Internasional
( 1384 )Kolaborasi Strategis DJP dan Relationship Manager (RM) Pastikan Akurasi Informasi Nasabah Prioritas
Pemerintah Indonesia melalui PMK 108/2025
memperketat pengawasan terhadap simpanan bernilai besar yang tersimpan di
lembaga keuangan. Fokus utama pengawasan ini adalah "Rekening Keuangan
Bernilai Tinggi," yaitu rekening lama milik orang pribadi dengan agregat
saldo melebihi USD 1.000.000,00 atau setara satu juta Dolar Amerika Serikat.
Terhadap rekening jumbo ini, lembaga
keuangan diwajibkan menjalankan prosedur identifikasi yang jauh lebih mendalam
dibandingkan rekening bernilai rendah. Langkah pertama mencakup pencarian data
elektronik untuk mendeteksi penanda (indicia) domisili pajak luar
negeri, seperti alamat surat di luar negeri, nomor telepon asing, atau
instruksi transfer tetap ke rekening mancanegara.
Jika basis data elektronik belum mencakup
informasi lengkap, bank wajib melakukan penelaahan dokumen fisik dalam kurun
waktu lima tahun terakhir. Dokumen yang diperiksa meliputi kontrak pembukaan
rekening, bukti identitas terbaru, hingga formulir surat kuasa yang masih
berlaku. Prosedur ini harus diselesaikan paling lambat pada 31 Desember setiap
tahun berjalan untuk menentukan apakah akun tersebut masuk dalam kategori wajib
lapor internasional atau domestik.
Salah satu poin krusial dalam aturan ini
adalah peningkatan tanggung jawab Relationship Manager (RM). RM didefinisikan
sebagai pegawai yang diberi tugas menangani nasabah tertentu secara
berkelanjutan, memberikan saran investasi, atau mengatur penyediaan produk
keuangan.
Pemerintah mewajibkan RM untuk memberikan
informasi aktual mengenai nasabah mereka di luar hasil pemindaian sistem. Jika
RM memiliki pengetahuan bahwa pemegang rekening jumbo adalah subjek pajak luar
negeri, maka rekening tersebut—termasuk seluruh rekening lain milik nasabah
yang sama—otomatis dikategorikan sebagai rekening yang wajib dilaporkan. Tugas
RM bukan lagi sekadar mengelola portofolio, melainkan menjadi instrumen
validasi status perpajakan nasabah.
Untuk mencegah praktik pemecahan saldo,
lembaga keuangan wajib menjumlahkan (agregasi) seluruh saldo dari rekening yang
terhubung melalui elemen data unik seperti nomor nasabah atau NPWP. Jika RM
mengetahui ada beberapa rekening yang dikendalikan oleh orang yang sama,
meskipun tidak terhubung secara sistem, saldo tersebut tetap wajib dijumlahkan
untuk menentukan apakah melampaui batas USD 1.000.000,00.
Bagi rekening yang diidentifikasi sebagai
"tidak terdokumentasi" (undocumented account), lembaga
keuangan wajib mengulang prosedur penelaahan setiap tahun sampai nasabah
memberikan pernyataan diri yang valid. Jika terjadi perubahan keadaan, seperti
nasabah mengganti alamat surat ke yurisdiksi asing, RM harus segera
mengidentifikasi perubahan tersebut sebagai pemicu pelaporan baru.
Laporan yang disampaikan kepada DJP tidak
hanya berisi saldo akhir tahun. Otoritas pajak akan menerima data mendalam yang
mencakup akumulasi mutasi debet dan kredit selama satu tahun kalender, total
penghasilan bunga, dividen, hingga hasil penjualan bruto aset keuangan jika
institusi bertindak sebagai kustodian atau pialang. Transparansi total atas
rekening bernilai tinggi ini ditujukan untuk meminimalkan praktik pengelakan
pajak melalui skema penyimpanan aset di institusi keuangan.
Kolaborasi Strategis DJP dan Relationship Manager (RM) Pastikan Akurasi Informasi Nasabah Prioritas
Pemerintah Indonesia melalui PMK 108/2025
memperketat pengawasan terhadap simpanan bernilai besar yang tersimpan di
lembaga keuangan. Fokus utama pengawasan ini adalah "Rekening Keuangan
Bernilai Tinggi," yaitu rekening lama milik orang pribadi dengan agregat
saldo melebihi USD 1.000.000,00 atau setara satu juta Dolar Amerika Serikat.
Terhadap rekening jumbo ini, lembaga
keuangan diwajibkan menjalankan prosedur identifikasi yang jauh lebih mendalam
dibandingkan rekening bernilai rendah. Langkah pertama mencakup pencarian data
elektronik untuk mendeteksi penanda (indicia) domisili pajak luar
negeri, seperti alamat surat di luar negeri, nomor telepon asing, atau
instruksi transfer tetap ke rekening mancanegara.
Jika basis data elektronik belum mencakup
informasi lengkap, bank wajib melakukan penelaahan dokumen fisik dalam kurun
waktu lima tahun terakhir. Dokumen yang diperiksa meliputi kontrak pembukaan
rekening, bukti identitas terbaru, hingga formulir surat kuasa yang masih
berlaku. Prosedur ini harus diselesaikan paling lambat pada 31 Desember setiap
tahun berjalan untuk menentukan apakah akun tersebut masuk dalam kategori wajib
lapor internasional atau domestik.
Salah satu poin krusial dalam aturan ini
adalah peningkatan tanggung jawab Relationship Manager (RM). RM didefinisikan
sebagai pegawai yang diberi tugas menangani nasabah tertentu secara
berkelanjutan, memberikan saran investasi, atau mengatur penyediaan produk
keuangan.
Pemerintah mewajibkan RM untuk memberikan
informasi aktual mengenai nasabah mereka di luar hasil pemindaian sistem. Jika
RM memiliki pengetahuan bahwa pemegang rekening jumbo adalah subjek pajak luar
negeri, maka rekening tersebut—termasuk seluruh rekening lain milik nasabah
yang sama—otomatis dikategorikan sebagai rekening yang wajib dilaporkan. Tugas
RM bukan lagi sekadar mengelola portofolio, melainkan menjadi instrumen
validasi status perpajakan nasabah.
Untuk mencegah praktik pemecahan saldo,
lembaga keuangan wajib menjumlahkan (agregasi) seluruh saldo dari rekening yang
terhubung melalui elemen data unik seperti nomor nasabah atau NPWP. Jika RM
mengetahui ada beberapa rekening yang dikendalikan oleh orang yang sama,
meskipun tidak terhubung secara sistem, saldo tersebut tetap wajib dijumlahkan
untuk menentukan apakah melampaui batas USD 1.000.000,00.
Bagi rekening yang diidentifikasi sebagai
"tidak terdokumentasi" (undocumented account), lembaga
keuangan wajib mengulang prosedur penelaahan setiap tahun sampai nasabah
memberikan pernyataan diri yang valid. Jika terjadi perubahan keadaan, seperti
nasabah mengganti alamat surat ke yurisdiksi asing, RM harus segera
mengidentifikasi perubahan tersebut sebagai pemicu pelaporan baru.
Laporan yang disampaikan kepada DJP tidak
hanya berisi saldo akhir tahun. Otoritas pajak akan menerima data mendalam yang
mencakup akumulasi mutasi debet dan kredit selama satu tahun kalender, total
penghasilan bunga, dividen, hingga hasil penjualan bruto aset keuangan jika
institusi bertindak sebagai kustodian atau pialang. Transparansi total atas
rekening bernilai tinggi ini ditujukan untuk meminimalkan praktik pengelakan
pajak melalui skema penyimpanan aset di institusi keuangan.
Perkokoh Integritas Keuangan Nasional, Pemerintah Rancang Sistem untuk Awasi Rekayasa Transaksi
Lewat PMK
108/2025, Menteri Keuangan secara tegas memberikan peringatan keras kepada
nasabah dan lembaga keuangan untuk tidak mencoba mengakali sistem pelaporan
akses informasi keuangan. Regulasi ini memuat Bab khusus mengenai
"Ketentuan Anti-Penghindaran" yang dirancang untuk menggagalkan
segala bentuk rekayasa transaksi yang bertujuan menyembunyikan kekayaan dari
radar pajak.
Pasal 48 beleid
ini melarang setiap orang, termasuk nasabah, pimpinan lembaga keuangan, hingga
pihak ketiga, untuk membuat pernyataan palsu atau menyembunyikan informasi
keuangan yang sebenarnya. Salah satu praktik yang disorot secara detail adalah
manipulasi saldo akhir tahun.
Pemerintah
menargetkan praktik di mana nasabah melakukan penarikan dana besar menjelang
akhir tahun agar saldo rekening berada di bawah ambang batas pelaporan (Rp1
miliar), namun kemudian menyetorkan kembali dana tersebut pada awal tahun
berikutnya. Jika DJP menemukan pola ini dilakukan secara berulang, maka
transaksi penarikan tersebut dianggap tidak pernah terjadi. Lembaga keuangan
tetap diwajibkan melaporkan saldo yang sebenarnya seolah-olah penarikan
tersebut tidak ada.
Regulasi ini
juga mewaspadai penggunaan skema Citizenship by Investment (CBI) atau Residence
by Investment (RBI) yang sering digunakan untuk mendapatkan status
residensi di yurisdiksi berisiko tinggi guna menghindari pelaporan pajak di
negara asal. Lembaga keuangan dilarang langsung memercayai pernyataan diri
nasabah yang menggunakan skema ini tanpa melakukan langkah tambahan, seperti
mengklarifikasi apakah nasabah tinggal lebih dari 183 hari di negara tersebut
atau di mana mereka melaporkan SPT tahunannya.
Ketidakpatuhan
terhadap aturan ini membawa konsekuensi hukum yang serius. DJP memiliki
kewenangan penuh untuk melakukan pengawasan melalui penelitian, permintaan
klarifikasi, hingga permintaan pemenuhan kewajiban. Jika dalam waktu 14 hari
kalender nasabah atau lembaga keuangan tidak merespons permintaan klarifikasi
dengan memadai, DJP dapat meningkatkan tindakan ke tahap pemeriksaan bukti
permulaan hingga penyidikan tindak pidana perpajakan.
Secara
eksplisit, regulasi menyebutkan bahwa pihak yang tidak memenuhi kewajiban
pemberian informasi dapat dikenai sanksi pidana sesuai dengan Undang-Undang
Akses Informasi Keuangan.
Di sisi lain,
pemerintah memberikan jaminan bahwa seluruh informasi keuangan yang diterima
DJP hanya digunakan sebagai basis data perpajakan dan wajib dijaga
kerahasiaannya. Petugas pajak atau tenaga ahli yang membocorkan data nasabah
kepada pihak lain dapat dipidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
Dengan
pemberlakuan aturan ini pada 1 Januari 2026, pemerintah mengirimkan pesan
jelas: sistem keuangan Indonesia kini memiliki "pagar" yang lebih
tinggi dan "mata" yang lebih tajam, memastikan bahwa kepatuhan pajak
tidak lagi bisa dihindari melalui strategi pemindahan dana sesaat maupun
penggunaan identitas asing yang tidak wajar.
Wujudkan Ekosistem Digital yang Terpercaya, Integrasi Aset Kripto Perkuat Kepastian Hukum dan Perlindungan Investor
Indonesia resmi
memperketat pengawasan terhadap ekosistem aset digital melalui pemberlakuan
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 108 Tahun 2025. Regulasi ini
memperkenalkan kerangka kerja pelaporan aset kripto atau Crypto-Asset
Reporting Framework (CARF) sebagai standar internasional untuk pertukaran
informasi otomatis (AEOI) guna menutup celah penghindaran pajak di sektor
digital.
Berdasarkan
beleid tersebut, entitas yang memfasilitasi transaksi kripto kini
diklasifikasikan sebagai Penyedia Jasa Aset Kripto (PJAK) Pelapor CARF. Subjek
pelapor ini mencakup pedagang aset keuangan digital hingga pihak lain yang
menyediakan platform perdagangan atau bertindak sebagai perantara transaksi
pertukaran maupun transfer.
Pemerintah
menetapkan kriteria keterkaitan hukum (nexus) yang sangat spesifik. PJAK
wajib melapor di Indonesia jika mereka merupakan subjek pajak dalam negeri,
didirikan berdasarkan hukum Indonesia, dikelola dari Indonesia, atau memiliki
tempat usaha tetap/cabang di tanah air. Guna memastikan kepatuhan, PJAK
diwajibkan mendaftarkan diri secara elektronik melalui Portal Wajib Pajak
paling lambat akhir bulan kedua tahun kalender berikutnya setelah memenuhi
kriteria.
Cakupan data
yang wajib dilaporkan sangat mendalam, meliputi seluruh Transaksi Relevan dalam
satu tahun kalender. Hal ini mencakup:
1. Pertukaran
aset kripto dengan mata uang fiat maupun antarjenis aset kripto.
2. Transfer aset
kripto sebagai imbalan barang atau jasa yang nilainya melebihi USD 50.000,00.
3. Pemindahan/
transfer aset ke alamat atau akun di luar kendali PJAK, termasuk ke dompet
eksternal (wallet) yang tidak diketahui pemiliknya.
Selain nilai
transaksi, PJAK wajib melaporkan nilai pasar wajar dan jumlah unit aset kripto
yang dimiliki pengguna pada akhir periode pelaporan, serta saldo mata uang fiat
yang tersimpan di akun pengguna.
Mulai 1 Januari
2026, PJAK wajib menjalankan prosedur identifikasi (due diligence)
terhadap pengguna orang pribadi maupun entitas. Pengguna diwajibkan memberikan
pernyataan diri (self-certification) yang valid, mencakup nama lengkap,
alamat domisili, negara domisili pajak, hingga Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
atau Taxpayer Identification Number (TIN).
Bagi pengguna
lama yang sudah terdaftar sebelum akhir 2025, PJAK memiliki waktu hingga 31
Desember 2026 untuk menyelesaikan proses identifikasi. Jika pengguna menolak
memberikan data atau pernyataan diri yang valid, regulasi ini melarang PJAK
untuk melayani pembukaan akun baru maupun transaksi baru bagi pengguna
tersebut.
Laporan tahunan
wajib disampaikan PJAK paling lambat setiap tanggal 30 April menggunakan
dokumen elektronik dalam format XML atau Excel. Seluruh dokumen hasil
identifikasi wajib disimpan oleh PJAK minimal selama lima tahun untuk
kepentingan pengawasan otoritas pajak. Langkah ini menandai era baru
transparansi aset digital di Indonesia, di mana setiap pergerakan nilai di buku
besar terdistribusi (distributed ledger technology) akan memiliki
atribusi identitas pajak yang jelas.
Wujudkan Ekosistem Digital yang Terpercaya, Integrasi Aset Kripto Perkuat Kepastian Hukum dan Perlindungan Investor
Indonesia resmi
memperketat pengawasan terhadap ekosistem aset digital melalui pemberlakuan
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 108 Tahun 2025. Regulasi ini
memperkenalkan kerangka kerja pelaporan aset kripto atau Crypto-Asset
Reporting Framework (CARF) sebagai standar internasional untuk pertukaran
informasi otomatis (AEOI) guna menutup celah penghindaran pajak di sektor
digital.
Berdasarkan
beleid tersebut, entitas yang memfasilitasi transaksi kripto kini
diklasifikasikan sebagai Penyedia Jasa Aset Kripto (PJAK) Pelapor CARF. Subjek
pelapor ini mencakup pedagang aset keuangan digital hingga pihak lain yang
menyediakan platform perdagangan atau bertindak sebagai perantara transaksi
pertukaran maupun transfer.
Pemerintah
menetapkan kriteria keterkaitan hukum (nexus) yang sangat spesifik. PJAK
wajib melapor di Indonesia jika mereka merupakan subjek pajak dalam negeri,
didirikan berdasarkan hukum Indonesia, dikelola dari Indonesia, atau memiliki
tempat usaha tetap/cabang di tanah air. Guna memastikan kepatuhan, PJAK
diwajibkan mendaftarkan diri secara elektronik melalui Portal Wajib Pajak
paling lambat akhir bulan kedua tahun kalender berikutnya setelah memenuhi
kriteria.
Cakupan data
yang wajib dilaporkan sangat mendalam, meliputi seluruh Transaksi Relevan dalam
satu tahun kalender. Hal ini mencakup:
1. Pertukaran
aset kripto dengan mata uang fiat maupun antarjenis aset kripto.
2. Transfer aset
kripto sebagai imbalan barang atau jasa yang nilainya melebihi USD 50.000,00.
3. Pemindahan/
transfer aset ke alamat atau akun di luar kendali PJAK, termasuk ke dompet
eksternal (wallet) yang tidak diketahui pemiliknya.
Selain nilai
transaksi, PJAK wajib melaporkan nilai pasar wajar dan jumlah unit aset kripto
yang dimiliki pengguna pada akhir periode pelaporan, serta saldo mata uang fiat
yang tersimpan di akun pengguna.
Mulai 1 Januari
2026, PJAK wajib menjalankan prosedur identifikasi (due diligence)
terhadap pengguna orang pribadi maupun entitas. Pengguna diwajibkan memberikan
pernyataan diri (self-certification) yang valid, mencakup nama lengkap,
alamat domisili, negara domisili pajak, hingga Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
atau Taxpayer Identification Number (TIN).
Bagi pengguna
lama yang sudah terdaftar sebelum akhir 2025, PJAK memiliki waktu hingga 31
Desember 2026 untuk menyelesaikan proses identifikasi. Jika pengguna menolak
memberikan data atau pernyataan diri yang valid, regulasi ini melarang PJAK
untuk melayani pembukaan akun baru maupun transaksi baru bagi pengguna
tersebut.
Laporan tahunan
wajib disampaikan PJAK paling lambat setiap tanggal 30 April menggunakan
dokumen elektronik dalam format XML atau Excel. Seluruh dokumen hasil
identifikasi wajib disimpan oleh PJAK minimal selama lima tahun untuk
kepentingan pengawasan otoritas pajak. Langkah ini menandai era baru
transparansi aset digital di Indonesia, di mana setiap pergerakan nilai di buku
besar terdistribusi (distributed ledger technology) akan memiliki
atribusi identitas pajak yang jelas.
Perjuangan Keras Trump Meloloskan RUU Pajak dan Belanja
Sinyal Kuat Kebangkitan IHSG
Perdagangan AS-China
Donald Trump kembali ke Gedung Putih, demikian juga
kebijakan perdagangan dia yang kian agresif-tarif tinggi, pembatasan investasi
yang makin ketat, dan ancaman pemisahan keuangan (decoupling). Namun, di balik
retorika keras tersebut, negosiasi terbaru antara AS-China justru
mengindikasikan bahwa Beijing kini memiliki keunggulan di sejumlah sektor
penting. Pada 11 Juni 2025 do London, AS dan China menyepakati kerangka dagang
sementara, yang oleh banyak pihak dipandang sebagai upaya temporer untuk meredam ketegangan.
Kesepakatan ini mencakup empat poin utama. Pertama, kedua negara menyepakati
penyesuaian tarif secara terukur. Kedua, Beijing sepakat kembali
mengekspor mineral tanah langka dan
magnet permanen yang sangat penting bagi sektor teknologi dan pertanian AS. Ketiga, kedua
belah pihak berkomitmen untuk sedikit melonggarkan pembatasan ekspor bagi
barang-barang nonsensitif, serta memberikan kemudahan mobilitas antar warga.
Keempat, dan yang paling rapuh, kesepakatan ini mencakup mekanisme penegakan
kepatuhan sementara waktu dengan peninjauan setiap kuartal dan abitrase pihak
ketiga bawah pengawasan WTO. Meskipun ini merupakan langkah maju, rinciannya
teknisnya masih kabur dan efektivitasnya diragukan. (Yetede)
Merger & Akuisisi di Asia Melonjak Dua Kali Lipat
China Meminta Dukungan Lebih Besar dari AIIB
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023





