
Maret 2026 bahwa Indonesia sedang menjajaki pembelian minyak dari Rusia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat itu menekankan bahwa yang terpenting bagi
Indonesia adalah memastikan pasokan energi. Reuters juga mencatat impor minyak
mentah Indonesia dari Arab Saudi turun tajam menjadi 23.000 barel per hari
pada Maret, dari 104.000 barel per hari pada Februari, berdasarkan
data Kpler.
Masuknya
Rusia sebagai calon pemasok besar menandai perubahan penting dalam strategi
impor minyak Indonesia. Selama ini Indonesia mencari pasokan dari berbagai
sumber, termasuk Timur Tengah, Afrika, dan kawasan lain. Namun perang Timur
Tengah memaksa pemerintah mempercepat diversifikasi sumber impor agar tidak
terlalu bergantung pada jalur yang rentan terganggu.
Meski
demikian, rencana impor minyak Rusia tidak bebas risiko. Sanksi Barat terhadap
Rusia masih menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam pembelian,
pembiayaan, asuransi, pengangkutan, hingga pembayaran. Reuters pada 2025
melaporkan Pertamina sebenarnya telah memasukkan crude Rusia dalam tender
pembelian sejak tahun sebelumnya, tetapi saat itu belum ada impor aktual dan
Pertamina menyatakan tetap mematuhi sanksi AS. [3]
Risiko
tersebut juga ditegaskan oleh Institute for Essential Services Reform atau
IESR. CEO IESR Fabby Tumiwa menilai pasokan dari Rusia bisa dipahami sebagai
respons darurat untuk menjaga keamanan energi Indonesia. Namun ia mengingatkan
bahwa jika kelonggaran sementara dari Amerika Serikat tidak diperpanjang,
proses pembelian, pembiayaan, dan pengangkutan minyak Rusia dapat menjadi lebih
kompleks. [4]
Di
sisi lain, Uni Eropa juga memperketat rezim sanksinya terhadap Rusia. Reuters
melaporkan paket sanksi ke-20 Uni Eropa mencakup dasar hukum untuk kemungkinan
larangan layanan maritim bagi pembeli crude dan produk minyak Rusia sebagai
pengganti mekanisme pembatasan harga G7. Paket tersebut juga mencantumkan
pembatasan terkait armada bayangan Rusia dan sejumlah layanan energi. [5]
Dengan
demikian, kabar Indonesia mendapatkan minyak mentah dari Rusia dapat dinilai benar,
tetapi masih berada pada tahap komitmen pasokan dan rencana realisasi,
bukan bukti bahwa seluruh 150 juta barel sudah diterima. Pemerintah tampaknya
sedang mengamankan opsi pasokan alternatif untuk menutup risiko kekurangan
crude akibat perang Timur Tengah, lonjakan harga minyak, dan potensi gangguan
Selat Hormuz.
Bagi
Indonesia, keputusan ini bersifat strategis sekaligus sensitif. Dari sisi
energi, pasokan Rusia dapat membantu menjaga stok nasional dan mengurangi
tekanan akibat mahalnya minyak dunia. Namun dari sisi geopolitik dan
perdagangan internasional, transaksi dengan Rusia harus dikelola hati-hati agar
tidak menimbulkan hambatan akibat sanksi, asuransi kapal, pembiayaan, dan
kepatuhan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam rantai pasok minyak global.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023




